Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Aku Tidak Ikhlas.


__ADS_3

Kita tengok dulu bagaimana keadaan mantan suami Diah di Jakarta.


"Oeek... oeeekkk..." tangis seorang bayi yang baru berusia 40 hari menjerit-jerit.


"Sayang... cup, cup, cuuupp... jangan nangis ya... Mommy kita lagi mandi," ia adalah Freddy sedang menjaga adiknya, karena Gita sedang mandi sore.


"Oeek... oeeekkk..." tangis bayi itu semakin kencang membuat Freddy kebingungan.


Tok tok tok.


"Mommy... cepetan Mom... dedek nangis terus..." teriak Freddy di depan kamar mandi.


"Iya, sebentar sayang..." Gita menyahut dari dalam kamar mandi.


"Oeek... oeeekkk..."


"Duh... bagaimana ini, rupanya dedek pengen minum." Freddy bergumam.


"Assalamualaikum..."


"Waalaikumsalam..."


"Daddy, Dedek nangis terus... bagaimana ini?" adu Freddy garuk-garuk kepala. Alfredo baru pulang dari konter membawa tas dan kantong plastik, kemudian memberikan kantong tersebut kepada Freddy.


"Yey... jajanan..."Freddy begitu membuka kantong ternyata isinya snek kegirangan.


"Mommy memang kemana?" tanya Alfredo segera meletakkan tas di dekat box bayi. Ia mengusap kepala putranya yang masih berusaha untuk mendiamkan adiknya yang bernama Jessica, bayi perempuan buah cinta Alfredo dan Gita.


"Oeek... oeeekkk..." kedatangan sang Daddy membuat tangis Jessica semakin kencang. Alfredo berniat menggendongnya namun belum sampai mengangkat seruan Gita yang baru keluar dari kamar mandi terdengar nyaring.


"No..." seru Gita.


"Sudah berapa kali, aku bilang Daddy... kalau darimana-mana nggak boleh langsung mengggendong Jessica." omel Gita. Gita masih memakai handuk kimono, kemudian menggendong putrinya.


"Okay... Daddy mandi dulu..." Alfredo mencium kening istrinya sambil berlalu.


"Kan! kan, dibilangin malah begitu, Daddy kamu itu Freddy!" sungut Gita.


"Waah... wah, bakal ada perang nih, kabuuuurrrr...." Freddy kemudian keluar. Gita tersenyum menatap anaknya hingga keluar pintu.


Gita memangku putrinya memberi asi eksklusif, I5 menit kemudian Alfredo sudah keluar dari kamar mandi.


"Al, nanti malam, Ayah sama Ibu mau kesini," kata Anggita.

__ADS_1


"Oh gitu ya, syukurlah..." jawab Alfred kemudian ambil baju ganti lalu memakainya.


"Dedek bobo lagi ya?" Alfred mendekati Gita yang masih menyusui. Memeluk pundaknya.


"Besok kan Jessica genap 40 hari, bagaimana kalau kita adakan syukuran kecil-kecilan, Al?Terus, mengundang pengajian ibu-ibu komplek" usul Gita.


"Aku setuju saja, lakukan yang terbaik. Oh iya sayang... kamu sepertinya kerepotan mengurus Jessica sendirian, bagaimana kalau kita mencari pengasuh?" Alfred kasihan menatap Gita tampak kelelahan.


"Tidak usah Al, kan sudah ada Bibi yang membantu, masalah Jessie, biar aku sendiri yang mengurus." tolak Anggita.


"Tapi... kalau seperti tadi bagaimana?"


"Wajar Al,& anak menangis, tadi tuh aku sudah beberapa kali kena ompol aku mau ketika kamu pulang sudah wangi," tutur Gita. Alfredo terharu lalu mencium kening istrinya.


"Aku mau tidurkan, Jessica di box dulu, Al," kata Gita.


"Biar aku saja sayang," Alfredo segera ambil alih Jessie tapi tanganbya di tahan Anggita.


"Jangan... nanti malah bangun lagi," Gita beranjak menuju box.


Alfredo menatap Gita yang menidurkan Jessie di box sebenarnya kasihan. Gita putri satu-satunya hidup bergelimang harta. Tapi Alfred mengajak Gita hidup sederhana. Tetapi Alfred bangga kelurga kecilnya kini bahagia. Semenjak lahir Jessica, mertuanya sudah membaik, bahkan sering datang kesini.


Sementara Freddy duduk di teras rumah mencari nomor seseorang, setelah menemukan ia menggeser nomer.


"Hallo, Calista... kamu sekarang dimana sih? aku kemarin ke rumah Tante Mawar sama Daddy, loh. Tapi... aku telepon kamu tidak aktif." celotehnya. Kemarin Freddy ikut Alfred mengunjungi Syifa.Tetapi saat ingin janjian ketemuan dengan Calista di rumah tersebut, Calista tidak bisa di hubungi.


"Oh jadi... kamu kemarin ketemu sama dedek Syifa? Aku sekarang lagi di Negara B, lain kali kita ke sana bareng ya Kak,"


"Siiip... Oh iya Lita, aku sekarang sudah punya dedek perempuan, lucu deh," Freddy senyum-senyum ingat adiknya.


"Alhamdulillah... jadi... Tante Gita sudah melahirkan? Selamat ya Kak,"


"Iya Lita, ternyata punya dedek itu menyenagkan ya, nanti kalau kita sudah besar, terus tinggal satu rumah, bisa punya dedek seperti Mommy, nggak?" tanya Freddy polos. 🤣🤣🤣


"Nggak tahu, Kak, nanti aku tanya Mama,"


********


"Huh, dasar Bella! di tengok malah marah-marah," gerutu Diah. Ketika keluar dari kamar.


"Kenapa, Yank? Jadi nengok nggak, kok malah cemberut begitu?" Marsel bertanya dengan mata menyipit. Pasalnya, Diah nengok hanya sebentar ditambah lagi wajahnya merengut kesal. .


"Sudah, tapi Bella malah marah-marah, pakai ngusir lagi," sungut Diah.

__ADS_1


"Sudah, Mas masuk sana! Tapi jangan lama-lama loh! Kalau sampai kamu mau di peluk-peluk sama Dia! Aku pecat kamu jadi suami!" ancam Diah karena kesal suaminya di jadikan pelampiasan kemarahan nya.


"Haha..." Marsel justeru tertawa, melihat wajah istrinya yang sedang marah tampak lucu.


"Kamu ini nyuruh, tapi nggak ikhlas, honey,, kalau kamu nggak ikhlas, lebih baik kita pulang saja, toh kamu sudah nengok" jujur Marsel.


"Iya, sudah sana, aku ikhlas kok," ujar Diah. Marsel menatap mata Diah sebenarnya tidak rela, membuat Marsel ragu.


"Ayo, aku antar sampai di depan pintu," Diah sepertinya memang tidak rela melepas suaminya di dalam. Walapun ada mommy Bella, tapi Diah tidak sepenuhnya percaya.


"Aku tunggu di sini ya" Diah sudah bicara lembut. Namun Marsel bergeming. Bersamaan dengan kebingungan Marsel, dokter pria dan salah satu perawat berjalan ke arahnya.


"Selamat siang Dok," sapa Marsel dengan bahasa negara tersebut. membuat Diah sama sekali tidak mengerti.


"Selamat siang," jawab dokter. Ketika suster hendak membuka pintu tangan dokter menahan lengan suster terlebih dahulu. Menatap Marsel seperti tahu bahwa Marsel menyimpan sejuta pertanyaan.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter.


"Apakah dokter yang menangani pasien yang bernama Keysia Arabella?" Marsel bertanya.


"Betul, Anda siapa nya?"


"Saya suaminya Dok, lebih tepatnya, mantan suami," Marsel menekan kata mantan.


"Mari ikut saya," titah Dokter putar balik memberi kode suster agar mengikuti.


Marsel mengait lengan Diah, mereka berjalan mengikuti dokter.


"Mas, Dokter tadi bicara apa?" Diah menoleh ke samping.


"Ngobrol biasa saja, Dokter itu yang menangani Bella, nanti kita akan tanyakan penyakit yang di derita Bella, sekaligus menanyakan Ayah biologis yang di kandung Bella." tutur Marsel.


"Oh iya, Yank, kamu tadi kan sudah melihat kondisi Bella, memang keadaannya seperti apa?" Marsel memutar bola matanya menatap Diah yang hanya diam mendengarkan.


"Kayaknya penyakitnya biasa saja Mas, kalau aku perhatikan sepertinya batuk pilek saja, suaranya serak, terus nyerocos ngomel-ngomel kayak biasanya, tapi yang membuat aku heran. Bella itu wajahnya jadi jelek begitu," tutur Diah. Marsel hanya mendengar tanpa menimpali.


Mereka sampai di depan ruang dokter. Dokter mempersilahkan masuk. Namun, hanya Marsel yang di perbolehkan.


"Maaf, hanya suami Bella yang di diperbolehkan masuk," Suster menahan Diah ketika hendak ikut masuk.


"Ini istri saya Sus, biarkan Dia ikut masuk," Marsel memohon.


Dokter pun berubah pikiran, pada Akhirnya mengijinkan Diah masuk.

__ADS_1


.


__ADS_2