Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Pertemuan kedua.


__ADS_3

Di tempat yang jauh dari kebisingan kota, Marsel mendatangi penginapan bersama Diah dan juga Lita. Penginapan ini berada di perkampungan tidak jauh dari pantai. Marsel membebaskan satu hektar tanah milik warga dan disulap menjadi tempat yang teduh. Tempat yang sering Marsel datangi ketika sedang dirundung masalah. Cocok untuk menenangkan diri, seperti saat Bella meninggalkan dirinya ketika itu. Marsel membawa Lita saat masih bayi, bersama Oma hingga beberapa bulan di tempat ini.


Puluhan unit penginapan inilah yang Marsel bangun dari keringatnya sendiri, sebelum menikah dengan Arabella.


"Letakkan barang-barangnya di Villa Mang, kami akan bersantai dulu." titah Marsel, setelah turun dari mobil.


"Baik Tuan" mang Ade segera meletakan barang-barang bawaan di penginapan. Sementara Marsel memerintahkan kepada para pengurus Villa agar menyiapkan seafood, dan ikan untuk acara bakar-bakar malam nanti.


"Kita mau menginap di sini Pa?" tanya Lita. Menghadang langkah Marsel di depanya.


"Iya dong, tapi... kita jalan-jalan dulu" Marsel mengajak Lita dan Diah naik kapal.


"Yey... naik kapal..." Lita menaikan tanganya ke atas saking girangnya berjalan lebih dulu melewati Marsel dan Diah sambil menggoyangkan pinggul seperti penyanyi dangdut. Membuat Marsel dan Diah tertawa melihat gaya Lita.


"Kita foto dulu yuk" ajak Diah, minta tolong salah satu pengunjung agar mengabadikan momen ini. Selesai foto mereka naik kapal.


"Mas, sewa Villa sampai empat unit, habis berapa biaya-nya?" Diah mengamati puluhan Villa yang asri dilihat dari kapal.


"Tidak usah dihitung" kata Marsel singkat.


Diah tidak tahu bahwa Villa ini milik Marsel. Marsel mengosongkan empat Villa, agar tidak disewakan untuk orang lain. Mang Ade dengan Aldo satu kamar. Lita dengan Marni. Saat ini Marni sedang dalam perjalanan bersama Aldo dan Siska. Siska satu kamar dengan Bella. Marsel mengajak Bella untuk menginap di sini bukan tanpa seijin Diah.


"Kalau ditanya itu loh, kebiasaan! jawabnya nanggung" Diah mlengos kesal.


"Hahaha..." Marsel tertawa seraya meraup wajah Diah.


"Kok malah tertawa" Diah memajukan kepala menatap wajah Marsel.


"Villa ini milik kita" jawab Marsel santai.


"Apa?" Diah dan Lita terkejut.


"Aku beri tahu kamu, karena kamu istriku, bahkan Bella pun sewaktu menjadi istriku tidak pernah aku beri tahu," jujur Marsel.


"Mas hebat ya, sampai punya Villa sebanyak ini" Diah geleng-geleng.


"Kamu masih kurang, kekayaan aku itu, tidak ada separuhnya jika di bandingkan kekayaan Papi Efendi," terang Marsel.

__ADS_1


"Tapi itu kan punya Papi, bukan milik aku" Diah merendah padahal kekayaan papi Efendi milik Diah, sedangkan Juliana sebagai anak tiri hanya mendapat 1/3.


"Mas, turun yuk, kita kelamaan di kapal, pasti Bella sudah menunggu" Diah sampai lupa.


"Kita kan di sini sampai besok sayang, santai saja" jawab Marsel.


"Papa sama Mama dari tadi bahas Bella terus, siapa sih! Bella? tapi Lita sepertinya pernah dengar nama itu?" Lita yang duduk di tengah antara Marsel dan Diah menoleh kanan kiri sambil menekan kening mengingat-ingat nama Bella.


Diah dan Marsel saling pandang. "Kita turun yuk, sudah sampai di pelabuhan" Marsel mengajak anaknya turun, kemudian berjalan bertiga mencari tempat yang nyaman. Mereka pun akhirnya duduk di tepi pantai. "Papa sama Mama mau bicara sama Lita" Marsel mulai bicara sambil memandangi deburan ombak.


"Lita... yang kamu tahu selama ini, bahwa Ibu yang mengandung dan melahirkan kamu sudah meninggal itu salah Nak" Marsel menempelkan kepala Lita di dadanya mencium kepala putrinya lembut.


"Terus" Lita mendongak menatap Marsel. Sepertinya papanya berat untuk mengatakan.


"Maafkan Papa sayang, kalau Papa selama ini selalu menutupi tentang siapa dan dimana Mommy kamu, karena apa? karena Papa tidak ingin kehilangan kamu Nak," Jelas Marsel tidak rela jika Bella mengambil Lita darinya, walaupun Bella ibu kandunya. Pasalnya, selama ini Bella sama sekali tidak pernah ingat putrinya.


"Kehilangan? apa sih maksudnya Pa? Lita bingung," Ia bangun dari pundak Marsel, ingin jawaban yang tidak bertele-tele. Anak yang belum genap lima tahun tentu belum mengerti semua masalah yang dihadapi orang tuanya.


"Mama kamu sebenarnya masih ada Nak, dan beliau saat ini berada di sini, ingin bertemu kamu" kata Marsel lirih.


Diah mengangguk. "Lita... seburuk apapun seorang Ibu, surga kita ada di telapak kakinya Nak, jadi... kita tidak boleh membencinya." Diah menatap lekat wajah Lita.


"Kata Bu Guru Lita, juga bilang begitu Ma, tapi kenapa ibu Lita tidak pernah menemui Lita?" Lita berubah sedih.


"Mommy pernah kok menemui Lita, ingat tidak, kemarin ada ibu hamil, yang ingin menjemput Lita." Diah mengingatkan.


"Itu kan penculik Ma" Lita terkejut.


"Bukan kok, dia memang Mommy kamu, lalu minta ijin Papa ingin menjemput Lita." Diah meyakinkan.


Sementara Lita hanya diam sama sekali tidak terkejut.


"Nah, sekarang kita temui Mommy, nanti Lita tanyakan sendiri apa alasan Mommy tidak menemui kamu" Diah menangkup kedua pipi Lita.


"Ayo" Marsel berjalan di tengah menggandeng anak dan istrinya, menuju Villa dimana Bella berada.


*******

__ADS_1


Di dalam Villa, Bella membetulkan riasanya. Ia tersenyum menatap cermin, lalu menengadah. Villa ini pernah ia tiduri bersama Marsel saat mereka masih bersama lima tahun yang lalu.


Ia menengadah mengingat-ingat momen saat Marsel mengajaknya menginap di sini. Ketika itu ia sedang hamil besar, sama seperti sekarang. Bella tersenyum kemudian menunduk mengusap perutnya. "Kita akan bersama papa malam ini, dan seterusnya Nak." gumamnya.


Flashback on


"Ello... anak kita bergerak terus..." Bella tidur di dada Marsel.


"Hehe..." Marsel mengusap lembut perut Bella selama kehamilan Marsel selalu perhatian. Apapun yang Bella minta selalu Marsel turuti. Pada saat ngidam pun Bella meminta yang kadang di luar nalar namun Marsel berusaha mencari.


"Menurut USG anak kita kan perempuan mau kita beri nama siapa?" tanya Bella.


"Calista, aku sudah siapkan nama itu sejak aku belum tahu jenis kelamin anak kita" Marsel mencium kepala Bella.


"Ello" lirih Bella seketika bangun dari dada Marsel, wajahnya yang awalnya berseri berubah muram.


"Kenapa" Marsel pun ikut bangun.


"Kalau aku sudah melahirkan nanti, pasti aku nggak langsing lagi, perut aku kendor, terus aku tidak bisa menjadi model lagi" ucapnya cemberut.


"Sudah berapa kali aku katakan Bella, aku tidak mengijinkan kamu menjadi model lagi, kamu fokus dengan anak kita, memberi asi eksklusif, tidak usah berpikir macam-macam, aku mampu kok mencukupi kebutuhan keluarga kita," tegas Marsel.


"Tidak bisa begitu Ello, bukan masalah kamu bisa menjamin kebutuhan aku, tapi menjadi model adalah dunia aku, cita-cita aku," Bella tidak mau kalah.


"Sudahlah Bella, kubur impianmu dunia kamu sekarang sudah berbeda, aku ini suamimu jadi aku yang punya keputusan," Marsel mencium kening Bella.


"Tapi Ello" rengek Bella.


"Please Bella... jangan merusak momen bahagia kita" Marsel merengkuh tubuh Bella. Bella pun pada akhirnya mengalah. Hingga keduanya tidak melewatkan malam panas mereka.


Flashback off.


"Setelah kamu lahir nanti, Mommy akan menuruti saran Papa Nak, kita akan hidup bahagia dan tidak akan meninggalkan kalian." Bella berbicara dengan bayi dalam kandunganya.


Tok tok tok.


Ketukan pintu membuyarkan lamunan Bella. "Papa dan Kakak datang Nak, kita bukankan pintu" Bella bersemangat berjalan keluar sambil memegangi perutnya wajah berseri, bahagia yang membuncah.

__ADS_1


__ADS_2