Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Kejutan.


__ADS_3

Semilir angin pagi di atas bukit menerpa wajah-wajah yang sedang menyaksikan detik-detik terbitnya Matahari. Inilah salah satu wisata alam di salah satu Daerah. Memukau mata para pengunjung seolah tak ingin berkedip, menatap keindahan ciptaan Tuhan.


"Assalamualaikum..." di tempat itu Diah sedang vidio call dengan suaminya.


"Waalaikumsalam..." Marsel yang tengah beristirahat di salah satu tempat, setelah seharian mencari Lita terlihat lelah. Kontan matanya terbelalak tatkala di belakang Diah terdapat plang besar bertuliskan wisata Y.


"Yank, kamu sedang di mana ini?!" Marsel mendelik tajam, menatap Diah yang sedang menyeringai mengerjai.


"Ya, aku sedang berkunjung ke sinilah, jalan-jalan. Habisnya, kesal... bt... Mas nggak pulang-pulang!" Diah pura-pura cemberut lalu mendekatkan layar handphone ke pohon-pohon besar.


"Honey..." Marsel merasa sekor jantung, mencari Lita belum ada kabar. Belum lagi mommy Laura menurut dokter belum diijinkan pulang, karena kondisinya masih belum memungkinkan. Kini di tambah lagi istrinya pergi jauh, terlebih tidak memberi tahu padanya.


"Makanya... cepat pulang dong, Mas. Biar aku nggak kesepian, kalau di sini, aku tuh seneeeng... banyak orang" belum cukup sampai di sini. Diah justeru kembali mengerjai Marsel. Diah berjalan mundur mendekati seorang pria yang tinggi tubuh nya di atas rata-rata berasal dari Negara A.


Pria berambut gondrong di kuncir asal hanya memakai celana boxer. Memperlihatkan puser hingga dada yang terlihat seperti roti sobek. Diah lantas berdiri di sebelah pria tersebut.


"Diaaah...!" pekik Marsel. Matanya merah, menatap nyalang ke arah wanita yang kini menjadi nomor satu di hatinya. Rahangnya mengeras, napasnya tersengal-sengal, emosinya meledak. Seketika Marsel ingat beberapa hari yang lalu, istrinya ingin melihat bulu di dadanya. Marsel menjadi berpikiran negatif.


Pria yang tidak tahu apa-apa itu pun ikut andil bersandirawa tanpa di perintah. Ia tersenyum kearah layar menyeringai genit, kepada Diah.


Tampak geram terlukis di wajah Marsel, mungkin jika pria itu berada di depanya sudah kena bogem.


Menyadari jika suaminya marah benar.


Diah takut kemudian menjauh, lagi pula melihat senyum pria tak di kenal itu penuh hasrat membuat Diah merasa jijik. Niat membuat lelucon justeru Diah sendiri yang kena batunya.


"Heee... kalem dong..."


Diah merasa kasihan melihat kemarahan suaminya, lalu mengedipkan mata ke arah Lita yang sedang bersembunyi di balik pohon waru.


"Papaaaa..." Lita berlari ke arah layar handphone melambaikan tangan. "Hahaha..." Diah dan Lita tertawa-tawa berhasil mengerjai Marsel.


"Calista? Kok bisa?" Marsel berkaca-kaca. Mulutnya terkunci rapat, rasanya sulit untuk bicara. Hingga beberapa menit kemudian.

__ADS_1


"Papa jahat! kemarin Lita cari-cari nggak ketemu!" protes Lita cemberut.


"Maaf ya, Papa juga mencari kamu dimana-mana loh, terus... kenapa kamu pergi ke Negara B nggak pamit Papa sama Mama Diah?" cecar Marsel.


"Mommy kan bohong Pa, katanya mau pulang ke rumah Papa, nggak tahunya Mommy mengajak Lita naik pesawat" jujur Lita.


"Lita... kesini..." seru anak seusia dirinya memanggilnya menghentikan obrolan Lita.


"Sebentar Pa, Lita temui teman dulu ya, nanti ngobrol Lagi" tanpa di jawab Marsel. Lita segera berlari meninggalkan layar yang masih terhubung.


"Honey... suara siapa itu?Terus... kenapa, Lita bisa bersamamu?" cecar Marsel masih memasang ekspresi datar. Ingat turis tadi membuat Marsel kesal.


"Heit, senyum manis dulu, kalau ingin tahu ceritanya, jangan pasang wajah yang siap menelan aku mentah-mentah begitu, dong," Diah melengos.


"Kamu keterlaluan Diah! percandamu nggak lucu tahu! kalau pria tadi salah menafsirkan bagaimana?! Marsel sungguh-sungguh.


"Iya-iya... nggak lagi-lagi deh" Diah menyadari percadaanya mendekati pria yang entah siapa namanya itu memang tidak benar.


"Honey... tatap mata aku jangan melengos terus." Marsel menatap Diah yang sedang cemberut tampak lucu. Marsel tersenyum tipis tergambar di bibir. Membuat Diah (GEMES) lantas keduanya tertawa.


"Sudah... yang penting, Lita sudah bersamaku dalam keadaan sehat wal afiat, Mas istirahat yang tenang, Mommy cepat sembuh, terùs cepat pulang" pesan Diah.


"Ya honey... tapi kenapa Lita bisa bersamamu, tolong jelaskan" Marsel mengulangi pertanyaannya kali ini benar-benar berharap.


"Ceritanya panjang, Mas, nggak mungkin kan aku cerita disini" jawab Diah.


"Papa, Lita punya Kakak, punya Tante, Om, sama Uti" celoteh Lita ia rupanya sudah kembali lagi, bercerita kas anak-anak.


"Punya Kakak? siapa orang-orang itu?" tidak mendapat jawaban dari Diah Marsel bertanya pada putrinya. Namun Lita justru menoleh Diah.


Diah pun pada akhirnya menceritakan dari A sampai z. "Gitu Mas ceritanya, sebenarnya aku mau telepon kamu tadi malam, tapi aku ingin memberi kejutan sama kamu." jawab Diah panjang lebar.


"Terus kamu berangkat ke Jogja di antar siapa?" Marsel panik sendiri

__ADS_1


"Sendiri, awalnya mau berangkat sama Marni, Mas, tapi tiket jurusan Yogyakarta hanya tinggal satu" memang benar apa yang di katakan Diah.


"Oh iya Mas, tadi malam, keluarga Adiwilaga berkumpul Mas, kayaknya obrolannya resmi gitu. Aku awalnya minder, jalanya itu loh Mas ibu-ibunya lemah gemulai, tutur katanya lembut, sedangkan aku kaya kaleng rombeng." Diah manyun membuat Marsel terkekeh.


"Terus..." kata Marsel.


"Lalu, mereka berunding Mas, kemarin sore mengajak kami menginap. Eh pas sudah berkumpul ngobrol bareng, makan bareng, ternyata oranganya baik." Diah senang di sambut baik oleh keluarga besar Adiwilaga.


"Aku mau bicara dengan mereka Yank, mau mengucapkan terimakasih" titah Marsel.


"Okay... di tunggu, Bos" Diah membawa handphone dimana keluarga besar Adiwilaga sedang menikmati sarapan pagi di depan Villa yang mereka pesan.


"Hai. Broo" Sangaji menunjukkan wedang ronde di depanya mengulas senyum. Saat Diah menyerahkan handphone.


"Sangaji?" Marsel semakin terkejut. Di situ ada Sangaji, Bhanuwati, juga Galuh dan satu lagi Gara. Namun Marsel tidak mengenal Gara. Mereka semua melambaikan tangan terukir senyum di bibir masing-masing.


"Ahaha... kenapa? Kamu jaget begitu Mas, istri sama anakmu aku sandra semalaman" kelakar Sangaji.


"Ji, tolong jelaskan! ada apa sih ini?" Marsel benar-benar penasaran di buatnya, tidak biasanya kelurga Adiwilaga jalan-jalan bahkan sampai menginap, jika tidak ada sesuatu.


Alih-alih di jawab Diah justeru memutar handphone ke tempat meja yang berbeda.


"Hai... Mas Ello" Bening dan Elang sepupu Marsel melambaikan tangan.


"Bening, Elang? Kalian juga disini?" kali ini Marsel tersenyum.


"Iya lah? Merayakan pertemuan dengan istri barumu, dan juga Calista. Kamu jahat ya El, nikah nggak ngomong-ngomong, sama keluarga di Jogja" protes Bening panjang lebar.


"Semua serba mendadak Ning, InsyaAllah... nanti aku punya rencana mau mengadakan pesta" jawab Marsel.


"Oh iya Ning, Ufaira mana?" tanya Marsel.


"Ada, sebentar ya" Bening mengembalikan handphone pada Diah. Diah memberikan kepada Lita.

__ADS_1


Ufaira masih seumuran dengan Lita, Bening lah yang dulu menyusui Lita dan dan Ufaira saat bayi.


.


__ADS_2