Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Masih ada rasa.


__ADS_3

Sampai di kediamannya, Bella merasa ada yang hilang dari hidupnya. Bayangan putri kandung nya yang memeluk Diah sungguh menjadi tamparan keras baginya.


Ia berjalan ke ruang kerja, membuka lemari mengambil album diantara tumpukan buku yang lain.


Album saat pernikahanya dengan Marcello, masih terawat dengan rapi. Namun sayang, justeru cintanya lah yang tidak dirawat.


Jemari lentik, kuku yang di cat merah dengan kutek, menelusuri foto wajah dirinya dengan Marsel. Saat bibir mereka berpagutan, saat Marcello memandanganya penuh cinta, saat Ello memeluknya erat terasa masih hangat. Namun kenyataanya sudah lima tahun yang lalu momen seperti ini terjadi.


Air bening jatuh berlinang, di peluknya erat album, ia mendongak ke atas, masih adakah kesempatan seperti dulu, agar keluarga kecilnya akan kembali utuh? itulah yang ada dalam pikiran Bella saat ini.


Sungguh tidak di sangka semua akan menjadi seperti sekarang. "Aaaaaggghh... braakk." Bella membanting album hingga hancur berantakan.


"Nona..." Thomas yang baru selesai memasukkan mobil ke garasi segera menghampiri bos nya. Tampak Bella sedang terisak sedih, duduk di lantai memeluk lutut.


********


Di tempat yang berbeda seorang ibu setengah baya sedang menonton tayangan televisi. Sambil menyeruput teh, dan menikmati cemilan. Beliau adalah bu Reny.


"Bapaaak..." ia memanggil suaminya dengan suara kencang.


"Apa sih Bu? teriak-teriak!" tanya suaminya yang baru selesai melayani pembeli, kemudian menghampiri istrinya.


"Pak lihat, itu kok mirip Diah ya" bu Reny tidak mengalihkan pandangan dari televisi.


"Itu kan memang anak kita Bu" walaupun tampilan wajah Diah banyak berubah pak Renggono masih mengenali.


"Oalah Pak, anak kita ayu yo" bu Reny tampak senang, selain anaknya tampil cantik juga berada di televisi pula.


"Kita telepon dia ya Pak" bu Reny ambil hp di atas meja, setelah melihat tayangan televisi sudah selesai. Diah dan Marsel pun sudah meninggalkan tempat.


"Tunggu Bu" pak Renggono menahan tangan istrinya. "Boleh Ibu telepon, tapi jangan bicara yang aneh-aneh, jangan minta uang atau apapun yang bisa mengganggu kebahagiaan anak kita. Kita ini sudah tua Bu, tidak ada yang lebih bisa membuat kita senang, selain melihat anak cucu kita hidup bahagia" nasehat pak Renggono.


"Iya, iya..." sahut bu Reny kemudian menghubungi Diah.


Begitulah hampir setiap hari pak Renggono selalu mewanti-wanti istrinya, agar jangan mengganggu kerukunan rumah tangga kedua anaknya. Pak Renggono bekerja keras agar istrinya tidak kekurangan uang sehingga tidak meminta-minta lagi.


********


Disalah satu tempat wisata setelah pulang dari studio, Marsel membuktikan ucapanya, mengajak istri dan anaknya jalan-jalan, bahkan berniat menginap.

__ADS_1


"Hahaha... pegangan yang kuat Mbak, tidak usah takut" Lita tertawa geli menatap Marni tampak ketakutan ketika wahana yang ia naiki jungkir balik.


"Mama... Papa... sini ikutan" pekik Lita, dari kejauhan. "Masa Mbak Marni takut" adunya.


Diah dan Marsel melambaikan tangan tersenyum.


"Sungguh, Mbak takut Lit" Marni rasanya mual, pusing, takut terjungkir, campur aduk.


"Huh! Mbak Marni payah, bagaimana mau jagain Lita, gitu saja takut." Lita meledek.


"Kalau Mbak takut jangan dipaksain Nak" kata Diah.


"Iya Ma"


"Kita turun ya Lit, please..." Marni memohon. Lita menurut akhirnya mereka pun pindah naik permainan yang lain.


Sementara Marsel dan Diah, sedang duduk berdua di batu pipih memperhatikan Lita yang sedang naik kereta bersama Marni.


"Honey..." panggil Marsel, meremas tangan istrinya yang duduk di sebelahnya. Sejak tadi istrinya ini mendiamkan dirinya.


Diah menoleh suaminya sekilas lalu kembali menatap Lita, menarik tanganya dari genggaman Marsel. Semenjak bertemu dengan Bella tadi, ia menahan rasa sesak di dada.


"Kenapa kamu? dari tadi aku perhatikan, diam terus" Marsel menatap wajah Diah tampak ada yang disembunyikan.


"Nggak tahu Mas, pikir saja sendiri!" sahutnya, kemudian beranjak pergi meninggalkan Marsel.


Marsel masih menatap sendu kepergian Diah, sambil geleng-geleng kepala. Ia berniat menyusul istrinya tetapi berat meninggalkan Lita.


"Ini pasti gara-gara Bella tadi" batin Marsel.


********


Diah masuk ke dalam kamar salah satu Vila yang Marsel sewa. Vila ini terdiri dari dua kamar, satu kamar untuk Marni dan Lita, satu lagi untuk mereka.


Diah merebahkan tubuhnya di kasur, pikiranya mengembara. Bayangan Marsel saat mengusap perut Bella tadi seperti masih menyimpan rasa sayang. Walaupun Bella yang memegangi tangan Marsel, toh Marsel pun tidak menolak.


Ini lah babak awal yang harus Diah hadapapi. Perbedaan fisik antara Bella dan dirinya sungguh jauh berbeda. Membuat Diah merasa kehilangan percaya diri. Marsel boleh berkata kepadanya sudah tidak mencintai Bella, tetapi tatapan mata Marsel kepada Bella tidak bisa bohong.


Kejadian seperti tadi pasti akan terus berulang. Diah harus menyiapkan mental yang kuat untuk mendampingi Marsel. Sudah menjadi konsekuensinya ia menikah dengan Marsel, pada kenyataannya Bella saat ini sedang mengandung anaknya.

__ADS_1


Ia berkaca kepada dirinya sendiri saat ia mengalami konflik dengan Abim dulu. Karena adanya bayi dalam kandunganya, membuat Abim terus bertahan. Sungguh terasa berat bagi Abim untuk meninggalkan dirinya hingga Syifa lahir baru Abim menjatuhkan talak ketiga untuknya.


"Honey..." Marsel ternyata sudah berdiri di samping ranjang.


Diah tidak menyahut justeru memunggungi suaminya.


"Hai, kamu kenapa sih... cerita dong?" tanya Marsel lembut.


"Kamu pasti masih memikirkan sikap Bella tadi kan?" tanya Marsel tangan kirinya menekan ranjang, tangan kananya memegang pundak Diah agar menoleh ke arahnya.


Diah balik badan menatap Marsel. "Terus terang iya, ternyata kamu masih menyimpan rasa sama Mama Lita kan?" ketus Diah, lalu bangun dari tidurnya.


"Kamu ini bicara apa, sudah sering aku bilang, aku dengan Bella itu masa lalu," Marsel meyakinkan.


"Masalalu, katamu Mas, tapi tidak bisa kamu pungkiri kan! ada benih cinta yang masih dalam kandungan, dan juga Lita. Kedua anak itu, yang akan mengeratkan cinta kalian, dan cepat atau lambat, kalian akan merajut kembali." mata Diah mengembun, banyak kekhawatiran di hatinya.


"Oh itu, masalahnya? terus apa bedanya sama kamu?"


Marsel berdiri melipat tanganya di depan dada.


"Aku?" Diah menunjuk dirinya sendiri.


"Iya, kamu. Jika anak yang membuat kamu ragu akan ketulusan cinta aku, lalu apa bedanya kamu sama Alfredo?" Marsel menaikan bibir atasnya sebelah.


"Jelas beda" Diah membalikan telapak tangan.


"Apa bedanya? coba jelaskan" Marsel menaikkan satu lututnya ke ranjang. Wajahnya mendekati Diah hingga tinggal beberapa cm. Diah memalingkan wajah.


"Ayo jelaskan!" desak Marsel menekan dagu Diah.


"Jelas beda, Alfredo sudah punya kebahagiaan sendiri kok, punya istri yang cantik, saling mencintai, punya anak hampir dua, diantara kami sudah tidak ada rasa. Kami hanya partner dua orang tua yang ingin diskusi bagaimana anak kami tidak akan merasa terlantar karena ke egoisan kami selaku orang tua." tutur Diah panjang lebar.


Sementara kalian masih ada ikatan, bahkan mungkin masih ada rasa cinta, aku bukan orang bodoh kok Mas"


"Terserah kamu Diah! kamu mau bicara apa?! susah! bicara sama kamu!"


Marsel kemudian keluar meninggalkan Diah.


.

__ADS_1


__ADS_2