
Diah Susanti PoV.
Satu bulan kemudian, setelah aku pertemukan Bella dengan Marsel di pantai. Tampaknya hubungan mereka semakin membaik. Rupanya ia mengikuti saranku dalam berkolaborasi mendidik anak tentunya. Lita pun sudah mulai dekat dengan Mommy nya ketika pulang seolah kadangkala Bella yang menjemput.
Derung mobil di depan rumah, aku bergegas keluar, mengintip dari kaca, ternyata Bella mengantar Lita ke rumah, setelah menjemput dari sekolah. Dia menuntun Lita sambil memegangi perutnya saat ini usia kandungan Bella sudah delapan bulan.
"Assalamualaikum..." Lita mengucap salam setelah ku bukakan pintu. Tangan kecil tapi sekal itu meraih tanganku kemudian menciumnya dengan takjim.
"Waalaikumsalam..."
"Eh, anak Mama sudah pulang?" Aku cium pipi cubby Lita dengan gemas sedikit menekan. "Mama... jangan kencang-kencang, hahaha..." anak tiriku itu senang sekali aku cium.
Tatapanku beralih ke Mbak Bella yang memperhatikan kami dengan lekat, entah apa yang ia pikirkan.
"Sayang... sekarang ganti baju sama Mbak Mar ya" ucapku.
"Baik Ma" Lita pun segera berlari sayup-sayup terdengar ia memanggil Marni.
"Diah... besok kan hari sabtu, boleh ya, aku mengajak Lita menginap di rumah," pintanya setengah memohon.
Aku diam sesaat, entah mengapa aku tidak rela mengijinkan Lita menginap. Namun, jika aku melarang. Aku salah. Karena Bella yang lebih berhak atas Lita.
"Baik Mbak, tapi sebaiknya ijin Mas Marsel dulu ya," sahutku dengan terpaksa.
"Aku sudah telepon Dia, tapi kata Ello, aku di suruh minta ijin kamu," jawabnya.
Pada akhirnya aku mengalah, mengiyakan ucapan Bella. Bella kemudian menyusul Lita ke kamar atas. Aku mengekori.
"Sayang, malam nanti kamu menginap di rumah Mommy, ya Nak" ucapnya sambil memegangi pundak Lita.
Lita menoleh ke arahku sepertinya ia minta ijin. Aku mengangguk tersenyum walau aku paksakan.
"Iya Mom, tapi hanya satu malam kan" Lita rupanya kurang berkenan juga. Aku memutar bola mataku ke arah Bella. Ada ketidak puasan di matanya.
"Iya, sekarang siap-siap ya Nak" ucapnya. Lita mengangguk. "Tapi Mbak Marni ikut ya" rupanya Lita masih belum srek hanya tinggal berdua dengan ibu kandunganya.
"Kalau Mbak Mar di ajak, kamu lantas tidur sama Mbak Mar, bukan tidur sama Mom" Bella tampak keberatan.
Aku hanya diam, kali ini biar Lita yang memutuskan.
"Ya deh, Lita bobo sama Mommy, kan hanya semalam" kata Lita pada akhirnya.
__ADS_1
Mereka bersiap-siap kemudian hendak berangkat. Aku menatap Lita yang di gandeng Bella. Ia menoleh ke arahku.
"Mama..." Lita balik badan menubrukku. "Kenapa Mama nggak ikut saja" ya ampun... rupanya tidak hanya aku yang tidak ingin berpisah, Lita pun berpikir sama.
"Nggak bisa begitu dong sayang... kan hanya satu malam, Lita baik-baik disana, jangan nakal ya Nak" aku cium dahinya sayang. Kami pun melambaikan tangan, melepas kepergiannya hingga mobil yang di kendarai Thomas menejer Bella meninggalkan rumah.
*****
Malam harinya aku duduk di ruang tamu, baru beberapa jam di tinggal Lita rasanya lama sekali.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." Aku dengar suara berat mengucap salam, dari suaranya sudah pasti itu Marsel.
"Kok sampai malam Mas?" tanyaku. Wajahnya tampak kuyu mungkin kelelahan. Lalu ku candak tas yang ia pegang.
"Iya, tadi ada rapat dengan klien hingga tiga tempat sayang" ucapnya lalu ia kecup keningku.
"Oh" hanya itu jawabku. Kami segera ke lantai atas.
Aku gandeng suamiku yang baru pulang rasanya bahagia sekali. Beginilah rasanya jika menunggu suami pulang, ketika sudah sampai di rumah, rasanya lega sekali.
"Iya, tadi sudah ijin, tapi katanya hanya semalam, biar saja" jawabnya santai.
"Ya sudah... Mas mandi dulu terus makan,"
Ia menggangguk lalu ambil handuk yang sudah aku siapkan.15 menit kemudian suami tampanku sudah keluar. Ia hanya mengenakan handuk sebatas puser memperlihatkan dadanya membuatku lagi-lagi tak berkedip.
"Hehehe... kamu kenapa melihatku seperti itu? Kamu mau?" ia mendekat duduk di sampingku.
"Mau? Mau apa?" dahiku berkerut. lima detik kemudian, tangan kekar itu mengangkat tubuhku dalam pangkuannya. Membuatku terperangah.
"Mas" aku tatap matanya penuh hasrat. Kemudian mengangkat kepalaku mencium bibirku lembut. Sudah pasti aku tidak bisa menolaknya. Wangi sabun mandi dan sampoo menambah sensasi tersendiri bagi kami.
Aku mengerjapkan mata Lihat jam ternyata sudah jam 10 malam. Berarti aku tidur sudah dua jam setelah kami bercinta tadi lantas ketiduran, padahal belum makan malam. Aku pindai sekeliling tidak ada suamiku di sekitar. Mungkin di ruang kerja. Pikirku.
Aku segera ke kamar mandi, membersihkan tubuhku. Karena sudah malam, mandi kilat tidak lama seperti biasa.
"Mas, habis darimana?" keluar dari kamar mandi mendapati suamiku sudah duduk di sofa. Rambutnya sudah basah.
"Ambil makanan buat kita" ucapnya tersenyum kepadaku. Senyumnya itu sungguh memabukkan. Segera aku ganti baju, perutku memang sudah keroncongan.
__ADS_1
"Ayo makan" Ia rupanya sudah meletakkan satu piring nasi lengkap dengan lauk.
"Hanya satu?" tanyaku seraya aku dudukan bokongku, di sebelah nya.
"Satu saja, untuk berdua" segera ia letakkan piring di tengah sofa. Tidak menjawab lagi karena perutku sudah lapar aku mengangkat sendok.
"Sini" ia ambil sendok dari tanganku menyuapkan satu sendok ke mulutku. Kemudian bergantian ke mulutnya. Begitu seterusnya hingga nasi habis.
"Mau nambah?" ia menatapku.
"Cukup, kalau Mas mau nambah, aku ambilkan" tawarku. Ia hanya menggeleng. Selesai makan kami berbincang-bincang hingga nasi turun lalu tidur saling berpelukan hingga pulas.
Deerrttt... deeerrrt.
Suara handphone yang tergeletak di atas sofa bekas kami tadi malam tidak di benahi terus bergetar, hingga membangunkan aku. Aku lirik jam ternyata sudah jam lima pagi. Itu artinya sudah adzan subuh. Saking pulasnya aku sama sekali tidak mendengarnya.
Handphone terus bergetar lalu aku beranjak mendekati sofa, ada dua benda tersebut di situ entah miliku atau milik Marsel yang berisik. Ternyata bukan milikku setelah ku dekati. Sudah pasti milik suami tampanku.
Aku lihat nama si penelpon, ternyata nama Mommy Laura. Karena Marsel masih mendengkur, aku angkat telepon, toh hanya mommy yang telepon bukan orang lain, maka aku berani mengangkatnya.
"Hallo!" ternyata bukan Mom yang telepon tapi seorang pria.
"Hallo! Siapa ini?" aku menjawab. Tenyata uncle adik Mom yang telepon dengan bahasa inggris yang kental. Namun sedikit-sedikit aku mengerti intinya mengabarkan bahwa Mommy Laura masuk ke rumah sakit.
Segera aku bangunkan Marsel toh sudah pagi, harus shalat subuh juga. "Mas" aku kecup pipinya.
"Heemmm..." Ia menggeliat.
"Bangun... sholat dulu" segera aku tinggalkan Marsel ke kamar mandi, aku bersihkan tubuhku lalu ambil air wudhu. Keluar dari kamar mandi ku lihat suamiku sudah duduk tapi matanya masih terpejam. Masih malas rupanya.
"Mas, ayo" aku menuggu di sadjadah sudah mengenakan mukena ingin shalat berjamaah.
Ia pun segera ke kamar mandi ambil air wudhu. Selesai shalat baru aku ceritakan perlahan agar tidak membuatnya syok, seperti yang uncle ceritakan tadi ternyata Mommy masuk ruang ICU.
"Apa? Mommy sakit?" aku mengangguk. Wajahnya berubah sendu. Aku usap-usap bahunya menenangkan.
"Kita harus pulang sayang" segera ia bangkit menuju ruang kerja hendak memesan tiket.
Kita? Berarti aku ikut. Segera aku susul dia keruang kerja setelah melipat mukena.
.
__ADS_1