Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Cemburu.


__ADS_3

"Lita berangkat Ma" setelah sarapan pagi Lita berangkat bersama Marsel dan mang Ade.


"Iya sayang... nanti pulangnya Mama jemput," Diah membetulkan tas yang di gendong Lita karena agak miring.


"Pake motor Ma?" Lita berhadapan dengan Diah.


"Iya" Diah tersenyum.


"Yey... Lita paling senang di ajak naik motor." pekik Lita.


"Waah... ada apa ini? kalian berdua senang sekali?" Marsel yang baru dari dalam menghampiri mereka.


"Rahasia" bisik Diah ke telinga Lita keduanya lantas tertawa. Diah kemudian mengambil alih tas dari tangan Marsel.


"Rahasia Pa" Lita merangkul Marsel.


Marsel terkekeh, kemudian menggendong Lita mengajaknya ke mobil. Diah membuntuti sambil menenteng tas kerja suaminya.


"Aku berangkat ya" Marsel mencium kening Diah setelah Lita duduk di dalam mobil.


"Hati-hati Mas" Diah mencium punggung tangan Marsel. Mobil pun berangkat meninggalkan Diah.


Diah kemudian ke dapur berniat belajar memasak bersama bibi.


"Bibi mau memasak apa?" Diah berdiri di samping bibi.


"Mau membuat Banana cake Non" bibi sedang mengayak terigu.


"Aku mau belajar Bi, besok pagi sebelum menjemput Lita, aku mau ke rumah Papi, terus aku mau membawa buah tangan," kata Diah baru mau mencoba sudah percaya diri.


"Silahkan Non, Bibi ajari" jawab bibi.


"Sekarang biar aku yang membuat Bi, Bibi mengarahkan saja, bagaimana cara-caranya" titah Diah. Ia bersemangat. Nanti sore akan memberi kejutan untuk suaminya bahwa ia bisa membuat kue. Diah senyum-senyum sendiri tidak lepas dari tatapan bibi. Bibi hanya geleng-geleng kepala.


"Baik Non, ini telur, mentega, terigu, terus ini pisang sudah saya haluskan" bibi meletakkan bahanya di sisi kompor.


Diah mengocok telur, seperti arahan bibi, kemudian mencampur dengan bahan-bahan yang lain. Setelah selesai ia membakarnya di microwave, mengatur suhu hingga beberapa menit kue pun wangi dan matang. Diah tersenyum kemudian mengangkatnya.


"Sudah matang Bi" kata Diah.


"Tunggu dingin dulu Non, baru di keluarkan dari loyang" kata bibi sambil mememasak yang lain.


Tiga puluh menit kemudian. "Bibiii... kok kue nya rasanya begini?! Diah tampak kecewa begitu mencicipi kue.

__ADS_1


"Kenapa Non?" bibi menekan tekstur kue. "Ini namanya bantat Non" bibi terkekeh.


"Yaaahhh gagal..." Diah kesal dengan dirinya sendiri. Niat ingin memberi kejutan justru dia yang diberi kejutan, hasil karyanya gagal total. Seperti menulis novel jika tidak lulus kontrak. 🤣🤣🤣.


"Jangan patah semangat Non, belajar membuat kue itu... tidak cukup hanya sekali, jika gagal mencoba lagi, sampai bisa" nasehat bibi.


"Begitu ya" Diah mengangkat kue meletakkan di atas meja.


********


Jam 10 pagi Diah bergegas menjemput Lita, sebab jam 11 biasanya anak tk keluar dari kelas.


Motor Diah berjalan sedang tidak lama kemudian sampai di depan sekolah. Ia menyangkutkan helm di spion setelah parkir motor, lalu menarik kunci memasukkan ke dalam tas, kakinya melangkah menuju pagar.


Mata Diah melebar tatkala sosok wanita cantik berkaca mata hitam sedang bersandar di tembok pinggir pagar sambil main ponsel.


Diah pura-pura tidak kenal padahal tahu jika wanita itu adalah Bella. Diah lalu bergabung dengan para penjemput yang lain.


"Selamat siang Bu" sapa Diah sopan kepada ibu-ibu yang rata-rata lebih tua darinya.


"Selamat siang Mbak Diah, ya ampuun kemarin masuk televisi ya?" ibu-ibu terlihat senang. Diah hanya tersenyum.


Arabella kemudian menghampiri Diah yang sedang ngobrol dengan para penjemput, berjalan santai melepas kaca matanya.


"Nona Bella, kok bisa berada di sini?" salah satu ibu mendekati.


"Iya Bu, mau menjemput anak saya" ucapnya melirik Diah. Sedangkan Diah pura-pura tidak kenal.


"Oh ya ampuun... ternyata anaknya sekolah di sini juga Non?" para ibu-ibu saling pandang.


"Iya Bu" Bella tersenyum.


"Boleh kami minta foto bareng Non?" ibu-ibu bersemangat.


"Mari" sahut Bella. Semua foto-foto kecuali Diah.


"Mbak Diah sini" salah satu ibu, melambaikan tangan. Diah hanya tersenyum.


"Ikut aku" bisik Bella selesai foto menarik tangan Diah menjauh dari ibu-ibu. Lalu berhenti di taman sekolah pasalnya Lita keluar masih kurang 10 menit lagi.


"Mau apa kamu?!" Diah menyentak tangan Bella. Sebab Bella memegang lenganya terlalu kencang hingga memerah. Keduanya berhadapan dengan mimik wajah yang menegang.


"Diah, saya hanya ingin bertanya sebagai sesama wanita, bagaimana perasaan kamu, seandainya kamu diposisi saya, aku mengambil suami kamu, apa yang akan kamu lakukan?!" sinis Bella menekan dada Diah dengan telunjuk.

__ADS_1


"Haha... jangan salah, Mbak Belia! saya tidak pernah mengambil suami siapapun, karena Mas Marsel yang datang sendiri kepadaku, dan memintaku untuk menjadi istrinya, walaupun awalnya saya menolak," jawab Diah lantang.


"Lalu kamu percaya begitu saja?! Ello mengajakmu menikah hanya ingin menjadikan kamu pengasuh Lita!" Bella meledek. "Jika kamu tidak percaya lihat ini, Marcello tadi malam pergi kan?! hahaha... itu karena dia menemui aku, dan kami sedang bercinta" Bella memamerkan bekas tanda cinta di leher kemerah-merahan, entah benar itu ulah Marsel atau bukan hanya Bella yang tahu.


Diah menahan emosi, agar tidak terlihat di depan Bella. Diah tidak percaya begitu saja, akhir-akhir ini memang benar Marsel selalu pulang larut malam, tetapi ia bilang sedang banyak pekerjaan.


"Haha... saya tidak perduli, mau Marsel mencintai aku atau tidak, mau menjadikan aku pengasuh anaknya atau tidak, yang jelas, saya mendapat anak yang menyayangi saya" Diah merasa bangga.


Bella menatap Diah horor. "Kita lihat saja nanti Diah, anggap saja kita sedang berlomba merebutkan cinta Marsel, entah siapa yang akan menang, tapi saya yakin, saya yang akan menjadi pemenangnya, maka kamu harus sportif" tantang Bella.


"Ok! siapa takut!" Diah tersenyum seolah tidak ada masalah. "Mana ada lomba belum dimulai sudah mengklaim bahwa Mbak Bella lah pemenangnya! hahaha, Mbak ini lucu" Diah tertawa dibuat-buat.


Kring... kriing... kriiiing.


Bel berdering tiga kali itu artinya Lita sudah keluar. Keduanya lantas kembali mendekati pagar.


"Mamaaa..." panggil Lita kemudian mencium punggung tangan Diah.


"Bagaimana belajarnya hari ini?" Diah berjongkok menyejajarkan tubuhnya.


Sedangkan Bella sebenarnya ingin memeluk anak sulungnya sudah pasti Lita menolak, ia hanya bisa menelan ludah.


"Tadi Lita disuruh menggambar Ma, terus Lita menggambar Papa, Mama, seperti waktu itu" celoteh Lita"


"Pintar... pasti kamu menggambar, Papa, Mama, kamu, sedang bergandengan, iya kan?" Diah tersenyum menoleh Bella yang menatapnya.


"Betul Ma, tapi kali ini... tidak ada Mommy yang sudah di surga,"


Deg.


Wajah Bella memerah mendengar kata-kata putrinya.


Kurang ajar! pasti anakku sudah di pengaruhi oleh wanita ini. Bella membatin.


"Honey..."


Semua menoleh ternyata Marsel menjemput.


"Eh, Mas menjemput?" Diah menghampiri suaminya mencium punggung tangannya, lalu Marsel mencium kening Diah. Lita pun melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Diah.


Marsel tidak menyadari bahwa Bella berada di situ dan di bakar api cemburu.


.

__ADS_1


__ADS_2