Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Masihkah Ada Keajaiban.


__ADS_3

Sore harinya di ruang tunggu, Diah merasa perutnya terasa kencang. Wajar, karena capek mondar mandir. Belum lagi, diwarnai ketegangan sejak kemarin. Bahkan, Diah kadang tidak sadar, bahwa dirinya sedang hamil.


"Kenapa sayang?" Marsel melirik Diah di sampingnya, yang sedang mengusap perutnya menatapnya khawatir.


"Mas, perutku rasanya kram deh," lirih Diah.


"Ya Allah... makanya, dari tadi aku ajak pulang, kamu nggak mau sih, sekarang kita ke dokter dulu,"


Dengan sigap, Marsel membantu istrinya berdiri.


"Aunt, Diah duluan ya, perutku terasa tidak nyaman," pamitnya pada Anneke. Diah sebenarnya tidak tega meninggalkan Bella yang masih berjuang di dalam sana. Namun apa boleh buat.


"Silahkan Diah, semoga kamu baik-baik saja, terimakasih, kamu sudah repot-repot menemani keluarga saya," Anneke merasa tidak enak dengan Diah.


"Tidak apa-apa Aunt, semoga, operasinya lancar."


Marsel segera mengangkat tubuh istrinya, dalam gendongan tidak sabar, rasanya sudah khawatir dengan keadaannya tapi Diah justeru lama berbasa basi.


"Mas... malu..." Diah ingin turun tentu banyak yang memperhatikan. Namun Marsel tidak perduli.


"Sudahlah nurut saja kenapa sih, jangan cerewet." Marsel tak mau dibantah.


"Mas... aku itu hanya kram, jangan lebai, iihh..." Diah benar-benar malu.


"Kalau kamu malu, sembunyikan wajahmu, di ketia aku ini, wangi loh, hahaha" Marsel tertawa bisa menggoda istrinya.


Diah tidak mau menjawab suaminya lagi, hingga akhirnya, Marsel menurunkan Diah, di depan ruang periksa untuk ibu dan anak.


"Tunggu di sini, jangan kemana-mana," Marsel segara mendaftar sesuai prosedur.


Diah menatap suaminya dari belakang, tersenyum. Ia berpikir, kini telah memetik buah kesabaran, ternyata semua teka-teki, telah terjawab. Prasangka buruknya, terhadap Marsel selama ini, tidaklah benar.


"Ya Allah... lindungilah jodohku yang ketiga," Doanya dalam hati.


"Masih sakit Yank?"


Marsel duduk di sebelah istrinya.


"Siapa bilang sakit sih... aku kan cuma bilang kram, Mas sih? Melebih-lebihkan."


"Kamu itu cape sayang... sejak dari Indonesia, sampai hari ini kamu belum istirahat, aku tidak ingin terjadi apa-apa dengan kamu, maupun anak kita," Marsel berkata serius.

__ADS_1


"Iya Mas, terimakasih" Diah menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.


15 menit kemudian, nama Diah di panggil. Marsel siaga mengantar istrinya ke ruang periksa. Setelah menjalani serentetan pemeriksaan yang terakhir di lakukan adalah; USG.


"Bagaiamana keadaan anak saya Dok?" Marsel sudah tidak sabar.


"Tidak ada masalah, mungkin istri Anda hanya terlalu capek, jadi saya mohon agar beristirahat," saran dokter.


"Syukurlah Dok, terimakasih," Diah segera ke keluar lebih dulu, khwatir di gendong suaminya, rasanya malu sekali, walupun dalam hatinya senang. Marsel segera mengejar istrinya.


"Diah... kalau kamu tidak mau di gendong lagi, pakai ini ya, dari sini ke tempat parkir lumayan jauh loh." Marsel mendorong kursi roda, berlebihan memang Marsel.


Diah pun menurut, daripada ribut, pasti suaminya tidak mau di bantah.


******


"Kraattt..." pintu dorong ruang operasi telah dibuka tampak dokter dan perawat berjalan cepat keluar.


"Dokter, bagaimana keadaan Bella Dok?" sambar Anneke menahan langkah dokter, disusul Patrick.


"Ibu, keluarganya Bella?" Dokter balik bertanya.


"Betul Dok, putri dan cucu saya sehat kan, Dok" tampak kekhawatiran di wajah Anneke.


"Cepat katakan Dok, apa yang terjadi dengan mereka," Patrick mengguncang lengan dokter.


"Nona Bella, masih belum sadar Tuan, bahkan saat ini sedang koma." terang dokter dengan rasa menyesal menatap sendu wajah Patrick.


"Ya, Tuhan...." ucap Anneke dan suaminya bersamaan.


"Boleh kami menjenguk Dok?" tanya Anthony yang baru selesai check mendengar obrolan tentang istrinya kemudian menyela obrolan.


"Silahkan, tapi hanya diperbolehkan satu persatu, dan yang penting, Anda harus taati aturan rumah sakit ini," titah Dokter.


"Baiklah Dok," Anthony segera masuk ruang ganti tanpa minta persetujuan mertuanya, yang ada dalam pikiranya saat ini adalah; mengetahui keadaan Bella.


Anthony membuka baju kuning terang, dan mengganti baju yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit. Yakni baju berwarna biru muda. Pria plontos itu masuk ke ruang ICU Menatap sendu wanita yang di kencani nya, selama kurang lebih tiga tahun itu.


Ia tercengang, betapa tidak? Berbagai alat telah tertancap di tubuh wanita yang mengisi hari-harinya itu. Walaupun selama ini Bella sangat membencinya namum Anthony tidak perduli.


"Bella... maafkan aku, jangan begini, bangunlah Bella, apapun yang akan kamu lakukan terhadapku, aku terima Bella, cepatlah sadar, dan marahi aku seperti biasa," Anthony menggenggam tangan yang putih itu, kemudian menciumnya. Seiring tetesan air bening dari sudut mata birunya.

__ADS_1


Anthony flashback saat awal-awal meniduri Bella, hanya membayarnya dengan job, membuat Anthony menyesal.


Jika boleh memutar waktu, Anthony akan merebut hati Bella dengan cara yang lebih terhormat. Anthony menangis tersedu-sedu memeluk tubuh Bella yang tak berdaya.


********


Sementara Bella di bawah alam sadar.


"Dimana aku... aku tidak mau di sini... aku mau pulaaaannggg..." pekik Bella. Ia berada di tempat yang gelap gulita, tidak ada sedikit pendar untuk mencari secercah jalan keluar.


Kabut tebal membuatnya sesak, sulit untuk bernapas. Bella terbatuk-batuk terus menerus. Belum lagi seperti tidak ada udara, terasa pengap.


Tidak ada suara apapun di tempat itu, tetapi tiba-tiba, deru angin kencang berputar-putar dari atas, menggulung tubuh Bella.


"Toloooonnng... jangan siksa aku..." teriak Bella, di sela-sela isak tangis. Bella digulung angin ****** beliung, angin berhenti ia jatuh terperosok ke dalam jurang.


Ia bergelantungan di akar pohon bergerak ke kanan ke kiri, tangannya terasa perih. Namun tidak ada siapapun yang menolong.


Bella menunduk tampak bebatuan terjal sangat mengerikan di bawah sana. Jika ia sampai jatuh habis riwatnya. Bella Lihat ke kiri tampak siluet dua orang yang membawa cambuk menghampirinya.


"Cetharrr.... cethaaarrr..." cambuk itu melayang di tubuhnya.


"Ampuni aku... ampuni akuuu..."


"Bella... pulang Bella... anak kita menunggu Bella..." Anthony memanggil-manggil.


"Anthony... tolong aku..."


"Mommy... mommy... tolong... jangan sakiti mommy..." dua anak kembar datang dengan tubuh yang bersinar memberi penerangan.


*********


"Bellaaaa... bangun Nak, jangan tinggalkan kami Nak" Mommy Anneke berteriak histeris.


"Bella sayang... bangun sayang... maafkan Daddy ya Nak," Patrick pun merasa hancur.


Semua sudah berkumpul, di sebelah tubuh Bella yang tak berdaya, hanya doa dan harapan bagi Anneke, Patrick, maupun Anthony yang mereka panjatkan semoga ada keajaiban bagi Arabella.


"Bella... ini anak kita, kita besarkan bersama ya," rupanya, Anthony di temani perawat menggendong buah hatinya, mendekatkan kepada Bella.


"Oeeekkk... oeeekkk..." dua bayi itu menangis seolah memanggil mommy nya.

__ADS_1


"Bella... sayang...bangunlah Nak, ada dua cucu mommy yang lucu ini, membutuhkan kamu sayang..." Anneke menempelkan tangis bayi ke telinga Bella.


.


__ADS_2