
Sampai di kediamannya, Marsel bergegas menidurkan Lita di kamarnya. Dengan langkah cepat ia segera ke kamar sebelah ingin minta maaf kepada istrinya.
Tangan kekar yang dihiasi dengan jam tangan merk termahal itu segera mendorong handle pintu. Ia lagi-lagi terperangah ternyata Diah tidak ada di dalam.
Dengan jantung yang berdentam-dentam Marsel membuka daun pintu lemari satu persatu, mengecek pakaian Diah tapi ternyata masih lengkap. Marsel khawatir istrinya kabur. Hatinya terasa sedikit lega walaupun belum tahu dimana istrinya kini berada, setidaknya tidak pergi meninggalkan dirinya.
Tak tak tak.
Ia berjalan cepat menuruni anak tangga. "Bi, lihat istriku tidak?" ia hampiri bibi yang sedang menata menu makan siang di meja makan.
"Belum pulang Tuan, saya pikir tadi Non Diah pulang bersama Tuan," walaupun bibi tahu tidak ada motor di rumah. Sebab kemarin Diah juga meninggalkan motornya di sekolah lalu Aldo yang mengendarai pulang.
"Ya sudah Bi, tolong bilang Marni, suruh jaga Lita ya, Lita sedang ngambek" titahnya.
"Baik Tuan"
"Mang Ade, kita cari Diah ke rumah Pak Renggono" ujarnya seraya masuk ke dalam mobil yang sudah dibukakan pintu oleh mamang.
"Baik Tuan" di dalam mobil yang ada hanya keheningan. Mang Ade menatap bos nya dari kaca spion tampak Marsel memejamkan mata bersandar di jok. Hingga akhirnya mobil pun sampai tujuan.
"Honey..."
Diah yang sedang bermain bersama Syifa mendengar suara yang mengalun lembut, memutar bola matanya.
"Mas" Diah lantas berdiri menghampiri suaminya yang masih mengenakan kemeja, dasi lengkap dengan jas tampak berwibawa.
"Shory" tangan kekar itu langsung memeluk tubuh mungil Diah.
"Kenapa?" Diah mendongak menatap wajah tampan suaminya yang masih mendekapnya. Mata teduh itu yang selalu membuat kemarahan Diah sirna seketika. Hembusan nafas terasa hangat menyapu wajah Diah yang selalu membuanya tidak bisa jauh darinya. Namun Diah masih mencium oroma cinta sagita yang mengalahkan logika.
"Aku salah mengijinkan Bella menjemput Lita tanpa bilang kamu dulu" lirih Marsel.
"Aku nggak apa-apa kok Mas, tenang saja" kilah Diah sambil memainkan dasi Marsel.
"Tapi kamu mematikan handphone" tebak Marsel sebab dia telepon dan chat namun ceklis satu
"Oh iya" Diah menepuk keningnya. "Hp aku belum di charger" kata Diah tampak lucu membuat Marsel gemas.
__ADS_1
Marsel segera menyatukan bibirnya ke bibir Diah yang terbuka sedikit. "Boleh kita bicara" jemarinya menyusut bibir Diah.
"Tentu saja boleh" mana bisa Diah menolak kelembutan Marsel yang senantiasa meluluhkan hatinya.
"Sebentar ya" Diah kembali mendekati Syifa. "Sayang... sama suster dulu ya, Mama mau bicara sama Om" Diah berjongkok di depan Syifa yang sejak tadi, memandangi Marsel pria yang belum begitu di kenalnya.
"Om" Syifa mengangkat tanganya, seolah ingin di gendong.
"Bukan Om, tapi Papa" Marsel pun ikut berjongkok lalu mengusap ubun-ubun Syifa, selangkah kemudian ia berdiri mengangkat Syifa hingga melebihi batas kepalanya. Membuat Syifa tertawa kencang, tangan bule yang mungil itu, mengacak-acak rambut Marsel hingga merusak sisiranya.
Diah merasa terharu ternyata Marsel pun menyayangi putrinya.
"Main sama Suster yuk" wanita yang berseragam biru muda itu mengambil alih Syifa dari tangan Marsel. Suster menggendong Syifa masuk ke dalam.
"Kita cari makan siang yang agak santai, nanti kita kembali ke sini temui Bapak, sama Ibu" ucapnya.
Diah pun mengangguk.
*******
Diah tersenyum suaminya ini memang selalu membuat kejutan. Sudah lelah dengan masalah yang selalu membelenggu kadang ingin sekali merasakan seperti sekarang. Resto ini tidak hanya menyuguhkan makanan lezat. Namun juga pemandangan indah di kelilingi rimbunya pepohonan.
"Mas, tapi Lita sudah berada di rumah kan?" Diah menatap Marsel penuh tanda tanya. Diah selalu memikirkan Lita bagaimana reaksinya setelah bertemu dengan ibu kandungnya.
"Inilah yang akan aku bicarakan Diah" Marsel menceritakan kejadian di sekolah dari awal sampai akhir. "Maafkan aku Diah, aku tidak bermaksud menyakiti hati kalian, seharusnya aku berpikir dulu sebelum bertindak" Marsel menggenggam tangan Diah.
"Aku juga salah Mas, seharusnya aku tidak meninggalkan Lita begitu saja, karena aku pikir, Lita bisa dengan mudah menerima Mommy nya, seperti Lita saat dulu menerima aku. Padahal kami baru bertemu pertama kali" tutur Diah.
"Kamu marah sama aku Diah?" Marsel menatap mata Diah. Diah hanya menggeleng.
"Untuk apa aku marah Mas, toh tidak ada gunanya" Diah menarik napas panjang. Diah kadang merasa bahwa dirinya kini ada dua kepribadian. Satu sisi, ingin memiliki Marsel seutuhnya agar tidak ada yang mengganggu rumah tangga nya.
Tapi ia sadar, ada dua makhluk yang tidak berdosa membutuhkan kasih sayang kedua orang tuanya.
"Diah... kamu wanita terbaik yang pernah aku kenal" Marsel terharu.
"Ah masa?" Diah tersenyum masam. Seandainya kamu tahu siapa aku dulu Mas, tidak sabaik yang kamu kira. Batin Diah.
__ADS_1
"Mas, sebaiknya pertemukan Lita dengan ibu kandunganya, biar bagaimana tidak ada yang namanya bekas anak" Diah menunduk membayangkan dirinya sendiri.
"Tapi..." Marsel tidak melanjutkan ucapanya, entah apa yang akan ia katakan.
"Jujur Mas, aku tidak ingin jauh dari Lita, bagi aku Lita adalah seperti anak kandungku sendiri, tapi aku tidak mau egois." jujur Diah
"Baiklah... aku akan menuruti saranmu, tapi kamu harus percaya kepadaku, hari minggu aku akan atur pertemuan Bella dengan Lita, tapi aku mau kamu ikut serta," kata Marsel.
"Ikut ya" Diah menautkan kedua alisnya.
"Iya, kamu kan istriku, kita bicarakan masalah ini bersama ya" Marsel mencium punggung tangan Diah dalam genggaman.
Diah diam sesaat. "Tapi aku selalu tidak percaya diri jika berhadapan dengan Bella Mas, dia itu wanita cantik, berkelas, wanita terhormat sedangkan aku, sudah jelek, tidak bisa dandan, tidak..."
"Stop! jangan teruskan Diah" potong Marsel tidak mau mendengar kata-kata Diah. "Kamu perlu tahu Diah, banyak wanita cantik di luar sana yang ingin menjadi istri aku, tapi kenapa aku memilih kamu? Bagi aku mencintai wanita karena wajah cantiknya suatu saat cinta itu akan memudar jika kecantikan wanita itu telah hilang."
"Tetapi mencintai wanita karena wanita itu baik hatinya InsyaAllah cinta itu tidak akan luntur sampai kapanpun.
"Mas" Diah merangkul tubuh Marsel dari samping. Diah kadang terbuai dengan kata-kata Manis Marsel hingga tidak ingin melepaskan pria di sampingnya ini.
*******
Tiga hari berlalu tepatnya hari minggu, Marsel mengajak Diah dan Lita ke salah satu tempat. Ia ingin mempertemukan Lita dengan ibu kandunganya.
"Sudah siap?" tanya Marsel membuka pintu kamar. Karena Marsel menunggu Diah terlalu lama.
"Sudah" jawab Diah keluar dari kamar. Rupanya Diah merias diri agar tidak membuat malu Marsel di depan Bella.
"Kamu dandan? pantas, lama" Marsel tersenyum lalu mereka menuruni tangga.
"Mama cantik, memang kita mau kemana sih?" Lita pun heran tidak biasanya Diah berdandan.
"Kita jalan-jalan dong" kata Diah merangkul pundak Lita kemudian mereka berangkat diantar mang Ade.
Sementara Bella senyum-senyum sendiri, sudah menunggu di tempat yang Marsel tentukan.
.
__ADS_1