
Puas berdua-duaan di atas bukit Marsel dan Diah berjalan ke tepi pantai.
"Mas, aku mau naik perahu" kata Diah mereka saat ini sedang duduk beristirahat sejenak setelah turun dari bukit. Sambil memesan kelapa muda.
"Siapa takut" Marsel menoleh Diah di sampingnya senyumnya mengembang. Bersamaan dengan itu, Diah pun sedang menatap dagu suaminya yang di penuhi jenggok namun sudah dicukur. Meninggalkan bulu kehitaman kasar jika di pegang. 🤣🤣🤣 Membuat Diah betah berlama-lama memandang tidak berkedip.
"Kenapa kamu? Nglihatin sampai begitu. Aku tampan ya" Marsel terkekeh.
Diah melengos membuang rasa malu, karena tertangkap menatap suaminya kagum. "Gr" Diah mencubit perut Marsel, namun tidak sakit. Marsel langsung mencuri bibir pacar halalnya.
"Ih Mas! Malu" Diah menoleh sekitar hal semacam ini cukup tabu baginya. Bagusnya penjual kelapa sedang sibuk melayani pembeli.
Marsel terkekeh, pasutri itu bak sejoli yang sedang di mabuk asmara.
"Berapa biji kelapa nya Mbak?" penjual kelapa mengejutkan mereka.
"Satu"
"Dua"
Seru mereka berdua. "Kok satu, Mas? Aku nggak dibelikan," dengus Diah.
"Satu saja untuk berdua, biar romantis" kelakar Marsel mengulas senyum.
"Jadinya pesan satu, apa dua?" penjual kelapa memastikan.
"Dua Pak" Diah menyahut. Tak lama kemudian dua butir kelapa tersaji, benar saja, satu butir diminum berdua itupun pada akhirnya tidak habis.
"Katanya mau naik perahu? Ayo" Marsel berdiri meraih tangan Diah.
"Beneran? Memang Mas bisa ngayuh perahu," Diah ragu-ragu. Di bantaran laut luas jika bukan yang ahli mengayuh perahu, tentu mengerikan.
"Eh, kamu meremehkan, aku ini mantan selancar hebat loh?" ujar Marsel seraya menarik perahu di pinggir pantai.
"Tapi tidak sulit juga sih Mas, mendayung satu perahu di laut. Daripada satu orang mendayung dua perahu di kali." ujar Diah dengan wajah masam.
"Pada akhirnya, perahu itu akan tenggelam salah satunya. Atau mungkin, dua-duanya" Diah menyindir tanpa ekspresi. Yang dimaksud dua perahu adalah; Bella dan dirinya.
Marsel seketika terpaku di pinggir pantai menoleh Diah. Kata-kata Diah terasa menyentil hatinya hingga melepas perahu yang ia pegang.
"Kok malah Diam? Jadi nggak?" Diah mengulangi.
"Kamu menyindir?" tanya Marsel nyaris tak terdengar.
"Hehe... kalau Mas merasa tersindir, berarti memang benar, Mas telah melakoninya," kata Diah matanya tertuju ke perahu nelayan.
__ADS_1
"Sekarang jawab dengan jujur Mas, mampukah kamu mendayung dua perahu sekaligus, dan bisa menjaga keseimbangan? Hingga perahu itu sampai ke tujuan?" Diah tersenyum miring.
"Honey..." Marsel menatap Diah sendu.
Diah menoleh pelan, menatap mata Marsel yang meredup tidak tega juga. "Ayo" seru Diah membantu Marsel menarik perahu hingga ke pinggir.
"Let's go" Marsel merasa lega, Diah tidak lagi melanjutkan perkataan konyolnya.
"Oh ya Tuhan" Diah menarik napas berat, dan pada akhirnya naik ke perahu namun tidak semangat seperti tadi.
Marsel mengayuh perahu, menggerakkan dayung, menyusuri laut biru. Walaupun awalnya sempat menegang keduanya kembali tertawa-tawa.
Yang namanya suami istri pertengkaran kecil bahkan besar kerap kali terjadi. Namun tinggal bagaimana kita bisa mengurai keruwetan rumah tangga itu sendiri
******
Sore harinya, di Villa. "Al, loe tolong bicara sama Pak Marsel, dong? Aku tidak mau tidur bersama Bella" kata Siska cemberut.
"Mana bisa begitu? Villa ini sudah tidak ada yang kosong Sis, jika kamu tidak mau sekamar dengan Bella, mau tidur dimana, di kebun?" kelakar Aldo.
"Loe sono, yang tidur di kebun, biar jadi santapan nyamuk, terus... kamar loe, gw yang pakai," ketus Siska melengos kesal.
"Ya sudah, gw tidur di luar, terus loe tidur sama Mang Ade, sang bujang lapuk, bagaimana?" Aldo menahan tawa.
"Ahahaha... lagian, sudah tahu gw sekamar sama Mamang, loe segala ngusir gw lagi," Aldo mentertawakan Siska yang uring-uringan. Awalnya Siska tidak mau ikut berangkat lantaran trauma di suruh mengurut Bella seperti tempo hari di kantor.
"Sudah... jangan cemberut, mukamu itu semakin jelek, mendingan bantu Non Diah sama Marni." pungkas Aldo yang sedang menata tungku bakal membakar Ikan nanti malam. Sementara mang Ade sedang mencari kayu bakar.
"Bodok. Ah!" sungut Siska lalu melangkahkan kaki jenjangnya ke dapur.
**
"Bikin sambal nya banyak tidak Non?" tanya Marni yang sedang mencuci cabe.
"Di kira-kira saja Mar, cukup untuk sepuluh orang" jawab Diah. Ketika sedang ngobrol mereka mendengar langkah kaki mendekat. Diah yang sedang duduk di lantai mendongak.
"Eh Mbak Siska" sapa Diah yang sedang mengupas mentimun, dan membereskan sayuran mentah untuk lalapan nanti.
"Mau di bantu apa?" tanya Siska dingin, sebenarnya malas bersama Diah, tapi jika tidak membantunya pasti dimarahi Marsel. Siska kemudian ikut duduk di depan Diah beralaskan karpet.
"Yakin, Mbak Siska mau bantu," Diah menelisik kuku panjang Siska yang rapi dan terawat, lengkap dengan cat kuku, Diah yakin bahwa Siska tidak pernah mengerjakan tugas dapur.
"Sini saya bantu!" Siska merebut pisau dari tangan Diah. Namun Diah membiarkan saja.
Siska mengupas mentimun. Namun tanpa melihat obyek, justeru menatap wajah Diah yang sedang memilah kol membuang yang sekiranya tidak segar.
__ADS_1
Apa sih! Istimewanya wanita ini, bagi Marsel? Catik, tidak! pintar, boro-boro! kaya tidak juga. Yang menonjol dari wanita ini hanya hidungnya yang pesek. Cek! Marsel... Marsel" Batin Siska sambil terus menatap Diah datar. "Auw!" pekik Siska membuat Diah mendongak dan Marni menoleh.
"Astagfirlullah... Mbak Siska? Tangannya kepotong" Diah terperangah. Darah mengucur dari jari Siska. Siska meringis menahan perih. "Angkat tanganya ke atas Mbak, terus tekan pangkal jari. Nah, begini. Tahan dulu ya, saya ambil obat" saran Diah agar darahnya tidak terus mengalir. Siska pun akhirnya menurut.
Diah berlari menuju Villa sebelah. "Mas... kunci mobil, dimana?" tergambar kepanikan di wajah Diah.
"Oh ini, ada apa sih, kok panik begitu?" Marsel menyerahkan kunci mobil.
"Nanti aku jelaskan, sekarang buru-buru" Diah berlari meninggalkan Marsel yang masih bingung dengan sikap istrinya.
Diah memencet remote mobil mencari P3K. Ia segera kembali setelah mendapatkan yang dicari.
"Sini Mbak, saya obati" dengan cekatan Diah membersihkan darah dengan alkohol, mengolesi obat, kemudian membebatnya dengan perban.
Siska hanya bisa tertegun dengan apa yang ia lihat, ia kembali menatap wajah Diah yang sedang menekan perban agar tidak terlepas. Oh ternyata Marsel memilih Diah karena orangnya baik.
"Sudah... Mbak Siska lebih baik duduk saja, tidak usah membantu," ucap Diah lalu menyandak P3K hendak mengembalikan ke mobil.
"Tunggu" Siska meraih tangan Diah. Diah seketika berhenti. "Ada apa Mbak?" Diah menatap wajah Siska.
"Terimakasih" satu kata dari mulut Siska. Diah hanya mengangguk tersenyum kemudian melanjutkan langkahnya.
.
Malam harinya asap mengebul, bau wangi ikan bakar yang baru setengah matang membuat perut keroncongan. Aldo, Mang Ade, dan ditemani beberapa pegawai mereka bagian membakar.
"Bantuin gw dong Sis! Loe sih enak, duduk doang" canda Aldo.
"Yeah... mana bisa begitu! Tangan gw sakit tahu!" sahutnya seraya mantengin benda pipih.
"Alesan!" ketus Aldo. Begitulah Aldo dan Siska, selalu berdebat, tapi tidak di masukkan ke dalam hati oleh keduanya.
Sementara Marsel duduk bersantai di temani Lita sambil mendongak menatap bulan dan bintang yang bertaburan.
"Papa... ada bintang jatuh..." seru Lita seraya lompat-lompat.
"Ayo kita ambil Pa" Lita menarik telapak tangan Marsel.
"Tidak ada sayang... kalau kita datang ke sana, tidak akan menemukan apa-apa" jawab Marsel.
"Tapi tadi jatuhnya dekat Pa. Ayo" Lita kekeh ingin melihat bintang jatuh. "Ya sudah..." Marsel mengikuti.
Lita mengaitkan telunjuknya, ke telunjuk Papa, menuju arah bintang jatuh. Bella yang sedang berada tidak jauh dari situ mengamati sejak tadi. Melihat suami dan putrinya menjauh dari tempat itu segera mengkuti dari belakang. Hatinya bersorak inilah saatnya untuk mendekati anak dan suami. Pikir Bella.
.
__ADS_1