Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Berangkat ke Yogyakarta.


__ADS_3

Di negara B tepat tengah malam mommy Laura tidak bisa memejamkan mata. Mommy menitikkan air mata ketika mendengar dengkuran halus Marsel.


Beliau merasa bersalah karena telah mendiamkan anak satu-satunya. Tapi Mommy sebenarnya hanya ingin memberi pelajaran pada anaknya. Karena kebohongannya Marsel menyakiti tiga wanita sekaligus.


Mommy mengangkat tangan ingin mengusap kepala Marsel yang tidur telungkup di sampingnya, tapi menurunkan tangan kembali.


"Mommy, kok belum tidur, sudah mau pagi ini, nggak boleh begadang. Mommy kan baru mendingan." kata Ello, seraya mengucak matanya menatap jam di lenganya. Walaupun mommy Laura belum berdamai dengan dirinya, namun Marsel terus mengambil hati beliau.


"Mata aku kering El" lirihnya. "Kamu tahu El, banyak yang Mom pikirkan" Mommy melempar tatapan sekilas namun tampak kosong.


"Ello tahu, Mom" jawab Ello serak kas bangun tidur.


"Kamu tahu Ello, berapa usia kandungan Bella?" selidik mommy.


"Tahu Mom, sudah delapan bulan." jujur Marsel.


"Berarti kamu tahu kan El, yang di kandung Bella itu anak siapa, apa anak itu memang anakmu?" cecar Mommy.


"Ello nggak tahu Mom, tapi Ello akan jujur sama Mom" Ello menceritakan semuanya tentang hubungannya dengan Bella.


"Selama Bella meninggalkan Lita, Ello hanya tidur bersamanya satu kali Mom, Ello, berani sumpah."


Mommy menatap Ello lekat, tidak lagi menimpali kata-katanya justru mengalihkan pembicaraan. "Besok Mom mau pulang ke Indonesia El, kamu harus memesan tiket." tekat momy sudah bulat.


"Mommy kan masih sakit, sebaiknya jangan pulang sekarang." Marsel khawatir akan kesehatan mommy nya.


"Nggak kok, Mom sudah sembuh. Mom ingin bertemu Lita dan juga Diah, banyak yang ingin Mommy ceritakan"

__ADS_1


Deg.


Marsel terperangah, jika mommy pulang sekarang, pasti akan tahu jika Lita pergi. Pikiran Ello benar-benar kacau.


*******


Jika Marcello di Negara B sedang galau. Diah pun di Indonesia, mengalami hal yang sama. Ia ingin segera bisa berkumpul lagi bersama keluarga kecilnya.


Setelah pulang menemui Syifa tadi siang, tidak ada yang bisa Diah lakukan, selain rebahan di ranjang. "Kapan sih Mas, kamu akan pulang? Aku kangen" ia bergumam sambil memeluk foto mereka bertiga.


Diah mengelus perutnya, bagusnya anaknya di dalam perutnya tidak rewel. Mungkin si jabang bayi tahu, jika papanya sedang berada jauh darinya.


Diah lantas membuka media sosial ingin melihat postingan teman-temanya siapa tahu bisa menghibur.


Matanya membulat tatkala melihat postingan seorang pemuda yang upload foto Lita. Seketika Diah bangun dari ranjang.


Diah cepat-cepat menghubungi nomor tersebut. "Hallo" suara pria di seberang sana.


"Hallo Dek, saya Ibu dari anak yang kamu upload fotonya" kata Diah to the point.


"Jangan mengaku-ngaku, kalau memang Anda Ibu dari anak ini, apa buktinya?!" tegas seorang pria.


"Saya tidak mengaku-ngaku Dek. Karena saya memang Ibunya. Jika Adek tidak percaya, Anak nya mana? boleh, saya bicara padanya?" tanya Diah hati-hati, tentu Diah tidak ingin membuat pria yang sudah menolong Lita lantas tersinggung. Sesaat menjadi hening. Diah tidak mau berburuk sangka kepada pria tersebut jika pria itu orang jahat pasti akan menyembunyikan keberadaan Lita.


"Assalamualaikum" Lita mengucap salam.


"Waalaikumsalam" Diah lalu vidio call.

__ADS_1


"Mama..." tidak lama kemudian suara cempreng Lita terdengar nyaring.


"Lita... kamu baik-baik saja kan? kenapa kamu bisa sampai di situ?" cecar Diah.


"Aku mau ketemu Mama, makanya aku pulang bareng, Kak Gara." jujur Lita.


"Ok, Mama segera menjemput kamu ya, tapi Mama mau ijin bicara sama kak Gara lagi" tutur Diah.


Diah pun minta ijin setelah handphone berpindah tangan, untuk menjemput Lita. Kanigara pun mengijinkan tidak lagi bicara ketus, seperti sebelumya.


Tak tak tak. Diah berjalan cepat menuruni tangga.


"Non... jangan cepat-cepat begitu jalanya, ingat Non. Lagi hamil loh" Bibi merasa ngeri melihat cara berjalan Diah.


"Oh iya Bi, ya Allah... sampai lupa" Diah menyeringai, saking senangnya ia sampai lupa jika sedang hamil. "Marni kemana, Bi?" sambung Diah.


"Saya Non" belum dijawab oleh bibi Marni sudah turun dari atas sambil membawa setumpuk pakaian yang baru ia angkat dari jemuran.


"Mar, kamu segera siap-siap terus kita berangkat ke Jogya sekarang juga, temani aku, ya" ucap Diah bersemangat.


"Ke Jogja Non? Ngapain." bibi terkejut. Sedangkan Marni hanya bengong memeluk pakaian yang hampir menutup wajahnya.


"Lihat sini Bi" Diah memperlihatkan foto Lita. Mereka saling pandang.


"Baik Non, saya segera bersiap-siap." Marni segera meletakkan pakain di tempat setrika. Sore itu juga mereka berangkat di antar mang Ade menuju bandara.


******

__ADS_1


Terimakasih reader, yang masih setia dengan karya abal-abal aku. Tidak terasa ya sudah bab 50, semoga kalian selalu sehat.


__ADS_2