
Jam sembilan malam Marsel harus kuat menahan dingin, ia mengguyur tububnya di bawah shower menggosoknya dengan sabun dan sampoo.
Selesai mandi Marsel berdiri di depan cermin mengambil alat cukur mengatupkan bibir kemudian mencukur jenggotnya yang sudah agak panjang.
"Inikan yang kamu mau Yank" Marsel berbicara sendiri. Setelah penampilanya ok, ia segera keluar dari kamar mandi.
Ia memutar bola matanya, menangkap Diah yang sedang duduk di sofa kamar sedang mengetik sesuatu. Marsel tersenyum jalan mendekat ingin segera memamerkan rahangnya yang sudah terlihat rapi.
"Serius amat? Lagi chat siapa sih?" Marsel ikut duduk di sebelahnya, padahal belum pakai baju.
"Ini Mas, ada pesan dari sekolahan Lita. Menanyakan kenapa Lita tidak masuk sekolah," Diah menjawab tapi tetap mengetik tidak memperhatikan Marsel.
"Terùs kamu jawab apa? tanya Marsel kemudian ambil kaos yang sudah disiapkan oleh Diah. Walaupun kaos sudah lama tapi masih layak untuk dipakai.
"Ini aku lagi jawab, aku bilang sedang ada urusan keluarga," Diah mencari alasan yang tepat.
Selesai mengetik, Diah meletakan handphone kemudian mendongak menatap suaminya. Diah terkejut tiap kali suaminya mencukur brewoknya wajahnya berubah lebih muda, dan semakin tampan.
"Daripada lihatin terus... sini" Marsel mengangkat tubuh istrinya. Diah tersenyum lalu mengalungkan kedua lenganya ke tengkuk suaminya.
Marsel menidurkan tubuh istrinya di kasur. Kemudian Marsel turut merebahkan diri. Mereka tidur miring saling berhadapan. Diah segera mengusap rahang suaminya yang sudah seminggu ini ia impikan. Kapan kamu cukur?" Dahi Diah berkerut.
"Tadi di kamar mandi. Mandi malam-malam dingin loh Yank, kamu tega! Sudah jam 10 malam loh" protes Marsel.
"Akhir-akhir ini, aku enggak kuat mencium bau rokok Mas" Diah sebenarnya kasihan juga nyuruh Marsel mandi malam-malam.
"Iya, aku tahu. Maaf" Marsel merengkuh tubuh Diah merasa bersalah. Ia sadar istrinya saat ini sedang mengandung.
"Mas... besok, kita pulang ya, di samping Lita harus sekolah, aku juga kangen sama keluarga di Jakarta." ucap Diah masih betah menyusupkan wajahnya di dada Marsel. Sekarang sudah menjadi candu baginya.
"Iya, tapi sebelum pulang, kita ke rumah Kanigara dulu, aku mau mengucapkan terimakasih kepadanya," sahut Marsel.
"Baiklah" sahut Diah pendek.
"Besok kita memang harus pulang ke Jakrta Yank. Aku mau mengecek kantor disana, ijin ke sekolah Lita. Sebab, lusa kita akan menjenguk Mon" Marsel memilin rambut Diah.
"Kita? Berarti aku di ajak ke Negara B, Mas?" Diah terkejut dan hanya di angguki oleh Marsel.
"Yeee... ketemu Mom" seru Diah tersenyum antusias. Marsel hanya tersenyum. Mereka berbincang-bincang dengan berbagai hal tidak terasa malam telah larut.
Jika Marsel tidur dengan pulas, namun tidak dengan Diah. Pikiranya melayang jauh. Boleh dia senang akan mengunjungi Negara B. Namun ada sebongkah kerisauan di hatinya.
Tinggal menghitung hari, Bella akan melahirkan anak Marsel. Itu artinya intensitas pertemuan antara suaminya dengan Bella akan semakin sering.
__ADS_1
Yang menjadi pertanyaan Diah adalah; akankah hati Marsel yang sedang membeku akan mencair dengan kehadiran baby boy? Dan cinta mereka yang sudah layu akan kembali tumbuh subur? Entahlah; hanya waktu yang menjawab.
Bohong! Jika Diah tidak merasa cemburu.
Pasalnya selama kehamilannya rasa cinta Diah pada suaminya semakin kuat.
*******
Dua hari kemudian, mereka sudah berada di Jakarta. Setelah minta ijin ke pihak sekolah, Diah kembali pulang diantar mang Ade bersama Marsel.
"Mas, nanti siang aku ke kantor ya, aku akan memasak kesukaan Mas, terus kita makan bareng," Diah bersemangat.
"Ok... aku tunggu, jangan berangkat sendiri, nanti biar di jemput mang Ade" pesan Marsel, kemudian mobil berlalu setelah Diah menyetujui.
"Bi, saya mau masak rica-rica Ayam untuk Mas Marsel, jangan dibantu ya" rupanya Diah benar-benar ingin membuat masakan spesial untuk suaminya tidak ingin ada campur tangan bibi.
"Baik Non, perabotannya nanti jangan dicuci, biar saya saja" bibi membiarkan Diah memasak sedangkan bibi membantu Marni beres-beres.
Sambil bernyanyi-nyanyi kecil, Diah bergijabu memasak rica-rica Ayam kampung. Satu jam kemudian masakan matang. Diah menyusunnya di rantang. Selain untuk suaminya Diah juga memisahkan untuk Siska dan Ryndi sahabatnya yang sudah dua minggu tidak bertemu.
"Sudah siap Non?" mang Ade sudah tiba segera masuk ke dalam setelah dibukakan pintu oleh Marni.
"Sudah Mang" Diah baru turun dari tangga dia berdandan untuk suaminya.
"Iya Mar, ayo" mang Ade kegirangan merasa dikasih kesempatan.
"Nggak Non, kasihan Bibi," kilah Marni. Senyum mang Ade mendadak hilang. Namun mang Ade tetap profesional segera menjalankan mobil ke snek food.
Sampai di tempat yang dituju, dengan percaya diri Diah menuju lift. Kali ini Diah sudah tidak merasa minder maupun malu di hadapan bawahan Marsel.
Setelah Diah menggelar konferensi pers saat itu masyarakat justeru banyak yang simpati terhadap Diah. Termasuk para karyawan Marsel.
Para karyawan kali ini mengangguk hormat kala berpapasan dengan Diah.
"Permisi Mbak Siska," sapa Diah dengan senyum kas nya.
"Oh Bu Diah... mau bertemu Tuan?" Siska menatap Diah yang membawa dua buah tangan.
"Iya, Marsel di dalam nggak Mbak," Diah meletakkan bawaanya di atas meja Siska lalu mengeluarkan teromol.
"Ada Bu, kebetulan rapatnya nanti siang," Siska memandangi Diah yang sibuk dengan bekal yang ia bawa.
"Mbak Siska, sudah makan siang?" Diah menatap Siska. Kali ini keduanya saling pandang.
__ADS_1
"Ini cobain masakan saya" Diah meletakan satu teromol di depan Siska.
"Terimakasih Bu, nanti saya makan sama Aldo," Siska segera membenahi makanan tersebut. Kemudian Diah masuk ke ruangan Marsel pelan, berjalan agar tidak menimbulkan suara, berniat mengejutkan.
"Permisi Tuan" Diah merubah suaranya.
"Sudah berapa kali, saya bilang! kalau masuk ketuk pintu Siska,!" sinis Marsel sibuk dengan menandatangi tumpukan berkas, tanpa menatap siapa yang datang.
"Tuan galak banget" tandas Diah. Seketika Marsel mengangkat kepalanya cepat.
"Diah..." ucap Marsel pelan, kontan wajah galaknya menghilang. Lantas berdiri menghampiri istrinya.
"Sini duduk" Marsel mengambil alih bawaan Diah lalu mengajaknya duduk si sofa.
"Waah... kamu jadi memasak?" Marsel menjadi lapar ketika membuka rantang.
"Mas mau makan sekarang? Tapi baru jam 11" Diah mengangkat lengan Marsel melihat jam.
"Nggak apa-apa... makan yuk" Marsel segera menyuap Ayam rica-rica yang di potong kecil. Suapan pertama Marsel berhenti mengunyah.
"Kenapa? Nggak enak ya?" Diah curiga dengan reaksi suaminya.
"Nggak kok, enak. Kamu juga makan ya, aku suapi." Marsel menyodorkan sendok tapi Diah menolak. Mungkin karena pengaruh hormon, setelah memasak justeru merasa kenyang.
Marsel menghabiskan makananya hingga habis. Sambil sesekali minum, entah apa yang dirasa.
"Mas, aku antar makanan ini ke Ryndi dulu ya" Diah minta ijin setelah jam makan siang para karyawan tiba.
"Oh iya, jangan lama-lama" pesan Marsel.
"Nggak Mas, memang Ryndi istirahatnya berapa jam?" Diah menjawab sambil menyiapkan teromol untuk Ryndi.
******
"Waah... ini kamu yang masak Diah... sekarang kamu hebat" puji Ryndi, setahu Ryndi Diah tidak bisa memasak paling nyeplok telur saja gosong.
"Sudah... makan saja dulu" kata Diah. Sejak tadi Ryndi ngoceh terùs.
"Okay... Bu, Boss," Ryndi segera menyantap makanan lalu mengembungkan pipinya mengulum makanan, dengan mata melebar.
"Kenapa Ryn nggak enak ya?" Diah menjadi curiga, tadi suaminya ketika makan suapan pertama reaksinya mencurigakan walaupun setelahnya tampak menikmati masakanya.
"Diah, kamu tadi kan bilang, Pak Marsel sudah makan masakan kamu, terus suami kamu komentar apa?" tanya Ryndi heran, sebab masakan Diah terasa pedas sekali mungkin cabe rawit 1ons ditumbuk semua. Asin, mungkin satu bungkus garam seharga dua ribu dituang semua.
__ADS_1
.