Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Bonus part. 2


__ADS_3

Malam menjadi sunyi. Marsel masih berduka. Seorang diri ia termenung di ballroom. Sejak SMA ia hanya hidup berdua dengan mommy Laura. Suka duka Marsel lewati bersama mommy.


Masih segar dalam ingatan Marsel. Ketika bertengkar dengan mommy. Lantaran, Marsel membela Arabella ketika mommy selalu menasehati agar Bella bisa berubah lebih baik. Namun rupanya Marsel tidak terima istrinya di marahi Omma. Hingga memicu pertengkaran yang sering kali terjadi.


Marsel merasa bersalah, dulu sering berbuat kesalahan dan belum sempat minta maaf. Tapi kini mommy Laura sudah pergi hanya tinggal penyesalan yang dirasakan Marsel.


Dada Marsel terasa sesak ketika mengingat itu. Kini sudah tidak bisa minta maaf, mommy sudah berada di alam yang berbeda. Ya. Penyesalan memang selalu datang diakhir.


"Mas... aku cari-cari ternyata Mas disini," Diah menghampiri suaminya.


"Disini dingin Mas, mana pakai kaos tipis begini," kata Diah perhatian. Memegangi kaos tipis yang di kenakan Marsel.


"Diah... kira-kira mommy mau memaafkan aku nggak ya?" tanya Marsel lirih.


"Mas, seburuk apapun kelakuan sang anak, seorang ibu pasti akan memaafkan kesalahan anak-anak nya. Apa lagi mommy, beliau itu mertua yang sangat baik. Selama aku menjadi menantunya belum pernah berkata yang menyinggung aku, padahal Mommy tahu, siapa aku di masa lalu," tutur Diah.


"Semoga Yang,"


"Anak-anak sudah tidur Yang?" tanya Marsel merangkul pundak istrinya. Menyembunyikan kegalauan hati di depan Diah.


"Belum, mereka masih pada membaca surah yassin di kamar."


"Mas... aku tahu, Mas sangat kehilangan Mom, tapi dengan termenung menyendiri seperti ini, tidak akan membuat mom senang. Yang membuat Mom senang adalah; sebagai anak, Mas harus selalu mendoakan almarhumah mom," nasehat Diah panjang lebar.


"Kamu benar sayang... kita ke bawah yuk," Marsel mengait lengan istrinya kemudian turun dari ballroom ambil air wudhu, lalu ke kamar anak-anak yang sedang mengaji bersama.


"Kalian sudah shalat?" tanya Marsel. Tampak sudah mengenakan baju koko, sarung, tidak lupa, kopiah menambah penampilannya tampak religius. Diikuti Diah yang sudah mengenakan mukena bewarna putih.


"Belum..." kelima anak Marsel menjawab serentak. Marsel pun mengajak anak-anak nya shalat berjamaah, kemudian tadarus. Suasana kamar sangat ramai lantunan ayat-ayat al quran.


Hingga jam delapan malam, Marsel menutup dengan doa.


"Kakak... Mama boleh minta tolong nggak?" tanya Diah pada Calista setelah mereka bersantai.


"Minta tolong apa Ma?" Lita antusias mendekati mama sambungnya.


"Tolong ambilkan buah kiwi yang Mama beli tadi ya, Nak. Jangan lupa dicuci dulu," ujar Diah.


"Iya Ma," Calista cepat ke lantai bawah. Ambil buah seperti yang di intruksikan Diah. Tidak lama kemudian kembali.


"Ini buahnya Ma," Calista meletakan buah di atas meja sofa.


"Terimakasih sayang..." Diah segera ambil satu buah kemudian menggigitnya.

__ADS_1


"Siapa yang mau buah..." kata Diah di sela-sela menggigit kiwi.


"Aseeem... hiii..." Ghina menyar menyor.


"Emang asem? Ghani coba ya Ma," Ghani ambil satu kemudian menggitnya.


"Boleh... Rafa sama Rafi kalian mau Nak?" tanya Diah lembut. Kepada anak angkatnya.


"Nggak," jawabnya serentak.


"Kenapa, kalian nggak mau?" Marsel menimpali seraya mengacak gemas kepala kedua anak angkatnya.


"Asem Pa, Papa sendiri, kenapa nggak mencoba?" Rafa balik bertanya.


"Nggak apa apa. Papa masih belum berselera makan sayang." ucap Marsel memang benar.


Diah lantas menghentikan makan ketika Marsel tampak bersedih. Lalu menyuapi satu buah yang sudah Diah gigit. "Coba Mas kunyah, terus rasakan antara asam dan manis jika Mas rasakan memanjakan lidah." Diah menghiburnya.


Marsel menurut. "Aach... asam Yang," ucapanya tapi tak urung menelanya juga.


"Mama suka asam ya? Dari tadi sudah habis banyak?" tanya Ghina memperhatikan.


"Yang suka bukan Mama dek, tapi adik kita di dalam perut Mama," Calista yang menjawab lalu mengusap perut Diah.


Diah tersenyum kemudian mecium kepala Lita. "Anak Mama sudah dewasa sekarang."


"Iya, kalian semua akan menjadi kakak, itu artinya... kalian semua sudah besar, dan harus bisa melindungi adik-adik." nasehat Diah.


"Yeeeyyy..." seru mereka. Marsel yang sedang sedih pun terhibur dengan anak-anak yang lucu dan pintar.


*******


Di dalam mobil mewah, yang sedang melaju dengan kecepatan sedang. Keluarga kecil sedang berbincang-bincang.


Keluarga ini seiring dewasanya usia, semakin bijak dalam menyikapi berbagai persoalan, dalam situasi apapun.


Dan yang membuat iri adalah; keluarga kecil ini selalu harmonis. Dia adalah Abimanyu dan Melati.


Terutama Abimanyu. Kegagalan pernikahannya dengan Diah istri terdahulu, menjadi pembelajaran yang luar biasa bagi dirinya.


Pria tampan itu selalu hati-hati dalam bersikap, maupun memperlakukan keluarganya, jangan sampai melukai mereka. Terutama kepada Melati, tentu akan berpikir dua kali jika Abimanyu sampai tega melukai perasaan istrinya yang begitu lembut.


Begitu juga dengan Melati. Wanita cantik itu, selalu hormat dan patuh terhadap belahan jiwanya, hingga membuat Abim semakin jatuh cinta saja.

__ADS_1


"Kita mau kemana Bi, Ummi?" tanya Nizam kepada Abi nya yang sedang menyetir. Anak berusia 6 tahun itu, adalah; Akhmar Nizama Abimanyu. Putra pertama Abim dan Melati.


"Mau taziah ke rumah Tante Diah sayang..." jawab Abim.


"Oh... memang siapa yang meninggal Ummi?" Nizam jika bertanya sampai detail jika belum paham tidak akan berhenti. Maka tidak heran, jika Nizam menjadi anak cerdas.


"Momny nya, Om Marsel yang meninggal sore tadi," jawab Melati.


"Innalillahi..." ucap Nizam selayaknya orang dewasa.


"Tante Diah itu yang mana Bi? Nizam sudah bertemu belum?"


"Tante Diah itu, Mama Kak, Calista," Melati menjelaskan.


"Waah... yang adiknya kembar itu Ummi?" bocah kelas satu SD itu, tampak senang.


"Iya sayang..." Melati mengusap kepala putranya.


"Betul, sayang..." jawab Abim dan Melati bersamaan.


"Ummi, kira-kira dedek di perut Ummi bisa kembar nggak?" polos Nizam.


"Hehe... kalau bisa Ummi minta, Ummi juga ingin punya anak kembar, seperti Tante Diah sayang..."


Ya Melati saat ini sedang mengandung tujuh bulan. Tidak terasa mobil pun berhenti di depan mansion Marsel.


Tok tok tok.


*****


"Non Diah... ada tamu yang menunggu di luar," Marni memanggil Diah yang masih berkumpul di kamar anak-anak.


"Siapa Mbak?" tanya Marsel dan Diah.


"Tidak tahu Non, tamunya sedang hamil,"


Marsel dan Diah pun turun.


*****


Siapa yang kangen dengan Melati? tetap disini. Mungkin ada yang bingung siapa Abim dan Melati? pasti belum membaca karya aku yang sebelumnya. Pernikahan Berurujung Luka. Karena kisah Diah kelanjutan dari kisah Abim dan Melati. 💪💪💪❤❤❤.


Budhe InsyaAllah akan menengok keadaan Anthony yakni, deddy Rafa dan Rafi yang sedang melawan virus HIV. Apakah ia masih bisa bertahan?

__ADS_1


Dan juga akan menengok rumah tangga Intan dan babang Rony. Apakah rumah tangga mereka bshagia juga seperti keluarga Abim??


...Siapa tahu masih ada yang mau baca....


__ADS_2