Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Punya Kakak Mendadak.


__ADS_3

"Sudah... sekarang kamu bobo, kita do'akan semoga Oma kamu sehat wal afiat" titah pria itu. Lita pun mengangguk lalu memejamkan mata.


Flashback


Setelah lolos dari kejaran Bella. Lita bersembunyi di belakang mobil. Ia tampak waspada karena scurity mengejarnya.


"Ya Allah... selamatkan aku" doanya dalam hati. Scurity clingak clinguk mencarinya, bahkan tidak mau pergi dari depan garasi. Sungguh Lita tidak ingin di serahkan kepada Bella.


Otak cerdasnya berpikir, tangan kecil itu mencoba membuka pintu mobil. "Alhamdulillah... tidak di kunci" batinya. Lita masuk ke dalam mobil menutupnya pelan, agar tidak terdengar scurity lalu pindah jok paling belakang dengan cara menurunkan sandaran jok. Ia lantas merebahkan tubuhnya agar tidak terlihat dari luar. Padahal walaupun tidak sembunyi pun orang yang di luar tidak bisa melihatnya. Namun Lita takut di ketahui oleh pemilik mobil.


"Pak, ke arah mana larinya anak saya?" tanya Bella dengan wajah panik berhasil mengikuti scurity.


"Sepertinya hilang di daerah sini Non" Jawab Scurity. Mata Bella menatap mobil tersebut menyipitkan mata. Lita tentu tidak mengetahui jika Bella memperhatikan mobil.


"Tampak supir yang bertubuh gemuk, baru keluar dari rumah itu lalu masuk ke dalam mobil tersebut, kemudian menghidupkan mesin. Di belakangnya ada dua pria berjalan beriringan, yang satu pria paruh baya, dan yang satu masih sangat muda. Pria muda itu lantas berdiri di samping mobil dalam keadaan pintu yang sudah di buka oleh supir.


"Kanigara anakku, di Indonesia nanti, kamu harus belajar yang sungguh-sungguh ya, Nak" pesan pria paruh baya mengusap kepala putranya. Keduanya berdiri berhadapan.


Percakapan dua pria ayah dan anak itu, samar-samar terdengar oleh Lita. Wajah Lita pun berseri. "Indonesia? batinya. Namun hatinya kembali bergemuruh tatkala mobil itu tak kunjung jalan. Padahal jantung Lita sudah dak dik duk der khwatir persembunyianya di ketahui.


"Iya. Yah, Ayah juga jaga kesehatan" pesan anak muda itu mencium punggung tangan ayahnya.


"Gara... hiks hiks hiks" datang satu lagi seorang ibu berwajah cantik, kira-kira berusia 40 tahun menghampiri putranya sambil menangis, lalu memeluknya erat.


"Hati-hati di jalan ya, Nak. Salam buat Uti. Ayah dan Bunda belum bisa pulang" Ibu itu merenggangkan pelukan lalu mencium pipi putranya.


"Iya Bun. Tapi Bunda jangan sedih dong, kalau Bunda sedih, Gara tidak usah jadi berangkat saja, ya" Kanigara menatap wajah bunda nya sendu. Begitu juga sebaliknya. "Bunda mendukungmu Nak, semoga yang kamu cita-citakan tercapai" sang bunda meniup ubun-ubun putranya.


Bella yang masih berada di depan garasi terharu melihat ibu dan anak itu hanya bisa berandai-andai. Andai dia dan putrinya bisa seperti itu.


Ibu itupun memeluk putranya dengan rasa sayang. Pelukan terakhir sebelum putranya masuk. Mobil berjalan sedang setelah Kanigara masuk dan membuka kaca setengah melambaikan tangan kepada ayah dan bunda, hingga mobil menjauh meninggalkan garasi.

__ADS_1


Sementara Lita yang duduk di jok belakang menyembulkan kepalanya sedikit menatap Bella dari kaca belakang.


"Maafkan Lita Mommy, Lita terpaksa meninggalkan Mommy" gumam Lita. Anak seusia Lita tentu belum mengerti bahwa yang di lakukan mengacuhkan ibu kandungnya tidaklah benar. Namun yang Lita tahu hanya ingin figur yang bisa menyayangi dirinya apa adanya. Lita bisa menatap wajah Bella. Namun Bella tidak bisa melihat Calista.


"Hiks hiks hiks. Selamat tinggal Mommy, Lita tahu. Lita berdosa meninggalkan Mommy. Aku hanya ingin Mommy berubah dan suatu saat nanti, aku ingin berkumpul bersama Mommy" Lita terus menangis menutup mulutnya agar tidak terdengar dua pria yang duduk di depan. Hingga mobil menjauh. "Aku akan selalu berdoa, semoga Mommy selalu sehat." batinya.


Lita sebenarnya tidak tega pada Mommy, tapi apa boleh buat. Mobil berjalan semakin jauh hingga akhirnya tiba di Bandara AMD.


Supir turun dari mobil lebih dulu lalu membuka pintu untuk Kanigara. "Hati-hati Den Gara, sampai jumpa liburan semester nanti" kata supir rupanya Gara ingin kuliah di Indonesia.


"Terimakasih Pak Imam" Gara pun turun dari mobil tanpa mereka sadari Lita pun ikut turun.


"Kamu siapa?" tanya Kanigara dengan bahasa Inggris. Gara terkejut menatap wajah Lita mirip penduduk Asli Negara B tapi mengapa tiba-tiba berada di mobilnya.


"Kenalkan Om, namaku Calista" Calista mencium tangan Gara, lalu beralih ke tangan Pak Imam.


"Kamu bisa bahasa Indonesia?" tanya Gara dan supir bersamaan.


"Lalu kenapa kamu bisa berada di mobil saya?" cecar Gara.


"Om, saya di culik, terus penculiknya mengejar saya, karena nggak ada tempat sembunyi, makanya saya bersembunyi di mobil Om" tutur Lita panjang lebar. Namun tidak menyebutkan penculiknya.


Kanigara dan pak Imam saling pandang. Lalu beralih ke Lita.


"Benar, kamu di culik Nak?" tanya Pak Imam.


"Beneran Om, saya di culik dari Indonesia, terus di bawa ke sini. Om tolong saya. Lita mau ikut pulang Om ke Indonesia, pasti Mama saya menangis terus mencari saya" Lita kemudian ingat Diah air matanya bercucuran.


Gara menatap mata Lita memang tampak jujur, lalu berjongkok menyejajarkan tubuhnya yang tinggi. "Di Indonesia kamu tinggal dimana?" Gara kasihan melihat wajah Lita tampak bersedih.


Di Jakarta Om" jawab Lita.

__ADS_1


Gara menoleh Pak Imam minta pendapat.


"Sebaiknya... kamu ikut saya kembali, Nak, nanti saya bicarakan dengan Tuan" kata Pak Imam, yang dimaksud tuan adalah ayah Kanigara.


"Om tolong saya. Saya mau ikut pulang ke Jakarta" Lita kembali menagis memeluk kaki Gara. Gara menatap pak Imam garuk-garuk kepala. Bingung apa yang harus di lakukan. Satu sisi ia percaya dengan anak ini. Tapi di sisi lain, Gara takut jika dia justeru di tuduh menculik.


"Om please... saya mau ikut Om" Rengek Lita, mengangkat kepalanya menatap Gara dengan air mata yang terus menetes. "Om jangan khawatir untuk beli tiket, saya punya kalung, copot saja, kalung saya. Kalung ini Mama yang belikan, uangnya banyak" celoteh Lita kemudian berputar memunggungi Gara, agar melepas kalungnya. Gara lalu meraih tangan Lita agar berdiri.


"Dek. Hey... bukan itu masalahnya, tapi... Kakak bukan mau ke Jakarta. Tetapi... Kakak mau kuliah di Yogyakarta" jawab Gara gemes sekaligus kasihan menatap Lita anak sekecil itu pandai sekali.


"Nggak apa-apa Om, Papa aku punya saudara di Yogyakarta" kekeh Lita. Belum tahu jika tidak ada alamat pasti akan sulit menemukan saudara Marsel.


"Okay... kamu punya nomor telepon Mama, Papa, atau siapa gitu?" tanya Gara.


"Nggak ada yang hafal Om." Lita menggelengkan kepala.


Gara pun pada akhirnya menyerah, kemudian berunding dengan Pak Imam. "Sepertinya anak ini memang serius Den" pak Iman menoleh Lita tidak tega. Tampaknya Lita sangat berharap ingin pulang ke Indonesia.


"Iya Pak, saya check dulu tiket jurusan kesana masih ada kursi kosong atau tidak"


Kanigara mengecek tiket jurusan Yogyakarta Indonesia. "Masih ada Pak" Tidak pikir-pikir lagi, Kanigara memesan tiket untuk Lita. Toh sampai di Indonesia nanti Gara bisa sebarkan foto Lita melalui internet. Jika tidak ada yang mengakui tentu Gara tidak menolak punya adik secerdas Lita. Pikir Gara tersenyum menatap Lita.


"Okay... kita berangkat, tapi ada syaratnya." Gara tersenyum.


"Syaratnya apa Om, kalung kan? Ini copot sekarang Om" Lita mendekat dengan kepolosan kas anak-anak, agar Gara mencopot kalungnya. Membuat Gara dan pak Imam terkekeh.


"Bukan itu syaratnya, kamu harus mau menjadi adik aku, dan mulai sekarang... kamu harus panggil aku kakak." pungkas Kanigara.


"Yeeee... terimakasih Kak" Lita langsung memeluk tubuh Gara.


.

__ADS_1


__ADS_2