
Sore hari aku masuk ke rumah Bapak hanya seorang diri. Sebab anak-anak dan suamiku singgah di rumah Kak Adit. Aku membawa rantang berisi sup tulang kaki. Menurut teori yang aku dengar, sumsum tulang dapat mempercepat proses penyembuhan luka pada tulang.
Kandungan kolagen dan glukosamin yang dimiliki oleh sumsum tulang sapi sangat bermanfaat dalam menjaga tulang dan sendi. Dan dapat mencegah berbagai macam penyakit yang terjadi pada tulang terlebih orang yang sudah seusia bapak dan Ibu.
"Bi, ini sop nya di hangatkan dulu"
"Baik Non,"
Aku meninggalkan bibi yang sedang menghangatkan sup lalu berniat ke kamar Ibu. Sampai di ambang pintu kamar, mataku menangkap pemandangan yang memukau. Yakni Ibu yang arogan itu menangis pilu memcium telapak kaki Bapak. Aku terpaku di tempat memperhatikan beliau serasa aku hidup di dunia lain yang terindah, yang belum pernah aku pijak. Bapak dan Ibu kini saling berpelukan, terdengar isak tangis ibu yang hampir tak pernah menetes itupun akhirnya tumpah ruah. Tanpa beliau tahu, aku turut menangis. Tangis Betapa bahagianya hatiku, sejak aku kecil, belum pernah melihat mereka romantis seperti sekarang. Aku menjadi ingat masa kecilku yang tak pernah aku dapatkan kedamaian di dalam rumah tangga Ibu kandungku dan Bapak tiriku.
Aku dan Mas Adit hampir setiap hari mendengarkan percekcokan, tidak jarang ibu selalu membanting perkakas dapur membuat aku dan Mas Adit tumbuh menjadi pribadi yang tidak punya prinsip. Hari-hari kami hidup di dalam tekanan, tidak pernah mendapat kasih sayang yang lengkap dari kedua orang tua. Kami hidup di dalam lingkup kekerasan yang selalu aku dengar dan lihat setiap hari. Namun demikian, Bapak selalu bersabar menghadapi sifat Ibu yang selalu ingin menang sendiri.
Aku mundur tidak jadi masuk ke kamar beliau, karena tidak mau mengganggu momen seperti ini. Aku memberikan ruang untuk beliau yang sedang menyadari kesalahan masing-masing.
Ya Allah... engkau lah yang mampu membolak balikkan hati manusia, betapa bahagianya aku, kini Ibu telah kembali ke jalan Nya.
Aku merebahkan tubuhku di kursi sofa yang Mas Adit beli beberapa waktu yang lalu terasa empuk tiba-tiba rasa kantuk menyerang.
"Goooll..." samar-samar aku mendengar suara Ghani. Aku membuka mata. Oh, ternyata aku ketiduran, mendengar suara jedak jeduk bola. Ku buka mata perutku terasa ada tangan melingkar. Aku segera tahu tangan siapa, sudah pasti tangan Marsel. Aku baru sadar, bukanya aku tadi tidur di sofa? Tetapi mengapa aku bisa pindah ke kamar tamu? Aku tersenyum menatap suamiku yang sedang tertidur lelap. Pasti pria yang masih tampan di usianya yang ke 4 puluh ini yang menggendong aku ke kamar.
Aku bahagia, semakin bertambahnya usia pernikahan kami, suami aku sangat menyayangi aku dan anak-anak. Ingat anak-anak, aku keluar dari kamar menghampiri mereka kelima anakku dan yang satu lagi Bhanu putra Mas Adit bersorak sorai. Mereka sedang bermain bola. Tampak putriku Syifa sedang menjaga gawang di sisi kiri sementara di sisi kanan Bhanu yang jaga. Bibirku tidak hentinya tersenyum melihat ke 4 anakku yang sedang berebut bola. Ghina sering jatuh bangun wajar karena ia adalah anak perempuan.
"Mama... aku capek..." Ghina langsung duduk di pangkuan ketika aku duduk di teras memandangi mereka.
"Capek ya?" aku betulkan ikatan rambutnya yang sudah terlepas tapi masih nyangkut di rambut. Rambutnya basah dengan keringat.
"Goooll..." seru Rafa dan Rafi rupanya bola membobol gawang Syifa.
"Tuhkan! Gool! Kamu sih Ghina, aku di tinggal sendiri;" sungut Ghani ikut berebut ingin duduk di pangkuan aku.
"Ya sudah... lagian sekarang kan sudah sore, kalian istirahat sebentar lalu mandi," aku mengelus lembut kedua kepala anakku.
"Nak... mainya udahan ya, kalian semua harus istirahat," aku memanggil Syifa Rafa dan Rafi
"Iya Ma" mereka berlari menghampiri aku, sementara Bhanu pamit pulang. Tubuhku yang kurus tidak tampak lagi, karena mereka semua bergelayut manja kepadaku.
Ya Allah... sungguh aku bahagia sekali, aku di beri rezeki anak-anak yang pintar, lucu dan sayang padaku.
__ADS_1
"Heemm...papa lagi tidur kok, kalian berisik banget," kami menoleh suamiku, dengan mata merah kas bangun tidur lalu memeluk aku dari belakang.
"Lagian... Papa sore-sore tidur," protes Ghina membuat Marsel terkekeh.
******
Keesokan harinya tepatnya hari minggu, pagi-pagi sekali kami mengajak anak-anak berkumpul di mansion papi Efendi. Entah akan ada acara apa, sebab kemarin Juliana adik tiriku, mengundang kami untuk datang dan membawa serta anak-anak.
"Kalau kau senang hati tepuk tangan,"
Plok plok plok.
"Kalau kau senang hati tertawa. Hahaha,"
"Kalau kau senang hati, mari kita bersama, kalau senang hati tepuk tangan,"
Plok plok plok.
Saat dalam perjalanan, Calista memimpin ke empat adiknya bernyanyi. Marsel yang sedang menyetir di sebelahku tertawa menatap mereka di kaca spion.
Marsel sengaja membeli mobil yang berkapasitas besar agar kami selalu bisa pergi bersama jika sedang ada momen seperti sekarang. Karena kedua babby sitter kami pun selalu kami bawa.
"Eeehh... anak-anak pintar, mengucap salam dulu" ucapku.
"Assalamualaikum..."
"Waalaikumsalam..."
"Waah... cucu-cucu kakek... sudah datang, Kakek mau kasih kejutan buat kalian,"
"Kejutan apa Kek?"
Anak-anak antusias merapat ke depan papi.
"Siapa kemarin, yang mau sunat?"
Anak aku terlihat pancaran bahagia. "Rafa mau"
__ADS_1
"Rafi juga"
"Ghani juga mau..."
Aku mengernyit menatap papi. Papi seolah tahu apa maksudku jika aku ingin penjelasan.
"Duduk semua," titah papi.
Kami duduk berhadapan dengan papi dan mami termasuk anak-anak.
Papi ternyata sungguh-sungguh bahkan sudah memanggil dokter. Aku menoleh Marsel minta persetujuan walaupun papi Efendi sudah mempersiapkan semua tentu aku harus ijin suami. Marsel pun menyetujui.
Setelah sarapan anak-anak di sunat di kamar yang berbeda agar jika salah satu dari mereka ada yang menangis yang lain tidak takut.
Aku bersama Marsel menemani Rafa dulu karena ia di sunat lebih dulu. "Mama... sakiit..." Rafa berteriak membuat aku panik. "Tahan sayang... anak laki-laki harus kuat," aku genggam tanganya keringat di dahi mengucur, aku ambil tisu lalu ku seka dan terus mengajaknya bicara hingga proses sunat selesai ia mulai tenang.
"Mama tinggal dulu, sayang," pamitku. Ia mengangguk. Sementara Rafa di temani oleh suster lalu aku ke kamar Rafi bersama Marsel dan suster.
"Hiks hiks hiks... aku takut Pa,"
"Tidak apa-apa sayang, tadi Rafa juga nggak sakit kok," Marsel menghiburnya. Rafi memang takut dengan jarum suntik maka ketika dokter mengeluarkan perlengkapan dari koper kecil ia menangis.
"Berdoa anak tampan," kata dokter ketika mengoleskan alkohol akan menyuntik sebelum di sunat. Marsel terus menghibur sepanjang pelaksaan sunat Rafi menagis.
Yang terakhir Ghani, ketika aku Maksud ia sedang bersama Ghina putri kecil ku.
"Ghina temani Ghani boleh nggak Ma?"
"Boleh" aku merangkul pundak putriku. selama pelaksanaan Ghani ternyata tidak mengeluh apapun mungkin karena Dia yang minta.
Satu jam kemudian semua keluarga bekumpul kak Adit dan kak Mawar pun datang sekeluarga mengajak serta Bapak dan Ibuku.
...Tamat. ...
********
"Hallo reader sampai disini kisah tentang keluarga cemara. Semoga bisa ada yang bisa di ambil manfaatnya cerita ini. Walaupun yang membaca kisah Diah tidak sampai seratus seperti novel aku yang sebelumnya tapi hingga bab akhir yang membaca konsisten tidak ada yang kabur terimakasih semua,"
__ADS_1
Sekarang aku sedang menggarap cerita yang berbeda mungkin dalam waktu dekat akan rilis, semoga tidak bosan ya kalian mau mampir lagi. 💪💪💪❤❤❤.