Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Tamu tak diundang.


__ADS_3

Mendengar pintu diketuk Gita membukanya. Tampak wanita berparas cantik, mengenakan gaun yang pas di badan, kaca mata hitam bertengger di hidung, sungguh mempesona. Apa lagi jika pria yang melihatnya pasti klepek-klepek.


Tidak heran jika Marsel dulu tergila-gila kepadanya. Gita seketika mengelus perutnya, wanita ini rupanya tidak kasihan dengan bayinya. Sebab, ia mengukur dirinya sendiri selalu memakai baju longgar selama hamil.


"Selamat pagi Mbak" Bella menaikkan kaca matanya hingga ke atas kepala.


"Selamat pagi, Nona bukankah Arabella model dari Negara B?" Gita terkejut untuk apa model terkenal ini mendatangi rumahnya. Apa lagi Gita sama sekali tidak mengenal secara pribadi selain melihat tayangan di televisi.


Jangan, jangan... Alfred... oh tidak! Batin Gita membayangkan jika Alfred berselingkuh seperti dulu.


"Betul, boleh saya masuk?" wanita berusia lebih muda 3 tahun dari Marsel itu mengukir senyum kepada Gita.


"Silahkan, tapi maaf, saya belum selesai menyapu" Gita lantas menyingkirkan sapu. "Belum jam tujuh soalnya, anak dan suami saya baru saja berangkat" ucap Gita seraya berjalan ke sudut ruangan memindahkan sapu.


"Hehe, maaf... saya bertamu terlalu pagi" Bella merasa tersindir atas ucapan Gita.


"Oh tidak apa-apa, silahkan duduk" Gita duduk lebih dulu dengan hati-hati.


"Terimakasih, kalau boleh tahu, siapa nama Mbak?" tanya Bella seraya duduk memangku tas.


"Nama saya, Sagita Anggraeni, biasa di panggil Gita"


"Nama yang bagus" Bella manggut-manggut. Matanya menatap perut Gita.


"Ternyata kita sama-sama hamil, sudah berapa bulan? sepertinya Mbak, sudah hamil tua ya" Bella tersenyum.


"Sudah tujuh bulan, lalu Nona sendiri?" Gita balik bertanya.


"Baru enam bulan" Bella mengusap perutnya. "Ini anak kedua saya" tutur Bella tanpa ditanya.


"Oh kalau begitu sama, ini juga kehamilan kedua" Gita menjawab. "Nona mau minum apa, saya buatkan," sambung Gita kemudian berdiri dari duduknya.


"Tidak usah repot, saya hanya sebentar" Bella menahan lengan Gita.


Gita kembali duduk lalu bertanya. "Nona datang kemari ada perlu apa ya?" Gita sudah penasaran sejak tadi.


"Maaf... kalau saya lancang datang kemari, eemm... saya ingin bertanya yang sifatnya pribadi, tapi... sekali lagi saya mohon maaf" Bella menarik napas panjang.


"Mau bertanya soal apa?" Gita merasa aneh mana ada orang yang baru bertemu lantas bertanya masalah pribadi.

__ADS_1


"Maaf, apakah suami Mbak, mantan istri wanita yang bernama Diah?" Cecar Bella. Bella sebenarnya sudah tahu dari Thomas. Namun pura-pura bertanya.


Deg.


Gita semakin aneh mendengarnya. "Jika iya, memang kenapa?" Gita menatap mata Bella yang sedang menatapnya juga.


"Saya tidak bermaksud apa-apa Mbak, saya hanya ingin mengingatkan, suami Mbak Gita, masih suka bertemu, dengan Diah. Jika Mbak Gita tidak hati-hati... bisa-bisa mereka CLBK. Diah itu wanita miskin yang Gila harta, menggait pria sudah keahlianya," wajah Bella yang lembut tadi berubah menjadi merah padam.


"Oh masalah itu, suami saya selalu menceritakan pada saya kok, setiap bertemu Diah, saya sih maklum, karena tidak ada bekas anak. Wajar jika mereka masih bertemu, karena demi anak mereka."


Gita mulai tahu Bella ternyata tidak sebaik yang di gembor-gemborkan di media, nyatanya dengan mudah membuka aip sendiri.


"Lalu... apa hubungannya dengan Anda?" Gita heran, jika memang benar yang Bella katakan bahwa suaminya CLBK, apa keuntungan baginya, sampai wanita ini sibuk mengurusi rumah tangga orang lain.


"Hiks hiks" Bella menunduk menangis memijat pangkal hidungnya.


"Loh kok, malah menangis Non" Gita terperangah baru saja wanita ini tertawa-tawa tapi dengan cepat menangis.


"Mantan istri suami Mbak itu, sebenarnya wanita jahat Mbak, hiks hiks"


Gita hanya Diam mendengarkan apa yang akan diceritakan wanita ini.


"Masa sih Nona, yang saya tahu, Diah saat ini sudah berubah" Gita mendekati Bella lalu mengusap punggungnya lembut.


"Buktinya, Diah telah merebut suami saya Mbak, tidak hanya itu, anak saya berhasil dipengaruhi, hingga menjauhi saya, hiks hiks." Bella ternyata pintar akting.


"Astagfirlullah..." Gita menjadi ingat saat tempo hari bertemu Diah dan suami barunya di mall ternyata dugaannya bahwa Diah manjadi istri kedua ternyata benar.


"Suami saya pergi meninggalkan saya, demi wanita itu Mbak, padahal Mbak tahu, saya sedang hamil, hiks hiks hiks, hati saya sakit Mbak, hati saya sakiiit... hu huuu..." Bella memeluk Gita. Gita mengusap-usap punggungnya.


Gita ingat ketika menerima kenyataan saat suaminya berselingkuh dengan Diah, Gita ikut merasakan kesedihan Bella.


"Maaf ya, kalau saya curhat, kepada Mbak Gita, karena keluarga besar saya semua tinggal di Negara B, tidak ada orang yang bisa menghibur saya, maka saya terpaksa datang kemari." Bella merenggangkan pelukanya.


"Saya mengerti, tapi apa tidak sebaiknya... Nona Bella, duduk berdua dengan suami, lalu bertanya apa maunya, dengan begitu... mungkin kalian masih bisa bersama," nasehat Gita ingat ketika dulu berhasil membawa Alfred kembali ke pelukanya.


"Bagaimana mau bicara Mbak, suami saya saja tidak pernah pulang ke rumah, ketika saya telepon tidak diangkat," Bella ambil tisue dalam tas menyusut air matanya


Gita menatap sendu wanita di sampingnya, ia ingat Alfred ketika berselingkuh dengan Diah juga seperti itu.

__ADS_1


"Makanya Mbak Gita. Mbak harus hati-hati, cepat atau lambat wanita seperti Diah, bisa saja merebut suami Mbak kembali"


Bella menatap Gita rupanya sudah mulai terkena hasutan, cepat menyampaikan niatnya.


"Jika Mbak Gita mau, saya ada ide bagaimana jika kita bekerja sama,"


"Bekerja sama?" Gita menatap Bella dengan mulut terbuka.


Bella membisikkan sesuatu ke telinga Gita. Entah apa yang Bella rencanakan hingga membuat Gita seketika berdiri.


Gita tidak menyangka wanita sekelas Bella ternyata akan berbuat licik.


"Oh tidak, ternyata Anda datang kemari, hanya untuk menghasut saya?! saya mohon jika tidak ada kepentingan yang lain, saya minta Anda segera tinggalkan rumah saya" usir Gita.


"Baiklah, terimakasih atas waktunya, jika Mbak Gita berubah pikiran, segera hubungi saya, boleh, kita tukar nomor handphone?" Bella rupanya masih berani bertanya.


"Maaf, hp saya hanya satu, kebetulan dibawa suami" Gita beralasan.


Bella kemudian bangkit dari duduknya ambil tas. "Permisi" Bella pergi setelah meletakkan nomor hp di meja, yang ia tulis di atas kertas sebab Gita tidak mau diajak tukar nomor.


Gita membiarkan wanita yang baru dikenalnya itu pergi, tidak berniat mengantarnya ke depan. Ia tersenyum mengusap perutnya karena bayi di dalam kandungnya menendang-nendang.


"Kita harus menjaga Daddy ya, Nak, agar kamu, kakak, dan Mommy, tidak akan lagi kehilangan dia," gumamnya.


Gita kemudian beranjak berniat melanjutkan pekerjaannya yang tertunda karena kehadiran tamu tak diundang.


"Sayuuuurrrr... sayuuuur..." Gita kembali mengurungkan niatnya untuk menyapu, karena tukang sayur sudah memanggilnya.


Gita kemudian menghampiri tukang sayur yang sudah dikerubuti para mak-mak.


"Mbak Gita, ada hubungan apa dengan model cantik tadi? teman Mbak ya?" cecar para mak-mak.


"Betul Bu" sahut Gita singkat sambil memilih sayuran segar. Beginilah kehidupan Gita saat ini, yang dulu selalu belanja ke Mall, lebih memilih belanja di tukang sayur demi keutuhan keluarga.


"Mbak Gita, kalau model tadi kesini lagi, share di group ya, kami mau foto bareng," kata mak-mak antusias.


"Baik Bu" Jawab Gita seperlunya sambil tersenyum menganggukan kepala.


.

__ADS_1


__ADS_2