
Di jalan tol supir melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Supir hendak mengantar pasutri ke rumah sakit menjenguk Reny.
Beliau adalah papi Efendi dan mami Desty. Walaupun sudah tidak lagi muda mamun masih tetap cantik, dan tampan seĺalu romantis. Tidak hanya itu beliau masih selalu posesif.
"Papi, setelah sampai di rumah sakit nanti, apa yang akan Papi lakukan?" tanya Desty yang sedang menyandarkan kepalanya di pundak suaminya.
"Ahahaha... pertanyaan kamu itu aneh Mi, memang tujuan kamu mengajak aku ke rumah sakit tadi, apa?" Efendi terbahak-bahak mendengar pertanyaan istrinya.
"Menjenguk mantan! Mu," Desty menekan kata mantan.
"Kamu sendiri, apa yang akan kamu lakukan disana nanti?" papi Efendi balik bertanya.
"Aahh... Papi nggak ngerti, maksud aku, nanti kamu di rumah sakit peluk cium Mbak Reny lagi!" sungut Desty.
"Kan! Kan!" papi Efendi merangkul pundak istrinya gemas. "Sudah... daripada kamu pusing sendiri, lebih baik kita tidak usah menjenguk, lebih baik kita pulang saja, gitu saja kok repot," Efendi tampak berkata sunguh-sungguh.
Efendi geleng-geleng kepala.Tadi Desty sendiri yang mengajaknya menjenguk, tapi istrinya ini justeru uring-uringan karena cemburu.
"Ya jangan pulang juga sih Pi, aku cuma nggak ingin, kamu nanti terlalu kasihan sama Reny terus memeluknya." Desty berkata ngawur.
"Cek! jangan ngelantur Mi,"
*******
"Keluarga Nyonya Reny," terdengar suara nyaring. Secepat kilat Diah Marsel, Adit dan Mawar; segera menuju sumber suara.
"Bagaimana keadaan Ibu Reny, Dok?" dengan terengah-engah Diah bertanya kepada dokter di ruangan.
"Silahkan duduk," titah dokter bedah yang menangani bu Reny.
Mereka pun duduk di depan dokter. Dokter kemudian menceritakan tentang kelumpuhan bu Reny.
"Apa? Jadi... Ibu saya lumpuh Dok?" mata Diah kontan brebes. Marsel mengusap punggung istrinya.
"Kira-kira berapa lama Dok?" kali ini Adit yang bertanya.
"Tergantung, bisa tiga sampai enam bulan, bahkan lebih, tergantung kekebalan tubuh pasien sendiri,"
"Astagfirlullah..." semua yang berada di situ istighfar. Diah melebarkan mata saking terkejut lalu menatap dokter seolah berkata. Sembuhkan ibu saya Dok.
Diah merenung mengapa di usia tuanya, Ibunya justeru diberikan ujian seberat ini? Atau inikah cambuk agar bu Reny kembali ke jalanya? pertanyaan-pertanyaan inilah yang berkecamuk di dalam hati Diah.
"Lalu apakah bu Reny sudah sadar Dok?" Marsel membuyarkan lamunan Diah.
"Kebetulan sudah dipindahkan ke kamar rawat inap, Anda bisa menjenguknya." terang dokter.
__ADS_1
Semua kemudian keluar dari ruang dokter. "Mawar... bagaimana keadaan mertua kamu?" bu Riska yang menunggu di luar bersama pak Sutisna menodong pertanyaan.
"Menurut dokter, bu Reny lumpuh Bu," jawab Mawar penuh kegetiran.
"Ya Allah..." bu Riska menutup mulutnya yang sedang mengaga lebar.
"Sebaiknya kita menengok Ibu bergantian, sebab, hanya di ijinkan dua, sampai tiga orang, tidak boleh bersamaan," usul Adit.
"Biar Diah sama Marsel dulu yang menjenguk, sebaiknya setelah tahu keadaan Ibu, kamu istirahat Diah, dari kemarin kamu nggak istirahat." saran Mawar menatap adik iparnya prihatin.
Diah memang sedang tidak baik-baik saja, matanya sembab kebanyakan menangis, kantong mata terlihat tebal sebab dari kemarin tidak tidur, tergambar lelah jiwa raga di wajah Diah saat ini, di tambah lagi napsu makannya menguap.
"Benar kata kak Mawar sayang... kita jenguk Ibu, terus kamu pulang ustirahat ya," Marsel membujuk istrinya.
Diah hanya mengangguk kemudian masuk ke kamar bu Reny bersama Marsel.
"Ibuuuu..." Tangis Diah pecah kala matanya menatap kepala bu Reny yang masih di perban.
Sementara Marsel tidak bisa berkata apapun, tangan kekarnya membelai lembut kepala istrinya agar tenang.
"Ibuu... maafkan Diah..." Diah menenggelamkan wajahnya di dada ibu yang melahirkan ke dunia itu.
"Diah... Ibu ingin mati saja, daripada merepotkan kalian, hiks hiks, ibu lumpuh Diah... Ibu tidak bisa apa-apa lagi," bu Reny mengusap kepala putrinya yang sudah beberapa tahun ini tidak pernah beliau lakukan.
"Ibuuu... hiks hiks hiks..." kedua wanita itu larut dalam tangis. Diah mengangkat kepalanya dari dada bu Reny. "Ibu... mana yang sakit?" Diah lantas membuka selimut penutup kaki Ibunya.
"Sayang... tenangkan dirimu," Marsel berjongkok di samping istrinya.
Ceklak.
Terdengar suara pintu dibuka. Sesaat menghentikan tangis Diah. Mereka lantas memutar bola matanya ke arah pintu.
Wanita cantik, rambut ikal sebahu, berjalan anggun menghampiri mereka.
"Mami..." Diah kemudian berdiri menubruk ibu tirinya. Namun lidahnya kelu tak mampu lagi untuk bicara.
"Diah... yang tabah ya Nak," suara Desty lembut, selembut wajahnya merasa teduh siapapun yang memandangnya.
Sementara menyadari siapa yang datang, bu Reny dengan cepat menutup wajahnya dengan selimut. Ia malu kepada wanita yang tampak sempurna itu menghampri dirinya.
"Mbak Reny... semoga cepat sembuh ya," ucap Desty. Namun, satu menit, dua menit, hingga lima menit, tidak ada respon dari bu Reny.
Desty memijit pelan kaki wanita yang selalu di cemburuinya itu.
"Aaahhh... sakiiit... kamu mau membunuhku!" pekik Reny membuka selimut yang menutup wajahnya cepat.
__ADS_1
"Ya Allah... maaf-maaf," Desty panik sendiri. Namun tidak melepas tanganya dari kaki Reny.
"Maaf Tante... kaki Ibu, yang Tante pegang itu sakit," Marsel mengingatkan.
"Oh ya Allah..." Desty menarik tanganya cepat. "Maaf Mbak Yu, saya tidak tahu jika kaki Mbak Yu, sakit," jujur Desty merasa bersalah.
Bu Reny tidak menjawab kembali menutup wajahnya. Ia merasa malu pada istri mantannya itu. Dulu ketika belum mengalami tragedi seperti ini saja, merasa incecure pada Desty, apa lagi sekarang.
Sudah dalam keadaan sakit pun bu Reny ternyata masih ada rasa iri hati.
"Papi kemana Mi?" lirih Diah memecah ketegangan.
"Papi kamu menunggu di luar Diah, beliau tidak mau masuk," kilah Desty.
"Tidak mau masuk? Kenapa Mi?" cecar Diah.
Desty menggelengkan kepala. Papi Efendi memang tidak mau masuk bukan karena tidak manusiawi, tapi beliau lebih baik menunggu di luar, ngobrol dengan pak Sutisna dan bu Riska.
Banyak hati yang harus beliau jaga, bukan hanya hati Desty istrinya, tapi juga hati pak Renggono.
"Bapak kamu kemana Diah?" Desty tidak menemukan pak Renggono di dalam.
"Beliau kami suruh pulang beristirahat dulu Mi, dari kemarin belum istirahat, menjaga kesehatan Bapak," Marsel menjawab.
Mereka di dalam hingga beberapa saat kemudian, Desty pun pamit pulang di susul Diah dan juga Marsel. Ia menuruti saran Mawar, kali ini gantian Adit dan Mawar yang menunggui ibunya.
*******
"Mama, capek ya? Ghina pijit ya," tangan mungil putri kecil itu memijit kaki Diah yang sudah merebahkan tubuhnya di ranjang.
"Ghani juga bisa mijit," Kedua anak kembar Diah pun memijit kaki kiri dan kanan.
"Aku mijit tangan ya Ma," Rafa dan Rafi pun memijit kedua tangan Diah. Keempat anak kembar itu memijit sambil bersenda gurau.
Menggeser Marsel yang awalnya memeluk Diah kini di dorong-dorong anaknya hingga mentok ke tembok.
"Ya Allah... anak-anak Mama... pijatan kalian enak sekali," Diah terharu, walaupun pijatan anak- anaknya tidak terasa. Namun, dengan melihat mereka kompak. Seketika rasa sedih, lelah dan letih, pun menghilang.
"Papa nggak di pijit?" Marsel memandangi anak-anaknya rasa bangga membuncah.
"Nggak mau, kaki Papa keras," kelakar Ghina tampak lucu. Marsel dan Diah tertawa.
"Ma, kata Oma, Mama disuruh minum wedang jahe, biar pegalnya hilang," Calista pun masuk ke kamar membawa nampan.
"Terimakasih sayang..." Diah kemudian duduk menyeruput jahe merah sedikit. Kamar utama yang berukuran jumbo itupun penuh dengan anak-anak.
__ADS_1
.