
"Diah..." rintih Bella dengan mata terpejam kurang begitu jelas karena mulutnya masih tertutup.
"Papa... Mommy menyebut nama Mama," Lita merangkul pinggang Marsel. Lita bingung sendiri apa yang harus ia lakukan.
"Iya sayang... kamu tunggu di sini, temani Mommy, Papa telepon Mama sebentar ya," Marsel memegangi kepala putrinya.
"Iya Pa," Lita kembali duduk di samping Bella sambil mengajaknya bicara.
Sementara Marsel berdiri di depan pintu kamar ICU menghubungi Diah yang masih menunggu di ruang tunggu.
Sementara Mommy Laura, setelah menjenguk Bella sebentar, Marsel menyuruh Symon agar mengantar beliau pulang. Sebab mommy tidak boleh terlalu lelah.
Diah merogoh handphone dari dalam tas, setelah mendengar getaran. Diah menelisik nama si penelepon ternyata suaminya segera mengangkat. Entah apa yang mereka bicarakan yang jelas, Diah segera berjalan cepat masuk ke ruang ICU.
"Mas, ada apa? Bagaiamana keadaan Bella?" cecar Diah. Ia jalan terengah-engah menghampiri suaminya.
"Ayo ikut aku," Marsel menuntun istrinya menghampiri Calista yang masih mengajak bicara Arabbela.
"Bella menyebut nama kamu sayang," Marsel berdiri di samping Bella sambil menggandeng Diah.
"Aku hubungi dokter sebentar," Marsel kemudian menghubungi dokter.
"Iya Ma, tadi Mommy Bella sudah bisa bicara," celoteh Lita, menoleh Ibu tirinya yang masih mematung.
"Alhamdulillah, sayang..." Diah bersyukur.
"Mbak Bella, memanggil aku, Mas?" Diah menunjuk dirinya, ketika Marsel selesai memencet tombol memanggil dokter.
Marsel hanya mengangguk.
Tidak lama kemudian dokter datang bersama perawat, memeriksa keadaaan Bella.
Setelah memeriksa, dokter membuka peralatan yang memenuhi wajah Bella.
"Bagaimana keadaan Bella Dok?" tanya Diah kemudian.
"Syukurlah... Bella sudah melewati masa kritis, Nona. Semoga Bella cepat sadar," jawab Dokter kemudian berlalu.
"Diah..." Bella yang awalnya masih tepejam, mendengar suara Diah perlahan membuka mata.
"Mbak Bella... Mbak sudah sadar? Alhamdulillah..." Diah seketika berjongkok menggenggam tangan Bella.
"Mommy... mom, sudah bangun?" Calista yang duduk di ranjang samping Bella seketika berdiri melempar senyum.
Sementara Marsel hanya diam terpaku.
"Calista," Lirih Bella, memutar bola matanya menatap putrinya dengan senyuman yang terasa berat.
"Iya Mom, maafkan Lita ya," Lita mencium punggung tangan Bella lantas basah dengan air mata.
Diah yang berada di sebelahnya mengusap lembut punggung putri sambungnya.
__ADS_1
"Kamu tidak salah Nak, Mom yang salah, Mom minta maaf," Bella pun tidak kuasa menahan jatuhnya bulir-bulir air mata.
"Mommy..." Lita menenggelamkan wajahnya di dada Bella yang tampak kerontang.
"Ello..." Bella berusaha menatap Marsel.
"Iya Bella kamu jangan banyak bicara dulu," titah Marsel tetap berdiri di tempat.
"Ello... aku mohon, tinggalkan kami bertiga," suara Bella nyaris tak terdengar.
"Baiklah... aku tinggal dulu ya," Pamit Marsel pada Diah, maupun Lita.
"Mas... jangan jauh-jauh, Mas tunggu di luar ruangan saja," titah Diah.
"Ya Yank," jawab Marsel sambil berlalu.
"Diah... aku minta maaf," Bella memegang jemari Diah.
"Sudahlah Mbak. Mbak tidak salah, kita perbaiki semuanya, kita besarkan Lita bersama," Diah memandangi wajah Bella yang awalnya glowing, tapi saat ini, keriput karena kurus, dan berubah menjadi kusam tidak tega.
"Diah... aku ingin memakai jilbab milik kamu boleh?"
"Maksud Mbak, yang ini?" Diah memegangi jilbab bergo yang ia pakai.
"Yang mana saja, Diah... aku ingin meminjam kerudung dan bajumu," ucapnya dengan mata redup.
"Baik Mbak," Diah segara menjauh merogoh ponsel dari tas, kemudian menghubungi suaminya.
Tidak lama kemudian Marsel menghampiri . "Ada apa sayank?" Marsel menghampiri istrinya.
"Baiklah," Marsel kembali ke luar ruangan menghubungi Symon agar mengambil baju seperti yang istri nya pinta.
Satu jam kemudian. "Yank ini pesanan kamu," Marsel menyerahkan paper bag, kepada istrinya.
"Terimakasih Mas," Diah segera membuka baju dan jilbab yang sudah pernah Diah pakai. Sementara Marsel kembali ke luar.
Kebetulan Bella sedang di bersihkan tubuhnya oleh perawat.
"Sus, tolong setelah selesai dimandikan baju Bella di ganti dengan yang ini ya," Diah menyerahkan pakaiain.
"Tapi... Non Bella belum diijinkan memakai baju lain, bolehnya yang ini Nona," suster menunjukkan pakaian dari rumah sakit.
"Sus, tolong... ini permintaan Bella," Diah memohon.
"Baiklah," Suster menuruti saran Diah mengganti pakaian yang Bella pesan.
"Diah..." lirih Bella, yang sudah rapi dengan baju muslim.
"Iya, Mbak," Diah mendekat.
"Sus, tolong bantu saya berdiri, saya ingin foto bertiga dengan pakaian ini," Bella menatap suster yang masih tertegun merasa aneh dengan permintaan Bella.
__ADS_1
"Tapi apakah Mbak Bella kira-kira sudah kuat berdiri?" Diah pun merasa bingung.
"Diah... tolong bantu aku untuk berdiri, aku ingin foto bertiga dengan kamu dan juga Ello," ucapnya tidak lancar.
"Baik Mbak," Diah kembali menghubungi suaminya.
Diah, perawat dan juga Lita, membantu Bella berdiri, sementara Marsel hanya mengamati saja.
"Lita... tolong fotoin kami, ya," titah Diah.
"Iya Ma,"
Diah memberikan handphone pada Calista. Mereka berpose berdiri, Marsel di tengah-tengah. Calista mengabadikan tiga gambar tiga pose yang berbeda.
"Terimakasih Diah... Ello..."
"Sama-sama, Mbak" Diah kembali membantu Bella merebahkan tubuhnya.
"Ello... jika Allah memberikan aku kesempatan hidup di Surga, kita akan bertemu kan?" rancau Bella.
Marsel tercekat menatap Bella dan Diah bergantian.
"Betul Mbak Bella. Mbak istri pertama Ello, pasti kalian akan bertemu di sana nanti, tapi... Mbak jangan pikirkan itu," Diah menghiburnya.
"Diah... aku rasa, aku sudah tidak kuat lagi," tampak keputusasaan di mata Bella.
"Mbak, istighfar ya, Mbak harus kuat demi si kembar," Diah tidak kuat menahan tangis.
"Suster," Bella beralih menatap suster dengan tatapan kosong.
"Iya Nona," suster yang berada di samping Bella, mengusap pundak pasienya itu.
"Boleh aku bertemu dengan si kembar?"
"Tentu Boleh," tidak berpikir lagi Suster berjalan tergesa-gesa menuju ruang baby. "Sus, tolong bantu aku bawa si kembar ke ruang ICU," Ucap suster kepada rekan kerjanya.
"Tapi sus," tolak Suster yang lain. Tentu ia tidak bisa sembarangan membawa bayi keluar ruangan tanpa perintah atasan.
"Ayo, ikuti saja aku," suster tidak mau di bantah. Bayi kembar tampan yang mirip sekali dengan Bella itu segera di gendong dua suster ke ruang ICU. Kedua suster mendekatkan bayi di sisi Bella kiri dan kanan.
"Anakku..." Bella ingin mengusap kepala putranya tapi ingin mengangkat kedua tangan tidak kuat.
Diah yang menyadari hal itu kemudian membantu, mengangkat tangan Bella meletakkan di ubun-ubun si kembar.
"Putraku..." suaranya bergetar tangisnya pecah. Semua yang berada di situ turut menangis kecuali Marsel.
"Ello... aku tahu, maafkan aku... anak ini bukan darah dagingmu, tetapi... bolehkah aku minta sekali saja, berikan nama si kembar," pinta Diah.
Marsel menatap Diah, minta pendapat. Diah mengangguk memberi isyarat agar suaminya memberi nama si kembar.
"Baiklah, Bella... si kembar aku beri nama Rafa dan Rafi agar kelak nanti mereka dewasa, bisa mengangkat derajat kamu," ujar Marsel.
__ADS_1
"Rafa... Rafi... nama yang bagus," lirih Bella.
.