Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Melarikan diri.


__ADS_3

"Uncle, saya titip Mommy ya" kata Marsel menghampiri Ramon. Kali ini sedang menunggu mommy Laura di luar ruang ICU, sebab di dalam sedang ada dokter. Wajah Marsel terlihat menegang setelah menghubungi Diah.


"Tenang saja El, tapi... kamu mau kemana? Kok suntuk begitu, ada masalah?" cecar Uncle Ramon menangkap kegelisahan keponakanya.


"Bella membawa kabur Lita kemari, Uncle, dan bodohnya, saya tidak mengetahuinya" sesal Marsel, menjatuhkan dahinya di kaca beralaskan lengan.


"Oh itu... tenang saja, El, yang membawa Lita kan ibu kandunnya sendiri, kenapa kamu panik sih..." jawab Uncle Ramon santai. Ramon tahu, jika hubungan Marsel dengan istrinya semakin memanas, tetapi sejahat-jahanya ibu kandung tidak akan menyengsarakan anaknya. Pikir Ramon.


"Uncle tidak mengerti" sahut Marsel. Marsel masih telungkup. Ia benar-benar kesal. Bella nyata-nyata menantangnya. Apa maunya, jika punya etiket baik, seharusnya dia menemuinya.


"Coba cari di apartement kamu El, siapa tahu dia ada di sana" saran Uncle.


"Saya pergi Uncle" Marsel melenggang pergi menuju apartement.


Ramon hanya bisa menggeleng menatap kepergian keponakanya itu.


*******


"Mommy bohong lagi! mana Papa?!" Lita menangis sejadi jadinya. Ia merasa di bohongi lagi. Sudah sehari semalam tinggal di Apartement nyatanya papanya belum muncul juga.


"Lita... yang sabar, mungkin Papa sedang banyak pekerjaan" Bella susah payah untuk membujuk putrinya. Lagi dan lagi Lita mengalami fase GTM (Gerakan Tutup Mulut.) pasalnya sejak kemarin Lita mogok makan, dan mogok bicara, sekalinya bicara, emosinya meledak.


"Dari kemarin Mommy bilang sabar-sabar, terus! Huaaa... Lita mau pulang saja! nggak mau tinggal sama Mommy." Lita menggerak-gerakan kakinya di lantai.


"Ya sudah... kita cari Papa, yuk" Bella berniat mengajak Lita keluar dari apartement.


"Mama bohong! Papa nggak ada di sini kan..." bantah Lita.


"Makanya... kita cari Papa dulu, kalau sudah ketemu... Lita pasti percaya. Ayo," Bela mengaet jemari Lita. Sebenarnya Bella pun hanya ingin menghibur putrinya. Bella tahu keberadaan Ello, saat ini. Jika tidak di rumah Laura, pasti Marsel berada di rumah sakit. Bella gentar, mendatangi dua tempat itu. Jika yang di hadapi Bella hanya Ello, dia tidak takut, tapi menghadapi keluarga besar mommy Laura sama saja menyerahkan diri ke kandang macan.

__ADS_1


Sampai di lantai dasar, Bella menuju parkiran. Ia menjalankan mobilnya, kali ini tidak di antar Thomas. Ketika Bella membelokkan mobil ke tikungan. Waktu yang bersamaan Marsel sampai di Apartement. Sudah pasti keduanya tidak saling melihat.


Dengan langkah tergesa-gesa karena tidak sabar ingin tahu keberadaan putrinya. Marsel segera masuk lift menekan nomor tiga. Lift terbuka Marsel bergegas menuju kamarnya.


Apartement terbuka, Marsel tidak menemukan siapa-siapa. Tetapi bola matanya menangkap piring kotor di wastafel. Bekas teplon yang masih hangat rupanya Bella baru selesai memasak spaghetti.


Marsel segera menuju meja makan dua porsi spaghetti belum di sentuh. "Tak" suara tutup saji yang di letakkan Marsel dengan terburu-buru beradu dengan kaca. Marsel kemudian bergegas menuju kamarnya.


Deg.


Tampak baju kotor Lita yang masih tergeletak di kasur, tangan kekar itu segera menyambar baju tersebut. Marsel kemudian menempelkan di hidung. Bau keringat Lita kas anak-anak, Marsel mengendusnya sambil memejamkan mata.


Puas dengan mengendus baju putrinya, Marsel mencium bantal. Rupanya bau keringat Lita juga masih menempel.


Pluk.


Selembar kertas hps terjatuh ke lantai, saat Marsel menarik bantal. Reflek Marsel menjatuhkan bantal secepat mungkin, lalu tangan nya menggapai kertas.


Marsel kemudian membaca tulisan di bawah gambar beberapa bait kata yang Lita tulis.


"Papa... Mama... Lita kangen... Lita sedih Ma, Pa. Mommy Bella galak. Lita nggak boleh telepon Papa sama Mama. Lita mau pulang tolong di jemput.


"Lita kangen, sebelum tidur mendengarkan cerita Mama Diah, baca do'a.


Lita menutup tulisan dengan gambar anak yang sedang menangis.


"Brengsek!" Marsel meninju kasur, dadanya terasa sesak, ingin rasanya menumpahkan ke kesalanya. Namun, ia segera tersadar tidak ada gunanya marah, toh Bella tidak mendengar. Marsel berjalan cepat kembali turun ke lantai bawah. Segera menjalankan mobilnya setelah sampai parkiran. Pertama yang Marsel tuju adalah rumah Bella.


*********

__ADS_1


"Please Lita... dari kemarin kamu nggak makan loh, nanti kamu masuk angin" wajah Bella tampak ingin menangis bagaimana caranya agar Lita mau makan. Bella sengaja mengajak Lita makan di restoran paling terkenal di negaranya. Namun tetap saja tidak lantas membuat Lita senang.


Lita tidak menjawab, raganya memang di Negara B, tapi pikiranya ada di Indonesia.


"Aaa... " Bella menyodorkan sendok. Namun Lita menutup mulutnya dengan kedua tanganya. "Lita nggak mau makan Mom. Lita mau ke rumah Mama Diah" Lita geleng-geleng.


"Traanngg.." Bella seketika berdiri lalu menjatuhkan sendok di atas piring. Wajahnya berubah marah. Hingga menjadi perhatian para penikmat kuliner di siang hari.


Lita mendongak menatap Mommy. Mata biru itu tampak ketakutan.


"Diah lagi, Diah lagi!" bentak Bella. Napasnya tersengal-sengal. "Kamu itu bersama Mommy Lita... jangan terus-teruskan menyebut Diah, kuping Mommy terasa panas," sungut Bella.


"Mommy jahat! Lita mau pergi saja" Lita beranjak dari duduknya kemudian berlari meninggalkan Bella.


"Lita... tunggu... Pak, tolong kejar anak saya" Pinta Bella kepada security. Bella tidak mungkin bisa mengejar Lita dalam keadaan perut besar.


"Baik Nona Bella" Bella orang terkenal di negaranya, sudah pasti tidak sulit mencari bantuan. Security berlari kencang mengejar Lita. Namun Lita tidak kalah kencang berlari. Bocah kecil yang baru berusia lima tahun, seperti ada kekuatan ganda padahal dari kemarin tidak makan.


"Bruk"


Lita terjatuh di trotoar, tapi ia berusaha bangun, mengusap-usap lututnya yang perih karena memar. Lita menoleh kebelakang, security semakin mendekat. Walaupun lututnya memar, tidak Lita rasakan.


"Hos hos hos..." Lita mengatur napas bak seekor kucing cerdik ia menoleh kanan kiri. Tanpa scurity sadari Lita masuk ke dalam garasi salah satu warga yang sedang terbuka dan bersembunyi di balik mobil.


"Dimana Dia? Gumam scurity. Ia berhenti di depan garasi. Karena Lita tiba-tiba menghilang.


"Ya Allah... selamatkan Lita" Lita berdoa dalam hati, jantungnya maraton karena scurity masih berdiri di depan garasi.


"Sementara Bella, dengan tertatih-tatih, sambil memegangi perutnya yang sedang kram, ikut mencari Lita. "Lita... hiks hiks hiks" tangis Bella pecah namun sudah tertinggal jauh. Ia kemudian merogoh handphone di di dalam tas, menghubungi Thomas.

__ADS_1


.


__ADS_2