Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Dua kabar yang membingungkan sekaligus menyenangkan.


__ADS_3

Di dalam mobil, Marsel masih memegangi amplop putih. Ia menarik isi kertas dalam amplop tersebut namun mendorongnya masuk kembali. Hingga beberapa kali Marsel tak sanggup membukanya walaupun pada akhirnya Marcello memberanikan diri.


Kertas keluar dari amplop. Marsel lalu memejamkan mata, mengatur detak jantung yang tidak karuan. Apakah benar hasil tes dna ini positive anaknya? Jika benar, bagaimana perasaan Diah, jika nanti mengetahuinya?


Lalu bagaimana pula akan menceritakannya. Marsel tak sanggup membayangkan jika sampai Diah marah dan akhirnya meninggalkan dirinya. Oh tidaaak...! gemuruh rasa mememui pikiran Marsel.


Tetapi jika memang benar anak yang di kandung Bella adalah darah dagingnya, tidak Marsel pungkiri, tentu tidak akan menyia-nyiakan anak yang tidak berdosa.


"Aku harus hadapi" gumamnya. Toh kejadian ini sebelum menikahi Diah. Jika benar ini memang anaknya Marsel harus gentle menceritakan pada Diah.


Perlahan Marsel membuka lipatan kertas dengan tangan gemetar. "Positive anakku? Marsel kembali bergumam dengan mata melebar sempurna, membaca serentetan tulisan dari atas sampai bawah.


"Ada apa Tuan? Sepertinya, Tuan gelisah sekali?" tanya Symon yang sedang menyetir, sejak tadi memperhatikan pemilik saham terbesar dimana dia bekerja itu sangat gelisah .


"Anak yang di kandung Bella memang benar anakku Sym" jawabnya seraya menggerakkan tangan memijat pangkal hidungnya.


"Lalu?" hanya itu pertanyaan Symon.


"Masih belum tahu" jawabnya singkat.


Mobil terus melaju, menuju rumah sakit, dimana momny di rawat.


*******


"Carol, tolong ambilkan handphone Aunt di dalam tas ya" kata Mommy Laura kepada Carolina.


"Okay..." Carolina ambil benda tersebut lalu memberikan kepada Mommy yang masih terlentang dengan infus di tangan. "Mau telepon siapa Aunt?" tanya Calor.


"Mau video call Lita, sama Diah, kangen" ucapnya seraya menyipitkan mata mencari kontak Diah.


"Assalamualaikum Momy..." jawab Diah melambaikan tangan tersenyum menatap Laura yang sudah agak segar.


"Waalaikumsalam..." Mommy ingin bangun lalu di bantu oleh Carolina. "Salam kenal Diah aku sepupu Marsel" sapa Carolina setelah momny duduk.


"Salam kenal, namaku Diah" jawabnya malu-malu. Seperti biasa, Diah merasa minder jika berhadapan dengan keluarga Marsel, yang rata-rata berhidung mancung.


"Okay... Diah, senang berkenalan denganmu" pungkas Carolina lalu menjauh memberi ruang, agar Aunt ngobrol dengan Diah. Selama ini Carolina maupun Diah belum saling mengenal hanya sering mendengar cerita dari Marsel.


"Nggak usah bangun Mommy, sambil tidur saja" kata Diah tampak cemas. Saat melihat mommy mengatur napas berat.


"Nggak kok, Momny sudah lebih baik, sebenarnya sudah ingin pulang ke Indonesia, tapi dokter belum boleh" adunya kecewa.


"Sabar dulu Mommy, kalau belum sehat jangan di paksakan" nasehat Diah.


"Iya Nak. Kamu sendiri sehat kan?" tanya momny sambil membetulkan posisi duduknya.


"Alhamdulillah... Mommy. Marsel kemana Mom?" tanya Diah.

__ADS_1


"Dia lagi keluar Nak"


"Oh" Diah ngorol panjang lebar, namun sedikitpun tidak memberi tahu jika Lita kemarin sempat kesana.


"Lita kemana Diah? Momny ingin bicara" momny rupanya kangen betul dengan cucu pertamanya itu.


"Baik, Mommy" Diah berjalan cepat kehalaman rumah menghampiri Lita yang sedang bermain lompat tali bersama Ufaira dan tetangganya.


"Lita... Oma vidio call nih" kata Diah sambil berjalan ke arahnya


"Yeee..." seru Lita menghampiri Diah, di ikuti Ufaira.


"Oma..." Lita mendekati kamera bersebelahan dengan Ufaira.


"Lita sayang... kamu lagi dimana? kok, ada Ufaira?" tanya Oma terkejut.


Deg. Diah pun berdiri mematung, menatap bibir Lita, seolah berkata. "Jangan bicara macam-macam Lita... please. Batinnya.


"Lita lagi di rumah bunda Bening Oma, ini ada Ufaira" ujar Lita.


"Oma, ini aku" Ufaira melambaikan tangan.


"Ira, apa kabar Nak, bunda kemana?"


"Bunda kerja Oma, ini kan hari senin" jawab Ufaira.


"Lita, tumben. Kamu main ke Jogja?" Oma merasa heran dan aneh, tidak mungkin Diah pergi ke Yogyakarta jika tidak ada sesuatu, apa lagi tidak ada Marsel disana.


"Oma kok bengong?" Lita mengejutkan Oma.


"Oma kan tadi tanya, kenapa Lita bisa di rumah bunda Bening?" Oma mengulangi pertanyaan.


"Lita kemarin kesitu, Oma, terus pulangnya, langsung ke sini.


Tapi mau ketemu Oma, nggak boleh sama Momny" celoteh Lita. Membuat Diah merasa panik. Yang ditakutkan benar-benar terjadi. Diah khawatir jika momny kaget dan jantungnya kembali kambuh.


"Lita.. biar Mama yang cerita sama Oma ya" Diah ambil handphone dari tangan Lita.


"Diah... apa yang dimaksud Lita ke sini?" Cecar Oma sesekali memegangi dadanya.


"Mommy tenang ya, Diah mau cerita, tapi Momny harus janji, nggak boleh berpikir macam-macam, semua sudah baik-baik saja" hibur Diah.


"Iya, Momny janji" jawab momny seperti anak kecil.


Diah menceritakan semuanya, tidak ada yang ditutup-tutupi. "Kurang ajar! tuh Bella!" wajah Oma berapi-api.


"Momny... tadi sudah janji, loh" potong Diah. "Semua sudah baik-baik saja Mom, yang penting saat ini Lita sudah sama aku, kita lagi senang di sini" hibur Diah membuat Oma lebih tenang dan mengangguk-angguk.

__ADS_1


"Oh iya Mom, Diah ada kabar gembira loh" Diah mengurai senyum.


"Apa?" tanya oma singkat.


"Mommy akan punya cucu" Diah kembali tersenyum.


"Cucu? Berarti kamu..." Oma tampak berbinar-binar menatap wajah Diah. Diah mengangguk.


"Kok, Ello nggak bilang sama Mommy" Mommy merasa heran ada kabar gembira tidak memberi tahu dirinya.


"Hehehe... aku belum cerita sama Mas Marsel" Diah cengengesan.


"Ah, kamu ini Diah, ya sudah, Mommy tutup ya, salam buat keluarga Jogja. Kamu harus hati-hati, jaga kandungan kamu, Mommy belum bisa pulang" nasehat mommy Laura panjang.


"Terimakasih Mom, momny juga semoga cepat sembuh, terus kembali ke Jakarta, momny pernah janji mau ajari aku membuat kue loh" pungkas Diah.


Mommy mematikan handphone setelah mengucap kata, Aamiin.


Mommy menarik napas panjang. Banyak yang terjadi beberapa hari ini yang tidak ia tahu, dan semua sumber kejadian ini, berasal dari Bella. Bella, Bella dan Bella.


"Mommy sudah lebih baik?" tanya Marsel tiba-tiba sudah berada di sampingnya.


"Ello, kamu mengagetkan" Oma menatap wajah Marsel yang tidak baik-baik saja, yang awalnya kesal ingin memarahinya karena tidak membicarakan masalah Lita kepadanya. Oma menjadi tidak tega.


"Ello, kamu kenapa Nak?" tanya Oma lembut, mengusap pundak Marsel yang duduk di sebelahnya.


"Tidak ada apa-apa Mom" Marsel menjawab tampak tersenyum di paksakan.


"Ello, Mommy ada kabar gembira, kamu mau tahu tidak?" oma tersenyum berniat menghibur putranya.


"Kabar gembira Mom. Apa?"


"Baru saja, aku vidio call istrimu, saat ini, Diah sedang hamil, pasti kamu belum diberi tahu kan?"


"Diah hamil Mom? yang benar. Kok dia tidak cerita sama aku?" Marsel balik bertanya menatap lekat wajah oma.


"Betul, sebaiknya kamu segera pulang ke Indonesia, saat ini juga, selagi mereka masih di Yogyakarta, beri dia kejutan" saran oma.


"Betul Mom, tapi... Mommy bagaimana?" Marsel bingung, ingin sekali pulang tapi keadaan Mom masih belum sehat benar.


"Tenang saja Kak, momny kan ada aku" jawab Carolina yang baru saja, selesai makan di luar.


"Betul Nak, pulang lah, Mommy di sini banyak orang yang menemani kok, lagian... Mom sudah lebih baik" pungkas mommy.


Marsel masih terpaku di tempat, hari ini menerima dua kabar sekaligus. Yang satu membingungkan, dan yang satu lagi menyenangkan.


.

__ADS_1


__ADS_2