
PoV Diah.
Aku susul Marsel ke ruang kerja, tampak ia sedang fokus di depan komputer. "Mas" panggilku lantas ia menoleh.
"Honey... tiket pesawat hari ini, tujuan Negara B, tinggal satu, sayang... awalnya aku berniat mengajak kamu sama Lita, terus bagaimana ini?" tampak segumpal penyesalan di wajahnya.
"Ya sudah... jangan dipikirkan Mas, aku tahu kok, sedang urgent, aku doakan saja, semoga Mommy cepat sembuh"
Walaupun sebenarnya aku ingin sekali ikut, ya sudahlah... mau bagaimana lagi, tidak mau menambah beban pikiran Marsel.
"Maaf ya, aku janji, lain kali akan mengajakmu ke sana" ia meraih pundakku mendekap kepalaku di dadanya, mencium keningku lembut.
"Aku kan sudah bilang, nggak apa-apa, Mas" aku mendongak menatapnya. "Kira-kira, Mommy sakit apa ya Mas," aku mengalihkan sambil memainkan kancing kaosnya.
"Kurang tahu Yank, lebih baik aku tidak usah tahu dulu, suka kepikiran terus." Wajahnya menjadi murung, menatap kosong ke depan. Aku semakin kasihan.
"Oh iya Mas, terus... kamu naik penerbangan jam berapa?" tanyaku ia masih mendekapku di pangkuannya.
"Jam delapan" ucapnya.
"Ya sudah ayo, siap-siap" aku segera turun dari pangkuanya mengait lengannya menuju kamar.
"Kira-kira di sana, berapa hari Mas?" padahal ini pertanyaan konyol, kalau aku pikir lagi. Namanya menengok orang sakit terlebih Mommy, tentu tidak bisa dipastikan.
"Mudah-mudahan Mommy cepat sembuh Yank, aku bisa cepat pulang" jawabnya sambil mengenakan kelana jins. Membuat aku terasa lega.
Setelah semua siap aku mengantarkan ke bandara bersama mang Ade. "Mas, Lita nggak di pamiti?" saking terburu-buru, aku sampai lupa menanyakan hal ini.
"Kita mampir dulu kesana" ucapanya. Ku anggukkan kepala, mobil pun menuju ke kediaman mbak Bella. Sampai di rumah yang besarnya setengah rumah Marsel yang kami tempati, kami turun.
"Lita ada Bi?" tanya Marsel setelah kami memencet bel rumah, seorang ibu setengah baya membuka pintu menatapku lekat.
"Non Bella mengajak Lita jalan-jalan Tuan, katanya sih, mau ke Mall" jawabnya.
"Oh ya Bi, tolong sampaikan pada Bella, kalau Lita tidak betah di sini, jangan di paksa" pesan suamiku.
"Sampaikan juga, pada Lita, saya mau ke Negara B, nanti kalau sudah sampai, saya telepon Dia Bi" kata Marsel. Aku hanya mendengarkan perbincangan mereka.
"Baik Tuan"
Kami kembali ke mobil, tepat jam tujuh sampai di bandara. "Aku berangkat ya" Marsel menciumi semua wajahku. Kening, pipi, dan yang terakhir bibir.
"Hati-hati Mas, kalau sudah sampai, kabari aku" aku raih tanganya, setelah ku cium. Ia usap kepalaku sebelum berlalu. Kami masing-masing melambaikan tangan.
*******
Malam harinya aku merasa sepi, tidak ada Marsel, tidak ada Lita. "Mar, Lita nggak di antar" aku curhat sama Marni.
__ADS_1
"Iya Non, padahal... bilanganya cuma mau menginap satu malam kan?" Marni menoleh ke arahku yang baru turun dari tangga.
"Iya Mar, kalau Lita betah sih nggak apa-apa, cuma aku khawatir anak itu menangis" aku ingat ketika Lita berangkat kemarin sepertinya malas-malasan.
"Iya sih Non, apa nggak sebaiknya telepon saja" saran Marni.
"Oh iya Mar, sampai lupa" tidak pikir-pikir lagi aku menghubungi Bella, tetapi nomor hp nya tidak aktif.
"Tidak aktif Mar" aku letakan handphone kembali.
"Apa mungkin sudah tidur ya Non?" tanya Marni. Aku hanya menggeleng kemudian kembali ke lantai atas. Aku hanya gelisah miring kanan kiri, main handphone bosan, tapi tidak bisa tidur.
Deeerrrt.... deeerrrrttt.
Hp aku bergetar, aku lirik jam weker, saat ini sudah jam 10 malam. Segera aku ambil handphone, begitu melihat nama yang tertera nama Marsel, aku senyum sendiri.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
"Aku sudah sampai Bandara AD sayang" ucapnya dari seberang.
"Alhamdulillah... ke tempat Mom masih jauh nggak Mas, kalau sudah sampai... jangan lupa, kabari aku bagaimana keadaan Mommy ya" aku ingin tahu sakit apa mertuaku sampai masuk ruang ICU.
"Baik sayang, nanti aku segera telepon kamu, tidak jauh kok dari sini, kira-kira 15 menit" jawabnya.
"Iya, kamu juga,"
"Oh iya Mas, Lita ternyata malam ini tidak pulang" aku mengadu.
"Gitu ya, sekarang sudah malam, besok pagi saja, aku hubungi Dia. Besok... kalau Lita belum diantar juga, sebaiknya kamu ke rumah Syifa, biar nggak kesepian" ujarnya.
"Oh boleh ya Mas" aku bersemangat. Sebenarnya aku juga ingin bicara begitu, tapi aku kira Marsel tidak mengijinkan.
"Boleh dong"
30 menit kami ngobrol, Marsel menutup perbincangan setelah mengucap kata.
I love you.
******
Pagi hari aku terbangun setelah shalat subuh, segera menghubungi Bella. Lagi dan lagi handphone nya tidak aktif.
"Ada apa sih ini?! Aku menggerutu sendiri. Namun ya sudahlah. Aku positive thinking saja, Lita kan bersama ibu kandungnya.
Segera aku mandi hendak ke rumah kak Mawar, main bersama Syifa, tentu menyenangkan.
__ADS_1
"Mbak Marni... aku mau pergi dulu ya" setelah mandi dan ganti pakaian, aku pamit ke dapur.
"Iya Non Diah, tapi sarapan dulu" bibi yang menyahut, karena Marni entah kemana.
"Iya Bi" aku membuka tudung saji, tapi tidak berselera untuk makan, lalu menutupnya kembali. Bukan tidak selera karena makanannya tidak enak. Tetapi entahlah, pagi ini rasanya tidak terasa lapar.
"Nanti saja Bi" jawabku. Aku segera masuk garasi menyalakan motor matic, kemudian berangkat.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
Sampai di rumah kak Mawar, rupanya sedang berkumpul di meja makan. Aku melihat kak Mawar, sedang menyuapi kakakku. Alhamdulillah... kakak kini hidup bahagia walaupun dulu rumah tangga mereka nyaris hancur.
"Tumben! Diah, kamu pagi-pagi kesini?" tanya kak Adit setelah menyecap kopi.
"Nggak boleh memang? Aku pulang lagi nih!" candaku, seraya menekan punggungnya.
"Kirain, ribut sama Marsel, terus kabur" selorohnya.
"Yeee... ya nggak lah, enak saja," aku cubit pelan punggungnya.
"Sudah... jangan dengerin kakakmu. Sini, ikut sarapan" titah kak Mawar.
"Nanti kak, sekarang belum lapar, kalau sudah lapar, aku cari sendiri." jawabku.
"Syifa kemana kak" aku lihat tidak ada Syifa.
"Masih bobo" jawab kak Mawar.
"Kamu itu bertamu ke pagian Diah, ya jelas anak-anak belum bangun" kak Adit kembali meledek, melempar tatapan sekilas.
"Ih! Punya kakak satu saja pelit" aku mendelik kesal.
Setelah Syifa bangun aku segera mandikan, aku pakaikan baju yang lucu, lalu aku ajak jalan-jalan ke kawasan komplek.
Lelah berjalan, aku mengajak Syifa main di taman komplek. Di tempat itu banyak yang memandangi aku tidak suka.
"Eh! ini kan orangnya yang menjadi pelakor!" tiga wanita yang tak lain baby sitter mengatai aku sinis.
Aku tertegun menatap mereka. "Ada apa Mbak?" tanyaku bingung tidak ada angin tidak ada hujan, tiba-tiba memaki-maki, apa lagi aku sama sekali tidak mengenal mereka.
"Alaaah... dasar pelakor! Sekali pelakor! Akan tetap menjadi pelakor!" hardiknya.
Tanpa menyahut aku kembali pulang, sepanjang jalan melewati rumah-rumah yang rata-rata di huni ART, karena kebanyakan komplek ini wanita karier.
Mereka sedang membeli sayuran di tukang sayur keliling. Maupun baby sitter, yang sedang menyuapi anak asuhnya melempar tatapan sinis, dan kata-kata yang pedas. "Ya Tuhan... ada apa ini? Mimpi apa aku semalam? Dengan rasa sesak aku berjalan cepat sambil menggendong Syifa.
__ADS_1
.