Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Selamat Jalan Arabella.


__ADS_3

"Rafa dan Rafi, nama yang bagus," Bella berucap, sambil berlinang air mata.


Diah menatap dua bayi mungil itu, hatinya terasa sakit, anak sekecil itu seharusnya sedang meminum asi. Tetapi kenyataanya berbeda. Bella tidak boleh memberikan asi kepada anaknya, tentu akan menyebabkan bayi yang tidak berdosa itu tertular virus tersebut.


Sungguh keajaiban, jika Tuhan sudah menghendaki apapun bisa terjadi. Nyatanya Rafa dan Rafi sudah dinyatakan bebas dari virus yang menggerogoti kesehatan kedua orang tuanya.


Diah kemudian menatap Bella. Seandainya Bella mengijinkan, Diah akan merawat bayi itu, lalu mengadopsinya.


"Oeeekk... oeekk..." Rafa dan Rafi menangis bersamaan, seolah tahu yang dirasakan oleh Ibu kandungnya.


"Maafkan Mom sayang... Mommy sudah tidak kuat lagi, banyak orang yang menyayangi kamu. Mama Diah, Papa Marsel, Daddy Anthony, dan juga Opa, Oma," Bella merancau dengan tangan yang masih di kepala putranya masih dibantu Diah.


"Mbak Bella... jangan berbicara yang tidak-tidak, kita besarkan bersama, putra putri Mbak Bella yang lucu ini," Diah menatap wajah Bella sendu, tangan kananya memegang tangan Bella yang masih memegang tubuh kembar. Sedangkan tangan kirinya mengusap kepala Lita.


"Diah... jika aku pergi lebih dulu, berjanjilah akan merawat Rafa dan Rafi," suara Bella semakin melemah.


"Bella... jangan berbicara yang tidak-tidak, kamu harus kuat demi si kembar Rafa dan Rafi," Marcello bersuara.


"Aku yakin Ello, Istrimu yang sholehah ini, bersedia menjaga Rafa dan Rafi, iya kan Diah,"


Diah tidak bersuara, air matanya sudah menggenang di pelupuk mata.


"Calista..." panggil Bella.


"Iya Mom..." Calista memegang tangan Bella kemudian ia tempelkan di pipinya.


"Jika Mommy pergi... jaga adik kamu ya Nak, Rafa, Rafi, pasti bangga mempunyai kakak sepertimu," ujar Bella. Namun sudah tidak bisa bergerak.


"Mommy... hiks hiks hiks... jangan bicara begitu Mom, memang Mommy mau kemana?" polos Lita.


"Bella... kamu sudah sadar Nak, maaf ya, Mommy sama Daddy, tadi pulang dulu, karena tidak boleh banyak orang di ruangan ini," kata Anneke yang baru saja datang bersama suaminya.


"Cepat sembuh ya Nak, lihat kedua anakmu menangis semua," Patrick menambahkan.


"Aku senang, ternyata aku dikelilingi orang-orang baik," Bella tersenyum namun kemudian meringis, menahan sakit di tenggorokanya.


Di ruang ICU dipenuhi rasa sedih, kedua suster yang sejak tadi hanya tertegun, kemudian menggendong Rafa dan Rafi mengembalikan ke ruang baby.


Mereka kemudian memberi minum susu kepada kedua bayi tersebut.


*******


Sore berlalu tergantikan semburat jingga di langit, itu artinya senja telah tiba. Sayup-sayup terdengar suara lantunan surat-surat pendek yang di bacakan Calista, mendoakan sang momny, hingga maghrib tiba. Suasana di ruang ICU masih sangat menegang kala Bella masih terus merancau.

__ADS_1


"Sayang... aku shalat dulu, nanti kita gantian ya," kata Marsel kepada Diah.


"Iya Mas," jawab Diah pendek.


"Ello, shalat di sini saja, aku mau ikut shalat berjamaah bersama kalian," Bella berucap.


Marsel menoleh kebelakang menatap Bella yang masih dalam keadaan mata terpejam.


"Baiklah Mbak," Diah yang menjawab, kemudian membantu Bella untuk tayamum.


"Diah... aku pernah dengar; katanya shalat boleh sambil tiduran kan?"


"Tentu boleh Mbak, Allah maha pengampun," Diah merapikan mukena Bella.


Sementara Marsel segera ke kamar mandi ambil air wudhu.


Diah, Lita dan Bella, shalat berjamaah Marsel yang menjadi imam.


Anneke dan Patrick yang sedang sedih menyandarkan tubuhnya di tembok sejak tadi tidak berhentinya menangis.


Anneke menyusut air matanya dengan jari. Beliau tertegun menatap putrinya yang sedang shalat sambil tidur tampak bibir Bella komat-komit.


Patrick dan Anneke yang berbeda keyakinan dengan putrinya membiarkan putrinya beribadah.


Dulu Arabella dengan Marsel memang berbeda keyakinan. Namun ketika menikah, Bella mengikuti Marsel.


Tiiiittt... tiiiiit....


Saat sedang berdzikir selesai shalat, terdengar suara monitor semua lantas beralih memandang Bella. Anneke menggoyang pelan tubuh putrinya namun tak juga membuka mata.


"Bella..." pekik Anneke yang sedang memeluk putrinya. Semuanya kemudian mendekati tubuh Bella yang sudah tidak bergerak.


Kontan Marsel memencet tombol memanggil dokter.


"Bella... bangun..." Anneke menangis mengharu biru begitu juga dengan Patrick.


"Oma... Mommy sedang tidur, jangan dibangunin, kasihan Mommy," Lita menarik-narik lengan Anneka. Diah yang menyadari situasi, memeluk tubuh Calista dari belakang.


"Dokter, tolong putri saya Dok," desak Anneke ketika dokter sudah menekan dada Diah.


"Mohon semuanya tunggu di luar," titah dokter. Semua lantas keluar.


Dokter menekan dada Bella dengan alat hingga beberapa menit kemudian.

__ADS_1


Bella membuka mata perlahan menatap wajah dokter tampak kabur, namun masih terlihat samar baju putih yang di kenakan dokter.


"Dokter..." suara Bella hanya di tenggorokan.


"Iya Nona, jangan dipaksakan bicara," ucap dokter.


"Ijinkan saya untuk bertemu Diah Susanti Dok," pinta Bella.


"Baiklah," tanpa menunggu lama suster memanggil Diah di luar ruangan. Anneke berniat ikut masuk walaupun ditahan Suster, beliau menerobos masuk lebih dulu.


Diah menarik tangan Marsel kemudian mengejar Anneke.


"Mbak Bella," Diah menggengam tangan Bella yang sudah lemas.


"Diah... kamu belum berjanji kan, akan merawat si kembar?" tanya Bella.


"Mbak Bella..." Diah tidak bisa lagi menahan tangis. Sementara Marsel memegangi pundak istrinya dari belakang.


Anneke yang berjongkok di sebelah putrinya tidak mampu lagi berkata-kata selain menangis.


"Ello... tolong biarkan Diah merawat Rafa dan Rafi ya, aku percaya, hanya istrimu yang bisa menjadi Ibu ketiga anakku, membimbing mereka menjadi anak yang sholeh, dan sholehah," Bella masih bicara lancar walaupun hampir tak terdengar.


Marsel menatap mantan mertuanya minta persetujuan. Dan pada akhirnya Anenneke menggangguk setuju. Anneke pun percaya pada Diah. Sebab beliau sudah mengenal Diah beberapa hari, Diah adalah wanita baik.


"Baiklah Bella, kami berjanji akan mengadopsi Rafa dan Rafi," Marsel menjawab.


Bella tampak tersenyum samar kemudian beralih menatap Diah yang tidak berhentinya menangis.


"Di-Diah... ber-berjanjilah... ka-kamu a-akan me-menyayangi anak-anakku," suara Bella putus-putus.


"Baik Mbak, aku berjanji akan merawat si kembar," tegas Diah.


"Terimakasih Di-Diah..." itulah kata terakhir yang berucap dari mulut Bella.


Dokter menekan denyut nadi Bella ternyata sudah dingin. Dokter menggeleng lemah.


Diah seketika memeluk suaminya dengan air mata yang membasahi kemeja Marsel di bagian dada.


"Ikhlaskan sayang... Bella sudah tenang," Marsel mencium pucuk kepala Diah.


"Selamat jalan Mbak Bella..." Diah mengusap wajah Bella yang awalnya mulutnya terbuka sedikit, hingga akhirnya tertutup sempurna.


Bella pergi dengan tenang. Wajah pucatnya kini justeru tampak segar dengan bibir yang sedikit tersenyum.

__ADS_1


Anneke menangis histeris, kini putri pertamanya telah pergi mendahului dirinya.


.


__ADS_2