
Frustasi, adalah; sebutan yang tepat untuk Marsel saat ini. Siang berlalu, malam pun datang, sudah jam 10 malam, Lita belum ada tanda-tanda akan di ketemukan. Padahal setelah bertemu dengan Bella sore tadi, ia sudah mengerahkan seluruh anak buahnya agar mencari dimana anaknya kini berada. Saat sedang galau gawai nya bergetar.
"Hallo! Simon, bagaiamana? Sudah ada kabar tentang keberadaan putriku?" cecarnya kepada Simon yang tak lain asistennya di perusahaan Snek Food peninggalan papa.
"Mohon maaf Tuan, tim kami masih belum menemukan keberadaan putri Tuan," Simon menjelaskan pencariannya selama sehari.
Tut.
Marsel kesal lalu memutuskan sambungan telepon. Ia kemudian membuka galeri melihat foto putrinya untuk pengobat rindu.
"Lita... kamu kemana, Nak? Papa tidak bisa kehilangan kamu. Kamu adalah harta Papa yang paling berharga" Marsel menyusuri wajah Lita di galeri foto dengan telunjuk. Hatinya tersayat sembilu, menerima terpaan musibah yang datang bertubi-tubi. Air mata bening pun tidak bisa Marsel tahan.
Hatinya kini benar-benar hancur, Mommy nya saja, hingga kini belum sadar dari koma. Tetapi kini justeru cobaan yang tidak kalah berat menghampiri, anak satu-satunya pergi entah kemana.
Ia lantas ingat Diah Istrinya, segera vidi call, selain ingin tahu keadaan istrinya. Ia juga ingin curhat agar bisa sedikit melegakan sesak di dadanya.
"Assalamualaikum..." tampak Diah baru selesai shalat subuh masih duduk di sadjadah belum membuka mukena.
"Waalaikumsalam..." jawab Marsel serak.
"Hey... Mas... kok sedih begitu?" Diah melihat wajah suaminya tampak baru habis menangis. "Kenapa?" tanya Diah memperjelas.
"Lita hilang, Yank" Marsel kembali menitikan air mata. Kini ia tampak cengeng dan rapuh.
"Hilang?! hilang bagaimana?!" Diah tidak mengerti. Marsel lantas menceritakan kronologi, menghilangnya Lita.
"Astagfirlullah..." Diah pun menjadi lemas. Keduanya lantas Diam hingga beberapa menit. "Mas" Diah buka suara. "Maafkan aku Mas" ucapnya ikut menangis.
"Maaf untuk apa, kamu tidak salah Yank, sudah... jangan ikut menangis" Marsel menjadi merasa bersalah niat hati ingin curhat, justeru membuat Diah bersesih.
"Hiks hiks hiks. Aku yang salah Mas, aku yang membuat Lita sengsara. Karena aku membiarkan Lita pergi bersama Bella, jadi begini. Hiks hiks hiks" Diah merasa dirinya lah pangkal dari musibah ini, seandai dia tidak kekeh menyatukan Lita dengan Ibu kandungnya. Lita masih tetap di sini bersamanya.
"Honey... kamu tidak salah,, jangan menangis terus" Marsel menghiburnya.
__ADS_1
"Terus... Mas sudah lapor polisi?" Diah mengusap air matanya, lalu menatap suaminya lekat.
"Belum, tapi orang-orang ku sedang mencarinya." tutur Marsel. Keduanya ngobrol panjang lebar.
"Aku hanya bisa membantu doa, Mas. Semoga Lita segera diketemukan, dan Mommy segera sembuh." pungkas Diah mengakhiri pembicaraan. Marsel pun mematikan vidio call.
Marsel menarik napas berat. Bayangan Lita dan juga mommy memenuhi pikirannya. "Akankah aku kuat menerima cobaan yang begitu berat ini? monolog Marsel.
Mengingat Mommy, Marsel pun menjadi penasaran apa penyebab Mommy sampai kena serangan jantung. Inilah yang masih mengganjal di hati Marsel.
Marsel ingat sesuatu, kemudian bangkit menuruni tangga, mengecek CCTV yang berada di kediaman Momny Laura.
Marsel masuk ke ruang kerja milik Almarhum papa. Tentu saat ini sudah menjadi miliknya. Ruangan ini yang biasa Marsel gunakan untuk menghabiskan waktu selepas dari kantor. Jika sedang berkunjung mengecek induk usaha yang di tinggalkan papanya. Marsel menarik kursi goyang kemudian duduk dan menyalakan komputer.
"Tuan mau minum apa? Saya buatkan, ya" tanya bibi yang sejak tadi memperhatikan Marsel sibuk kesana kemari.
"Tidak usah Bi" sahutnya pendek. Mana mungkin dia memikirkan makan dan minum dalam keadaan kalut seperti sekarang. Bagusnya tadi siang dipaksa makan oleh Diah.
Marsel kemudian fokus ke komputer menggunakan CMS (Central Management System) memutar ulang rekaman CCTV. Tampak samar seorang wanita yang baru turun dari mobil memasuki rumah ini.
"Braak!!
Tangan kekar itu menggebrak meja. "Brengsek" umpatnya. Bibi yang berada tidak jauh dari situ, menghampiri. "Ada apa, Tuan?"
Marsel menoleh cepat ke arah bibi. "Bibi kenapa, tidak mau jujur sama saya?!" tanyanya. Bibi menjadi pelampiasan kemarahan. Pasalnya, di rekaman itu tampak bibi berada di tkp. Intonasi yang tinggi membuat bibi menunduk, hanya berani bertanya dalam hati "ada apa?" tapi mulut bibi terkunci rapat.
"Kenapa Bibi tidak mau cerita kalau Bella datang kesini! hingga menyebabkan Mommy sakit?!" Bentak Marsel.
Bibi kemudian memberanikan diri untuk menatap majikanya. "Ma-maafkan saya, Tuan" bibi terbata-bata.
"Sa-saya..." bibi ingin mengatakan seseuatu tapi takut dengan ancaman Bella.
Tidak tega menatap bibi yang sedang ketakutan, Marsel pun lebih baik keluar dari ruangan. Ia pergi ke rumah sakit menemui Ramon. Namun sampai di tempat. Ramon dan juga Carolina sedang bersedih melihat Laura dari kaca, terutama Carolina tidak henti-hentinya menangis.
__ADS_1
"Ada apa Car?" lirih Marsel mendekati kaca, pikiran buruk menyertai.
"Bi Laura Kak" jawab Carol tak kalah lirih.
Mata Marsel kembali berair tatkala melihat di dalam ruangan dokter sedang memberi pertolongan dengan cara menekan-nekan dada Mommy. Marsel segera menerobos masuk tidak menghiraukan larangan petugas.
Sampai di dalam ruangan. Tit... tiit... tiiiiitttt..."
"Mommy..." jerit Marsil memekakkan telinga dokter dan perawat.
"Mommy... bangun Mom, please..." tangis Marsel mengharu biru, memeluk erat tubuh mommy Laura yang terlentang tak berdaya.
*******
Mommy Laura berjalan gontai mengikuti arah cahaya. Mommy semakin mendekati cahaya yang tampak indah, membuatnya ingin segera sampai tujuan.
Binar bahagia di wajah Mommy Laura, ketika hendak masuk sebuah istana, tampak sang suami melambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Suamiku..." seru mommy, membalas senyum suaminya.
"Istriku... kembalilah, belum saatnya kita berkumpul, suatu saat nanti, aku akan menunggumu di sini" kata pria paruh baya wajah hitam manis seperti gula jawa. Menatap wanita yang masih cantik, berkulit putih, seperti gula pasir. Gula jawa dan gula pasir itu dulu saling menyatu lantaran keduanya saling memperkuat rasa.
"Tidak. Suamiku... aku ingin bersamamu" Mommy terus melangkah maju. Namun, langkahnya berhenti kala mendengar suara anak-anak ramai memanggilnya.
"Oma... tunggu..." dua anak laki-laki kecil mengejarnya, menghentikan langkah mommy.
Mommy menoleh ke belakang. "Siapa kamu?" tanya oma, rasanya bingung, belum pernah bertemu kedua anak laki-laki itu. "Oma... jangan ke sana" cegah dua anak itu bukannya menjawab pertanyaan oma. Dua anak itu menggapai-gapai tangan Mommy.
"Omaaaaa..." tampak anak perempuan cantik, rambut lurus panjang sebahu, tubuh montok, pipi cubby, terengah-engah mengejar kedua anak laki-laki itu. Ketiganya berdiri di depan Oma.
"Calista..." seru Oma. Oma menatap dua anak laki-laki itu, dan juga Calista secara bergantian.
"Oma... jangan pergi, Lita kangen sama Oma" Renggek Lita menarik tangan oma.
__ADS_1
"Tapi... Oma mau tinggal di sini, bersama Opa" mommy Laura menoleh suaminya.
.