Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Anak Kembar Ini Anakmu.


__ADS_3

"Gara, terimakasih. Kamu sudah menolong anak saya, kirim nomor rekening kamu segera, nanti saya transfer biaya transportasi" kata Marsel tidak ada penolakan.


"Sebenarnya saya tidak mau minta di ganti Kak, tapi kalau Kakak, memasak, ya sudahlah" Kanigara tidak ingin berdebat.


"Di Negara B, kamu tinggal dimana?" tanya Marsel masih berbicara melalui sambungan telepon.


"Di kota xxx Kak"


"Oh gitu, berarti tempat tinggal orang tuamu dekat dengan apartement saya, jika ada waktu saya akan silahturahmi." pungkas Marsel kemudian mematikan sambungan telepon.


Marsel bisa bernapas lega setelah mengetahui jika Lita sudah kembali. Marsel segera menghubungi pihak kepolisian maupun anak buahnya agar menghentikan pencarian.


"Syukurlah Tuan, jika putri Anda, sudah diketemukan" kata Symon. Symon menyusul Marsel ke restoran, atas perintah bos nya, menemani makan siang.


"Symon, pesan makanan kesukaan saya" titahnya. Sudah beberapa hari ini ia tidak nafsu makan. Kali ini baru merasakan lapar.


"Baik Tuan" Symon sudah tahu apa kesukaan bos, kemudian memanggil waitress.


*******


Di tempat yang berbeda. "Jadi, putriku sudah pulang ke Indonesia, Thomas?" tanya Bella pada manajernya matanya melebar, saking terkejut.


Kok bisa anak sekecil itu pulang sendiri dari jarak yang cukup jauh sulit untuk di mengerti secara logika. Batin Bella.


"Iya Non, menurut informasi yang saya dapat, putri Anda saat ini sudah berkumpul dengan Ibu tirinya." tutur Thomas.


"Aku heran Thomas, mengapa anak aku lebih menyayangi Ibu tirinya daripada saya," ada rasa tidak rela di hati Bella.


"Masalah hati saya tidak tahu Non, tapi menurut saya wajar, jika Lita bersikap begitu, karena Non Bella tidak mengurus Bella sejak bayi." entah kekuatan darimana Thomas bisa seberani itu.


"Sebenarnya bos kamu siapa sih Thom? kok malah membela Diah!" sungut Bella.


"Bukan begitu Non, saya hanya mengingatkan," tegas Thomas.

__ADS_1


"Baiklah Thom, kita akan segera memberi tahu Marcello, tapi sebelunya kita rayakan atas kembalinya putriku dengan selamat sampai di Indonesia" Bella bersemangat.


"Merayakan dengan cara apa Non?"


"Kamu ini, gitu saja tidak tahu! Makan siang di restoran" Bella melengos kesal.


"Baik Non, saya tunggu di mobil" Thomas segera memanaskan mobil. Ia tahu, jika berdandan bos nya terlalu lama. Dengan menunggu di mobil paling tidak Bella bisa lebih cepat sedikit. Thomas pun sebenarnya perutnya sudah keroncongan.


Sementara yang di lakukan Bella di dalam kamar, benar saja menurut pemikiran Thommas, walaupun perutnya sudah besar tetapi tetap bersolek, setelah glowing, baru kemudian salin baju. Kali ini, Bella bukan di rumah Momny melainkan tinggal di apartement miliknya.


"Di restoran mana Non?" tanya Thomas setelah mobil berjalan.


"Di restoran xxx saja Thomas" jawab Bella. Ia ingin mengunjungi restoran dimana dulu mengukir cinta manis dengan Marcello, bibir Bella terseyum sendiri, mengingat kala itu.


Thomas mengamati dari kaca spion turut senang. Thomas pikir Bella senang karena sedang memikirkan putrinya yang telah kembali dengan selamat.


"Di sebelah sana tempatnya kosong Non" kata Thomas. Menunjuk sudut ruangan ada tempat yang masih kosong, setelah sampai di restoran yang di tuju.


"Thomas, lihat. Ada Ello di sana" tunjuk Bella dengan jari. Senyum merekah menghiasi bibir Bella. "Kita bergabung saja" kata Bella kemudian menghampiri Marsel. Thomas tidak lagi membantah mengikuti langkah Bella.


"Ello" Bella tersenyum langsung duduk di sebelah Marsel yang sedang menyantap makan siang. Bella menatap menu di depan Marsel, lagi-lagi tersenyum. Bella tahu, ternyata Ello masih menyukai menu favorit mereka berdua. Dan tidak hanya itu, masih mendatangi restoran yang dulu ia jadikan tempat untuk kencan.


"Kamu ternyata masih ingat makanan favorit kita ya El" Bella menelan saliva kemudian memerintah Thomas agar memesan menu yang sama.


"Ello... kok kamu diam saja sih?" Lirih Bella menatap Marsel yang sepertinya tidak peduli akan kehadirannya.


"Heeemm" jawab Marsel tetap asik dengan hidangan di depanya.


"Ello... kamu masih marah ya? Karena, aku penyebab menghilangnya anak kita, tapi tenang, saat ini Lita sudah kembali ke Indonesia" tutur Bella.


Marsel dan Symon saling pandang, lalu menoleh wanita di sebelahnya, dengan wajah datar, berita basi pikir Marsel.


"Saya sudah tahu! tapi jangan senang dulu, Bella! Beruntung Tuhan melindungi Lita hingga bertemu pria baik, coba pikir Bella! seandainya Lita jatuh ke tangan orang jahat! pikir Bella!!" Marsel menunjuk pelipisnya dengan telunjuk wajahnya geram.

__ADS_1


Bella menunduk ia merasa bersalah.


"Saya akan tetap memperkarakan masalah ini, karena kamu sudah lalai, menterlantarkan, bahkan menyakiti darah dagingmu sendiri!" sinis Marsel. Seraya menarik tisu, membersihkan mulut, lalu menyudahi makan.


"Ello, tolong pertimbangkan, aku memang salah, aku minta maaf, setidak nya, kasihani anak kita yang aku kandung ini yang tinggal dua minggu lagi akan lahir," Bella memegang lengan Marsel. Namun, Marsel segera menyingkirkan tangan Bella.


"Tolong Ello, apa kamu tega membiarkan aku mendekam di penjara, lalu siapa yang akan mengurus anak kita nanti." Bella menoleh ke kiri tangan mulus itu bertengger di pundak Marsel.


Entah sungguh-sungguh atau tidak, Bella mengeluarkan jurus air mata.


"Symon" Marcello menggerakkan kepalanya memberi kode agar Symon keluar. Symon mengangguk patuh lalu menunggu Marsel di parkiran. Marsel pun lalu beranjak mengikuti Symon. Namun lenganya di tahan Bella.


"Tunggu Ello" Bella menghadang langkah Marsel.


"Aku tadi berencana mememui kamu, tapi kita justeru bertemu disisni" Bella membuka tas mengambil seseuatu.


"Mau apa lagi Bella, saya terburu-buru mau ke rumah sakit" jawab Marsel memang benar adanya.


"Ello, ini bukti tes DNA bahwa bayi yang aku kandung ini anakmu." Bella mengangkat telapak tangan Marsel, menggenggam kan secarik kertas yang di lipat tiga bagian.


Marsel tertegun menatap kertas di tangan.


"Tes DNA itu aku lakukan sejak usia kandungan aku 6 bulan El" Bella memunggungi Marsel yang hanya diam seribu bahasa.


"Kerena kamu saat itu tidak mengakui bahwa bayi ini memang anakmu" Bella mengusap air bening di sudut mata.


"Saat melakukan tes itu, aku mengalami pendarahan, hingga berapa hari aku di rawat, dan nyawa saat itu aku pertaruhkan, karena apa El? Karena aku butuh pengakuanmu. Biar bagaimana anak ini butuh figur Deddy"


"Aku juga sering melakukan USG walaupun tanpa kamu dampingi" Bella balik badan, berdiri di depan Marsel. "Aku selalu memeriksakan kandungan ini secara teratur, dan kamu harus tahu Ello, anakmu ini kembar laki-laki" Bella mengakhiri ucapanya. Kemudian meninggalkan Marselo di ikuti Thomas yang sejak tadi tidak sepatah kata pun bicara.


Marsel masih tertegun menatap kertas di genggaman tangannya.


.

__ADS_1


__ADS_2