Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Hasil Check.


__ADS_3

Setelah mendengar nasehat dokter Bella mengurungkan niatnya untuk pulang.


Datang seorang pria Patrick Daddy Bella dengan rahang mengeras, wajahnya yang di kuasai amarah menghampiri Bella.


"Keterlaluan kamu Bella! kamu tidur dengan laki-laki mana saja, sampai menderita penyakit seperti ini?!" dengus Patrick papa Bella ngos-ngosan menahan emosi.


"Daddy..." cegah mommy agar suaminya tidak marah-marah.


Sementara Bella menggeleng lemah menangis sesegukan di ranjang pasien.


"Sini," mommy menarik tangan Patrick menjauh dari Bella kemudian mengajaknya bicara di sofa.


"Sudahlah Daddy... marah pun tak akan meyelesaikan masalah, semuanya sudah terjadi, ini salah kita Daddy, karena kita tidak mengawasi Bella" Mom ingat. Bella memang sering pulang pagi, bahkan dalam keadaan mabuk, tapi mereka seolah membiarkan putrinya.


"Bella, besok akan di Caesar jangan sampai anak kita terlalu setres, dan akan berdampak untuk kesehatannya," nasehat mommy panjang lebar.


Daddy menarik nafas panjang memijat pelipisnya yang terasa pusing.


"Besok operasi Mommy," Patrick menegaskan.


"Iya, kita doakan saja, semoga anak yang di kandung Bella selamat, dan putri kita pun selalu sehat," doa mommy.


"Tapi bagaiamana jika cucu kita tertular virus itu Mommy," Daddy benar-benar kalut. "Lalu anak siapa bayi itu mom, tidak mungkin kan anak Marsel yang kita duga sebelumnya," Patrick menjambak rambutnya gusar.


"Sudah lah Dad, kita tidak boleh menduga-duga dulu, kita lihat besok, apa yang akan terjadi harus kita terima jangan menyudutkan anak kita," Mommy Bella berbicara panjang lebar.


*******


"Mas... kita berangkat sekarang, satu jam lagi caesar dilaksanakan," bujuk Diah pasalnya Marsel sepertinya malas-malasan.


"Yakin, aku harus berangkat Yank," Marsel tampak ragu. "Masa iya? Aku harus menunggui persalinan Bella, padahal belum tentu itu anak aku," Marsel sudah tidak mau berdekatan dengan Bella apa lagi sampai menunggui Bella lahiran. Oh no. Batin Marsel menenggelamkan wajahnya di atas bantal.


Bluk.


Diah memukul bokong suaminya dengan guling.


"Sakit Yank," Marsel pura-pura, mana ada di pukul dengan guling saja sakit.


"Biar kapok! Bella itu lahir Caesar Mas, mana boleh Mas masuk! alesan!" omel Diah.


"Jangan jadi orang pengecut Mas, kamu harus hadapi, lagian... hasil tes kita, hari ini kan keluar, memang kamu nggak ingin cepat tahu hasilnya." Diah kesal.

__ADS_1


"Iya... bawel," Marser mencuri bibir istrinya. Pasalnya dari tadi ngomel-ngomel terus membuatnya gemas.


"Tuh kan! Malah memsum, ini bajunya di pakai." Diah memilih baju kemudian memberikan pada suaminya itu.


"Nanti kalau hasilnya positif bagaimana yank?" rupanya ini yang membuat Marsel malas datang ke rumah sakit.


"Jangan menebak-nebak terùs, ayo kita berangkat," Diah menyadak tas di atas sofa kemudian keluar lebih dulu meniggalkan Marsel yang belum selesai ganti baju.


"Kan aku malah di tinggal. Diah...Diah," gumam Marsel. Namun Diah sudah tidak mendengar.


"Sayang... Mama berangkat ya" Diah rupanya menemui Lita di kamar sebelah.


"Iya Ma, jangan lama-lama ya, perginya," Lita meninggalkan mainanya yang berantakan.


"Enggak, sini Mama sayang dulu, jangan lupa kalau sudah selesai mainannya di bereskan ya," titah Diah sambil mencium pipi Lita.


"Sudah ya... mama berangkat, daa Lita..." Diah dada sambil keluar pintu.


"Daa Mama..." Lita berdiri di depan pintu seraya melambaikan tangan hingga Diah menuruni tangga.


"Mom, Diah berangkat dulu ya" pamit Diah pada mommy yang sedang duduk di depan televisi.


"Masih di atas Mom, masa Mom, Mas Marsel dari tadi dibujuk nggak mau berangkat, seperti membujuk anak kecil Mom," adu Diah lalu duduk di depan mommy.


Mommy menarik napas berat. "Dia itu banyak pikiran Diah, coba bayangkan, jika anak yang di kandung Bella nanti benar-benar darah dagingnya, lalu anak yang tidak berdosa itu tertular virus, akan berdampak buruk bagi anaknya sepanjang hidupnya, belum lagi jika kalian nanti positif nggak bisa di bayangkan Diah," Mommy berkaca-kaca membayangkan itu.


"Diah tahu Mom, tapi kan nggak ada pilihan lain, selain kita hadapi, kita pikirkan terus pun, yang ada malah stress," LirihDiah.


"Iya Nak, kamu benar, semoga semuanya baik-baik saja Nak," mommy menatap di depanya. mommy tahu sepertinya menantunya pun punya pikiran yang sama. Namun rupanya Diah tidak menunjukkan di depan mommy.


"Honey..." Marsel sudah menuruni tangga.


"Iya" Diah kemudian beranjak. "Doakan kami baik-baik saja ya Mom," ucap Diah lalu mencium punggung tangan mommy.


"Aamiin" ucap mommy Laura meraup tanganya.


*******


Sampai di rumah sakit Marsel dan Diah melewati lorong-lorong sebelum ke ruangan bersalin tentu saja ambil hasil tes tersebut.


Marsel menarik napas sesak, sebelum membuka ia benar-benar takut. (Human Immunodeficiency virus) adalah virus yang merusak system kekebalan tubuh dengan menginfeksi dan menghancurkan sel CD4 yang ada dalam tubuh.

__ADS_1


Penularan HIV yang terjadi melalui kontak dengan tubuh seperti ******, darah, cairan ****** dan jua asi sungguh sangat mengerikan.


"Mas, sebaiknya kita temui dokter, daripada kamu ketakutan seperti ini," Diah mengaitkan tangan ke lengan suaminya, kemudian melangkah ke ruang dokter yang sudah mengadakan janji via telepon.


Sampai di depan pintu rupanya di dalam masih ada pasien. Dengan perasaan yang tidak menentu Marsel masih harus menunggu.


15 menit kemudian pasien lain sudah keluar. Marsel menggandeng Diah masuk ke dalam. Jika Marsel yang merasa tegang Diah justeru menyikapi dengan santai jangan sampai menggangu kehamilannya.


"Selamat pagi Dok" kali ini Marsel berbicara dengan bahasa inggris, agar Diah sedikit mengetahuinya.


"Selamat pagi, silahkan duduk," titah dokter.


Marsel duduk berhadapan dengan dokter kemudian menyerahkan amplop berwarna putih kepadanya.


Dokter ambil kaca mata kemudian menyelipkan di atas telinga.


Marsel memejamkan mata dalam hati bicara. Jangan lama-lama Dok, cepat katakan hasilnya.


"Puji Tuhan, hasil tes Anda negatif," kata dokter. Membuat Marsel seketika memeluk Diah.


"Terimakasih Dok, kami permisi," Marsel memeluk pundak Diah lalu meninggalkan ruang dokter dengan perasaan lega.


Sementara di ruangan yang lain, Bella di dorong oleh perawat menuju ruang operasi Caesar dan di ikuti oleh Mommy, dan daddy Bella. Tetapi keduanya boleh mengantar sampai di depan pintu saja. Sebab keduanya tidak di perbolehkan masuk.


Mereka duduk di ruang tunggu, sambil berdoa untuk keselamatan anak dan cucunya. Kali ini Patrick, sudah tidak marah-marah seperti kemarin.


Tak tak tak.


Dua orang yang sedang bergandengan mesra menuju ke arah Mommy Bella.


"Selamat pagi Aunt," sapa Diah tersenyum menatap mommy dan daddy Bella.


"Kalian," Mommy menatap kedua nya.


"Bella sudah di ruang operasi ya, Aunt?" tanya Diah lembut.


"Iya" sahut Mommy Bella pendek, sedangakan Patrick sepatah kata pun tidak bicara.


Ia masih kesal dengan Marcello ketika memarahinya, saat Calista menghilang tempo hari.


.

__ADS_1


__ADS_2