
Diah dan Marsel pun keluar menemui tamu-nya.
"Melati... kak Abim..." sapa Diah. lantas menghampiri Melati yang dulu sempat bermusuhan lantaran merebutkkan Abim itu, kini saling berpelukan.
"Diah... aku turut bela sungkawa," ucap Melati. Setelah melepas pelukan.
"Terimakasih Mel. Waah... ini Nizam kan? Sudah besar sekali," kata Diah tersenyum menatap Nizam.
"Iya Tante, adik kembar kemana?" Nizam mengedarkan pandanganya.
"Mereka sedang main di atas, sana gih, bergabung," titah Diah.
"Ummi... boleh ya," Nizam menatap Melati minta persetujuan. Melati pun menggangguk.
"Yeeyyy..." Nizam berlari-lari kecil ke lantai atas mengundang gelak tawa.
*******
Tok tok tok.
Mendengar pintu diketuk di dalam kamar sangat ramai.
"Ghina... buka pintunya" perintah Ghani, yang sedang asik bermain mobil-mobilan bersama Rafa dan Rafi.
"Ogah! Kamu saja" jawab Ghina yang sedang menimang boneka.
"Cepat Ghina... kamu kan yang dekat pintu," bocah ganteng itu mengulangi.
"Nggak mau..." kukuh bocah tk yang mengenakan rok jins selutut itu, tampak menggoyang-goyang boneka.
"Biar kakak saja! Kalian ini ya, buka pintu saja ribut," Lita segera membuka pintu.
Ceklak.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..." jawab mereka serempak.
"Kamu siapa?" tanya Lita yang belum pernah bertemu dengan Nizam.
"Saya anaknya Ummi Melati Kak"
"Oh... masuk-masuk," ucap Lita.
"Nizam?" seru Ghina, segera menjatuhkan boneka. "Kalau tahu, kamu yang datang, pasti aku yang buka-in pintu," celoteh Ghina.
"Yeeeyyyy... apa kabar Zam?" Ghani meghampiri.
"Baik Ghan,"
Lita hanya menggeleng menatap kelima bocah itu pun bermain bersama sambil berceloteh kas anak-anak. Sementara Lita memelih keluar kamar. Membaca buku di kamarnya sendiri. Mana bisa konsentrasi dengan celotehan adik-adiknya, padahal dia besok mau ulangan.
********
"Silahkan duduk Mel" kata Diah.
"Terimakasih Diah" Melati menyahut.
__ADS_1
"Alhamdulilah... Nizam ternyata, sudah mau punya adik" Marsel menatap perut Melati yang sudah buncit. Kedatangan Abim membuat Marsel merasa sedikit terhibur.
"Alhamdulilah... Allah telah mempercayai kami, Kak," Jawab Melati. Sementara Abim hanya tersenyum.
"Bang Marsel... saya turut berduka cita," ucap Abim. "Maaf, datangnya terlambat, soalnya baru mendengar berita dari Kak Mawar," tutur Abim.
"Tidak apa-apa Bim, duduk Bim,"
Mereka duduk berhadapan lalu berbincang-bincang.
"Oh iya, ngomong-ngomong... Mommy Abang sakit apa?" Abim memang tidak pernah tahu, penyakit yang di derita mommy Laura. Sebab sejak Nizam berumur satu tahun, Abim mengajak keluarganya tinggal di Negara Swiss, melanjutkan kuliah yang masih kurang satu tahun lagi, dan langsung di rekrut menjadi dosen disana.
"Mommy menderita penyakit jantung Bim, sebenarnya sudah lama, tapi alhamdulillah... mommy bisa bertahan hingga melihat duduk-dudukcucu-cucu-nya"
Marsel yang dulu pernah cemburu buta pada Abim ketika baru menikah dengan Diah, kini mereka berbinjang-bincang akrab.
Sementara Diah ke dapur menyiapkan kudapan, diikuti Melati.
"Diah, tadi Intan bilang, kesini nya besok. Sebab hari ini sedang menemani Rony menghadiri pameran di pamulang." tutur Melati. Intan adalah adik kandung Abim.
"Nggak apa-apa Mel, aku kangen juga sih sama Dia, tapi kan kamu tahu sendiri, sekarang sibuk dengan buntut," Diah terkikik. Yang di maksud buntut adalah anak-anak.
"Seru kali ya Diah, punya anak kembar?" Melati lantas memegangi perutnya.
"Ya gitu dech, kalau mereka lagi akur, seneng banget, tapi kalau sudah berebut mainan, ujung-ujung nya nangis semua, pusing..." tutur Diah geleng-geleng kepala kala ingat buah hatinya.
"Tapi Intan baik-baik saja kan Mel, anak itu, cek! Nggak pernah mau main," gerutu Diah.
"Sudah Diah... jangan membicarakan Intan, toh besok Dia juga kemari" tergambar raut kesedihan di wajah Melati.
"Sudah tujuh bulan Diah," Melati tersenyum mengusap perutnya.
"Aku sudah empat bulan," Diah tampak malu-malu.
"Kamu lagi hamil juga? Pantas, gemukan,"
"Hihihi... kejar target Mel, mumpung masih muda," Diah pun tertawa.
"Betul-betul," Melati menyahut. "Terus Syifa suka menginap disini Nggak?" sambungnya.
"Kadang-kadang sih, kalau sering-sering nggak enak sama kakak mu," yang di maksud Diah adalah Mawar.
"Hebat kamu Diah, anakmu hampir tujuh" Melati salut.
"Kalau yang aku kandung sekarang ini nggak kembar lagi," Diah antusias.
"Semoga Diah, kalau kata orang dulu, banyak anak, banyak rezeki,"
"Aamiin..." Diah tanpak senang.
"Bagaimana kabar Mama Ina, sama Papa Wahid, Mel? Ya ampun... keasyikan ngobrol sampai lupa tanya kabar beliau," sesal Diah.
"Alhamdulillah... Mama sama Papa sehat kok, nanti anak-anak kamu, ajak main kesana Diah, pasti mantan mertua kamu itu senang," kata Melati.
"Ok!" jawab Diah pendek.
"Terus... ngomong-ngomong, bagaimana kabar ayah Rafa, sama Rafi, Diah?"
__ADS_1
"Kami saling kontak sih Mel, tapi ya gitu lah, Anthony sering keluar masuk rumah sakit," tutur Diah.
"Ya Allah... jangan sampai penyakit begitu menimpa anak cucu kita," Melati ngeri mendengarnya.
"Aamiin..." ucap Diah.
"Non, ini kacang nya," Marni datang dari minimarket terdekat membawa cemilan.
"Oh iya Mar, masukin ke dalam toples, terus di bawa ke depan ya," titah Diah. Ia sudah selesai membuat minuman.
"Baik Non,"
"Ayo, Mel," ajak Diah mengakhiri obrolan mereka yang ngalor, ngidul tidak karuan. Diah pun kedepan di ikuti Melati. Meletakkan minuman di atas meja.
"Silahkan di minum Kak," kata Diah. Mantan suami istri itu, kini sudah tidak ada rasa canggung. Sudah tidak merasakan apapun selain kekerabatan.
"Terimakasih,"
Mereka menikmati kudapan sesekali meneguk minuman sambil ngobrol. Puas berbincang-bincang Abim mengajak anak dan istrinya pulang.
*******
Malam harinya Diah ke kamar mandi, sikat gigi. Ritual yang ia lakukan sebelum tidur.
Sementara Marsel yang sudah merebahkan diri di kasur lebih dulu sambil main ponsel. Benda pipih yang ia pegang itupun bergetar.
"Hallo!"
"Hallo! Ma,"
"Anthony ingin bertemu Rafa sama Rafi El," kata Anneke di Negara B.
"Baik, Ma, nanti saya bicarakan dengan Diah,"
Tut.
Handphone ditutup bersamaan dengan itu, Diah sudah keluar dari kamar mandi.
"Yank, Mama Anneke barusan telepon, katanya Antony ingin bertemu Rafa sama Rafi,"
"Terus..." Diah rupanya tidak cepat tanggap.
"Kalau kita berangkat ke Negara B, kamu kira-kira kuat nggak?" tanya Marsel lembut.
"InsyaAllah kuat Mas, tapi bagaimana dengan anak-anak kita yang lain?"
Diah merebahkan tubuhnya di sebelah suaminya.
"Ya kita harus, ajak Ghani sama Ghina. Yank, kalau Calista kan mau ulangan, jadi tidak usah ikut,"
"Atuh kasihan si Kakak, Mas, masa di rumah cuma sama Marni,"
"Kita bicarakan besok ya, sekarang sebaiknya kita istirahat dulu," pungkas Marsel, kemudian tidur memeluk Diah.
.******
Masih ada yang mau baca nggak ya?? 🤣🤣🤣.
__ADS_1