
Marsel menjemput Diah tidak memperhatikan sekeliling hingga tidak melihat bahwa Bella berada di tempat itu. Marsel menggandeng tangan Diah dan Lita menuju mobil.
Diah sengaja melingkarkan tangannya di pinggang Marsel. Diah menoleh ke belakang menyeringai ke arah Bella sambil melet-melet meledek.
Jangan ditanya, Bella rasanya ingin membejek wajah Diah. "Kurangajar kau Diah, tunggu pembalasanku! kamu bakal aku permalukan!" gumamnya mengepal kuat.
*******
"Mas kok tumben, pulang cepat, bukanya lagi banyak pekerjaan ya?" tanya Diah saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Iya Pa, tumben?" Lita menimpali.
"Pulang cepat salah, pulang terlambat protes, heemm... kalian ini" kilah Marsel kemudian mengacak rambut Lita, lalu memencet hidung Diah.
"Aahh Papa... rambut aku kusut lagi ini" protesnya sambil mengedikan kepalanya tampak lucu. Membuat Marsel dan Diah tertawa.
"Loh kok kesini Mas?" Diah heran sebab Mobil Marsel berlainan arah.
"Tebak mau kemana?" Marsel balik bertanya.
"Kan! Papa, malah ngajak main tebak-tebakan?" Lita menjawab sambil menggerak-gerakan telunjuk ke arah Marsel.
"Tahu tuh Papa kamu Lit, sudah biasa, kalau mau kemana-mana nggak bilang dulu, sukanya bikin orang jantungan" Diah geleng-geleng kepala, pasalnya Marsel sudah beberapa kali memberi kejutan.
Mengingat kejutan, Diah menjadi ingat tanda merah di leher Bella tadi, apakah ini salah satu kejutan Marsel juga? Marsel ternyata pria yang susah di tebak. Jika hanya berdua nanti Diah bermaksud menanyakan kebenaranya.
Tapi jika memang benar Marsel yang melakukan itu, apa salah, toh mereka masih suami istri, walaupun katanya sudah bercerai itu hanya ia dengar dari bibir Marsel, tapi entahlah kenapa hati Diah terasa tidak rela berbagi suami.
"Mbak Diah, dimana alamat Papi Mbak?" tanya mang Ade yang sedang menyetir.
"Jadi... kita mau ke rumah Papi Mas?" Diah spontan merangkul tubuh Marsel, menghilangkan pikiran buruknya tentang Bella sejenak. Diah senang, selama menikah dengan Marsel. Marsel belum pernah mengunjungi rumah papinya.
"Iya, selagi aku tidak ada jadwal rapat dengan klien hari ini" Marsel tersenyum menatap tangan Diah yang masih memeluknya.
"Terimakasih" ucap Diah tersipu lalu melepas pelukan. Tampak mang Ade senyum-senyum di depan.
"Di jalan xxx Mang" terang Diah mengalihkan.
"Papi Mama, yang mana? yang berkumis, apa yang nggak?" tanya Lita.
"Yang berkumis" Diah kali ini merangkul pundak Lita.
__ADS_1
"Lita jadi punya banyak Oma sama Opa, ada tiga" celotehnya senang mengacungkan tiga jari.
"Ada empat pasang Malah" jawab Marsel, menoleh Lita.
Diah menoleh Marsel perlahan, kemudian beralih ke Lita.
"Nenek yang mana lagi Pa?" Lita menggoyangkan lengan Marsel, ingin segera tahu jawabanya.
"Ada di Negara B, nanti kalau Papa ada waktu, Papa kenalkan kamu kepada beliau," Marsel berpikir, biar bagaimana Lita harus tahu nenek nya. Yaitu mommy Bella.
"Memang mertua Mas, tidak pernah menjenguk cucunya Mas?" Diah berpikir apakah selama ini mommy dan daddy Bella tidak pernah menjenguk Lita? hingga Lita tidak mengetahui.
"Tidak, dia kan jauh dari sini, suatu saat nanti aku akan mengajak Lita bertemu dengan mereka," jawab Marsel enteng.
Diah menoleh cepat. Sudah jelas ibu kandung Lita sendiri saja, tidak perduli dengan anaknya, apa lagi dengan nenek nya, Diah bingung dengan sikap Marsel.
"Yang mana rumahnya, Non?" mang Ade membuyarkan lamunan Diah.
"Maju sedikit, Mang" ucap Diah, mobil Marsel pun berhenti di depan rumah mewah milik tuan Efendi, papi kandung Diah.
"Ayo turun sayang..." Diah membantu Lita turun kemudian disusul Marsel.
Mang Ade melebarkan mata saking terkejutnya saat melihat kediaman Diah. Ternyata Diah anak orang kaya raya. 11, 12 dengan tuan Marsel.
"Waalaikumsalam..." jawab wanita setengah baya beliau adalah ART di rumah tuan Efendi.
"Papi sama Mami ada Bi?" Diah langsung ke dalam sambil menggandeng Lita dan juga suaminya.
"Ada Non, kebetulan hari ini sedang berkumpul, saya panggilkan dulu" jawab bibi meninggalkan mereka tampak serbet masih tersampir di pundak.
"Duduk sayang" titah Diah kepada Lita yang masih berdiri di samping Marsel.
"Papi kamu usaha apa?" Marsel pun heran setelah melihat keadaan rumah mertuanya, pasti bukan orang sembarangan.
"Oh, Papi pedagang beras Mas" jawabnya merendah.
"Saya pikir kalian tidak akan pernah mengunjungi kami" tampak tuan Efendi bersama istrinya tersenyum menambah ketampanan wajahnya. Ia merasa senang anak dan menantunya akhirnya datang juga.
"Maaf Pi, saya baru sempat kemari, minggu kemarin, baru pulang dari Bali" tutur Marsel seraya menjabat tangan tuan Efendi.
"Tuh kan, Papi suka bilang begitu, padahal sebelum ke Bali aku kan kemari" sambung Diah.
__ADS_1
"Iya tapi kan tidak mengajak Marsel sama cucu Kakek" papi tersenyum kepada Lita.
Ya sudahlah... yang penting kalian sekarang sudah meluangkan waktu," Papi dan Marsel pun ngobrol berhadapan.
"Kamu juga Diah, kemarin bukan menemui Papi di gudang? kenapa nggak mampir menemui Mami" kata mami saat Diah bersalaman.
"Maaf Mam, kemarin buru-buru mau menjemput Tuan Putri" Seloroh Diah tersenyum menatap Lita yang masih bingung dibilang tuan putri.
"Waah... cucu Uti... cantik banget" Mami Desty gemes berjongkok mencubit pelan pipi cubby Lita.
"Terimakasih Uti" Lita mencium tangan mami Desty.
"Eemm... kamu suka Kelinci tidak?" Mami tersenyum ingin lebih dekat dengan bocah kecil nan cantik itu.
"Kelinci yang warnanya putih, mata merah, terus... telinganya panjang, ya Uti," Lita menunjuk organ tubuh tersebut.
"Betul" jawab mami.
"Mau-mau" Lita bersemangat.
Mami kemudian mengajak Lita ke taman belakang melihat kelinci piaraan Juliana, Diah mengikuti.
Sedangkan tuan Efendi menggunakan kesempatan ini akan mengajukan pertanyaan kepada Marsel tentang rumor yang beredar bahwa Marsel telah melakukan poligami.
"Marsel, apa benar, kamu ternyata sudah mempunyai istri, sebelum menikah dengan putri saya?" cecar papa dengan rahang mengeras. Tuan Efendi bersikap ramah di awal karena, tidak ingin putrinya bersedih.
"Pa-papa, tahu darimana?" Marsel gagap menjawabnya. Ia berpikir jika Diah pasti bercerita kepada papi.
"Kamu tidak perlu tahu. Saya tahu darimana Sel, dan jika kamu berpikir bahwa Diah yang menceritakan ini semua, kamu salah besar, sekarang
jawab yang jujur pertanyaan saya Sel?!" papi beranjak dari duduknya lalu menghampiri Marsel.
"Saya sedang proses bercerai Pi," jawab Marsel dengan bibir bergetar. Marsel boleh ditakuti para lawan bisnis, anak buah, tetapi dengan papi justeru seperti tikus yang akan diterkam kucing.
"Saya tidak mau dengar, kamu sampai melukai perasaan putriku Marsel, jika itu sampai kamu lakukan, saya akan mengambil putriku kembali, tidak perduli, jika saya harus mencampuri rumah tangga kalian!" tegas papi. Beliau menatap Marsel tajam.
Sudah cukup penderitaan Diah selama ini, jika Marsel main-main beliau akan bertindak tegas.
Sementara Marsel menunduk tidak berani menatap mertuanya. "Saya tahu Pi" lirih Marsel.
"Semoga ucapan kamu bisa dipegang Marsel" Papi mengakhiri ucapan.
__ADS_1
.