Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Anugerah.


__ADS_3

"Bagaimana keadaan adik saya Dok?" tanya Adit. Setelah Diah pingsan tadi, segera membawa adiknya ke rumah sakit terdekat.


"Adik Anda tidak apa-apa, menurut hasil pemeriksaan kami, adik Anda sedang hamil. Tapi tekanan darahnya sangat rendah" terang Dokter sambil membuat coretan di kertas.


"Hamil Dok?" binar bahagia di mata Mawar. "Lalu berapa bulan Dok? Bayinya sehat kan Dok?" pertanyaan Mawar yang seperti petasan, hanya di jawab kekehan oleh dokter.


"Betul, tapi harus hati-hati, sepertinya adik Anda sedang stress" dokter menjelaskan. "Untuk menaikkan tekanan darah, biarkan adik Anda menjalani rawat inap, sampai tekanan darahnya stabil." saran dokter.


"Kami mengerti Dok, lakukan yang terbaik" sahut Adit.


Diah pun di pindahkan kekamar inap, keadaanya masih belum sadar dari pingsan.


"Mas Adit, anak saya sakit apa?" Papi Efendi mengatur napas yang tersengal-sengal. Begitu melihat tayangan di televisi, beliau segera menghubungi Diah. Kebetulan Mawar yang mengangkat. Tidak membuang waktu tuan Efendi segera menyusul Adit ke rumah sakit.


"Alhamduliah, tidak ada yang serius kok Om, justeru ada kabar gembira. Om akan mempunyai cucu" terang Adit sekaligus menghibur tuan Efendi. Di lihat dari wajahnya, tuan Efendi, sedang menahan marah. Adit lantas menghiburnya.


"Cucu? Berarti Diah hamil?" tuan Efendi tersenyum sedikit, seraya memandangi putrinya lekat.


"Alhamdulillah, Pi, kita akan punya Cucu" mami Desty menoleh suaminya. Wajahnya sudah tidak terlalu marah seperti tadi. Mami sedikit lega.


Sepanjang jalan tuan Efendi selalu merancau marah-marah tidak karuan. Tentu saja Marsel yang di tuju, padahal walaupun marah tidak akan menyelesaikan masalah. Sebab, Marsel tidak mendengar.


Deerrtt deerrtt


"Hallo" Mawar kembali mengangkat telepon Diah. Rupanya Mawar menjadi operator dadakan. Pasalnya teman-teman Diah sejak tadi banyak yang menghubunginya. Namun, tidak satu orang pun yang Mawar kenal.


"Diah... apa kabar, loe? Loe baik-baik saja kan?! berita itu tidak benar kan Diah? Gw sekarang kerumah loe, ya" cerecos wanita di seberang. Membuat Mawar menjauhkan handphone dari telinga. Sebab, suara wanita itu memekakkan telinga.


"Saya bukan Diah, tapi kakaknya" jawab Mawar, singkat. "Kamu siapa?" tanya Mawar kemudian.


"Oh, maaf Kak, saya Rindy teman Diah, serlok ya Kak, saya otw" pungkas Rindy.


"Mas, kita tunggu di luar, biar Diah istirahat." Mawar mengait lengan Adit yang sedang berbincang-bincang dengan tuan Efendi, dan mami Desty.


Adit menurut, mereka keluar kamar di ikuti tuan Efendi dan mami Desty.


******

__ADS_1


PoV Diah.


Aku membuka mata, memindai sekeliling, tetapi keadaan kamar ini berbeda dengan kamarku yang biasanya aku tiduri bersama Marsel.


Dimanakah aku? Di kamarku yang berada di rumah kak Mawar juga bukan. Kepalaku pusing sekali, ketika ingin memijat pelipisku, tanganku pun terasa nyeri. Bukankah terakhir tadi aku berada di rumah Bella?


Aku angkat tanganku baru sadar, ternyata di pasang selang infus. Berarti saat ini aku sedang di rumah sakit. Lalu sakit apakah aku?


"Kurang ajar sekali, Marsel! Mau main-main dengan saya, rupanya!" sayup-sayup terdengar suara papi Efendi, sedang marah-marah di luar kamar.


"Lalu, kemana perginya laki-laki brengsek itu! Sejak tadi tidak menampakkan batang hidungnya?!" suara papi semakin kencang.


"Marsel saat ini sedang pulang ke Negaranya, Om" terdengar suara kak Adit menyahut.


"Benarkan dugaanku, pasti dia di sana sedang bersenang-senang dengan istri tuanya, kurang ajar!" berkali-kali tuan Efendi mengucap kata itu.


"Pi, tenang... nanti tensi Papi naik lagi loh" terdengar suara Mami Desty berkata lembut.


Papi? Batinku. Aku turun dari ranjang pasien, sambil mendorong penyangga infus. Bermaksud menenangkan papi, agar ke murkaan papi tidak terdengar oleh pasien yang lain.


Ternyata kakiku lemas, mataku berkunang-kunang, sakit kepala ku menyertai. Menyebabkan aku jatuh tersungkur di lantai, kakiku tertimpa stenlis.


"Diah... astagfirlullah..." kak Mawar, Mami Desty, kak Adit, dan juga papi berlari ke arahku.


"Kamu mau kemana? Perutmu tidak apa-apa kan?" kak Mawar memeriksa perut, dan meraba bagian paha, entah apa maksudnya. Aku hanya menjawab dengan gelengan lemah.


"Mas Adit, cepat panggilkan dokter kandungan" kak Mawar tampak panik.


"Iya Yank" kak Adit bergegas keluar dari kamar inap.


Dokter kandungan? Aku dibuat bingung lagi.


"Kamu mau apa Nak, jika mau sesuatu, panggil kami, jangan jalan sendiri" Mami Desty berkata lembut. Aku hanya mengangguk, akibat jatuh perutku bagian bawah terasa kencang.


"Ngobrolnya di ranjang saja" papi Efendi terdengar lembut, tidak marah-marah seperti saat di luar tadi. Papi segera mengangkat tubuhku di ikuti mami Desty mendorong penyangga botol infus.


"Kamu tidak apa-apa Nak? Mana yang sakit?" papi mengamati sekujur tubuhku.

__ADS_1


"Aku tidak apa-apa kok, Pi" lirihku. "Syukur alhamdulillah Nak" di usapnya kepalaku lembut. Membuat aku lebih tenang.


"Tapi... Papi jangan marah-marah" ucapku ketika aku sudah berbaring di ranjang.


"Marah? Kapan Papi marah" papi justeru balik bertanya.


"Tadi... Papi marah-marah di luar" jawabku cemberut. "Kamu ini" Papi hanya terkekeh, serasa membetulkan posisi kepalaku.


"Kak Mawar, kenapa aku bisa masuk ke rumah sakit ini?" tanya ku. Kak Mawar membuka mulut ingin bicara sesuatu. Namun dokter wanita di ikuti perawat berjalan ke arahku.


"Kenapa bisa jatuh?" dokter segera memeriksa perutku. Aku hanya melirik papi tidak menjawab. Dokter tahu jika aku jatuh mungkin mas Adit yang cerita.


"Sukurlah, janin nya tidak apa-apa, tapi Anda lain kali, harus hati-hati" kata dokter setelah menempelkan benda bulat, di perutku.


"Janin Dok? Berarti... saya hamil?" aku terperangah.


"Betul, Anda sedang hamil" dokter tersenyum menatapku.


Hamil? Batinku. Seketika aku menangis, tangis bahagia. Aku bersyukur, di balik masalah yang menimpaku. Allah telah menghadiahkan buah cinta aku dengan Marsel. "Berapa bulan Dok?" aku memecah keheningan. Ketika aku menangis semua membiarkan aku melepas beban berat yang menimpaku, dan memeluk erat karunia yang Allah berikan.


"Baru 4 minggu, saat ini masa rawan, tolong di perhatikan Pak, Bu. Memang suaminya kemana?" tanya dokter menoleh papi. Syukurlah... dokter mungkin tidak sempat melihat berita yang menghebohkan. Aku membatin.


"Sedang tugas keluar Dok" mami Desty yang menyahut.


"Selamat ya Dek" kak Mawar meraih tangan ku. "Terimakasih, Kak" ucapku, berkaca-kaca menatapnya. Setelah memeriksa, dokter segera keluar meninggalkan kami. Begitu juga dengan kak Mawar, dan kak Adit. "Kakak pulang dulu ya Dek, nanti sore, kembali lagi."


"Terimakasih Kak," jawabku. Kakak segera pergi setelah berpamitan pada mami, papi.


"Kata Mawar, kamu dari pagi tidak sarapan, kamu mau makan apa Nak?" tanya mami Desty perhatian, membuat aku terharu.


"Apa saja, Mi" walaupun aku tidak lapar harus aku paksakan. Sekarang aku tidak sendiri, bayi dalam kandunganku butuh nutrisi.


Tidak banyak bicara, papi segera menghubungi supirnya yang menunggu di lantai dasar. Terdengar jelas, papi meminta supir membeli susu bumil dan kue.


Terimakasih ya Allah... di antara pahitnya kehidupan yang aku jalani, tanpa aku sadari, engkau berikan beribu nikmat dan berkah. Aku punya papi, mami, bapak, ibu, dan juga kakak adik yang senantiasa menyayangi aku.


.

__ADS_1


__ADS_2