
4 hari kemudian, saat Lita sakit, selama itu pula, Diah merawat Lita penuh perhatian, hingga sembuh seperti sedia kala.
Setelah dikecewakan oleh suaminya, hubungan mereka menjadi hambar. Walaupun begitu, Diah berusaha untuk menjalankan tugas sebagai istri.
Seperti menyiapkan pakaian, menyiapkan sarapan pagi, dan tugas yang lain. Namun demikian, Diah lebih banyak diam, mau bicara ketika ditanya Marsel, tapi jika Marsel diam, Diah pun lebih bungkam.
Pagi ini Marsel hendak berangkat ke perusahaan. Dan seperti biasa, sebelumnya mengantarkan Lita lebih dulu. Sementara Diah ikut bersama mereka ia minta izin Marsel untuk menengok Syifa anak kandungnya dengan suami yang terdahulu.
"Daaa... Mama..." Lita melambaikan tangan. Ia sudah turun dari mobil, kemudian diantar oleh Diah sampai pintu gerbang.
"Daaa... selamat belajar sayang..." Diah mengamati Lita, hingga bergabung dengan teman-temanya masuk ke dalam kelas.
Diah kemudian kembali ke mobil ambil hp setelah duduk di samping Marsel.
"Kamu pulang jam berapa?" tanya Marsel. Menoleh istrinya yang sedang memberi kabar kak Mawar jika ia mau bertemu Syifa.
"Aku usahakan, sebelum Lita sampai di rumah, sudah sampai lebih dulu" jawab Diah.
Marsel hanya mengangguk. "Kamu siap-siap ya, lusa kan kita mau berangkat ke Bali." ujar Marsel.
"Apa masih perlu sih Mas, kita ke Bali? jika hanya untuk saling mengenal di rumah juga banyak waktu" jawab Diah memang benar adanya.
"Aku serius loh, tiket sudah di beli" Marsel sudah merencanakan ini jauh-jauh hari, jika Diah membatalkan lagi seperti dulu. Tujuan Marsel untuk mengajak Diah bicara dari hati ke hati, lagi-lagi gagal.
"Okay... aku ikuti mau Mas, tapi jika kejadian seperti di restoran kemarin terjadi lagi, saya tidak akan memberi ampun" Diah masih trauma akan kejadian kemarin.
"Masalah kemarin, aku minta maaf honey... saat itu, ada klien yang mengajak aku ketemuan di hotel, karena kami membahas tentang bisnis panjang lebar, hingga aku lupa waktu" tutur Marsel panjang lebar.
"Yah... mudah-mudahan, bisa di percaya" pungkas Diah. Karena mereka sudah sampai di depan rumah Mawar.
Marsel hanya bisa menarik napas panjang.
"Nanti biar di jemput Mamang, ya" kata Marsel saat Diah mencium punggung tangan Marsel hendak turun.
"Nggak usah, soalnya aku mau sekalian mampir ke rumah Bapak" tolak Diah memang benar adanya.
"Hati-hati..." pesan Diah kepada Marsel. Marsel mengacungkan jempol sambil tersenyum.
*******
"Assalamualaikum..." Diah mengetuk pintu rumah Mawar.
"Waalaikumsalam..." tampak baby sitter membuka pintu sambil menggendong Syifa.
"Eh Mbak Diah," kata baby sitter.
__ADS_1
"Iya, Sus, pada kemana? kok sepi." Diah mengedarkan pandangannya.
"Biasa Mbak, Non Mawar di minimarket, Tuan Adit ke bengkel, Bhanu ke sekolah, Simbok ke pasar" terang baby sitter.
"Mam mam" Syifa mengansunkan tangan minta di gendong Diah.
"Duuh... sayang..." Diah berbinar-binar, rasanya senang sekali anaknya minta di gendong. Syifa nemplok di dada Diah damai dalam pelukan mama kandungnya.
"Mama punya boneka nih... bentar ya, Mama ambil" Diah merogoh tas lalu ambil boneka kecil, memberikan kepada Syifa.
"Atih" Syifa mengucap terimakasih. Namun, kata-katanya masih belum jelas, membuat Diah semakin gemas.
"Sama-sama..." suara Diah menyerupai suara kas anak kecil.
"Mbak Diah, mau minum apa?" tanya baby sitter.
"Nggak usah repot-repot Sus, nanti kalau saya mau minum ambil sendiri kok, tenang saja." Diah menoleh baby sitter sekilas kemudian kembali fokus ke Syifa.
"Sus, saya mau ajak Syifa temui Bapak, kamu ikut ya"
"Oh iya Mbak Diah, mari" Diah menggendong Syifa, mereka menuju rumah pak Renggono. Sambil jalan Diah mengajak Syifa berbicara.
"Bapak... " sapa Diah, ketika sampai di kediaman pak Renggono. Pak Renggono sedang menata sayuran.
"Diah... kamu datang sendiri Nak?" tanya pak Renggono menatap anaknya tidak ada Marsel di sampingnya.
"Bapak jangan sampai terlalu capek, ingat loh, penyakit Bapak kan suka kambuh" Diah tampak khawatir. Sebenarnya pak Renggono sudah di cukupi Adit segala sesuatu nya, tapi yang namanya orang tua kadang suka tidak betah menganggur.
"Tidak Nak, sekarang Bapak tidak belanja sayur ke pasar kok, Bapak di kirim dari petani langsung" tutur pak Renggono.
"Oh gitu ya, Ibu kemana Pak?" Diah tidak melihat bu Reny membantu bapaknya.
"Biasa Nak, ibumu mah, paling arisan"
"Ya Allah... nggak kapok apa ibu ya, sudah di bilang jangan main arisan" gerutu Diah. Pantas saja, ibu nya kemarin ngotot minta dikirimi uang, ternyata untuk arisan. Diah geleng-geleng kepala.
Bapak dan anak itupun ngobrol panjang lebar.
********
Disalah satu rumah sederhana, tampak keluarga kecil sedang bersiap-siap hendak menjalankan tugas masing-masing.
"Git, sebelum ke konter, aku mau nengok Syifa dulu, ya" kata Alfred ia sudah di atas motor ingin mengantarkan Freddy ke sekolah, sekaligus berangkat ke konter.
"Iya Al" jawab Gita yang sedang menggendongkan tas sekolah di bahu putranya.
__ADS_1
"Selesai... belajar yang rajin, okay" Gita lantas mencium pipi putranya.
"Daaa... Mommy..." Anak kelas satu SD itu melambaikan tangan, sudah duduk di motor.
"Daaa... sayang..."
"Aku berangkat ya Git"
"Ya, hati-hati di jalan, Daddy..." Gita mencium punggung tangan Alfred. Gita menatap anak dan suaminya hingga motor yang dikendarai Alfred menjauh.
Gita kemudian masuk ke dalam rumah, jika dulu segala sesuatu ART yang mengerjakan, kini ia beres-beres rumah sendiri. Ia tersenyum dedek bayi sedang bergerak cepat, sesekali memegangi perut karena sedang hamil besar.
Flashback on.
"Git, aku mohon... kita pindah dari sini ya" kata Alfred dari usaha konter nya, ia sudah bisa menyicil BTN dan motor.
Bisnis telepon seluler, saat ini memang sangat menjanjikan, dari semua kalangan tentu membutuhkan benda tersebut.
"Ya, tentu saja, aku akan ikut kemana pun kamu pergi Al, asalkan... kamu tidak akan mengulangi kesalahan lagi, tidak selingkuh lagi" tutur Gita.
"Aku janji Git, tapi kamu juga harus berjanji, jangan bergantung lagi kepada Ayah dan Ibu kamu, kita akan memulai dari awal, hidup dalam kesederhaan, tidak ada ART, tidak ada baby sitter, yang dikirim Ayahmu." tutur Alfred.
"Kecuali... jika aku nanti sudah bisa membayar gaji ART, aku akan mencari gantinya."
"Tentu, saat ini aku belum bisa memberikan kamu kemewahan seperti yang Ayahmu berikan, tetapi jika hanya untuk kebutuhan kita sehari-hari, aku akan berusaha," jujur Alfred.
"Al, aku akan mendukung usaha kamu, menghargai jerih payah mu" Gita menggenggam tangan Alfred, ia bersyukur suaminya kini sudah berubah.
Sejak saat itu mereka pindah ke rumah hasil jerih payah Alfred sendiri, tidak pernah menikmati fasilitas yang diberikan oleh orang tua Gita. Sebagai laki-laki Alfred mempunyai harga diri.
Flashback off.
Benar saja, motor Alfred sampai di depan rumah Mawar. Ia turun dari motor melepas helm kemudian menyangkutkan di kaca spion.
Ia bersemangat sambil menenteng buah-buahan untuk Syifa, sudah tidak sabar ingin segera bertemu putrinya.
Bersamaan dengan itu Diah muncul dari rumah sebelah.
Mantan suami istri itu saling berhadapan, semenjak mereka bercerai baru kali ini mereka bertemu.
"Alfred?"
"Diah?"
Sapa mereka bersamaan.
__ADS_1
.