
"Mulai sekarang, Anda harus sering kontrol, dua minggu sekali, Nona" kata dokter setelah melakukan USG.
"Ingatkan jika istri Anda lupa, Tuan" dokter menoleh Marsel yang sedang sibuk dengan handphone.
"Baik Dok" Arabella yang menyahut, sebab Marsel sejak tadi tidak memperhatikan dokter, maupun Bella. Ia hanya diam, dan sibuk check imel yang masuk dari perusahaan.
Dokter kemudian menulis resep, namun sebelumnya mengamati Marsel yang tampak cuek dengan istrinya. Dokter geleng-geleng kepala.
"Bayi Anda sehat, jika Anda tidak ada keluhan saya hanya akan menambahkan vitamin" kata dokter kepada Arabella.
"Baik Dok, jika begitu, saya permisi" Arabella memasukkan vitamin ke dalam tas lalu meninggalkan dokter, di ikuti Marsel menuju parkiran.
Marsel kemudian menjalankan mobilnya tidak sepatah kata pun berbicara.
"El, aku mau makan di luar" kata Bella manja.
"Makan di rumah saja, saya harus cepat pulang, istri, dan anak saya menunggu" jawab Marsel apa adanya.
"Yah... Ello... apa kamu sama sekali nggak kasihan sama anakmu, anakmu ini lapar loh..." Lagi-lagi Bella menjadikan bayi dalam kandunganya sebagai tameng.
Marsel menarik napas panjang. "Memang kamu mau makan apa?" pada akhirnya Marselo mengalah.
"Aku kangen makan, masakan Indonesia El"
Tidak banyak bicara Marsel menuju tempat favorit mereka, ketika hubungan mereka masih harmonis dulu. Menuju kedai makanan kesukaan Bella.
Sebenarnya Marsel malas sekali menemaninya.Tetapi tidak ada pilihan lain agar Bella cepat makan. Marsel ingin segera pulang, waktu sudah sore, pasti Diah dan Lita sudah menunggu.
"El, aku ingin kita mengajak Calista makan bertiga di sini, kapan ya El" dengan percaya diri Bella bicara.
"Tidak usah aneh-aneh, Bel! Calista sudah punya Ibu yang sangat menyayanginya. Lita tidak membutuhkan seorang Ibu yang tidak punya perasaan seperti kamu!" Marsel menatapnya devil.
"Perlu kamu tahu, saya mengajakmu kemari, hanya karena kasihan dengan anak yang kamu kandung"
"Dan jangan pernah berharap aku akan memaafkan kamu, apa lagi sampai berharap kembali kepadamu, jika itu yang ada dalam pikiran kamu"
"Setelah anak itu lahir, saya akan menceraikan kamu!"
"Ello..." Bella meletakan sendok tidak jadi menyuap, kata-kata Ello sungguh menyakitkan.
"Cepat habiskan makananmu, saya ingin segera pulang!" lagi-lagi Marselo berkata ketus membuat mata Bella mengembun.
Bella sebenarnya sakit hati, dikatai seorang ibu yang tidak punya perasaan, tetapi Bella berusaha sabar.
"Ya sudah El, aku sudah kenyang, lebih baik kita pulang" Bella menyudahi makan, kemudian kembali ke parkiran di ikuti Marsel.
*******
Setelah mengantar Bella sampai halaman rumah, Marsel segera putar balik. Kemudian, kembali pulang tidak berniat masuk walupun Bella memaksa.
Dalam perjalanan pikiranya benar-benar kacau, bagaimana caranya berbicara dengan Diah? ia tidak ingin kehilangan dirinya.
Kenapa Bella harus kembali setelah dia berhasil melupakannya. Bukan hal yang mudah untuk menghilangkan Bella dari ingatan, dan pada akhirnya Marsel berhasil.
__ADS_1
Namun, kenapa wanita yang sudah menyakiti buah cinta mereka itu datang kembali? Disaat sudah menemukan Diah, dari sekian banyak wanita yang ingin berada di sampingnya. Dan Diah lah yang mampu membuatnya muve on dari Bella.
"Aaaggghh..."
Marsel memukul-mukul stir.
Untuk mengurangi rasa galaunya Marsel memutar lagu.
Ziell Ferdian.
Jangan kau datang lagi.
Cinta telah ku kemasi.
Dan aku harus beranjak pergi.
Jangan kau tangisi.🎵
Dan jika hati sudah tak mau.
Maka jangan datangi aku lagi.
Sampailah di sini kisah kita.
Kasih aku harus pergi.🎵
Dan jika hati sudah tak cinta.
Maka jangan pernah kau memaksa.
Sampai di sini saja.🎵
********
"Ma, ajarin caranya menggambar orang, bagaimana sih..." Lita garuk-garuk kepala, pasalnya sulit sekali membuat wajah orang.
"Sini Mama ajari" Diah ambil pensil dan buku gambar milik Lita.
"Pertama... Lita membuat Lingkaran dulu seperti ini" Diah mencontohkan.
"Terus agar lebih mudah Lita pakai penggaris, untuk mengukur jarak wajah" Diah ambil penggaris dari dalam tas Lita.
"Oh, ternyata menggambar pakai penggaris juga ya Ma, kirain matematika saja?" Lita memperhatikan Diah mulai menggambar.
"Betul" Diah memperhatikan wajah Lita dengan seksama.
"Kok Mama malah nglihatin lita terùs?" Lita bingung pasalnya Diah memperhatikan wajahnya.
"Soalnya kamu cantik, hehehe" Diah memukul pelan hidung Lita dengan pensil tapi tidak sakit.
Diah kemudian membuat mata dalam garis tengah, membuat alis, lalu menarik ujung batang hidung, dan bibir. Hingga berbentuk sketsa wajah Lita.
"Yey... sudah jadi..." Lita menelisik gambar yang dibuat Diah.
__ADS_1
"Kok Lita, seperti melihat wajahnya ya Ma?" Lita mengerutkan dahi.
"Mirip wajah siapa hayo..." Diah tersenyum memandang Lita yang tampak lucu mengamati gambar.
Bentar ya" Diah membuka laci, lalu ambil foto Lita, menyandingkan dengan sketsa.
"Yey... ini sih gambar wajah Lita, kok Mama bisa," Lita kegirangan.
"Sedikit-sedikit bisa sih... dulu waktu Mama masih sekolah, tidak mengerti pelajaran di bidang akademik, sain, apa lagi, matematika." Diah menceritakan masalalunya kepada Lita.
Diah mengingat ketika dari SD hingga SMA, ia tergolong murid paling bodoh. Namun ia menguasai di bidang seni dan olah raga. Ironisnya kemampuan Diah dibidang itu di pandang sebelah mata oleh ibu kandungnya sendiri.
Diah menitikan air mata ketika mengingat itu, bu Reny selalu mengatai, bodoh, tolol, dan selalu melukai hatinya. Hanya karena dia tidak bisa seperti Adit yang selalu juara kelas yang selalu mendapat juara dua setelah Mawar.
Tidak jarang bu Reny membandingkan dia dengan kakak tirinya. Itulah awalnya Diah menjadi individu yang tidak percaya diri.
Diah selalu mengurung diri di kamar dan membuat gambar. Dan betah berenang di kali hingga berjam-jam.
Ketika di sokolah diikut sertakan lomba renang se kabupaten, hingga mendapat juara satu mengharumkan nama sekolah. Namun tetap saja bu Reny menganggap jika nilai matematika, dan sain mendapat nilai 6 Diah tetap saja bodoh.
"Mama kok malah sedih sih?" Lita memegang lutut Diah.
"Oh iya, lanjut menggambar ya" Diah cepat-cepat menghapus air matanya.
Lita mulai menggambar mencontoh yang diajarkan Diah
"Assalamualaikum..." Marsel menyusul mereka, memeluk pundak istrinya, dan Lita ia posisi duduk di tengah.
"Waalaikumsalam..." jawab Diah dan Lita.
Diah mencium aroma wangi parfum Marsel, seperti parfum yang Diah pakai. Diah tidak bertanya ia pikir biar saja, Marsel memakai parfum miliknya toh parfum itu Marsel juga yang membelikan.
Diah tidak tahu bahwa suaminya setengah hari bersama istri pertamanya.
"Aku siapkan makan malam dulu ya Mas, tolong bantu Lita menggambar." titah Diah kemudian berdiri memegangi pundak Marsel.
"Okay..." jawab Marsel, menatap Diah dari belakang hingga membuka pintu. Maafkan aku honey.
"Papa... Mama tadi kan, menggambar wajah Lita, lihat," Lita menunjukkan gambar.
"Oh, bagus sekali" Marsel melihat gambar.
"Terus... kamu menggambar apa?"
"Lihat ini Pa, ini gambar yang Lita buat, tapi jelek Pa, nggak seperti punya Mama" Lita menunjukkan gambar 4 orang. Terdiri dari Ayah satu anak, dan seorang ibu bergandengan bertiga. Lalu satu wanita lagi, berdiri di belakang agak jauh.
"Oh bagus kok, kamu menggambar siapa?" Marsel mencium pucuk kepala Lita.
"Ini gambar Papa, Lita, sama Mama" kata Lita.
"Terus... ini yang satu lagi?" Marsel tidak bosan bertanya.
"Oh, yang ini Mama Lita yang sudah di Surga"
__ADS_1
Deg. Wajah Marsel pucat pasi.
.