Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Mogok makan.


__ADS_3

Deeerrrt... deeerrrt.


"Assalamualaikum..." mata Diah berbinar-binar saat menerima telepon dari pria yang di cintainya. "Mas, bagaimana kabar Mommy? Mommy sakit apa?" cecar Diah di sambungan telepon. Diah berusaha bersikap tegar seolah tidak terjadi apa-apa di Indonesia.


"Waalaikumsalam..." jawab Marsel.


Setelah menjawab salam darinya, tidak ada lagi kata-kata yang berucap dari seberang. Yaitu dari mulut Marsel. Hening. Namun masih terdengar deru napas Marsel samar. Diah tahu, jika Marsel masih di situ. "Mas" panggil Diah.


"Honey... Mommy honey..." terdengar suara Marsel sepertinya berat untuk berucap.


"Bagaimana keadaan Mommy, Mas?" Diah mengulangi pertanyaannya.


Dari jawaban Marsel, Diah merasa, bahwa suaminya sedang tidak baik-baik saja. Pasti mommy memang benar sakit serius.


"Mommy masih di ruang ICU, sayang... Mommy, belum sadarkan diri," suara Marsel hampir tidak terdengar.


"Ya Allah... yang sabar ya Mas, semoga Mommy cepat sadar, dan cepat sembuh." Diah ingin rasanya memeluk tubuh suaminya jika dekat. Akan menyerahkan pundaknya untuk bersandar.


"Aamiin..." Marsel dan Diah mengaminkan.


"Lita sudah di antar pulang belum sayang... aku telepon Bella, agar cepat mengantar Lita, tapi nomornya tidak aktif," terang Marsel.


Diah diam, dari pertanyaan suaminya, berarti Marsel belum tahu jika Bella membawa Lita ke sana. Diah bingung masih menimbang-nimbang apakah tepat jika menceritakan kepergian Bella, saat ini? Disaat suaminya sedang banyak pikiran.


"Honey..." panggil Marsel mengejutkan Diah. "I-iya, belum Mas, Lita belum di antar" banyak yang ingin Diah sampaikan kepada Marsel, tetapi Diah tidak tega. Pikiran Marsel saat ini sedang sedih. Diah tidak ingin menambah beban pikiran suaminya.


"Sepertinya kamu sudah mengantuk sayang, selamat tidur ya, salam rindu."


"Salam rindu, Mas" jawab Diah. Kata-kata Marsel membuat Diah tersenyum bisa mengobati rasa kangenya.


Tut. Marsel memutuskan sambungan telepon.


Diah meletakkan handphone di samping ranjang, menatap ke atas. Ia menarik napas berat. Sebenarnya Diah ingin menceritakan semua tentang masalah yang menimpanya. Tetapi Diah lebih baik menunda. Setidaknya, menunggu Mommy sadar. Diah bersyukur masih banyak yang di ajak berbagi di sini, keluarga besarnya sangat menyayangi. Apa lagi papi Efendi beliau berjanji akan menemaninya jumpa pers untuk mengklarifikasi masalah ini. Jika keadaanya sudah membaik. Sementara Marsel di sana, hanya sendiri, tidak ada yang bisa di ajak berbagi kesedihan.


******

__ADS_1


Selanjutnya di sebuah bangunan yang sangat luas, terlihat rapi dan cantik, ditumbuhi beberapa pepohonan hijau. Eksterior, menggunakan warna putih dominan inilah kediaman Arabella. Layaknya bangunan kas negara B.


Tok tok tok.


"Sayang.... keluar sayang..." pekik Bella di temani bibi dari luar kamar. Sebab Lita sejak pagi mengurung diri di kamar dan menguncinya dari dalam.


"Keluar ya, Mommy punya boneka baru loh" Bella sangat bingung apa yang harus dilakukan agar Lita mau makan, dan tidak mendiamkan dirinya. Apa lagi Lita mengunci kamar khwatir berbuat macam-macam.


"Bi, tolong cari kunci serep di ruang kerja saya ya" titah Bella.


"Baik Non" bibi meninggalkan Bella yang bersandar di pintu. Ia sedang berpikir jika tidak ada kunci serep, terpaksa harus mendobrak pintu ini, berniat minta tolong Thomas. Bella pun akhirnya menghubungi asistennya.


"Hallo Thomas"


(....)


"Cepat datang ke rumah"


Tut.


"Mama Diah... hiks hiks" Lita menangis seorang diri. Ia hanya bisa mengingat kebersamaannya dengan Diah. Diah selalu membuatnya tertawa, mengerti apa yang ia mau. Selalu kompak dengan papa Marsel untuk menyayangi dirinya. "Papa Marsel... hiks hiks"


Sementara bersama Mommy Bella. Lita merasa selalu dipaksakan kehendaknya. Jika tidak mau, selalu di bentak. Tidak hanya itu, Lita selalu di bohongi, selama hidup bersama Marsel belum pernah Papa berbohong.


"Papaaa... Mamaaa... jemput Lita" Lita terus bergumam, seiring air matanya yang mengalir deras.


Flashback on.


"Mommy... Lita mau pulang, pasti Mama Diah mencariku." rengek Lita sore itu, baru beberapa jam di rumah Bella Lita sudah tidak betah. Biasanya jika di rumah, tidur siang saat pulang sekolah, selalu di ceritain Diah, atau setidaknya Marni.


Tetapi di rumah Bella, Lita tidak ada yang menemani, bibi sibuk dengan pekerjaannya, sementara Bella sibuk mengurus dirinya sendiri. Luluran, poles-poles wajah, dan sibuk telepon seseorang membuat Lita kesepian.


"Ayo, Mommy... antar Lita pulang, kalau Mommy sibuk, Lita naik taksi saja." kukuh Lita.


"Baiklah... Ayo, mommy antar" jawab Bella selesai telepon.

__ADS_1


"Yeee... beneran Mom" Calista kegirangan.


"Beneran dong. Ayo" Bella menggaet jari Lita kemudian keluar dari rumah di ikuti Thomas menarik koper milik bosnya. Lita tidak tahu, bahwa Bella bukan menuju mansion Marsel, melainkan menuju bandara.


Rupanya Bella sibuk telepon tadi memesan tiket pesawat.


Dengan mengendarai taksi, Bella menuju bandara bersama thomas. Thomas lah yang selalu mengawal Bella, ikut serta kemanapun Bella pergi, kecuali jika tidur, mereka di kamar masing-masing.


"Mommy... kerumah Papa, tidak usah naik pesawat" protes Lita. Ketika sudah di atas perawat. Rupanya bocah kecil itu sudah curiga.


"Iya... tapi kan biar cepat sampai sayang..." bohong Bella, sambil mengusap kepala Lita.


"Nggak mau, Lita mau turun, Lita mau naik taksi saja" Lita menangis. Ia tahu jika mommy nya berbohong.


"Calista!" Bentak Bella, menatap Lita tajam. Lita bergetar ketakutan, selama ini, ia tidak pernah ada yang membentak.


Air mata bening menetes membasahi wajah putih kemerahan Lita.


"Maafkan Mom sayang... Mom tidak bermaksud marah, tapi please... Lita menurut sama Mom ya" Bella memeluk pundak Lita.


Sepanjang perjalanan pesawat, hingga hampir 15 jam, Lita mogok bicara, mogok makan. Bella benar-benar pusing di buatnya.


Lita menyesal seandainya hari jum,at kemarin, tidak mau menginap di rumah Mommy, mungkin dia tidak akan di bawa naik pesawat sampai sejauh ini. Pikirnya.


Flashback off.


"Lita... buka Nak, kalau tidak segera di buka. Om Thomas akan mendobrak pintunya loh" ujar Bella. Namun, tetap tidak ada jawaban.


"Lita... ini Bibi... buka pintunya Nak" kali ini bibi yang bersuara, sambil mengetuk pintu.


"Calista... kita jalan-jalan ke Mall sama Om, yuk" Thomas tidak mau kalah.


Suara Bella, Thomas, Bibi, bergantian, meminta Lita agar keluar dari kamar. Namun, jangankan keluar sahutan saja tidak terdengar.


.

__ADS_1


__ADS_2