
Marsel berlari mengejar Diah. Namun entah menggunakan tenaga apa istrinya berlari dengan cepat dan menghilang entah kemana.
Ia melewati para turis yang sedang bertelanjang dada bagi yang laki-laki, dan yang perempuan mengenakan pakaian renang.
Ada yang tiduran di pasir beralaskan tikar, membayar jasa pijit, ada yang sedang memadu kasih, ada pula yang sedang berkejar-kejaran.
Marsel bertanya kepada mereka dan menunjukkan ciri-cirinya. Namun, tidak satu orangpun yang tahu.
Marsel kecewa sudah jauh-jauh datang ke sini ingin memperbaiki rumah tanganya yang belum seumur jagung, tapi sudah banyak sekali persoalan yang membelit.
Ia sengaja mengajak istrinya kemari, selain honeymoon juga ingin jujur, mencari waktu yang tepat untuk bicara. Namun, justeru membuat hati Diah menjadi terluka.
Marsel terus berjalan hingga sampai di salah satu pantai yang paling sepi. Tetapi tidak menemukan istrinya padahal waktu sudah menjelang magrib.
Seklebat matanya menangkap sesosok bayangan berjalan merunduk, bersembunyi di balik rerimbunan pohon. Dilihat dari baju dan jilbabnya itu adalah Diah istrinya.
Marsel tersenyum lega pura-pura tidak tahu.
"Diaaaahhh... kamu dimanaaa..." suara Marsel kencang menautkan kedua tangan jari dan jempol melingkarkan di mulut.
"Diaaaahhh... aku mencintai kamuuuu... tidak mau kehilangan kamuuuu..."
"Aku yakin, kamu ada di sekitar sini kan?"
Rerimbunan pohon pun kembali bergerak. Sebenarnya Marsel ingin sekali menghampiri, tetapi khawatir istrinya justeru kabur kembali.
Duh... bagaimana ini? jika sampai ada ular, kalajengking, atau ulat? ah Diah ada-ada saja.
"Mas, Mas, sedang mencari siapa? sampai teriak-teriak begitu..." tanya seorang bapak salah satu pegawai di pantai.
"Pak, istri saya lagi ngambek, dan dia bersembunyi di belakang semak-semak itu, tolong bantu saya agar dia mau keluar ya, Pak" Marsel berkata setengah berbisik.
"Caranya, Mas?"
"Bapak cukup mengiyakan kata-kata saya saja" kata Marsel.
Bapak itu menganggukan kepala.
"Sedang mencari istri saya Pak, saya takut dia kesasar kesini, sebab... saya pernah dengar, katanya di bawah bukit itu ada ular sebesar pohon kelapa, benar begitu?" Marsel berkata cukup keras agar terdengar oleh Diah, dan mengedipkan mata agar bapak itu mau di ajak kompromi.
__ADS_1
Bapak itu melirik semak-semak belukar yang bergerak-gerak.
"Oh benar Mas, apa lagi kalau magrib begini, suka turun dan mencari tikus di semak-semak"
"Maaaasss..." Diah berlari keluar dari semak-semak kemudian memeluk Marsel. Tanpa Diah tahu, Marsel tersenyum kepada bapak itu seraya mengacungkan jempol.
"Sudah-sudah... sebentar lagi magrib sebaiknya kita kembali ke hotel yuk, lihat! tempat ini sepi banget kan, apa lagi menurut orang-orang di sini, ada penghuninya."
"Aaahhhh... ayo cepat kembali" Diah pun pada akhirnya luluh dan sama sekali tidak mau melepas tangan Marsel. Marsel menoleh bapak yang sedang geleng-geleng kepala.
"Ya sudah ayo" Marsel menggandeng Diah.
"Pak, saya permisi, Bapak harus hati-hati, sebaiknya pergi juga, khawatir ularnya turun dari tebing" kata Marsel lalu menjatuhkan tiga lembar uang merah.
"Iya Mas, terimakasih" bapak pun tersenyum setelah memungut uang. "Lumayan... bisa buat bayar spp Ketut" gumamnya.
Diah merasa pegal di betis karena terlalu lelah berlari tadi. "Pelan-pelan jalanya, kakiku pegal" ucap Diah.
"Ayo aku gendong" Marsel berjongkok di depannya.
"Nggak mau!" ketus Diah.
Secepat kilat Marsel membopong tubuh Diah lalu membawanya ke parkiran menuju mobil rental.
Marsel melirik sekilas mata Diah yang sembab, sudah pasti kebanyakan menangis. Ia merasa bersalah. Marsel membiarkan istrinya tenang tidak mengajaknya bicara apapun, hingga akhirnya mobil sampai di hotel.
Marsel kemudian menghubungi pihak rental agar mengambil mobil karena untuk hari ini sudah cukup.
Sementara Diah berjalan lebih dulu meniggalkan Marsel, segera naik ke lantai dua dimana kamarnya berada.
Di dalam kamar Diah lantas mandi hanya dengan mengenakan kimono ia keluar bertepatan dengan itu Marsel baru masuk.
Diah pura-pura tidak tahu lalu ambil baju dalam tas sambil nungging. Baju kimono yang ia kenakan nyingkap keatas tanpa Diah sadari hingga memperlihatkan organ intim.
"Hai... kamu menantang ya?" Marsel terkekeh mencolek-colek pipi Diah. Diah menoleh sekilas hanya terlihat sepatu olah raga yang di kenakan Marsel.
Diah kembali ke kamar mandi mengenakan pakaian lalu ambil air wudhu.
"Tunggu sebentar, aku mandi dulu, nanti kita shalat maghrib bareng, ok!" kata Marsel sambil berlalu ke kamar mandi.
__ADS_1
Diah tetap tidak menjawab, ambil kaos dan boxer milik Marsel setelah meletakkan di sofa. Ia kemudian mengenakan mukena, menggelar dua sadjadah, walaupun begitu tetap menunggu.
10 menit kemudian Marsel sudah selesai mandi lalu shalat berjamaah.
Setelah berdoa Diah mencium punggung tangan Marsel lalu menyusupkan wajahnya di pangkuan suaminya, tangisnya pecah.
Bukan menyesali takdir yang sudah Allah berikan. Tetapi, ia merasa bingung memikirkan jalan hidupnya. Setiap mempunyai suami luka yang ia dapat. Akankah, pernikahanya saat ini akan mengalami nasip seperti dulu?
"Oh tidaaaakkkk..." Diah berteriak. Diah rupanya mengalami trauma yang mendalam.
"Honey..."
Tangan putih yang ditumbuhi bulu hitam itu mengusap kepala istrinya.
"Maafkan aku sayang, aku tidak bermaksud membohongi kamu, jika kamu masih mau mendengarkan aku. Akan aku ceritakan semuanya," Marsel mengelus punggung Diah yang masih mengenakan mukena.
"Tetapi, jika kamu tidak mau mendengarkan, aku tidak akan memaksa, pada intinya, yang ada di hati aku saat ini hanya kamu," jujur Marsel.
Diah lalu mengangkat kepalanya, mengusap sisa air mata yang membasahi sarung Marsel. "Terus... bagaiman?" tanya Diah kemudian.
"Bagaimana apanya?" Marsel pura-pura tidak mengerti, ia merasa lega istrinya sudah mau bicara kepadanya.
"Ya... kelanjutan ceritanya" Diah lalu membuka mukena sambil melipat.
"Sini" Marsel kembali menarik pelan tubuh Diah hingga terlentang di pangkuan.
Marsel kemudian menceritakan semuanya, saat Bella meninggalkan dirinya, saat di jebak di apartemen delapan bulan yang lalu, hingga saat ini Bella datang, dan dalam keadaan hamil.
"Jadi... Mas secara hukum belum bercerai?" Diah menatap Marsel yang sedang menerawang.
"Iya, tapi aku sudah menghubungi pengacara agar menyelesaikan perceraian ini,"
"Tapi, aku tadi siang sebelum ke pantai... melihat dia di wawancarai di televisi Mas, terus dia bilang, saat ini sedang fokus mengurus keluarga,"
Marsel menunduk menatap lekat wajah Diah tampak diselimuti kecemasan.
"Terus... kamu percaya begitu saja? jika memang yang ia katakan itu benar, mungkin dia punya keluarga yang lain"
"Jujur, selama Bella datang ke Indonesia, aku bertemu hanya tiga kali, yang pertama di hotel ketika itu" "Yang kedua, aku pernah mengantarkan ke rumah sakit, untuk kontrol"
__ADS_1
"Dan yang terakhir, dia datang ke ruangan aku, tapi langsung aku usir, jika kamu tidak percaya, tanya sama Aldo"
"Selama kita menikah, kapan kita berjauhan? ke kantor saja, kamu selalu aku ajak, hanya sekali saat di resto ketika itu, aku berbuat kesalahan" tutur Marsel panjang lebar.