Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Keajaiban.


__ADS_3

Di salah satu rumah Mewah. Yaitu di kediaman Patrick, yang tak lain daddy-nya Bella. Bella tampak mondar-mondar kebingungan.


"Bagaimana ini Daddy, kita tidak bisa menemukan Calista" ucapnya. Ia benar-benar kacau. Jika biasanya Bella selalu sibuk di depan cermin, sejak kepergian Lita tadi siang, wajah model cantik itu tampak kusam.


"Diam, kamu Bella! Jangan bikin Daddy tambah pusing! Ini semua gara-gara kamu!" tandas Patrick. Patrick takut Marsel membuktikan ucapanya melaporkan keluarganya ke pihak yang berwajib.


"Sudahlah Daddy! jangan memarahi Bella terus, kasihan Bella. Dia sedang terpukul karena kehilangan anaknya, masa iya, Daddy memarahinya terus," Mommy membela, Bella.


"Calista kabur itu gara-gara Dia!" tuding Patrick. Melempar tatapan sinis ke arah Bella.


"Maksud Bella, hanya ingin keluarga kami bisa bersatu kembali Daddy" sanggah Bella.


Keluarga itupun saling menyalahkan membenarkan pemikiranya sendiri-sendiri.


"Tapi bukan begitu caranya Bella, dengan kamu membawa lari Calista dari Indonesia, tanpa seijin Marsel. Coba kamu pikir? Kebahagian apa yang kamu dapat!" Patrick menekan pelipisnya dengan telunjuk.


Bella diam, merenungi kata-kata Daddy nya memang benar adanya.


"Kak Bella, saya mendengar kabar, mertua kakak baru saja meninggal" kata adik ipar Bella yang baru pulang kerja, langsung bergabung di ruang keluarga.


Semua tatapan pun tertuju padanya.


"Apa?!" Bella terperangah, menatap lekat Jossua dengan mulut mengaga. "Yang benar kamu, Jossua?!" cecar Bella, tidak yakin akan ucapan adik iparnya.


"Kamu tahu darimana Joss?" Mommy tidak yakin dengan ucapan menantunya.


"Di tempat saya bekerja yang bagian sift malam, ramai membicarakan Nyonya Laura, Mom." jawab Jossua. Mereka saling lempar pandang.


Bagus, jika nenek tua itu mati! tidak akan ada lagi yang menghalangi hubunganku dengan Marsel. Bella tertawa dalam hati.


"Sebaiknya, kita ke sana malam ini" sambung Jossua.


"Jangan!" ucap Bella, Daddy, dan juga mommy bersamaan. Membuat dahi Jossua berkerut.


"Loh, memang kenapa? Bukankah memang seharusnya kita kesana, mengucap bela sungkawa" tegas Jossua.


"Kalau kita kesana, sama saja kita masuk perangkap Jos" Daddy mendelik gusar.

__ADS_1


"Baiklah, jika begitu, saya sendiri saja yang kesana" Jossua segera berangkat. Tidak lagi mendengarkan panggilan Patrick yang memintanya kembali. Untuk apa takut? Toh, dirinya tidak merasa berbuat kesalahan terhadap keluarga Marsel. Jossua satu-satunya keluarga Bella yang tidak ikut campur dengan urusan rumah tangga Bella.


*******


"Mommy.... bangun Mom... bangun..." Tubuh Marsel berguncang, masih memeluk tubuh mommy. Ia belum siap kehilangan mommy. Selama ini belum bisa membahagiakan wanita yang sudah melahirkan dan memberikan kasih sayang yang tulus untuknya.


"Maaf, Tuan Marsel, Ibu Anda sudah pergi, sebaiknya kita ikhlaskan beliau" titah dokter menepuk pelan bahu Marsel.


"Tidak! Mommy belum meninggal" kukuh Marsel. Sejak dua jam yang lalu, ia tidak menggubris kata-kata dokter dan suster. Secara perlahan dokter meyampaikan bahwa mommy Laura sudah meninggal.


Dokter pun memberi isyarat pada suster agar mengikutinya keluar.


"Bagaimana keadaan Kakak saya Dok?" tanya Ramon ketika dokter sampai di luar. Dokter menggeleng lemah lalu menepuk pundak Ramon. "Yang sabar" ucap dokter, dan hanya di angguki oleh Ramon. Ramon sudah tidak mampu untuk berkata-kata. Kakak satu-satunya telah pergi. Walaupun hatinya hancur namun Ramon tetap berusaha tabah.


"Jadi Aunt, sudah..." Carolina tercekat. Air matanya semakin tak terbendung.


"Sudah lah Carol... ayo, masuk" Ramon memeluk pundak putrinya.


"Daddy... Aunt Dad" suara Carolina serak telungkup di dada Ramon.


"Seett... jangan tunjukkan kesedihan kamu kepada Marcel" Ramon memegang kedua pundak putrinya mereka saling berhadapan. "Sebaiknya... kita masuk, dan hiburlah Ello" titah Ramon.


"Mom, maafkan Marsel" Marsel berbisik di telinga Laura. "Aku, sudah membohongi Mom, tapi... aku menyesal Mom, makanya Mom cepat sadar, aku akan memperbaiki semuanya." Marsel mencium punggung tangan Mom.


"Ello... sebaiknya kita segera bawa Mommy kamu ke rumah duka, Nak" kata Ramon hati-hati.


Marsel melempar tatapan jengkel, rupanya tidak hanya dokter yang tidak percaya kepadanya tapi pamanya pun sama. "Tidak! sudah saya bilang Uncle, Mom belum meninggal" bantah Marsel.


"Kak Ello, kata Daddy benar, Aunt, sudah..." Carolina tidak melanjutkan ucapanya. Karena tatapan sinis Marsel menodongnya."Cukup Carol! sebaiknya kamu keluar!" usir Marsel seraya mendorong-dorong tubuh Carol. Carol dan uncle pun mengalah meninggalkan rumah sakit lalu mendatangi rumah duka mempersiapkan untuk mengebumikan mommy.


Jam berganti, tepat dini harin Marsel membuka mata. Awalnya sulit sekali tidur tetapi begitu melihat jemari mommy bergerak-gerak ada kelegaan sedikit di hatinya lantas memejamkan mata, hingga satu jam Marsel tidur.


Marsel ke toilet ambil air wudhu menjalankan shalat malam di ruangan ICU di sebelah ranjang mommy.


"Ya Allah... jika masih boleh hamba memohon, ampunilah segala dosaku, berikan kesembuhan kepada Mommy, dan semoga Lita dalam keadaan sehat, di manapun ia berada" Marsel menengadah lalu meraup kedua tangan.


"Haus..." lirih mommy membuat Marsel seketika berdiri.

__ADS_1


"Mommy... alhamdulillah... mommy sudah sadar" Marsel menghambur ke pelukan mommy. Kemudian memencet tombol memanggil dokter. Marsel tidak bisa berkata-kata selain sujud syukur, doanya kini di kabulkan oleh Tuhan.


"Haus..." mom kembali berucap.


"Baik, Mom..." Marsel bersemangat ambil air mineral yang masih di segel, membuka tutupnya kemudian memasukkan sedotan. "Di minum Mom" Marsel memasukan sedotan ke mulut mommy. Beliau minum sedikit lalu mendorong tangan Marsel.


Tidak lama kemudian dokter dan perawat datang memeriksa kondisi mommy.


"Puji Tuhan... Ibu Anda sudah kembali sadar, sungguh keajaiban, Tuan Marsel" ucap dokter.


Malam itu juga ommy dipindahkan ke ruang rawat inap.


******


"Omaa... jangan pergi... aku kangeeen... Omaaa..." Seorang anak perempuan berumur lima tahun di dalam pesawat membuat para penumpang, dan juga pramugari seketika bangun dari tidurnya. Pasalnya ia menjerit-jerit.


"Dek, dek. Bangun" seorang pria berusia 18 tahun, yang duduk di sebelahnya membangunkan anak perempuan itu.


"Hos... hos... hos..." keringat dingin meluncur membasahi wajah Calista. Ya. Anak perempuan itu adalah Calista. Seketika ia mengedarkan mata ke sekeliling.


"Ada apa ini" dua orang pramugari menghampiri.


"Maaf semua.... adik saya rupanya sedang bermimpi" jawab pria yang berasal dari Indonesia itu menangkup kan kedua tangan berputar ke arah penumpang yang mendekat.


"Oh" para penumpang dan juga pramugari cantik itu kembali ketempat masing-masing.


"Dek kamu bermimpi?" tanya pria itu.


"Iya Om, Lita mimpi, Oma saya meninggal," ucapnya sedih.


"Iya, tapi jangan bersedih yang mamanya mimpi itu bunga tidur." terang pria itu.


"Iya, tapi mimpi itu seperti beneran Om" ucapnya polos mendongak menatap pria di sebelahnya.


"Oma kamu tinggal dimana?" selidik pria itu. Kasihan menatap wajah Lita anak seumuran dia hidup terlunta-lunta. Pikir pria itu.


"Tinggal di Belanda, Om"

__ADS_1


.


__ADS_2