Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Pertemuan ketiga.


__ADS_3

Sampai di depan pintu, Bella menyelipkan rambutnya ke atas daun telinga, yang berhias anting panjang. Tangan putihnya menarik knop pintu seiring senyumnya yang semanis madu menghias bibirnya.


Ceklek


Senyumnya seketika menghilang tatkala melihat siapa yang datang. Pintu terbuka lebar, sorot mata tajamnya menghunus wajah Diah yang menyunggingkan bibir kepadanya. "Mbak Bella" Diah tetap bersikap santun meskipun sorot mata Bella tidak bersahabat.


"Kalian?!" Bibir Bella yang awalnya terkatup pun pada akhirnya terbuka. Ia beralih menatap Marsel tajam, dalam hatinya berkata. "Kamu menipu aku Ello!" namun Marsel justeru membuang pandangan ke arah pohon yang berdaun lebat di pojok Villa.


Arabella beralih menatap obyek yang sedang bersembunyi di belakang Diah. Hanya terlihat matanya yang sedang mengintip disela-sela antara Marsel dan Diah karena mereka bergandengan tangan.


"Masuklah" ujarnya seraya berjalan lebih dulu dan duduk di kursi rotan. Kursi dalam Villa ini memang dibuat dari rotan mungkin agar terkesan alami. Entahlah, hanya Marsel yang tahu.


Hingga beberapa menit kemudian mereka tak kunjung masuk, Bella pun kembali keluar. Ternyata Diah dan Marsel masih membujuk Lita. Bella kemudian mendekati Lita dan ikut membujuk putrinya yang enggan bertemu dirinya hatinya mencelos.


"Masuk sayang... ayo, di gendong Mommy ya." Bella mengasunkan tangan, namun Lita tidak menoleh. "Papa pasti sudah cerita, kan? kalau aku benar Mommy kamu" Bella mengusap bahu Lita yang mencengkeram erat baju Diah, yang ada dalam pikiran Lita Diah akan meninggalkan dirinya di sini.


"Nggak mau... Lita sama Mama Diah saja" Lita menyembunyikan wajahnya di perut Diah, tanpa berniat menatap wanita yang tiba-tiba datang ingin merebut hatinya.


"Calista... ayo dong" paksa Bella seraya melepas tangan Lita yang memegangi erat pinggang Diah.


"Jangan dipaksa!" bentak Marsel dingin menatap Bella tajam.


"Mas" Diah melempar kedipan agar Marsel bersikap biasa saja. Marsel pun akhirnya diam. Semua itu tidak lepas dari perhatian Bella. Hatinya semakin kesal kini anak dan suaminya sudah dicekokin oleh Diah. Pikirnya.


Diah menunduk beralih menatap Lita.


"Lita... sini, jangan takut nanti Mama pangku" setelah sekian lama, Lita akhirnya mengangguk. "Ayo Mama gendong" Diah menggendong Lita masuk diikuti Marsel lalu mendudukkan Lita di pangkuannya.


Hati Bella terasa pedih kala menatap Lita yang lebih menyayangi ibu tirinya, daripada dia yang sudah mengandung dan melahirkan.


"Lita, ini Mommy yang Papa ceritakan tadi, sekarang beri salam ya Nak" Diah berusaha mendekatkan Lita yang masih betah menyembunyikan wajahnya.

__ADS_1


"Sini Mama bisikin" Diah membisikkan sesuatu ke telinga Lita. "Ingat yang Mama bilang tadi, surga kita, ada di telapak kaki lbu"


Lita kemudian mengangkat kepala. Menatap Bella yang sedang tersenyum kepadanya. "Sana salim" Diah kembali berbisik.


Lita melangkah ragu, mendekati Bella. Ketika sudah berhadapan, Lita menoleh Diah. Diah mengacungkan jempol tersenyum. Lita kemudian salim tangan Bella.


"Calista... hiks hiks hiks..." Bella memeluk tubuh montok putrinya menumpahkan segala rasa senang, sedih bahagia menjadi satu. Bella mendaratkan wajah nya menyatukan hidung bangir mereka.


Yang namanya orang tua seburuk apapun pasti akan menyayangi anaknya.


"Calista mau punya adik, Lita mau pegang?" di pegang nya tangan Lita yang masih bergeming oleh Bella, mengusapkan ke perutnya. Lagi-lagi Lita masih tidak merespon namun membiarkan tangannya di usapkan ke perut Mommy.


"Sini di pangku sama Mommy" Bella menepuk pahanya seperti posisi Diah tadi.


Lita menatap Marsel, yang satu kata pun sejak tadi tidak berucap. Namun Marsel tidak mengiyakan maupun melarang.


"Papa..." Lita justru menghambur ke pelukan Marsel.


"Sabar Mbak, mungkin Lita butuh waktu," Diah yang masih menghormati Bella belum beranjak.


Bella menatap Diah horor. "Jangan sok-sok-an menasehati Diah, kamu pikir aku tidak tahu siapa kamu! hah?!" ketus Bella.


"Haha..." Bella tertawa devil. "Sekarang kamu boleh merasa terbang ke awang-awang Diah, tapi tunggulah saat nya kamu akan jatuh ke jurang! jika Ello sudah tahu siapa kamu, sebenarnya!" Bella melempar tatapan skeptis ke arah Diah yang masih diam mendengar kata-kata tajam madunya.


"Haha... semua keburukan kamu, sudah dalam catatan saya, Diah. Sekarang kamu boleh bangga, karena bisa merebut hati orang-orang yang dulu begitu mengasihi saya" Bella meradang.


"Cepat atau lambat kamu pun akan didepak, apa lagi mertuaku, begitu tahu, siapa kamu! siap-siap kamu di tendang seperti yang saya alami" Bella mengangkat dagunya merasa sombong.


Diah hanya menatap madunya yang mondar-mondar, duduk, berdiri, menunjuk-menunjuk ke arahnya. Dan mencerna semua caci maki Bella.


"Kamu itu, membasuh muka dengan air liur Diah! Itu adalah kamu Diah!" Bella menunjuk mata Diah. "Jangan sok suci di depan Marsel, maupun di depan mertua" hardik Bella kali ini ia berdiri melipat tanganya di depan dada.

__ADS_1


"Terserah Mbak Bella mau bicara apa, saya tidak perduli, saya tidak pernah mengatakan bahwa saya orang baik." Diah pada akhirnya buka suara. "Jika Mbak Bella mengatakan bahwa saya membasuh muka dengan air liur. Lantas Mbak sendiri siapa?! sepandai pandainya tupai melompat sekali waktu akan jatuh juga," Diah pun lantas berdiri.


"Saya akui, saya memang busuk Mbak, bahkan baunya sampai tercium kemana-mana.Tetapi saya tidak menutup bau dengan minyak wangi seperti yang Mbak lakukan!"


"Apa maksudmu?!" Bella mendekat mereka berhadapan.


"Haha... boleh dunia tertipu dengan bau wangi Mbak Bella, tapi saya tahu! Anda itu sampah!"


"Apa!" kilat marah tampak di wajah Bella.


Kedua wanita itu saling tegang.


"Honey... please" Marsel berdiri di depan Villa rupanya karena Diah tidak cepat kembali ia menghampri istrinya.


"Iya Mas" Diah pun akhirnya menyambar tas yang ia letakkan di atas meja, kemudian menylempang di pundak. Ketika ingin melangkah keluar Diah berhenti kembali menoleh Bella yang masih menatapnya nyalang.


"Eh iya, sampai lupa pamit, permisi Mbak, sampai bertemu nanti malam. Bensinya jangan di habiskan sekarang ya, buat membakar arang nanti malam" Diah kemudian benar-benar keluar menautkan lengannya ke lengan Marsel.


Wajah Bella semakin merah membara. Marah, benci, kecewa mewarnai perasaannya kini. "Awas kamu Diah" ujar Bella, tentu Diah sudah tidak mendengar. Bella sudah siap mengibarkan bendera perang.


Bella duduk di kursi rotan perutnya terasa kencang mungkin karena emosi hingga mempengaruhi bayinya.


******


"Mas, Lita kemana?" Diah cemas karena tidak melihat Lita bersama Marsel.


"Dia bermain bersama Marni, biarkan saja, sekarang kita quality time" ucap Marsel memeluk pundak Diah.


"Oh Marni sudah sampai, terus sekarang mereka dimana?"


"Ke pantai, biarkan saja, dia aman kok, tidak hanya bersama Marni, ada Aldo dan Siska juga," Marsel dan Diah berjalan keatas bukit.

__ADS_1


.


__ADS_2