Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Ghani & Ghina


__ADS_3

Jenazah almarhumah Arabella segera diantar ambulan ke rumah duka diiring mobil yang lain.


Di ambulan, jenazah Bella ditemani Patrick, Anneke, dan juga Anthony.


Anthony terus menangis, ia hanya tinggal pergi sebentar tetapi Bella pergi hingga Anthony tidak sempat mengajaknya bicara.


"Maafkan aku Bella," ucap Anthony berkali-kali. Ia duduk bersimpuh di samping istrinya yang hanya tingal raga yang terbujur kaku.


Sampai di rumah duka tidak menunggu lagi, jenazah kemudian dimandikan.


Sementara di mobil Marsel yang di kemudikan oleh Symon pun sudah sampai di rumah duka. Tampak Diah menggendong Rafa kemudian Marsel menggendong Rafi.


Calista berlari setelah turun dari mobil mengejar jenazah Mommy nya. Ia baru mengerti jika Bella telah meninggal karena diberi penjelasan oleh Diah dan juga Marsel.


"Mommy... kenapa Mommy meninggalkan Lita," Lita memeluk tubuh Bella yang sudah di kafani.


"Lita... sini sayang... Mama bilangin. Sekarang... Lita tidak boleh terlalu menangisi Mommy Bella, karena... jika Lita menangis terus, Mommy justeru tidak tenang." Diah menjelaskan panjang lebar.


"Tapi Lita menyesal Ma, kenapa waktu itu Lita meninggalkan Mommy," sesal Lita sambil berlinang air mata.


"Sayang... Mommy sudah memaafkan Lita kok, nah, supaya Mommy Bella senang, pasti Lita tahu apa yang harus Lita lakukan," ujar Diah.


"Iya Ma, Lita tahu," Calista kemudian berjalan ke kamarnya mengajak Diah yang masih menggendong Rafi. Sampai di kamar Lita, ternyata Marsel sudah menidurkan Rafa.


"Pa, Lita ingin shalat Isya, terus mengaji untuk Mommy," kata Lita dengan wajah sembab kebanyakan menangis.


"Anak pintar..." Marsel mengusap kepala putrinya. Lita kemudian ambil air wudhu.


"Shalat nya bareng Papa sayang... biar Mama jagain Dedek dulu," ucap Diah.


"Iya" Marsel pun ambil air wudhu kemudian menjadi imam.


Jam delapan malam Marsel dan juga mommy Laura, turut mengantar jenazah Bella, karena kesepakatan bersama, Bella akan di kebumikan malam ini juga.


Sementara Diah tidak ikut ke kuburan karena harus menjaga si kembar, dan juga Calista yang sedang mengaji untuk Mommy.


Kini Bella telah pergi. Pergi untuk selamanya hanya amal ibadah nya yang ia bawa.


Keesokan harinya Diah pamit pulang kepada keluarga Bella dan ijin membawa cucu mereka.


"Diah... Marsel... kami percayakan cucu kami kepada kalian, tapi ijinkan kami suatu saat nanti menjenguknya," ucap Anneke.


"Tentu Tante... minggu depan kami akan membawa cucu Tante pulang ke Indonesia, jika Om dan Tante kangen, datanglah ke tempat kami," jawab Diah.


"Ello... jika Tuhan masih memberi kesempatan saya hidup lebih lama, saya akan mengunjungi Rafa dan Rafi," Anthony mencium kepala si kembar bergantian.


"Tentu Anthony, teruslah berdoa, dan berobat rutin, semoga kamu cepat sembuh," Marsel menguatkan Anthony.


Sebenarnya Marsel kasihan kepada Anthony, seharusnya dia yang lebih berhak atas Rafa dan Rafi. Namun semua tahu, Anthony bukan bapak yang sehat.

__ADS_1


"Lita... jaga kedua adikmu sayang..." Anneke mencium pipi Lita.


"Iya Oma, Opa," Lita cium tangan opa dan oma kemudian berjalan menuju mobil.


"Saya pulang Anneke... minggu depan aku mau ikut anak dan menantuku ke Indonesia," pamit Mommy Laura.


"Iya Laura... kami titip cucu-cucuku," Anneke merangkul mantan besanya.


*******


4 tahun kemudian.


Tiga anak laki-laki tampan dan satu anak perempuan sedang lomba berenang gaya bebas, tampak keseruan di kolam itu.


"Ayo, ayo. Semangat-Semangat," tampak anak perempuan kelas tiga SD sebagai penilai sedang duduk di pinggir kolam.


"Ghani... Ghina... cepeeeet..." Seru anak perempuan yang rambut panjangnya di kuncir kuda itu.


"Capek Kak," Ghina pun menepi meraup wajahnya menghilangkan air yang menutup matanya.


"Ghina ayo, kita kalah nih," Ghani akhirnya ikut menepi mrengut kesal.


"Yeee... kita menaaaang...." sorak Rafa dan Rafi mengangkat dua tanganya.


"Kan! kalah, haah... Ghina sih, belum sampai garis finish sudah berhenti!" Ghani anak cowok yang mirip papi Efendi itu kesal.


"Eh, kalian jangan bertengkar, kalau sudah capek istirahat saja," Calista menengahi. Ya anak perempuan yang sudah bisa melerai pertengkaran adiknya itu adalah; Calista.


"Ghina... Ghani... sekarang mandi yuk," kata salah satu baby sitter yang berbaju pink.


"Betul, Rafa... Rafi... kalian mandi juga," baby sitter yang mengenakan baju biru menambahkah.


"Nggak! Ghani masih mau main!" kukuh Ghani.


Ghani dan Ghina adalah: anak kembar Marsel dan Diah. Ghina memang agak manja sebab dia anak perempuan sedangkan Ghani cenderung lebih tegas.


"Benar kata Suster... kalau sudah capek kalian mandi dulu. Ayo," Marsel yang sedang bergijabu dengan lap top di gazebo menghampiri mereka.


"Rafa... Rafi... ayo kalian juga mandi," titah Marsel.


"Iya Pa," sahut Rafa dan Rafi. Mereka bertiga semuanya telanjang dada kecuali Ghina.


"Kak Ghani, jangan cemberut terus..." protes Ghina saat berjalan ke kamar mandi yang tidak jauh dari kolam renang.


"Hehe... anak-anak Papa nggak boleh ada yang bertengkar, yang namanya lomba itu musti ada kalah ada yang menang," papa berusia 39 tahun itu menasehati ke empat anaknya sambil terkekeh.


"Habisnya! lagi seru, Ghina malah berhenti Pa," adu Ghani.


"Iya Ghani, Papa tahu, Ghina kan sudah bilang capek tadi, ayo kalian minta maaf," mereka berhenti di depan kamar mandi.

__ADS_1


"Iya maaf," Ghani menyodorkan tanganya kemudian di sambut Ghina.


Mereka mandi bergantian dibantu dua orang baby sitter. Satu mengurus Ghina, Ghani. Sedangkan satu lagi mengurus Rafa dan Rafi. Mereka hanya selisih 5 bulan lebih tua Rafa dan Rafi.


Keempat anak tersebut sudah tampak rapi kemudian menyusul papanya di gazebo. Di sana sudah ada Calista yang menunggu ke empat adiknya.


"Capek ya?" Marsel menatap empat anaknya.


"Aku nggak, masih kuat," Rafa dan Rafi memamerkan tenaganya.


"Iya, besok lagi, masih banyak waktu, lagian... sekarang kan sudah sore," Marsel mengusap kepala ke empat anaknya bergantian.


"Siapa mau ice cream..." Diah datang bersama Marni membawa nampan.


"Horeee... ice cream..." mereka ambil ice cream satu persatu yang di sodorkan oleh Marni. Sementara Diah membawa pizza dan kopi untuk suaminya.


"Nih setelah minum ice cream... kalian makan pizza," Diah meletakan pizza di depan anak-anaknya yang sudah bercanda ria kembali.


"Kakak kok nggak ambli ice cream?" tanya Diah pada Calista.


"Nanti saja Ma, aku pingin yang hangat-hangat" kata Lita tanpa permisi menyeruput kopi Marsel.


"Hah, kamu ya," Marsel nguyek-uyek kepala Lita. Diah pun terkikik geli.


"Yank, kayaknya mereka sudah waktunya di kasih adik," Marsel berbisik di telinga Diah, terkekeh.


"Yang benar saja Pa, sudah lima loh anak kita," Diah geleng-geleng kepala.


Begitulah keluarga Marsel menjadi keluarga besar. Mereka saling menyayangi walaupun kadang di warnai pertengkaran kecil dalam hidup berumah tangga sudah biasa. Namun keduanya bisa menyelesaikan dengan bijak.


Derrtt... derrtt..."


"Assalamualaikum..." Diah mengangkat handphone dari orang yang sangat dikenalnya.


(....)


"Apa?!"


Prakk


Handphone Diah jatuh seiring dengan jatuhnya Diah pula. Diah terkulai lemas jatuh pingsan di gazebo.


"Mama..." pekik anak-anaknya yang awalanya bersenda gurau berubah menjadi tegang menggoyang-goyang tangan mamanya.


"Sayang... ada apa?" Marsel tak kalah panik nenidurkan kepala Diah di pangkuannya sambil menepuk pelan pipi istrinya.


"Lita ambil minyak angin Pa," Lita segera berlari ke rumah minta minyak angin pada bibi.


.

__ADS_1


__ADS_2