
"Mas, menurutmu, bagaimana usulan aku? Setuju nggak, kalau kita menengok Mbak Bella?" Diah memastikan.
"Aku menurut saja Diah, jika itu yang terbaik," jawab Marsel.
"Tapi kita ke apartement dulu Yank, tidak mungkin kan, pagi-pagi kita kerumah sakit, belum jam besuk soalnya" kata Marsel memang benar.
"Sebaiknya... kalian nengoknya nanti sore saja, Lita antarkan pulang dulu." kata Mommy. Anak di bawah12 tahun memang tidak diperbolehkan masuk rumah sakit yang sangat ketat itu.
"Baik Mom" sahut Marsel dan Diah. Marsel kemudian menghubungi Symon agar mengantarkannya.
Sambil menunggu Symon, Diah berbincang-bincang dengan mommy di kamarnya. Ada uneg-uneg yang mengganjal di hati Diah, yang harus ditanyakan.
"Mom, Diah boleh tanya sesuatu tidak?" Diah menatap Mom, yang sedang bersandar di bantal yang bibi susun tiga.
"Mau tanya apa Diah... kok kamu serius amat?" Mom balik bertanya bola matanya tidak berpaling dari Diah.
Diah menarik napas berat. "Mommy sudah tahu, kalau yang di kandung Mbak Bella itu anak Marcello?" Diah bertanya hati-hati, agar mertuanya tidak terkejut.
"Bella pernah bicara begitu sama Mom, Diah... tapi... Mom sama sekali tidak percaya, jika itu anak Ello," sanggah mommy.
"Mom... ini misalnya, anak yang di kandung Bella itu benar anak Marsel, apa yang akan mommy lakukan?" tanya Diah serius.
"Mom tidak yakin!" tegas mom. "Selama Bella meninggalkan rumah, mommy sudah melarang Ello untuk menemui Bella, Diah" Mommy tampak geram.
"Ketika itu, Mommy sudah memperingatkan Bella. Aku beri waktu selama satu tahun agar dia kembali, dan memperbaiki kesalahannya.Tapi Bella tidak ada itikat baik, justeru menghilang hingga beberapa tahun, jadi mana mungkin itu anak Ello." Mommy benci kala mengingat itu.
"Mom, yang namanya suami istri itu, bertengkar biasa, pasti mom lebih tahu daripada Diah.Tapi kan mommy tidak tahu, jika mereka diam-diam mengatur pertemuan dan saling melakukanya tanpa mommy tahu," Diah berpendapat.
Mommy diam sesaat tampak berpikir sesuatu "Sudahlah Diah...tidak usah pikirkan macam-macam, yang penting jaga kesehatan kamu, dan juga bayi yang kamu kandung" pungkas mommy.
"Baik Mom" Diah tampak kecewa tidak mendapat jawaban dari mommy yang sebenarnya.
"Keluarga kamu di Jakarta sehat semua kan Nak?" mommy, mengalihkan, tadi malam belum sempat menanyakan keluarga Diah pula.
"Alhamdulillah... baik, Mom" Diah menjawabnya singkat.
Mommy menatap Diah sendu, jujur mommy sendiri bingung untuk menjawab, mommy juga tidak tahu pasti anak siapa.
Tok tok tok.
"Mama... ditunggu Papa..." seru Lita dari luar kamar.
__ADS_1
"Baiklah sayang..." jawab Diah dari dalam kamar.
"Mom, Diah berangkat dulu ya" Diah mencium punggung tangan mommy.
"Iya Nak, nanti malam tidur di sini saja ya," pinta mom, Diah mengangguk kemudian keluar dari kamar.
"Maafkan Mommy Diah" Mom bicara sendiri setelah Diah membuka pintu kemudian keluar.
******
"Kemana kamu tadi Yank?" tanya Marsel ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
"Ngobrol sama Mommy di kamar, kenapa gitu?" Diah menoleh ke samping.
"Nggak... tanya saja, memang nggak boleh, ngobrol apa sama Mommy?" cecar Marsel.
"Keppo," jawab Diah pendek.
"Kamu sekarang berani ya, selalu ngelunjak," Kontan pipinya di jewer suaminya.
"Papiiii... anakmu di aniaya..." pekik Diah penuh drama. Symon yang tidak bisa bahasa Indonesia hanya seperti kambing ompong.
"Ahaha... pipi Mama merah..." Lita justeru mentertawakan Diah, sambil mengusap-usap pipi Diah.
"Makanya jangan pakai rahasia-rahasiaan jadi di keroyok, iya nggak Lit?" Marsel minta bantuan.
"Nggak! aku bantuin Mama saja," Lita pun meledek papanya.
"Yeee..." Diah kembali meledek pundaknya lantas di peluk oleh Marsel.
"Ma, tadi di dalam kamar oma, dengar suara boom nggak?" tanya Lita.
"Nggak tuh, memang ada boom... dimana?" Diah menatap Lita.Tapi Lita justeru cekikikan. "Benar ada suara boom Mas?" Diah menarik pundak Marsel yang tidak mau menoleh.
Nggak tahu," Marsel mengedikan bahu.
"Hihihi... Mama ditipu, maksudnya tuh, Oma suka buang angin kencang-kencang," Lita cekikikan. Marsel dengan Symon pun ikut tertawa..
"Huh Bapak sama anak sama-sama somplak!" gerutu Diah.
Obrolan konyol berhenti, karena mereka pun tiba di apartement. Marsel segera menggandeng anak dan Istrinya naik lift menuju apartement milik Marsel.
__ADS_1
"Ini nomer pin nya Diah" kata Marsel menunjukkan nomer pin, ketika Marsel membuka kamar.
"Iya Mas"
"Silahkan masuk permaisuriku" Marsel memeluk pundak Diah, dan juga Lita di ikuti Symon di belakang.
"Waah... ada dapurnya juga" Diah kegirangan.
"Jangan aneh-aneh ya, pokoknya kamu tidak boleh masak," tandas Marsel tiba-tiba menegang.
"Iya, iya. Aku juga tahu kok, masakan aku nggak enak," Diah merenggut kesal. Marsel menggaruk tengkuknya hampir saja keceplosan.
"Bukan nggak enak, sayang... kamu ini lagi hamil, jangan terlalu capek," kilah Marsel, kemudian menuju salah satu kamar. "Lita... nanti malam kamu bobo di sini ya," kata Marsel.
"Siip Pa, minggu kemarin Lita kan sudah pernah kesini Pa, jadi sudah tahu," tutur Lita. Marsel mengacungkan jempol ke arah putrinya. Kemudian kembali menghampiri Diah yang masih mengerlingkan mata, kesana-kemari.
"Symon, sebaiknya kamu pulang dulu, nanti sore kemari lagi, mengantar kami kerumah sakit," titahnya.
"Baiklah Tuan, saya permisi." Symom segera pergi.
"Sekarang kita kesini yuk" Marsel kemudian mengajak Diah ke kamarnya.
"Ini kamar kita Yank" ujar Marsel kemudian melepas jaket, menyampirkan di kursi meja rias kemudian ke kamar mandi.
"Iya Mas" Jawab Diah.
Diah pun mendekati meja rias, berniat melipat jaket suaminya. Namun matanya menangkap, alat muke up yang masih berjejer rapi.
Kosmetik lengkap yang belum lama di beli. Kosmetik bukan kw tapi asli dan berkelas, mewah yang harganya selangit.
Diah mengangkat parfum yang masih penuh, membuka listik yang baru di pakai beberapa kali.
Yang menjadi pertanyaan Diah adalah; bukan masalah kosmetik nya yang mahal. Namun apakah Bella masih sering kesini? Jika benar, tidak salah lagi, bahwa anak yang di kandung Bella, sudah pasti anak Marsel. Batin Diah.
Ceklak
Pintu kamar mandi di buka, Diah segera menjauh duduk di ranjang. Diah mengamati gerak gerik Marsel sebenarnya Diah tidak ingin selalu berburuk sangka, dan mencurigai suaminya, karena ini akan berdampak pada keharmonisan rumah tangga nya. Namun mengapa sulit sekali bagi Diah untuk mempercayai Marsel sepenuhnya.
"Yank, tumben, kamu membawa alat muke up sebanyak ini?" Marsel menyipitkan mata memandangi banyak kosmetik. Pertanyaan Marsel membuat Diah terperangah.
"Itu kosmetik kan sudah sejak tadi disitu Mas, memang nggak lihat tadi kan menyimpan jaket?" Diah bertanya balik.
__ADS_1
"Masa sih..." ucap Marsel, berjalan ke arah Diah.
.