
Pagi hari Marsel melirik jam tanganya sudah waktunya shalat subuh. Ia memegangi pinggangnya yang terasa pegal. Sebab, ia tidur sambil duduk di samping mommy Laura sejak jam satu dini hari.
"Mommy... El, shalat dulu ya" Marsel mengajak bicara mommy yang belum sadar juga. Ia raih tangan mommy setelah mengusap lembut, lalu meninggalkan-nya.
Ello ambil air wudhu setelah dari toilet, kemudian, mengganti pakaianya dengan sarung. Marsel shalat di bawah tangga rumah sakit. Ia berserah diri dan mendoakan mommy agar di angkat penyakitnya.
Ello juga berdoa untuk kesehatan istri dan putrinya. Selesai shalat, Marsel bersandar di tiang tangga. Rasanya lelah jiwa raga, kantuk menyerang sebab ia jam tiga pagi baru tidur. Lima menit kemudian, Marsel terlelap.
"Mas... aku mau jambu itu" Diah menunjuk buah jambu biji tampak mulai menguning.
"Siapa takut" Marsel memanjat pohon jambu tersebut.
"Papa... Lita juga mau" seru Lita dari bawah. Di atas pohon Marsel mengacungkan jempol. Lalu memetik beberapa jambu yang sudah masak.
"Siapa yang bisa menangkap..." Marsel mengiming-iming buah jambu sambil tertawa dari atas.
"Sini aku tangkap" Diah menengadahkan tangan.
Pluk pluk.
4 buah jambu berhasil Diah tangkap.
"Yeee... Mama berhasil..." Lita lompat-lompat kegirangan. Karena tidak sabar, Lita ingin segera menggigit jambu.
"Eeh... jangan di gigit dulu dong, kita cuci, baru kita makan" titah Diah. Dan di angguki oleh Lita.
"Honey... aku dapat anak burung" Marsel menunjukkan anak burung. Diah dan Lita seketika mendongak. Namun, anak burung tidak terlihat dari bawah, hanya terlihat sarangnya yang bulat.
"Bawa turun Pa... Lita mau lihat." pekik Lita dari bawah. "Iya Mas... nanti kita belikan kandang" Diah menambahkan.
"Okay..." Marsel membawa turun burung yang tampak lucu dan imut.
Gredek gredek.
Terdengar suara keranda di dorong. Marsel seketika membuka mata, menoleh sekeliling ternyata ia tertidur. "Ya Tuhan... aku ternyata bermimpi" gumam Marsel ia segera kembali keruangan Mommy.
Sampai di ruangan Mommy, ternyata sudah ada Carolina, sepupu Marsel putri Uncle Ramon.
__ADS_1
"Kak Ello, kamu habis darimana?" Carolina menoleh Marsel yang masih mengenakan sarung dan kopiah.
"Selesai shalat Car," jawabnya ia tarik kopiah lalu merapikan rambutnya.
"Oh" hanya itu jawaban Carolina.
Saudara sepupu itu, saling menghargai walaupun berbeda keyakinan.
"Carol, aku mau bicara" Marsel agak menjauh dari Mommy Laura, agar tidak mengganggu.
"Ada apa Kak? Serius amat?" Carolina duduk berhadapan dengan Marsel.
"Kamu bisa mengartikan soal mimpi?" tanya Marsel.
"Mimpi? Ah! Kakak, aku pikir mau bicara masalah apa, nggak tahunya masalah mimpi," Carolina geleng-geleng.
"Tapi... mimpi tadi seperti nyata loh, Car, selesai shalat tadi saya mimpi aneh" Marsel masih mengingat mimpi tadi senyum-senyum. Mimpi itu terasa nyata, walaupun kini berjauhan dengan anak istrinya. Namun Tuhan telah mempertemukan mereka walapun hanya lewat mimpi.
"Mimpi apa emang?" Carolina memutar bola matanya kearah Marsel. Marsel menceritakan masalah mimpi tadi.
"Bukan apa-apa Kak, hal semacam itu sering terjadi, kalau kita terlalu memikirkan orang yang kita sayang pasti akan kebawa mimpi." tutur Carolina.
"Nanti kalau Mommy sudah sadar aku mau menjemputnya"
"Kak, istri kakak yang sekarang, cantik seperti Arabbela tidak?" Carolina penasaran. Wanita seperti apa yang mampu melelehkan hatinya. Karena keluarga besarnya menyarankan agar Marsel segera mencari pengganti Bella. Namun sebelumnya Marsel cintanya terpatri untuk Bella.
"Aku sudah tidak respek lagi dengan wanita cantik Car, mau yang biasa saja, yang penting baik" jujur Marsel.
"Waah... kakak aku sekarang sudah berubah" Carol tersenyum.
"Sudah Kak, aku tadi di suruh Daddy, menggantikan kakak menjaga mommy Laura. Kata Daddy, Kakak di suruh istirahat." Carolina kasihan melihat mata sepupunya berkantung karena, kurang tidur.
"Memang kamu tidak kuliah?" Marsel mengerukan dahi.
"Hari ini aku tidak ada jam Kak, sekarang lebih baik Kak Ello pulang ke apartement, aku akan membersihkan Mommy" pungkas Carolina. Carolina segera menyeka seluruh tubuh Mommy.
Marsel menuruti saran sepupunya. Sebaiknya memang harus beristirahat. Jujur selain mengantuk badanya juga sakit semua.
__ADS_1
******
Di tempat yang lain. Bella dan Calista sudah sampai di apartement. Apartement terbuka, Bella menuntun Lita masuk ke dalam. "Papa kemana?" Lita memindai seluruh ruangan. Namun, tidak ada papanya di sana. Lita sudah tidak begitu bisa percaya pada Bella karena sering di bohongi.
"Kita lihat di kamar, yuk" Bella mendorong handle pintu, tetapi di dalam tidak ada siapa-siapa. "Sini masuk" titah Bella karena Lita hanya berdiri di depan pintu. Bella lalu menggandeng tangan Lita.
"Kan! Mommy bohong, tidak ada Papa di sini!" Lita menoleh Bella cemberut.
"Mommy tidak bohong sayang, mungkin Papa lagi kerja, kalau kamu tidak percaya, kita lihat lemari pakaian Papa" Bella membuka lemari Marsel, Lita ikut melihatnya. Memang benar baju Marsel yang biasa di pakai berada di sini.
"Kalau Papa di sini juga, berarti... Mama Diah sendirian dong" Lita kembali bersedih.
"Sudahlah sayang... kamu di sini itu bersama Papa dan Mommy. Kamu harusnya senang, kita bisa berkumpul" Bella mengajak Lita duduk di tempat tidur Marsel mengajaknya bicara.
"Memang kamu tidak senang, bisa bertemu Mommy, lama sekali loh kita tidak pernah bertemu" Bella memainkan jemari putrinya sambil terus bicara.
Lita hanya menunduk, entah senang atau sedih sudah bertemu dengan ibu kandunganya. Tetapi, Lita juga tidak mau berjauhan dengan Mama Diah, seperti sekarang ini.
"Lita... sekarang jangan sedih, ya Nak, pagi ini... kita akan membuat masakan kesukaan Papa, bagaimana?" sebisa mungkin Bella ingin mengambil hati Calista.
"Mommy... tapi Lita mau telepon Mama Diah" rengeknya.
Bella menarik napas panjang. "Lita... kamu tidak senang dengan kehadiran Mommy kamu yang sesungguhnya? yang sudah mengandung kamu seperti dedek bayi ini," Bella menunjuk perutnya.
Kelopak mata Lita berputar-putar mengikuti kemana arah gerak Bella yang berbicara sambil mondar mandir.
"Kamu ini aneh Nak, lebih memilih Mama Diah yang jelas Ibu tiri, daripada Mommy yang melahirkan kamu" Bella kembali duduk.
"Lita nggak tahu Mommy, apa yang membedakan Ibu kandung atau Ibu tiri" jawab Lita.
"Ya jelas beda Nak, Ibu tiri itu bisa tega terhadap anak sambungnya, karena mereka tidak merasa melahirkan. Sedangkan Ibu kandung, akan senantiasa menjaga anak kandungnya."
"Lita bingung Mom" ujar Lita.
"Bingung?" tanya Bella.
"Iya Mom, Lita nggak ngerti, Ibu kandung teman-teman Lita selalu berada di sampingnya sejak kecil." Mengingat itu, Lita kadang iri dengan mereka. "Lita, pengen seperti teman-teman selalu di jemput ke sekolah. Sedangkan yang pertama kali menyayangi Lita Mama Diah" pungkas Lita.
__ADS_1
Bella lantas mengatupkan bibirnya.
.