
Hampir dua jam, penerbangan dari bandara Sukarno Hatta, menuju bandara 1 Gusti Ngurah Rai, pasutri sampai tujuan.
Dengan jasa taksi mereka menuju hotel mewah yang tidak jauh dari pantai.
"Alhamdulillah... akhirnya sampai tujuan" Marsel langsung menjatuhkan tubuhnya di ranjang yang berukuran size.
"Bersih-bersih dulu dong, Mas" titah Diah, kemudian meletakkan barang bawaan di lemari yang disediakan oleh hotel.
"Okay..." Marsel segera bersih-bersih dan mengganti pakaiannya.
"Sekarang... sebaiknya kita istirahat dulu baru nanti siang kita ke pantai" kata Marsel, Diah mengiyakan.
Marsel tidur memeluk tubuh Diah, jam 10 pagi memang kebanyakan orang akan merasa mengantuk, dan enak untuk tidur. Padahal tidur jam itu tidak baik untuk kesehatan. Namun, tak apalah, sekali-kali.
Diah menyingkirkan lengan Marsel perlahan, kemudian turun dari ranjang. Ia menuju meja, membuka teko listrik mengisinya dengan air mineral lalu merebusnya.
Tidak sampai 5 menit air pun mendidih. Diah membuat teh untuk menghangatkan tubuhnya yang terasa dingin.
Ia meletakan cangkir di atas meja, lalu menyalakan ponsel yang sejak tadi malam ia abaikan.
Deeerrrtt... deeerrrt. HP dalam genggaman tangannya bergetar. Diah kemudian menggeser tombol hijau.
Diah: "Assalamualaikum..."
Mommy: "Waalaikumsalam..." jawab Mommy Marsel di seberang.
Diah: "Mommy apa kabar?" Diah tersenyum, merasa tersanjung mempunyai mertua yang baik.
Mommy: "Kabar baik Diah, tadi saya telepon Lita, katanya kamu sedang berada di Bali ya?"
Diah: "Hehehe... iya Momy, baru 15 menit kami sampai."
Mommy: "Marcello kemana?"
Diah: "Tidur Mom"
"Ya ampuun... anak itu" keduanya terkekeh.
"Sukurlah... kamu akhirnya menuruti saran Mommy, selamat bersenang-senang ya Nak, cepat kasih cucu buat Mom, dan adik buat Lita" mommy terkekeh kembali.
"Terimakasih Mom" Diah malu sekali, bagusnya hanya lewat telepon jika melihat wajah Momy pasti akan menyembunyikan wajahnya.
"Sudah ya Nak" Mommy mengakhiri telepon.
"Siapa yang telepon?" Marsel terbangun dari tidurnya mungkin mendengar perbincangan Diah.
"Mommy, Mas" sahut Diah lalu menyeruput teh.
"Mau kopi, atau teh Mas, aku buatin?" Diah beranjak.
"Kopi boleh, tapi jangan manis ya, soalnya gulanya sudah di wajahmu," kelakar Marsel.
"Mulai menggombal deh" Diah pun mlengos lalu membuat kopi, tapi dalam hatinya tersenyum.
"Ini kopinya Mas" Diah meletakkan kopi di atas meja, tapi Marsel masih limpang limpung di ranjang.
"Aduh..." Marsel meringis.
__ADS_1
"Kenapa?" Diah mendekati suaminya tampak panik.
"Ini yang sakit" Marsel menunjuk juniornya.
"Iiihhh... nyebelin!" Diah gemes merasa dikerjain, lalu menggelitik pinggang Marsel.
"Hahaha... geli... ampun geliiii..." Marsel menggeliat ke kiri dan ke kanan.
Marsel kemudian merengkuh tubuh Diah hingga jatuh ke dadanya, terjadilah perang dalam selimut.
"Mas bangun..." Diah membangunkan Marsel, waktu sudah mendekati dzuhur.
"Heeemmm..." Marsel masih malas membuka mata.
"Mas bangun, sudah siang, katanya mau jalan-jalan, tapi tidur terus..." protes Diah.
"Iya, iya... aku bangun" Marsel duduk memandangi Diah yang sudah selesai mandi rambutnya sudah basah.
"Kamu mandi nggak bangunin aku, kita nggak mandi bareng deh" kata Marsel lalu berjalan ke kamar mandi. Tidak melihat bibir istrinya yang menyar menyor, menatapnya.
Diah kemudian menyalakan televisi, mengganti-ganti tombol mencari tontonan yang pas.
Pada akhirnya ia menemukan acara life mengundang beberapa seleb, dan ada seorang model terkenal yang memeriahkan acara tersebut.
Siapa yang tidak mengenal nama Alysia Arabella, termasuk Diah. Mengingat Arabella, Diah ingat nama yang tertera di cincin Marsel.
Deg.
"Mungkinkan? Diah bergumam. Lalu memperbesar volume.
.
"Betul sekali Mbak, saat ini memang saya sedang fokus mengurus keluarga, bagi saya, keluarga adalah: yang nomer satu, tidak ada yang lebih penting." jawab Bella meyakinkan.
Plok plok plok.
"Wow! luar biasa" jawab presenter dibarengi tepuk tangan meriah para hadirin.
"Tapi... yang kami dengar, Anda meninggalkan suami Anda, dan seorang putri demi karier, benar demikian,?" cecar presenter.
"Itu tidak benar Mbak, bukankah tadi sudah saya utarakan, bagi saya keluarga adalah: segalanya."
Plok plok plok.
"Baik-baik, kami percaya, tapi yang masih membuat kami bertanya-tanya, siapakah suami anda yang sebenarnya? benarkan seperti yang sering kami dengar suami Anda adalah: pengusaha terkenal?"
.
"Honey..." Marsel keluar dari kamar mandi. Diah lantas mengalihkan pandangannya ke arah Marsel.
"Iya Mas, aku lapar" Diah mendekati Marsel meninggalkan televisi.
"Okay... aku pesan dulu" Marsel memesan makan siang, sambil menunggu. Mereka minum kopi dan teh sambil ngobrol.
"Mas, aku mau tanya sesuatu boleh tidak?" Diah menoleh televisi ingin menanyakan tentang model terkenal tadi, tapi sedang dijeda iklan.
Hingga pesananan pun datang.
__ADS_1
"Kamu tadi, mau tanya apa, kok nggak jadi?" tanya Marsel padahal sedang menunggu pertanyaan Diah.
"Nanti sajalah, kita makan dulu" Diah membuka nasi box.
"Kamu sudah pernah kesini?" tanya Marsel, sambil membuka air mineral.
"Belum" jawab Diah singkat.
"Tapi pernah jalan-jalan?"
"Sering sih, sudah ah, tidak usah dibahas" Diah merasa tidak etis jika menceritakan saat itu, sebab hanya Alfred yang sering mengajaknya jalan-jalan. Mereka makan dalam Diam hingga nasi habis.
Setelah menikmati kuliner Bali, mereka memesan rental mobil lepas kunci 24 jam guna mengelilingi indahnya wisata Bali.
Di tepi pantai yang paling bersih di antara pantai yang lain, mereka memandangi deburan ombak. Duduk di atas pasir, sambil menikmati kuliner seafood.
"Kamu kenapa, dari tadi diam saja?" Marsel melingkarkan tangannya ke pinggang Diah.
"Aku kepikiran Lita Mas, dia pasti sedang sedih" bayangan Lita saat menangis di bandara tadi selalu hadir dalam kelopak mata. Selain itu Diah juga memikirkan model di televisi tadi.
"Nanti malam kita vidio call, sekarang senyum dong" Marsel mengeratkan pelukanya. Diah pun tersenyum.
"Terimakasih ya, kamu sudah menyayangi aku, menyangi Lita, walaupun Lita bukan anak kandungmu" Marsel terharu.
"Seberapa besar aku menyayangi Lita, belum bisa menebus kesalahan aku atas Syifa Mas" Diah kembali sedih.
"Seeettt... semua punya masa lalu Diah, begitu juga dengan aku" kata Marsel.
"Aku mau jujur sama kamu Diah" serasa ada kesempatan Marsel akan mulai bercerita.
"Jujur tentang apa?" Diah menatap lekat suami tampanya.
"Mengenai Mama Lita" lirih Marsel merasa berat ingin mulai jujur.
"Mama Lita?!" Diah melotot tajam.
"Iya, aku mau jujur Diah, tapi aku mohon, kamu jangan marah, aku mencintaimu, sungguh aku tidak mau kehilangan kamu," jujur Marsel.
"Iya sudah, terus... jangan berbelit-belit, aahh..." Diah sudah tidak sabar.
"Waktu kita makan di resto tempo hari, ketika aku meninggalkan kalian, aku sebenarnya bukan menemui klien seperti yang aku bilang, ta-tapi" Marsel gagap.
"Tapi apa Mas?! cepat bicara?" Diah menggoyang-goyang lutut Marsel yang duduk bersila. Pikiran buruk bersemayam di hati.
"Ak-aku... menemui, Mama Calista"
"Apa?!" Diah seketika berdiri, pancaran marah berkilat di mata. "Jadi... Mama Calista masih hidup Mas, kamu menipu aku lagi Mas?!"
"Honey..."
Marsel kemudian berdiri memeluk tubuh Diah.
"Dengarkan aku dulu, aku belum selesai bicara"
"Lepaskan! aku!" Diah menyentak tangan Marsel kemudian berlari tak tentu arah. Ia merasa sedih, sakit dan terluka.
.
__ADS_1