
"Kosmetik itu pemiliknya pasti Mbak Bella Mas, siapa lagi," Diah memandangi suaminya yang jalan ke arahnya.
"Iya, aku baru ingat, minggu kemarin kan Dia menginap di sini sama Lita, Yank," terang Marsel kemudian duduk di ranjang menarik pelan pundak istrinya hinga jatuh ke dadanya.
"Iya Mas, aku juga baru ingat, tapi apa penyakit Mbak Bella parah sekali ya? Masa kosmetik semahal itu sampai tidak berniat mengambil nya, atau Bella memang sering keluar masuk ke sini? Jika memang begitu, aku nggak mau menginap di sini, ah! nanti malam tidur di rumah Mom saja." gerutu Diah panjang lebar.
"Nggak tahu Yank, kita kan lagi berdua, nggak usah membahas Bella. Kenapa, sih?" Marsel merebahkan tubuh Diah ke ranjang kemudian Marsel menyusul nya.
"Mumpung Lita lagi anteng, kita kasih vitamin untuk dedek di perut, biar Dia senang melihat keharmonisan kita," Marsel menaik turunkan alisnya sambil mencium perut istrinya.
"Dasar mesum," Diah mencubit tengkuk suaminya, hingga terjadi perang ranjang di pagi hari. Setelah imbang memainkan pertarungan keduanya lantas terlelap.
Tok tok tok.
"Mama... Papa... buka pintunya..." seru Lita dari luar kamar. Setengah hari gadis kecil itu bermain sendiri di kamarnya, merasa capek, dan lapar. Tetapi papa mamanya tak kunjung menghampiri. Kemudian ia memberanikan diri mengetuk pintu.
Sedangkan kedua orang tuanya justeru bermain berdua. Jangan di contoh manusia seperti mereka.
Tok tok tok.
"Mamaaaaa..." Lita mendorong handle pintu tapi di kunci dari dalam Lita menjadi kesal sendiri.
"Huaaa... Mamaaaa..." Lita menjerit-jerit.
"Iya sayang... sebentar..." jawab Diah kalang kabut mencari pakaianya entah dimana.
"Mas, Mas... bangun Mas. Lita menangis," kata Diah meletakan pakaian di perut Marsel yang masih polos, setelah memungutnya dari lantai.
"Mas... cepat ke kamar mandi" titah Diah, kemudian meninggalkan suaminya keluar menemui Lita.
"Maaf sayang... Mama ketiduran" Diah mengusap air mata Lita.
"Mama sih... pintunya di ketuk-ketuk pelan nggak mau bangun, jadinya kencang," Lita merasa bersalah karena teriak-teriak.
"Ya Allah... Mama ketiduran, ternyata sudah mau dzuhur, pasti kamu lapar ya, kasihan... ayo Lita tunggu di kamar Mama dulu, Mama mau mandi terus kita ajak Papa makan di luar," bujuk Diah.
__ADS_1
"Kenapa musti mandi Ma? kan tadi pagi sudah mandi" protes Lita.
"Iya, gerah," Diah mengipas-ngipas leher dengan telapak tangan.
"Memang Mama nggak nyalahin AC, tumben," Lita mencecar pertanyaan membuat Diah bingung mencari alasan. Lita masuk ke kamar Diah kemudian duduk di sofa di ikuti Diah.
"Heemm... anak Papa di sini..." Marsel sudah keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Lalu gantian Diah yang mandi meninggalkan mereka.
"Lita lapar..." rengek Lita ceberut.
"Oke... kita tunggu Mama dulu" Marsel menggendong Lita mengajaknya menonton televisi. 20 menit kemudian Diah sudah rapi mereka mencari restoran terdekat.
"Sayang... Mama kan mau nengok Mama Bella, terus anak-anak nggak boleh ikut masuk, kamu tunggu Mama sama Papa di rumah Oma ya," kata Diah setelah selesai makan.
"Iya Ma,"
Benar saja setelah makan, Marsel dan Diah mengantar Lita kerumah Mom kemudian mereka berangkat ke rumah sakit.
********
Setelah mendapatkan informasi, Marsel dan Diah disarankan mengganti pakaiannya dengan pakaian khusus.
Setelah tukar pakaian, mereka tidak diijinkan masuk berdua, melainkan bergantian, sesuai peraturan rumah sakit.
Marsel terpaksa menunggu di tempat yang sudah di ditentukan oleh pihak rumah sakit.
"Kok aku deg degan begini ya Mas," Diah memegangi dadanya, ketika ingin masuk ruangan.
"Hehehe... kamu? Santai saja, bukannya kamu yang ngotot ingin menjenguk?" Marsel memeluk Diah sebelum masuk.
"Iya Mas, aku duluan ya" Diah melangkah lambat, setelah diangguki Marsel, menuju ruangan VVIP Bella dirawat. Sampai di depan pintu Diah membukanya perlahan.
Diah berjalan jinjit agar tidak terdengar suara sehingga mengganggu istirahat Bella. Diah terpaku menatap Bella yang biasa berpenampilan glamor itu berubah total.
Tampak Bella terlentang tak berdaya sedang tidur di pasang selang infus. Wajahnya pucat tidak ada polesan seperti biasanya. Wajah penuh bintik-bintik merah.
__ADS_1
Diah merasa tertampar, ingin rasanya merubah dirinya lebih baik lagi. Tidak ada yang kekal di dunia ini, wajah cantik hanya titipan, suatu saat akan menghilang seperti yang dialami Bella. Keadaan Bella sungguh menjadi pelajaran yang nyata.
Bayangan buruk di masa yang lalu menari di pelupuk mata Diah. Kontan air mata Diah menetes. Menyesali keangkuhan nya dulu. Diah memegangi wajahnya. Nasip baik masih bersamanya. Allah sungguh memberikan kesempatan agar Diah terus hijrah bertaubat ke jalan Nya. Nyatanya Diah masih selalu di berikan kesehatan dan bisa memperbaiki diri.
"Siapa kamu?" suara wanita setengah baya terbangun dari tidurnya di sofa mengejutkan Diah.
Diah menghampiri wanita itu agar tidak bersuara khawatir membangunkan Bella yang sedang tidur.
"Saya Diah Nyonya, istrinya Marsel" Diah mengulurkan tangan.
"Oh, jadi kamu... Istrinya Ello?" tanya wanita yang berdandan menor itu menatap Diah dari atas sampai bawah.
"Betul Nyonya, bagaimana keadaan Mbak Bella? Mbak Bella sakit apa?" cecar Diah kembali menoleh Bella.
Mommy Bella menarik napas panjang. "Tidak perlu bertanya, Anda sudah tahu jawabanya," jawabnya tanpa menatap Diah.
"Siapa Mom, berisik banget?" tanya Bella lirih. Padahal Diah berbicara sudah setengah berbisik. Diah dan nyonya Laura menoleh.
Mommy Bella kemudian beranjak menghampiri putrinya di ikuti Diah.
"Mbak Bella, bagaimana keadaan mu?" Diah bertanya pelan. Bella seketika membuang muka kasar.
"Mau apa kamu kesini Diah?! Mau mentertawakan saya, wanita penyakitan berwajah buruk?!" sinis Bella.
Mommy Bella bergegas ke toilet meninggalkan mereka.
"Tentu saya ingin menjenguk Mbak Bella." Diah berniat memegang tangan Bella. Namun, belum sampai menyentuh, Bella menarik tanganya kasar.
"Keluar kamu dari sini Diah! Keluar Diah," usir Bella.
"Tapi Mbak," Diah memelas melihat keadaan Bella.
"Jangan sok peduli Diah... keluar... keluaaaarrrr..." Bella berteriak kencang membuat Diah terperangah.
"Diah... sebaiknya Anda keluar," Mommy Bella mendorong tubuh Diah hingga sampai pintu. Diah pun mengalah kemudian keluar.
__ADS_1
.