Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Bonus Part.


__ADS_3

"Assalamualaikum... redaer... ini budhe kasih bonus part. Bagaimana keadaan keluarga Diah saat ini?


"Yang belum mampir ke karya aku yang baru, ayo dong, biar budhe semangat"



Di salah satu hotel resepsi pernikahan mewah telah di gelar. Ratu sejagat tampak bahagia sedang menyambut para tamu. Mereka adalah Siska dan Aldo asisten pribadi Marsel dan sekretaris nya.


"Selamat Do. Siska," ucap Marsel diikuti Diah Susanti.


"Terimakasih Tuan, Non Diah," jawab Aldo dan Siska mereka senang sekali di hadiri boss beserta istri.


"Sama-sama Mbak Siska," jawab Diah mereka kemudian berlalu turun dari pelaminan karena di belakang sudah antri.


"Mau makan apa sayang?" tanya Marsel ketika di meja prasmanan.


"Nggak ada yang menarik Mas. Aku nggak mau makan, maunya makan buah kesemek," Rengek Diah sambil menarik lengan suaminya.


"Buah kesemek? Apa itu?" kening Marsel berkerut.


"Pokoknya nanti Mas akan tahu, setelah kita beli," jawab Diah. Merengek seperti anak kecil.


"Terus dimana adanya?" cecar Marsel.


"Kita cari ke super market terdekat banyak kok. Mau ya Mas?" Diah memohon.


"Maulah, apa sih... yang nggak buat istriku," ujar Marsel mengulum senyum. Lalu mengait lengan Diah menuju parkiran.


"Terimakasih..." Diah senang sekali, membayangkan makan buah kiwi. Saat ini Diah sedang mengandung 3 bulan. Apapun yang Diah minta selalu Marsel turuti.


Marsel tidak ingin melewatkan momen terindah ini. Ia ingin menebus saat Diah hamil Ghani, dan Ghina, saat itu Marel sedang berada di Negara B, jadi tidak pernah memperhatikan kehamilan istrinya.


Mereka menuju super market terdekat. Setelah mendapatkan buah tersebut kemudian kembali pulang.


Saat di perjalan ponsel Marsel bergetar.


"Tolong angkat sayang..." titah Marsel. Sebab ia sedang menyetir.


"Nggak apa-apa memang, kalau aku angkat telepon Mas?" tanya Diah. Ingin mengangkat, handphone tapi ragu-ragu.


"Hehe... kamu! Tentu saja boleh, memang kenapa? Tenang saja, aku nggak punya selingkuhan kok," Marsel kembali terkekeh.

__ADS_1


"Berani punya selingkuhan? Coba saja! Dapat satu wanita yang lebih cantik dari aku, tapi kamu akan kehilangan delapan orang sekaligus," sungut Diah.


"Kok delapan orang?" tanya Marsel menoleh sekilas.


"Iya, Rafa, Rafi. Ghina, Ghani. Calista, babby di perut aku. Dan yang jelas, aku dan juga Mom, kami semua akan tinggalkan Mas," omel Diah kesal. Yang awalnya bercanda jadi kesal beneran.


"Eeh... kok ngambek beneran, teleponnya keburu mati tuh," Marsel mengingatkan. Karena terlalu lama berdebat getaran handphone pun berhenti.


Diah membuka handphone suaminya ternyata tidak dikunci. "Marni Mas, yang telepon," Ujar Diah menoleh suaminya.


"Telepon balik sayang," titah Marsel.


Diah segera telepon Marni. Marni hanya berkata singkat entah apa yang dibicarakan tiba-tiba wajah Diah berubah sedih kemudian memutuskan sambungan telepon.


"Ada apa sayang?" Marsel menoleh Diah sekilas, lalu kembali menyetir.


"Nanti saja di rumah bicaranya Mas,"


Keduanya saling diam, Marsel tentu berpikir yang tidak-tidak khawatir terjadi pada anak-anak. Sebab semua anaknya ia tinggalkan di rumah.


Mobil pun sampai di mansion Marsel. Diah segera berjalan cepat lebih dulu begitu turun dari mobil.


Marsel ingin mengingatkan sang istri agar jalannya jangan cepat-cepat. Pasalnya sedang mengandung. Namun Diah sudah masuk ke dalam mansion.


"Ada apa ini?" Diah berjalan lebih cepat jika tidak hamil mungkin sudah berlari.


"Nyonya, Non" jawab Marni tidak mampu berkata-kata.


Flashback on.


"Mbak Marni mau menyuapi Oma ya?" tanya Calista saat Marni membawa piring hendak ke kamar Oma Laura.


"Iya sayang..." Marni hendak mendorong handle pintu namun di tahan Calista.


"Biar Lita saja yang suapi Oma Mbak, mumpung hari minggu," usul Lita.


"Oh gitu," Marni menyerahkan nampan berisi makan siang untuk Oma.


"Kak Lita, kami ikut ya," seru keempat adiknya.


"Boleh, tapi kalian nggak boleh berisik," tegas Lita. Menatap adiknya satu persatu.

__ADS_1


"Okay..." mereka kembali berseru. Lalu mengikuti Calista masuk ke dalam.


"Oma... Oma makan dulu ya," Calista duduk di samping ranjang oma. Sedangkan adik-adiknya berdiri berjejer di samping ranjang.


"Kok Oma nggak mau bangun Kak?" tanya Ghani dan Ghina.


"Iya, tidurnya terlau pulas," jawab Lita.


"Masa kalau pulas bobo nya senyum gitu Kak?" Rafa dan Rafi menyahut.


Lita meletakan makan siang di meja sofa kamar, kemudian membangunkan oma kembali. Namun sudah berbagai cara oma tidak mau bangun.


"Ghina... coba panggil Mbak Marni dech," titah Calista.


"Iya Kak," Ghina berlari-lari kecil mencari Marni tapi Marni rupanya sedang berada di loteng mengangkat jemuran.


"Ada apa cantik?" tanya baby sitter.


"Sus, dipanggil Kak Lita," Ghina kembali berlari di ikuti suster.


"Sus, Oma disuruh makan siang, tapi nggak mau bangun," kata Lita.


Baby sitter pun membangunkan oma. "Innalillahi"


"Kenapa Sus?" Mata Calista mengembun sudah bisa mengerti apa maksud baby sitter.


"Oma sudah pergi sayang," jawab suster lembut.


"Omaaaa..." pekik Calista memeluk jenazah oma. Di susul adik-adiknya. Susana kamar penuh jerit tangis.


Flashback off.


"Mommy..." lirih Marsel bersimpuh di samping jenazah mommy. Pria berwajah brewok yang biasanya tegar itu kini tampak sedih dan berduka.


Diah membuka penutup tubuh Oma yang sudah terbujur kaku. Namun tampak tersenyum sumringah.


Oma Laura memang orang baik di saat sudah meninggal pun tetap tersenyum.


Air mata bening menetes dari pelupuk mata Diah. "Selamat jalan Mommy... Mommy adalah mertua terbaik yang pernah aku temui, semoga momny tenang disana," Diah berdoa mencium pipi jenazah mommy.


Kelima putra putri Marsel dan Diah tampak membaca surah yassin. Kini mommy telah pergi. Pergi untuk selamanya.

__ADS_1


Mommy segera di kebumikan sore itu juga.


__ADS_2