Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Rahasia Marsel.


__ADS_3

"Diah..." sapa Alfred ketika melangkah ke halaman rumah Mawar, bertemu mantan istrinya.


"Alfredo?" Diah terkejut lalu diam di tempat.


Keduanya saling pandang. Alfred yang dulu gondrong rambutnya selalu di kuncir, kini sudah dipangkas model undercut.


Sementara Diah, yang dulu jika berpakaian selalu kurang bahan, kini sudah merubah tampilan, hingga menjadi wanita religius.


"Kamu mau bertemu Syifa?" tanya Diah. Ia masih betah memeluk Syifa dalam gendongan.


"Betul Diah, boleh saya gendong sebentar?" tanya Alfred.


"Tentu boleh" Diah menyerahkan Syifa.


Alfred kemudian mengambil alih menggendong Syifa, dari tangan Diah, setelah memberikan buah yang ia bawa kepada baby sitter.


"Kamu tidak mengajak Istrimu?" tanya Diah.


"Tidak... saya sekalian mau kerja soalnya, lagian... sekarang Gita sudah hamil tujuh bulan, dia malas kemana-mana, katanya" tutur Alfred terlihat bahagia.


"Alhamdulillah... Fred, semoga Istrimu sehat, dan lancar saat melahirkan nanti," doa Diah tulus.


"Aamiin..." Alfred meraup wajahnya dengan tangan kanan, sedangkan tangan kirinya menggendong Syifa.


"Oh iya Diah, sebenarnya sejak lama Gita ingin bertemu dengan kamu, ingin minta maaf, tapi belum kesampean" sambung Alfred.


"Untuk apa minta maaf Fred, kan aku yang salah." tidak ada dendam bagi Diah, walaupun Gita dulu pernah melabrak dan memaki-makinya, toh Gita hanya ingin rumah tangga nya utuh tidak ada orang ketiga, jika Diah diposisi Gita pasti akan melakukan hal yang sama.


"Saya masuk dulu ya Fred" Diah pun masuk ke dalam setelah di jawab Alfred. Ia tentu tidak ingin lama-lama ngobrol dengan mantan suaminya khawatir menjadi fitnah.


"Silahkan masuk Tuan" kata baby sitter.


"Tidak usah Sus, saya di sini saja, saya hanya sebentar kok" jawab Alfred, kemudian duduk di kursi teras rumah Mawar. Alfred pun lebih baik duduk di luar, yang penting rasa kangenya dengan putrinya sudah terobati.


"Waahh... anak Daddy..." Alfred menepuk-nepuk pelan bokong putrinya.


"Addy" satu kata dari Syifa dengan bahasa cadelnya kemudian memamerkan giginya yang baru tumbuh bagian depan. Tangan mungil itu meraba wajah daddy nya.


"Ciluk... baaa..." satu tangan Alfred menutup wajahnya kemudian membukanya kembali.


"Klak..klak..klak..." suara tawa Syifa tampak kencang. Diah mengintip dari jendela. Interaksi antara anak dan ayah itu ternyata cukup akrab. Diah menyimpulkan bahwa Alfred sering mengunjungi anaknya.


Diah bersyukur ternyata Syifa banyak sekali yang menyanginya. "Semoga kelak kamu tumbuh menjadi pribadi yang baik Nak, tidak seperti Mama." gumamnya.


"Daddy pulang dulu... besok, insyaAllah kesini lagi ya" ucapanya.


"Addy... huaaa..." rupanya Syifa menangis saat Alfred menyerahkan kepada baby sitter.

__ADS_1


"Sayang... sama Mama yuk" Diah segera menghampiri, mengambil alih Syifa kemudian mengajaknya ke dalam.


Setelah kangenya terobati, Alfred kembali menjalankan motornya menuju konter.


Sedangkan Diah. Ia segera memesan taksi setelah Syifa bobo, kali ini ia ingin singgah ke rumah papi, selagi Marsel mengizinkan untuk keluar rumah.


Diah akan membagi waktu sebisa mungkin untuk mendatangi orang-orang terkasih.


Taksi membelah jalanan beberapa menit kemudian. "Bang, saya turun di sini saja" kata Diah.


"Tapi, tujuan Anda, kan bukan kesini Mbak" kata supir heran, sebab tujuan Diah ketika pesan taksi ke alamat yang lain.


"Tidak apa-apa Bang" Diah pun turun dari taksi setelah membayar jasa. Ia mengurungkan niatnya untuk datang ke rumah papi, karena jaraknya agak jauh. Diah memutuskan datang ke gudang beras karena kebetulan ia lewat di depannya.


Tampak truk berjajar menurunkan beberapa ton beras yang baru dikirim oleh para pengepul.


Di bagian lain, para karyawan sedang memuat beras ke dalam mobil pick up, dan akan mendistribusikan ke agen-agen.


Diah masuk ke dalam gudang, berjalan diantara tumpukan beras.


"Selamat siang Non" sapa para karyawan mengangguk sopan ketika putri bos nya mendatangi tempat itu.


"Selamat pagi..." Diah tersenyum ramah kepada para karyawan sambil berjalan menuju ruangan kerja tuan Efendi.


Tok tok tok


"Masuk" suara seorang pria.


"Kamu kesini sendirian Nak?" pertanyaan papi sama seperti pertanyaan pak Renggono.


"Iya Pi, Papi sehat" Diah salim tangan, lalu menganggukkan kepala kepada asisten papi nya yang sedang menatapnya.


"Alhamdulillah... kamu kapan mau mengajak suamimu berkunjung ke rumah? Mami kamu menunggu kalian" tutur papi. Kemudian duduk di samping putrinya.


"Nanti aku bicarakan dengan Marsel Pi" jawab Diah.


Bapak dan anak itupun ngobrol panjang lebar setelah rasa kangenya terobati, Diah kemudian pamit pulang.


"Biar diantar supir ya" saran papi.


"Tidak usah Pi, saya naik taksi saja" jawab Diah sebab ia ingin langsung ke sekolah.


******


Di perusahaan Marsel tampak gelisah, ia bekerja tidak konsentrasi, pikiranya kemana-mana.


Pasalnya seorang wanita terus menerus menghubungi, padahal sudah tidak ia hiraukan.

__ADS_1


"Hallo!" terpaksa Marsel mengangkatnya.


(....)


"Baiklah"


Tut. Marsel memutuskan sambungan.


Ia kemudian mematikan komputer meremas rambutnya gusar. Marsel kemudian menghubungi Aldo, agar menggantikan rapat dengan klien hari ini.


Ia bersandar di kursi goyang, memejamkan mata, memijit pelipisnya yang terasa sakit.


Flashback on.


Saat di restoran setelah Marsel menerima telepon dari seorang wanita. Wanita itu memintanya datang ke salah satu hotel, karena menurut wanita itu ada hal penting yang ingin dibicarakan.


Tentu Marsel menolak, sebab tidak ingin merusak momen, kebersamaannya dengan anak dan istrinya. Namun, wanita itu memaksanya dan mengancam Marsel. Jika tidak mau datang wanita itu akan datang kerumah Marsel.


"Mang, tolong antar saya ke hotel xxx ya" Marsel mendatangi mamang di parkiran.


"Baik Tuan" tanpa bertanya lagi, mamang segera mengikuti perintah Marsel menuju hotel tersebut.


Sampai di hotel Marsel mendatangi kamar 008. Seperti yang dikirimkan oleh wanita itu di aplikasi WA.


Tok tok tok.


Ceklak.


"Masuk Ello" kata seorang wanita bertubuh tinggi semampai, wajah cantik berkilau, dan halus natural layaknya glass skin. Mengurai senyum.


Rambut ikal sebahu, pasti memikat bagi kaum adam yang menatapnya.


Dengan penampilan dres lengan pendek selutut, walaupun perutnya sedikit menonjol, tidak mengurangi kecantikanya.


"Untuk apa! kamu mengundangku, kesini?!" sinis Marsel.


"Makanya... masuk dulu El, ada yang ingin aku bicarakan" wanita itu meraih tangan Marsel. Keduanya masih berdiri di dalam pintu dan di luar pintu.


"Tidak! cepat katakan di sini saja, saya tdak ada waktu! mengerti?!" Marsel terlihat marah lalu melepas genggaman tangan wanita itu.


"Ello... please..." wanita itu memohon.


"Baik! jika tidak ada yang akan kamu katakan, lebih baik saya pulang, anak dan Istri saya menunggu!" Marsel pun balik badan hendak pergi.


"Tunggu Ello, baiklah, kalau kamu tidak mau masuk, kita ke lobby saja, beri aku waktu 15 menit untuk bicara," kata wanita itu.


Marsel pada akhirnya mengalah mereka turun ke lobby.

__ADS_1


Flashback off.


.


__ADS_2