Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Masih kerabat dekat.


__ADS_3

"Mama..." Lita menghambur ke pelukan Diah saat Lita menjemputnya ke bandara.


"Huaaa... Mommy galak, Ma, Lita nggak mau ketemu lagi sama Mommy" adu Lita menangis sesegukan.


"Seeettt... cup-cup sayang..." Diah mengusap punggung anak sambungnya. Diah merasa bersalah ternyata menyerahkan Lita pada Bella, sama saja memasukan Lita ke kandang Harimau. Air mata Diah pun tidak bisa dibendung. Keduanya sama-sama menangis.


Dua orang yang turut menjemput Diah, Gara dan Galuh, melongo tidak mengerti.


"Mommy bohongi Lita terus, katanya Lita mau di ajak ketemu sama Papa, nggak tahunya Papa nggak ada," Lita terus mengadu di sela-sela tangis.


"Lita... muach... muach" Diah merenggangkan pelukan, menciumi pipi Lita. "Mommy kamu nggak bohong sayang, Papa memang ada di sana, mencari Lita" Diah tidak ingin memprovokasi walupun bagaimana Bella adalah Ibu yang melahirkan Lita. "Biar kamu percaya, nanti kita vidio call Papa" Diah menyembunyikan kesedihannya.


"Papa mencari Lita, Ma?" Lita mengusap air matanya cepat tampak berbinar di wajahnya, dan di angguki oleh Diah.


Diah menatap Lita penuh kasih sayang. Walapun Lita bukan anak kandungnya, tetapi sayangnya pada Lita sama seperti sayangnya pada syifa anak kandungnya. "Kamu sehat kan sayang..." Diah menelisik sekujur tubuh Lita khawatir terjadi sesuatu.


"Sehat Ma, Lihat tuh, nggak kenapa-napa. Kan?" Lita memutar tubuhnya, rupanya ia sudah mulai membaik. Membuat Diah tersenyum lalu menangkupkan kedua telapak tangan ke pipi Lita. "Anak nakal! kamu bikin Papa sama Mama jantungan tau!" Diah pura-pura cemberut.


"Maaf Ma, aku kemarin terpaksa kabur dari Mommy, habisnya, Lita di bentak-bentak, tapi Lita ingin masuk surga Ma, walaupun Lita meninggalkan Mommy," celoteh Lita, wajahnya kembali sendu.


Diah mengerti maksud Lita, rupanya nasehatnya tempo hari, untuk tidak durhaka kepada ibu kandung-nya di dengarkan. "Sudah... jangan di pikirkan lagi, besok-besok... Lita bisa minta maaf kok, sama Mommy" Diah menjelaskan panjang lebar.


Gara sejak tadi hanya tertegun mendengar perbincangan mereka.Ia bingung, kemarin katanya Lita di culik orang, tapi sekarang bilangnya kabur. "Maksudnya apa sih ini? Batin Gara.


"Kenalkan Ma, ini Kak Gara, sekarang aku punya Kakak" Lita menarik tangan Diah mengajaknya mendekati Gara bersama seorang wanita wajahnya hitam manis.


"Terimakasih Dek, sudah menjemput saya, maksud saya tadi hanya minta sherlock ternyata malah di jemput" Diah merasa tidak enak.


"Tidak apa-apa Mbak. Mari, singgah ke rumah Uti dulu" jawab Gara, kemudian. Gara berjalan lebih dulu bersama Galuh. Galuh sejak tadi mengamati Diah sepertinya wajah Diah familiar sesekali Galuh menoleh ke belakang.

__ADS_1


"Mas Gara, sepertinya aku pernah melihat wanita itu, tapi dimana ya?" tanya wanita itu yang tak lain sepupu Gara Putri tante Bhanuwati.


"Kamu ini penduduk sini asli loh Galuh, masa nggak tahu, di Daerah sini tuh tempat wisata terkenal hingga di kunjungi banyak orang, tidak hanya dari Indonesia, bahkan dari manca negara, sudah pasti dia pernah ke sini" terang Gara panjang.


"Iya juga ya Mas, mungkin aku melihat Dia di tempat wisata." obrolan mereka berhenti, ketika sampai di tepi jalan hendak naik mobil.


"Mama pernah kemari? tanya Lita ketika sudah di dalam mobil.


"Pernah waktu sekolah dulu" jawab Diah. Membuat Galuh menoleh kebelakang menatap Diah yang sedang memandangi sawah-sawah di sepanjang jalan.


"Mbak, sebenarnya bagaimana ceritanya sampai Calista bisa di culik?" tanya Gara menatap Diah dari kaca spion.


"Ceritanya panjang Dek, sebenarnya ini intern keluarga" jawab Diah singkat. Tentu tidak ingin membuka aib keluarga suaminya.


"Mbak, bukanya tiga hari yang lalu, konferensi pers ya?" Galuh sejak tadi mengingat-ingat. Pada akhirnya menemukan jawaban siapa Diah.


"Emm... iya" Diah menunduk malu.


"Konferensi pers itu..." Diah menggaruk tengkuknya bingung mau menjawab apa. "Seperti Waktu itu loh, sayang... Mama sama Papa kan pernah masuk televisi" jawab Diah. Lita mengangguk-angguk.


Gara menoleh Galuh sekilas yang duduk di sebelahnya, lalu kembali fokus menyetir. Ia tambah bingung siapa Diah sebenarnya. "Aku harus selidiki" batin pemuda yang belum genap 18 tahun itu.


Suasana menjadi hening, Galuh maupun Diah tidak lagi melanjutkan bicara. Hingga mobil belok ke arah rumah jaman dulu, tetapi tampak kokoh. Melegakan Diah karena semua turun dari mobil itu artinya sudah sampai tujuan.


"Kalian sudah sampai?" rupanya uti sedang menunggu mereka di teras rumah.


"Iya Uti, kenalkan, ini Mama Calista" kata Lita. Uti lalu menatap wajah Diah.


"Selamat sore Bu. Kenalkan, nama saya Diah" Diah meraih tangan keriput uti kemudian menciumnya.

__ADS_1


"Oh jadi kamu, Mamanya Calista? Sini masuk Nak" titah Uti kemudian berjalan lebih dulu di ikuti Diah, Lita dan yang lainya.


"Wati... keluar dulu Nak, ada tamu" panggil uti kepada Bhanuwati. "Nggeh Bu" suara Bhanuwati dari dapur kemudian segera keluar, menghampiri mereka.


"Ini Ibu saya Mbak Diah" Galuh menepuk pundak Bhanuwati. Bhanuwati menatap wajah Diah, dari atas sampai bawah. "Kamu bukanya Istri keduanya Marcello?" tanya Bhanuwati tanpa tedeng aling-aling.


"Emm... anu, bu-bukan begitu, Mbak" gugup Diah. Diah tidak enak hati jika dibilang istri kedua.


"Duduk-duduk. Ngobrolnya sambil duduk" titah Uti.


"Tante Wati mengenal Mbak Diah?" tanya Kanigara. Lalu menoleh Diah yang pucat pasi.


"Tante melihat Mbak Diah, dari tayangan televisi, Gara." Bhanuwati dan Sangaji, selalu menonton siaran langsung tiap Ello di wawancara, dan di ceritakan oleh suaminya, kisahnya Ello.


"Tahu nggak Galuh? ternyata Calista ini masih kerabat Mas, Sangaji, Ayah kamu" Bhanuwati merangkul Lita.


"Maksudnya apa Wati?" uti mengerutkan dahi.


"Ternyata Lita ini anaknya Ello Bu, cucunya Almarhum Pak dhe Adiwilaga." tutur Bhanuwati.


"Oh iya, pantas, Ibu seperti pernah mendengar nama Adiwilaga, ternyata Almarhum Pak Adi" Adiwilaga yang tak lain Papa Marcello memang di sini selalu di panggil Adi.


Adiwilaga adalah kakak adik dengan ayahnya Sangaji.


"Oalah kok bisa kebetulan begitu ya" uti geleng-geleng kepala. "Tapi kenapa kok bisa, Calista berada di sana?" selidik uti.


"Ceritanya panjang Bu" potong Diah. Diah kemudian menceritakan semuanya. Tidak ada yang di tutup-tutupi, tidak cerita pun Bhanuwati pasti sudah mendengar cerita dari sangaji.


"Oh jadi begitu ceritanya, memang Bella itu dari dulu bikin masalah terus" sungut Bhanuwati.

__ADS_1


"Bu, saya boleh menumpang toilet?" Diah mengalihkan. Selain memang benar ingin ke toilet, agar Wati tidak melanjutkan cerita tentang Bella. Walau bagaimana Lita tidak boleh mendengar cerita tentang keburukkan Bella.


"Oh silahkan Nak Diah, Galuh... antarkan Mbak Diah ke kamar mandi ya." pungkas uti.


__ADS_2