Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Talkshow.


__ADS_3

Seminggu kemudian setelah pulang dari Bali. Marsel sudah melakukan rutinitas seperti biasa. Ditinggal selama seminggu tentu pekerjaan kantor sudah menumpuk, hingga hari sabtu ini pun Marsel terpaksa lembur.


"Mas, sekarang kan hari sabtu, masa nggak libur sih" protes Diah saat sedang memasangkan dasi suaminya.


"Pekerjaan kantor sedang banyak sayang, besok hari minggu kita jalan-jalan ajak Lita ya, aku janji" Marsel mengacungkan kedua jari.


"Ya deh, nanti sore... aku masakin kesukaan Mas, tapi kita makan di rumah ya" Diah ingin makan bersama sebab beberapa hari ini, Marsel selalu pulang larut malam.


"Biar Bibi saja yang memasak" titah Marsel. Kemudian mengenakan jas hitam.


"Kenapa sih Mas! aku suka nggak diizinkan memasak?! aku sadar kok, masakan aku tidak enak, tapikan... seharusnya kamu senang, banyak para pria di luar sana yang ingin dimasakin sama istrinya?!" omel Diah.


Bibirnya lantas disumpal dengan bibir Marsel. "Maksud aku itu, biar kamu nggak capek sayang... kenapa sih, dari subuh ngomel-ngomel terus... kamu lagi PMS ya? hahaha" kelakar Marsel. "Sudah ya, aku berangkat," Marsel kemudian berangkat bersama mang Ade.


Sementara Diah rasanya bete banget, tidak ada kegiatan yang bisa dilakukan. Diah kemudian masuk ke kamar Lita rupanya bocah tk itu pun masih tidur.


Diah kembali ke luar ambil baju renang menuju kolam menyeburkan diri, berenang dengan gaya katak, baru 10 kali putaran. Namun ketika sedang semangatnya Marni memanggilnya.


"Non Diah... di cari Pak Aldo"


Diah mengangkat kepala meraup wajahnya kedip-kedip menghilangkan air yang menutup mata.


"Ada apa Mar?" tanya Diah setelah naik keatas menyandak handuk yang ia sampirkan di tangga kolam renang, kemudian membungkus tubuhnya bagian dada ke bawah.


"Di cari Pak Aldo" Marni mengulangi.


"Mau ngapain, Mar" Diah merasa aneh. Buat apa Aldo mencarinya.


"Mendingan temui saja" kata Marni.


"Baiklah" Diah bergegas ke kamar mandi membilas tubuhnya dengan air bersih, salin baju, kemudian mememui Aldo.


"Selamat pagi, Non Diah" ucap Aldo ketika Diah menghampirinya.


"Pagi, ada apa Bang Aldo mencari saya?" tanya Diah to the point.


"Saya disuruh Tuan Marsel untuk mengajak Non ke suatu tempat." jawab Aldo.


"Suatu tempat? kemana Bang?"


Diah bertanya sambil memundurkan wajah.

__ADS_1


"Lebih baik, kita segera berangkat Non, waktunya tidak banyak, nanti saya dimarahi Tuan Marsel."


"Baiklah" dengan perasaan penuh tanda tanya Diah mengikuti Aldo. Ia naik mobil Marsel yang biasa dibawa mang Ade. Mobil melesat 10 menit kemudian sampai disalah satu salon mewah.


"Bang Aldo, kok kita ke sini?" Diah mendongak menatap plang bertuliskan salon kecantikan.


"Saya tidak tahu Non, hanya menjalankan perintah Tuan Marsel, mengajak Nona kemari,"


"Masuk Non" Aldo masuk diikuti Diah


Aldo meninggalkan Diah menemui perias wanita tampak berbicara sesuatu.


Diah masih bingung dalam rangka apa Marsel menyuruhnya kemari? Diah membatin.


"Mari ikut saya Non" kata perias.


Tanpa bertanya, Diah mengikuti saran perias masuk ke dalam ruangan.


"Duduk Non" tanpa banyak bicara Diah pun menurut. Selama satu jam sang perias segera menyulap wajah Diah hingga glowing.


"Sudah selesai Non, silahkan bercermin," perias menyudahi riasan.


"Ganti pakaian Anda dengan gaun ini Non," Perias menyerahkan gaun muslim. Diah menerima gaun tersebut membulatkan mata. Tatkala melihat merk gaun tersebut sudah barang tentu harganya selangit.


"Silahkan Non" perias menunjuk ruang ganti. Diah segera mengganti bajunya, setelah rapi keluar ruang rias. Tampak pria tampan sedang duduk di sofa sambil mengotak atik handphone.


"Mas Marsel" Diah mengejutkan Marsel, yang tiba-tiba berdiri di depanya. Marsel seketika beranjak dari duduknya, menatap tampilan Diah dari atas sampai bawah tidak berkedip.


"Mas, kok nglihatin aku terus..."


Diah lagi-lagi membuat Marsel sadar dari lamunan.


"Ayo kita berangakat" Marsel menggandeng tangan Diah mengajaknya masuk ke dalam mobil. Di dalam mobil mang Ade sudah menunggu, sedangkan Aldo tidak terlihat entah kemana.


"Kita mau kemana Mas?" tanya Diah kemudian, setelah mobil berjalan.


"Nanti kamu akan tahu" pungkas Marsel.


*******


Plok plok plok

__ADS_1


"Tuan Marcello, selama ini, kami setiap mengundang Anda. Anda, selalu tidak bisa hadir, sungguh kehormatan bagi kami, saat ini Anda menyempatkan diri untuk datang ke acara kami" kata presenter disalah satu ajang talkshow. Rupanya Marsel mengajak Diah untuk menghadiri undangan acara tersebut.


"Jadi... saya ditolak, saya balik lagi nih," seloroh Marsel mengundang gelak tawa para crew.


"Tuan Marsel, selama ini, Anda selalu tertutup mengenai pribadi Anda, lalu siapa wanita di sebelah Anda?" presenter menatap Diah yang sangat tegang.


"Ya jelas ini istri saya, jika bukan, mana mungkin saya gandeng, hahaha" Marsel melingkarkan tangannya ke pundak Diah. Diah hanya bisa tersenyum yang di paksakan. Ia masih terkejut tidak menyangka Marsel akan mengajaknya ke tempat yang dilihat banyak orang menjadi nara sumber.


"Wah... Anda romantis sekali, rupanya."


Plok plok plok.


"Tuan Marsel, saya pernah mendengar kabar, bahwa Anda adalah suami salah satu model terkenal, tapi mengapa justeru Anda membawa wanita lain, apakah Anda telah poligami?" cecar presenter.


Deg.


Dada Diah, terasa berdebar kencang, menunggu jawaban Marsel, sebab Marsel diam hingga beberpa saat. Wajah Diah pucat pasi, bagaimana jika Marsel berkata jujur akan ditaroh dimana wajahnya. Bayangan Diah di cap jelek menjadi pelakor pasti akan melekat.


"Tuan Marcello" presenter mengulangi.


"Maaf, dalam hal ini, saya tidak akan bercerita, biarlah itu menjadi rahasia saya" tegas Marsel.


*******


Braak.


"Kurang ajar! kamu Marsel!" Arabbela menggebrak meja. Ia ternyata sedang menonton televisi. Kilat marah di matanya, selama menjadi istri Marsel, Marsel selalu menolak jika Bella berniat membeberkan pernikahan mereka. Alasan Marsel tidak mau menjadi sorotan. Tetapi saat ini kenyataanya Marsel justeru mengajak Diah untuk tampil.


Thomas yang sedang berada di ruang kerja Bella mendengar meja di gebrak. Ia segera berdiri dari duduknya menghampiri Bella. "Ada apa Non?"


"Lihat, tayangan itu Thom" Wajah Bella merah padam.


"Kurang ajar, Marsel Thom, dia sengaja nantangin saya, sekarang siapkan mobil Thom, kita datang ke studio itu"


"Tapi lebih baik jangan Non, karena... itu akan mempermalukan diri Nona sendiri, dan akan mengurangi job Nona," Thomas selaku menejer Bella yang sudah bertahun-tahun tentu tahu, perbuatan Bella akan merugikan kariernya didunia model. Padahal setahun terakhir ini tawaran untuk menjadi model sudah berkurang. Lebih-lebih saat ini Bella sedang hamil, dan yang sering mengundangnya hanya fashion baju hamil.


"Jangan mengajari saya Thom, turuti saja perintahku!"


"Baik Non" tidak banyak bicara Thomas menjalankan mobil Bella.


.

__ADS_1


__ADS_2