
"Sejak kapan, Mas merokok?" Diah bertanya lembut agar tidak mengintimidasi.
"Kadang-kadang... kalau lagi suntuk saja Yank" lirih Marsel. Diah kemudian memutar tangan suaminya mereka pun berhadapan.
"Memangnya... Mas sekarang suntuk mikir apa? mommy bukanya sudah lebih baik" Diah menggenggam telapak tangan Marsel.
Marsel mengatur detak jantungnya diam hingga beberapa saat menyusun kata demi kata agar bisa bercerita dengan istrinya. Tanpa membuatnya kecewa.
"Lihat ini" Marsel menunjukkan amplop putih. Diah mengambil amplop dengan cepat dari tangan suaminya.
Diah membuka surat lalu menyipitkan mata, membaca baru setengah lalu mengembalikan benda tersebut kepada Marsel.
"Jadi ini, yang membuat Mas melamun sejak tadi?" pertanyaan Diah, di angguki oleh Marsel.
"Tapi kan kamu belum membaca semuanya Yank" Marsel justeru terkejut melihat reaksi Diah yang tampak biasa saja menanggapi masalah ini.
"Aku sudah baca hasil tes ini sebelum Mas baca," Ucap Diah santai.
Marsel menatap lekat istrinya. "Maksudmu Yank"
Flashbach on.
Di tepi pantai Diah sedang duduk bersama Marni dan juga Siska. "Mbak Siska, kayaknya Kak Aldo suka deh, sama Mbak Siska" kata Diah mereka ngobrol bertiga, menghadap pantai.
"Aldo? No!" tandas Siska membuat Diah dan Marni terkikik. Saat mereka sedang berbincang-bincang Arabella menghampiri mereka.
"Gw mau bobo-an di Vila, ah" tidak menunggu jawaban Diah, Siska langsung pergi meninggalkan Diah. Siska malas berbasa basi dengan Bella.
"Saya juga mau cari Lita Non" Marni pun ikut berlalu.
"Kenapa mereka? saya datang kok malah pergi?!" sinis Bella, menatap Siska dan Marni yang berjalan bersamaan.
"Capek kali Mbak, sudah dari tadi mereka disini" Diah mendongak menatap Bella yang berdiri di depanya membelakangi pantai.
"Tapi bagus lah! jadi saya bisa leluasa bicara sama kamu" Bella maju ikut duduk bersama Diah.
"Bicara dengan saya? Ada apa Mbak" Diah merasa aneh tidak biasanya Bella mengajaknya bicara.
"Bukan bicara sih, lebih tepatnya, saya akan menunjukkan sesuatu" Bella mengeluarkan amplop dari tas kemudian memberikan pada Diah.
"Apa ini Mbak?" Diah memengangi amplop dengan cara membolak-balik.
__ADS_1
"Buka saja..." kata Bella. Tanpa Diah tahu. Bella menyeringai penuh maksud.
Sedangkan Diah membuka amplop kemudian membacanya. Namun, Diah tidak begitu mengerti isi dari surat tersebut. Wajar, tidak semua orang bisa membaca istilah kedokteran apa lagi Diah yang hanya mempunyai otak pas-pasan.
"Maksudnya apa ini Mbak? Saya nggak tahu" jujur Diah mengembalikan amplop kepada Bella.
"Ahahaha... Diah... Diah. Saya heran ya, kok bisa?! Ello menikahi wanita bodoh! sepertimu?!" sergah Bella, menarik bibirnya ke samping tanda meledek.
"Jangan menghina Mbak, cepat katakan! Apa isi surat ini?!" Diah pun terbawa emosi.
"Diah... surat itu hasil tes DNA, bayi yang saya kandung ini." Bella menyeringai puas.
"Lalu, apa hubunganya dengan saya?" Diah pura-pura tidak mengerti apa yang dimaksud Bella.
"Ahahaha..." Bella berdiri memunggungi Diah tawanya seperti Mak Mampir. "Kamu ini ternyata memang bodoh ya Diah!" sarkas Bella.
"Hasil tes DNA ini, positif anak kandung Ello" Bella mengusap perutnya lalu menjeda ucapan nya.
"Jadi... intinya, sudah pasti Ello akan kembali pada saya, saya tahu. Ello dan Mommy menginginkan anak laki-laki, untuk meneruskan perusahaan keluarga Adiwilaga. Terlebih, anak yang saya kandung ini adalah kembar," Bella tersenyum bangga.
"Oh... Mbak yakin? kalau Marsel akan kembali sama Mbak, tapi kok saya nggak yakin ya?" Diah mencoba sabar.
"Marsel mungkin akan mengakui anak yang Mbak Bella kandung, tapi untuk kembali sama Mbak Bella, Marsel pasti akan berpikir seribu kali" kali ini Diah membuat Bella bungkam. Hingga beberapa saat menunduk seperti telah terpikir sesuatu.
"Saya mohon Diah, tinggalkan Ello demi Lita dan anak yang saya kandung ini," dengan seenaknya Bella bicara. Namun Diah berusaha untuk sabar.
"Kalau saya tidak mau, apa yang akan Mbak lalukan?!" tantang Diah tidak gentar.
"Sekarang... kamu boleh besar kepala Diah. Walaupun, Lita saat ini menyayangi kamu, tapi... jika kelak nanti Dia dewasa, akan memilih meninggalkan kamu, dan mencari saya Ibu kandungnya" Bella mempunyai kepercayaan diri yang tinggi.
"Mengenai Lita... akan memilih dekat dengan saya, atau Mbak Bella, biar Lita sendiri yang memilih Mbak, saya rasa Lita sudah cukup mengerti" Diah berbicara santai.
"Karena saya tahu, jika tidak di akui seorang anak sebagai ibu yang melahirkan sungguh menyakitkan" Diah seketika teringat Syifa.
"Perlu Mbak Bella tahu. Mbak bisa berada disini, dan bisa dekat dengan Lita itu bukan karena Marsel, maupun Calista. Tetapi saya yang membujuk mereka berdua, agar membawa Mbak ikut dan bisa dekat dengan Calista." Jujur Diah.
"Bohong! Saya bisa di sini, karena Marsel masih mencintai saya" tandas Bella.
"Ahahaha... Mbak nggak percaya? Terserah sih" Diah tertawa karena Bella merasa masih di cintai oleh Marsel.
"Terus... mengenai anak yang di kandung Mbak Bella sekarang, jika memang anak Marsel saya tidak masalah" lagi-lagi Diah tidak terlihat lemah di hadapan Bella. Sebab jika Diah marah itu lah yang Bella harapkan.
__ADS_1
"Karena saya tahu, anak yang Mbak kandung ini Marsel dapatkan, sebelum menikahi saya, dan bukan hasil perselingkuhan." Diah memperjelas.
"Padahal Marsel pernah cerita pada saya Mbak, mendapatkan anak ini dengan cara yang tidak pantas!"
"Kamu!" Bella mengangkat tangan ingin melayangkan pukulan ke wajah Diah. Namun, tangan kekar menangkapnya.
"Apa yang akan kamu lakukan Bella?! Jika kamu bisa berada di sini, karena Diah yang membujuk saya! Jadi... jaga sikap kamu!" sergah Marsel lalu mengajak Diah menjauh dari tempat itu.
Flashback off.
"Jadi... saat itu kalian sedang membicarakan masalah ini?" Marsel mengangkat amplop dan di angguki oleh Diah.
"YA Allah... kenapa kamu tidak mau bicara padaku Diah..." Marsel menempelkan kepala Diah ke pundak.
"Huek..." Diah menjauh menutup hidungnya.
"Kamu kenapa?" Marsel ternganga segera berdiri mendekati istrinya.
"Jangan mendekat... sana! jauh-jauh..."usir Diah, menggerak-gerakan telapak tangannya.
"Memang aku bau apa sih?" Marsel mengendus badanya kiri kanan.
"Mas bau rokok, aku nggak kuat" suara Diah kurang jelas karena hidungnya ditutup.
"Lah, aku merokok baru sedikit belum ada seperempat kok," Marsel mengangkat puntung rokok memperlihatkan ke istrinya.
"Tetap saja Mas bau, mandi sana! kalau nggak mau mandi, malam ini kamu tidur di luar" ancam Diah kali ini benar-benar kesal.
Marsel garuk-garuk kepala, ia pikir Diah tadi akan marah besar saat melihat hasil tes tapi justeru marah karena bau asap rokok yang hanya sedikit.
"Maaasss.... cepaaaat... mandiiii!" seru Diah dari kamar.
"Iya, iya... aku mandi" Marsel segera masuk ke dalam kamar mandi.
"Keramas... sikat gigi, jangan ada sedikitpun bau rokok!" suara Diah terdengar kencang di balik pintu kamar mandi.
"Iya..." sahut Marsel.
"Rasain, memang enak, sok-saok-an sih... pakai merokok segala" Diah berbicara sendiri. Ia tersenyum puas bisa mengerjai suaminya.
.
__ADS_1