
Pagi hari pria rupawan berwajah blasteran Indonesia dan Belanda. Seperti biasa menjadi pusat perhatian para karyawan.
Kemeja putih, jas hitam, celana bahan hitam, lengkap dengan sepatu pantofel, walaupun terkesan dingin, namun tidak sombong.
"Pagi Tuan, Marsel" sapa Aldo yang sudah sampai ruangan terlebih dahulu.
"Pagi Do, Siska belum datang?" tanya Marsel sambil meletakkan tas di atas meja kerja, kemudian duduk di kursi kebesaran.
"Belum Tuan, tidak biasanya Siska datang terlambat, mungkin macet" jawab Aldo.
"Besok, saya dan istri, akan berangkat ke Bali, kamu yang menggantikan saya, menghadiri rapat dengan tiga klien kita, yang berasal dari S, Y, dan M, Do" ucapnya seraya menyalakan komputer.
"Baik Tuan, jika saya boleh tahu, Istri yang mana, yang akan Tuan ajak jalan-jalan?" Aldo merasa penasaran, sebenarnya ingin tahu juga apa benar bos punya dua istri.
Marsel menatap Aldo tajam meletakan mouse. "Ya jelas Diah, siapa lagi?!" suara Marsel meninggi.
"Lalu bagaimana dengan Bella yang terus menerus mengejar Anda, Tuan?" Aldo belum tahu latar belakang pernikahan Marsel, karena ia bekerja dengan Marsel tidak lama setelah Siska masuk. Terlebih Marsel orang yang tertutup masalah pribadinya. Walaupun Aldo asisten pribadinya tidak pernah sekalipun bercerita.
"Saya sudah menunjuk kuasa hukum, agar secepatnya mengurus gugatan cerai saya dengan Bella, Do, saat anak yang di kandung Bella lahir, tinggal ketuk palu," Marsel lalu kembali memegang mouse.
"Lalu... bagaimana dengan anak yang di lahirkan Bella nanti Tuan?" Aldo merasa tidak tega, dengan bayi yang tidak bersalah menjadi korban perceraian.
Marsel bersandar di kursi goyang pikiranya menerawang.
"Saya tidak yakin, kalau yang di kandung Bella sekarang, anak saya Do, selama tiga tahun, Bella meninggalkan saya, dan selama itu pula kami tidak pernah bertemu" tutur Marsel, baru kali ini membuka aip rumah tangganya, selama ini, ia simpan rapat-rapat.
"Apa mungkin, Do, jika saya hubungan badan hanya sekali lantas kemudian mengasilkan anak?" tanya Marsel.
"Maksudnya Tuan?"
"Delapan bulan yang lalu, ketika saya mengunjungi perusahaan Mommy di Negara B, Bella menjebak saya dengan obat perangsang"
"Sekarang pikir saja Do, Bella tiba-tiba datang dengan perut besarnya, ingin minta pertangungjawaban, Dan ingin kembali kepada saya, tanpa merasa bersalah setelah meninggalkan Lita hingga saat ini usianya menginjak 4 tahun," Marsel meremas rambutnya gusar.
"Wah... kalau begitu masalahnya, saya tidak bisa memastikan Bos, yang di kandung istri Tuan anak Anda atau bukan, tapi jangan salah Tuan, walaupun berhubungan hanya sekali bisa juga menghasilkan anak," tutur Aldo.
"Terlepas anak saya atau bukan, saya sudah bertekat ingin menceraikan Dia, Do" tegas Marsel.
"Masalah anak, jika memang itu benar darah daging saya, saya akan bertanggungjawab." Marsil menyudahi pembicaraan lalu kembali menggerak-gerakan mouse.
Aldo tidak berani bertanya lagi kemudian keluar ruangan, berniat melanjutkan pekerjaannya.
__ADS_1
Begitu juga Marsel kembali bekerja, mengevaluasi laporan atas masing-masing divisi, sebelum berangkat ke Bali agar tidak meninggalkan pekerjaan.
Dua jam kemudian hasil evaluasi cukup memuaskan Marsel manggut-manggut. Nanti setelah dari Bali, Marsel berniat memaksimalkan strategi sebelumya.
Tok tok tok.
"Masuk" Marsel tidak menatap siapa yang datang. Tetap serius di depan komputer.
"Tuan... ada yang ingin bertemu dengan Anda" kata Siska.
Marsel mendongak terkejut menatap siapa yang datang.
"Ello" Bella tersenyum manis seperti gulali.
"Sis, tinggalkan kami berdua" titah Marsel.
"Baik Tuan" Siska kembali keluar setelah mengantar Siska.
"Ello... kamu kemarin kemana? aku tunggu di sini sampai sore, tidak kembali ke kantor" rengeknya kemudian mendekati Ello.
"Jangan mendekat, Bell, diam disitu" cegah Marsel.
"Loh kenapa El?" Bella merengut kesal.
"Ello... kamu tidak kasihan dengan anakmu yang aku kandung?" Bella menekan meja kerja Marsel.
"Hahaha... saya tidak yakin, kalau itu anak saya!" Marsel tertawa di buat-buat.
"Ello! kamu tega dengan anakmu sendiri!"
"Ahahaha..." Marselo kembali tertawa, lalu berdiri melipat kedua tangannya.
"Masih tega mana?! kamu! atau saya?! kamu itu wanita yang tidak punya otak! Bell!"
"Sebaiknya, kamu enyah dari hadapan saya, atau saya panggilkan satpam, agar menyeretmu keluar!" Marsel menunjuk-menunjuk.
Bella menatap Marsel tidak percaya, pria yang dulu begitu tunduk seperti kucing piaraan, tetapi kini berubah menjadi singa buas, yang siap memangsanya.
"Cepat pergi atau..."
Tut tut tut.
__ADS_1
Marsel hendak menghubungi satpam.
"Baik Ello, aku pergi, tapi aku mohon sayangi anak ini, karena ini anakmu" Bella kemudian keluar meninggalkan Marsel.
Marsel meremas dagunya sendiri kemudian menghubungi Siska.
"Saya Tuan"
Siska sudah berdiri di depan Marsel.
"Lain kali, jangan biarkan Bella masuk keruangan ini, Siska! mengerti kamu?!" Marsel sangat kesal.
"Baik Tuan, tapi Nona Bella mengatakan bahwa Tuan, adalah suaminya" Siska tampak ketakutan, tidak biasanya Marsel membentak sampai seperti itu.
"Dengar Siska, Bella itu hanya mantan istri, dan istri saya sekarang adalah Diah"
Jedeeerrrrr.
Bak petir di siang bolong, Siska mendengar itu. Jika Alysia Arabella yang menjadi saingannya wajar, tapi ini Diah, seorang buruh bagian produksi, menurut pemikiran Siska.
"Kamu boleh keluar Siska," Marsel membuyarkan lamunan Siska.
"Iya Tuan" Siska meninggalkan Marsel dengan perasaan kecewa.
*******
Keesokan harinya tepatnya hari sabtu. Marsel dan Diah berangkat ke Bali. Diantar, mamang, Lita dan Marni sampai Bandara.
"Ma, di Bali jangan lama-lama ya" Calista menenggelamkan wajahnya di perut Diah, sambil menangis saat Diah hendak check in.
"Hee... anak Mama kok malah menangis... tadi malam bukanya sudah berjanji ya, kalau Lita tidak akan menangis jika Mama pergi" "Katanya... asalkan Mama perginya sama Papa, Lita tidak keberatan... kalau memang Lita tidak ikhlas Mama pergi, ya sudah, Mama pulang saja lagi." Diah berjongkok di depan Lita memegangi kedua tanganya.
"Boleh-boleh kok, Mama sama Papa pergi, Lita nggak nangis kok, tuhkan? nggak menangis." Lita mengusap air matanya lalu memaksakan untuk tersenyum.
Diah menoleh Marsel, seolah berkata "aku tidak tega" Diah menggeleng lemah.
"Lita sayang... Papa sama Mama pergi tidak lama kok, paling hanya tiga sampai lima hari, setelah pulang nanti... kita akan pergi jalan-jalan, bertiga, bagaimana?" Marsel menjelaskan.
"Iya Pa, kan Lita sudah bilang, Papa sama Mama boleh pergi," Lita pun akhirnya rela papa dan mama nya pergi.
"Mama masuk dulu ya sayang... di rumah jangan nakal, nurut sama Bibi, sama Mbak Marni, ya" Diah mencium pipi Lita. Lalu melepas tanganya, sesekali menoleh ke arah Lita. Sungguh ia tidak tega meninggalkan anak sambungnya dan hanya untuk bersenang senang.
__ADS_1
"Iya Ma, Mama juga hati-hati... daaa Mama..." Lita melambaikan tangan memandangi papa, dan mama nya, hingga tidak terlihat lagi.
.