
"Masakan aku nggak enak ya Ryn?" Diah terpaksa menjejalkan sedikit masakannya ke mulutnya sendiri, walaupun sebenarnya sudah mual karena memasak sendiri.
"Haaahhh..." Diah melepeh makanan di mulut, membulatkan mata.
"Hihihi... nggak apa-apa Diah... namanya juga belajar, nggak cukup hanya sekali, sekali gagal, mencoba lagi" Ryndi tertawa tapi kasihan melihat raut wajah Diah yang kecewa karena hasil masakanya tidak enak dimakan.
"Iiihhh... aku malu sama Marsel" imbuhnya cemberut.
"Sudah ah, yang penting... suami kamu kan nggak komentar apa-apa, lebih baik kamu kembali ke ruangan suami kamu, gih" usir Ryndi.
"Kamu ngusir aku?" Diah bersungut kesal.
"Bukan ngusir juga sih, tapi kan aku sudah waktunya masuk, Diah," jawab Ryndi memang benar adanya.
"Okay... aku pergi. Daaaaa..." Diah meninggalkan Ryndi yang masih tersenyum mengingat rasa masakan Diah.
Sedangkan Diah kembali ke ruangan Marsel dengan wajah cemberut.
"Heee... kenapa datang-datang kok mukanya di tekuk begitu? Kamu bertengkar sama Ryndi," tebak Marsel. Lalu menghampiri istrinya.
"Aku kesal, masakan aku nggak enak, tapi Mas nggak bilang," omel Diah. Lalu duduk di sofa melengos ketika di tatap Marsel. Marsel hanya terkekeh.
"Enak kok, siapa bilang tidak enak? Ryndi ya?" cecar Marsel, padahal tadi dia sudah tidak mempermasalahkan masakan Diah. Marsel menghargai semangat istrinya sejak pertama menikah menggebu-gebu ingin belajar memasak.
"Aku sendiri yang nyobain, asin, pedas, nggak karuan" keluhnya.
"Seeettt..." Marsel menekan bibir Diah dengan telunjuk.
"Sekarang lebih baik kita kontrol kandungan kamu, aku ingin tahu perkembangan anak kita, selain itu kita konsultasi dengan dokter bagaimana jika kamu nanti ikut aku ke Negara B" Marsel mengalihkan.
"Iya, deh, tapi aku mau ke toilet dulu" Diah beranjak meninggalkan Marsel. Marsel geleng-geleng kepala manatap istrinya dari belakang.
Marsel kemudian menghubungi pihak rumah sakit menanyakan jadwal dokter praktek hari ini jam berapa.
Marsel kembali melanjutkan pekerjaannya. Ia mengangkat kepala setelah mendengar derap kaki Diah.
"Jadwal praktek dokter jam dua, Yank. Nanti kita berangkat setengah dua ya" ucap Marsel.
"Iya Mas, pulang dari dokter, kita kerumah Papi ya, sudah lama aku mggak ketemu" Diah merebahkan tubuhnya di sofa.
"Siap... Nyonya Marcello," Marsel tersenyum lalu kembali menandatangi berkas.
__ADS_1
Sudah tiba waktu yang direncanakan, mereka berangkat ke rumah sakit bersalin diantar mang Ade. Mereka menunggu dipanggil karena Marsel sudah mendaftar lewat telepon.
Hingga beberapa menit kemudian. "Diah Susanti" mendengar istrinya di panggil Marsel segara masuk ke ruang periksa.
"Mbak Diah ya?" seru dokter pria tampan. Dia adalah dokter Tio yang dulu pernah menangani saat Diah, melahirkan Syifa.
"Betul Dok," Diah menjawab singkat.
Tio beralih menatap Marsel yang menggandeng lengan Diah. Tio tentu tahu siapa Marsel. Walaupun tidak mengenal secara pribadi.
Keduanya saling pandang, dalam hati Marsel bertanya. Mengapa dokter ini mengenal Istrinya.
"Kenalkan Pak, saya... dulu dokter yang menangani istri Anda, saat melahirkan putri pertama," Tio menjelaskan sambil mempersilahkan duduk lalu di angguki oleh Marsel. Sementara Diah merebahkan tubuhnya di ranjang pemeriksaan. Lalu asisten Tio memeriksa tekanan darah dan lain sebagainya.
"Bayi Anda sehat Pak" kata Tio setelah melakukan serangkaian pemeriksaan USG dan sebagainya.
"Dalam waktu dekat saya akan mengajak istri saya perjalanan jauh, kira-kira bagaimana Dok?" Marsel menunggu jawaban harap-harap cemas.
"InsyaAllah... tidak apa-apa, yang penting jaga istri Anda, agar hati-hati" Tio menjelaskan panjang lebar, kemudian Marsel permisi keluar bersama Diah, setelah Tio mempersilahkan.
Tio memandangi Diah dengan Marsel dari belakang. Ia berpikir, nasip Diah ternyata luar biasa baik. Dulu mempunyai suami seperti Abim sahabatnya, pria tampan dan kaya raya. Lalu saat ini pun lebih mencengangkan, yakni Diah diperistri Marsel. Siapa yang tidak kenal dengan pengusaha sukses itu.
Tio memijit pelipisnya, mengingat Diah, flashback ketika Tio mencintai gadis yang bernama Intan. Cintanya pada Intan, ternyata bertepuk sebelah tangan. "Intan? Guman dokter Tio, kemudian telungkup di meja praktek.
******
"Ternyata dokter Tio itu yang menangani kamu ya? Aku pikir dokternya wanita," ada rasa tidak rela di hati Marsel, istrinya di pegang-pegang oleh pria walaupun itu dokter.
"Iya, kenapa memang?" tanya Diah mendongak menatap dagu Marsel. Ia menyandarkan kepalanya di pundak Marsel saat ini dalam perjalanan menuju rumah Papi Efendi.
"Bisa nggak ya, kalau periksa nanti minta ganti dokter wanita," kukuh Marsel.
"Iya, nanti kalau periksa lagi, kita minta dokter wanita," Diah tidak mau berdebat.
"Kita sampai..." seru Diah seperti anak kecil ketika mobil berhenti di depan kediaman Papi. "Papi..." pekik Diah melihat papi yang sedang bermain bulutangkis di halaman yang luas bersama Juliana.
"Diah..."
"Kak Diah..." papi dan Juli menyahut bersamaan lalu menghentikan permainan.
"Kalian kemana saja?" tanya papi, mengusap kepala Diah. "Marcello... katanya, besan sedang sakit? bagaimana keadaannya?" tanya papi yang tadi belum di jawab sudah bertanya yang lain lagi. Papi berlalu ke ruang tamu diikuti anak dan menantunya. Mereka duduk bersama sambil berbincang-bincang.
__ADS_1
"Mom, sudah lebih baik Pi, kemarin sempat koma, hingga beberapa hari," lirih Marsel mengingat itu wajahnya berubah sendu.
"Ya Allah... maaf ya... Papi tidak sempat menengoknya," walaupun papi Efendi kurang respek kepada menantunya, tetapi jika menyangkut kemanusiaan papi pria yang berhati lembut, tentu turut merasakan kesedihan.
"Tidak apa-apa Pi. Oh iya Pi, tujuan saya kemari, selain kangen Papi, saya juga mau minta ijin, mengajak Diah menengok Mom, barang beberapa hari." tutur Marsel panjang.
"Baiklah Cel, tapi saya minta, jaga putri saya," papi mewanti-wanti.
"InsyaAllah... Pi"
"Kemarin kan, aku jalan-jalan ke Yogyakarta Pi," Diah yang duduk di sebelah papi mengusap punggung tangan papi.
"Ke Jogja Kak? Yah... Kakak, nggak bilang-bilang, kalau aku tahu pasti ikut," sesal Juliana.
"Lain kali Jul, kita kesana sekeluarga," hibur papi melihat wajah Juliana yang tampak kecewa.
"Lagian... aku kesana nggak ada rencana sebelumnya Jul, pokoknya spontan saja, mau silahturahmi ke keluarga Mas Marsel," Diah tidak mungkin menceritakan sebenarnya, apa yang terjadi.
"Mami kemana, Jul?" Diah memindai sekeliling tidak ada Mami Desty di sini.
"Di dapur Kak, kita kesana yuk" Juliana kedapur setelah menyimpan raket di tempatnya. Meninggalkan Marsel yang masih ngobrol dengan papi.
"Mami..." Diah langsung memeluk Mami Desty yang sedang memasak, dari belakang.
"Diah... kamu ke sini sama siapa?" Mami rerkejut lalu, menghentikan aktifitasnya.
"Sama Marsel Mi, lagi ngobrol sama Papi," Diah masih betah memeluk tubuh Mami.
"Kakak, jangan lama-lama peluknya, masa Mami aku diambil sih," kelakar Juliana.
"Impas! wlee... kamu kan ambil papi aku juga," Diah menjulurkan lidah membuat mami Desty tersenyum. Mereka pun ngobrol sambil memasak. Diah menceritakan masakan yang rasanya tidak karuan tadi membuat Juli terkikik geli.
******
Malam hari di kamarnya, Marsel tidak bisa tidur, perutnya terasa melilit. Sudah 10 kali BAB, namun belum juga berhenti.
Marsel duduk lemas kehabisan cairan, bolak balik ke kamar mandi, ingin mengambil air hangat untuk minum pun tidak kuat, sekedar untuk berjalan ke lantai bawah.
Telepon Marni, bibi, bahkan mang Ade tidak ada yang mengangkat. Wajar, sebab sudah dinihari.
Marsel menatap Diah yang sedang tidur dalam damai, ingin membangunkan sungguh tidak tega.
__ADS_1
.