
Jam lima pagi, Kanigara sampai di bandara Yogyakarta. "Dek, bangun, Dek" Gara menepuk kaki Lita. Lita pun membuka mata, memindai sekeliling tampak bingung.
"Kita sudah sampai" kata Gara. Menyadarkan kebingungan bocah yang baru di kenalnya semalaman itu.
"Sudah sampai ya Om, eh. Kakak" kata Lita serak lalu membuka sabuk pengaman yang masih mengikat pinggangnya. Lita kemudian mengumpulkan rambutnya menatap sekeliling.
"Kamu mencari apa?" rupanya Gara memperhatikan gerak gerik Lita.
"Mau mengikat rambut" kata Lita. Tentu saja di pesawat tidak ada pengingkat rambut seperti ketika di rumah.
Gara lalu berdiri merogoh sapu tangan, berikut sisir kecil di saku celana. "Sini Kakak ikat" Gara menyisir rambut Lita yang panjangnya sebahu kemudian mengikatnya.
"Ayo" Gara menarik rangsel dari kabin pesawat lalu mengggendong rangsel tersebut. Ia menuntun Lita turun dari pesawat. Sampai di bawah, Lita berhenti. "Kenapa?" Gara menoleh seketika menghentikan langkahnya.
"Kak, mau pipis" ucap Lita seraya menggerakkan pinggul menahannya.
"Okay..." dengan sabar, Gara mengantar Lita ke toilet wanita. "Kakak juga mau ke toilet sebelah, kalau kakak belum sampai, tunggu di sini ya, jangan kemana-mana, okay..." pesan Gara.
"Iya Kak" Lita menggapai saklar kamar mandi, walaupun sulit karena saklar terlalu tinggi, namun akhirnya berhasil juga. Setelah menyelesaikan ritualnya Lita ambil air wudhu kemudian menunggu Gara di tempat yang di sepakati tadi.
"Sudah selesai?" tanya Gara ingin menggandeng tangan Lita.
"Nggak mau di gandeng, Kak, nanti batal, Lita sudah wudhu soalnya, kita shalat dulu kan?" Lita menoleh Gara yang masih tertegun. Anak sekecil Lita ternyata sudah berpikir dewasa. Gara tidak tahu, jika Lita sejak bayi tanpa di manja seorang ibu. Itu justeru membuatnya lebih cepat dewasa. Berbeda dengan Kanigara yang selalu di nina bobo kan oleh bundanya.
"Oh iya, shalat dong" jawab Gara langsung menuju mushola bandara.
Kanigara naik taksi menuju rumah nenek. Ibu dari bunda nya.
"Oalah... cucuku... kamu sudah sampai..." seru seorang nenek berusia 60 tahun. Menangis bahagia menyambut kedatangan cucunya yang sudah tiga tahun tidak bertemu.
"Iya Uti. Uti apa kabar?" tanya Gara.
"Baik Cu, eh, kok kamu nggowo Londo? Anak siapa ini?" Uti tercengang netranya langsung tertuju kepada Lita yang masih berdiri di samping Gara.
__ADS_1
"Oh ceritanya panjang Uti, nanti Gara ceritain" ucap Gara.
"Saya Calista Uti. Nama lengkap saya. Calista Marcello Adiwilata." Lita mencium tangan uti.
"Adiwilata? Kok Uti nggak asing nama itu ya?" Uti mengingat nama tersebut kemudian menatap wajah Lita sepertinya familiar.
"Nama orang tua kamu siapa Nak?" Uti penasaran.
"Nama Papa, Muhammad Marcello Adiwilata Uti."
"Bu, biarkan mereka sarapan dulu, ngobrolnya nanti" kata Bhanuwati adik kandung bundanya Kanigara.
Mereka berbincang panjang lebar di sela-sela sarapan pagi.
*******
"Mom, maafkan Ello, jangan diamkan aku terus..." Marcello memang senang Mommy kini sudah sadar dan sudah mau berbincang-bincang dengan teman-temanya. Ramon sang adik, dan juga Carolina yang mengurus ini itu. Tetapi mommy Laura tidak mau menyapa anak kandungnya.
"Mom" Ello menggengam tangan mommy yang sudah mulai keriput. Ia menatap sendu wajah sang Ibu yang tidak mau menatapnya barang sekilas.
"Momy..." lirih Ello.
"Aunt... jangan banyak berpikir dulu" Carolina yang baru dari toilet menenangkan beliau. Carolina memberi isyarat pada Ello agar menjauh dulu.
Marcello mengangguk patuh, tentu ia tidak ingin terjadi apa-apa terhadap ibunya, setelah meregang nyawa.
Ello kembali mengendarai mobilnya menyusuri jalanan mencari putrinya. Lagi-lagi hanya rasa kecewa yang ia dapat. Anaknya belum bisa ia temukan, dari anak buahnya maupun pihak kepolisian pun lagi-lagi melaporkan atas ketidakberhasilannya mencari putrinya
Ello pulang kerumah masuk ke dalam kamar Lita, kemudian membuka lemari. Ia mengambil baju Lita dan menciumnya agar mengobati rasa kangen. Marcello memang menyimpan pakaian Lita tidak hanya di Indonesia, di rumah mommy maupun di apartement pun juga menyimpanya.
Di rak bagian bawah, Ello mengambil salah satu selimut bayi Lita.
Flashback.
__ADS_1
"Ello... bagaimana ini?" Mommy menangis, memeluk tubuh Calista, berat badanya semakin menurun lemas tak berdaya. Bayi berumur 6 bulan itu sedang di infus di rumah sakit. Calista mengalami sesak napas, muntaber, seluruh tubuhnya timbul bintik merah. Menurut dokter tidak cocok minum susu formula.
"Cepat panggil dokter, Ello" titah Laura di sela-sela isak tangisnya.
"Baik Mom" Marsel segera memencet tombol tidak lama kemudian dokter pun datang memeriksa Calista.
"Ibu, pencernaan Cucu Anda, tidak bisa mencerna apapun, selain Asi. Memang Ibu dari bayi ini kemana?" tanya dokter. "Untuk sementara ini hanya itu jalan satu-satunya untuk kekebalan tubuh Calista" terang dokter.
"Baik dok" Marsel segera menghubungi Bella.
"Hallo Ello..." deringan telepon Marsel lantas di angkat Bella.
"Hallo sayang, please... pulang dulu, anak kita sakit parah, harus minum Asi" Ello memohon.
Mommy langsung ambil alih ponsel dari tangan Marsel, tanpa Bella tahu.
"Nggak bisa Ello, sudah berapa kali aku bilang? Tidak ada yang lebih penting dari karier aku. Di jaman yang serba modern seperti sekarang, bayi tidak harus minum Asi, banyak kok susu formula"
"Prak"
Mommy membanting handphone hingga hancur berkeping-keping. Membuat Marsel mendelik tidak mengerti.
"Dengar Ello! saya kutuk wanita yang bernama Arabella! Jika kamu tidak segera menceraikan dia! tidak tanggung-tanggung Mommy akan mencoret nama kamu dari keluarga Adiwilata! Ngerti kamu Ello?!" Mommy menatap Marsel yang masih tertegun tidak tahu apa yang di ucap Bella hingga mommy murka.
Tidak ada pilihan lain, bagi mommy. Mommy lalu menghubungi keponakan Almarhum Adiwilata, yakni suami mommy yang berada di Yogyakarta. Saat itu mereka sama-sama mempunyai bayi perempuan dan Lita di beri asi olehnya.
Flashback of.
Marcello menepuk dadanya yang terasa sesak dengan tangan kiri, sementara tangan kanan meremas selimut Lita. Masih segar dalam ingatan Marcello. Selimut itu untuk membungkus tubuh Lita yang menggigil kedinginan karena suhu tubuh nya terlalu tinggi lalu membawanya ke rumah sakit.
Wajar jika Mommy murka ketika, mengingat itu.
Marsel menjambak rambutnya gusar. Ketika luka hati mommy Laura kepada Bella yang dulu sulit untuk di sembuhkan. Kini Bella menambah luka baru menyebabkan Lita menghilang.
__ADS_1
Lalu bagaimana jika mommy saat ini tahu bahwa Lita menghilang? apa yang akan terjadi pada Mommy yang sedang mengalami sakit jantung. Marcello benar-benar frustrasi.
.