Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Mendatangi Marsel ke Apartemen.


__ADS_3

Sudah berbagai macam cara, Bella membujuk Lita agar mau membuka pintu. Namun, belum di buka juga. Bella duduk di depan pintu memandangi kamar, pikiranya mengembara. Apakah harus mempertemukan Lita dengan Marsel? Lalu bagaimana jika Marsel tahu, bahwa penyebab mommy Laura sakit karena dirinya?


Flashback on.


Siang itu dengan perut besarnya, Bella mendatangi kediaman mertuanya.


"Selamat siang Mommy" sapa Bella tersenyum manis. Ketika itu, Laura sedang merapikan bonsai.


"Kamu!" mommy Laura memandangi Bella dari ujung kaki sampai kepala. "Masih berani kamu! Menunjukkan batang hidungmu, Bella?!" Laura melempar tatapan sinis. Lalu melempar gunting pemotong rumput ke sembarang arah.


"Maafkan aku Mommy. Aku..." Bella tercekat, berkali-kali menelan ludah untuk membasahi tenggorokannya. Ia menunduk sambil meremas tangannya tidak berani menatap Laura. Bingung bagaimana harus memulai bicara. Ia merasa takut, entah takut benar, atau hanya pura-pura takut, hanya Bella yang tahu.


"Pergi kamu, dari hadapan saya, Bella! Bertahun-tahun kamu dengan seenaknya meninggalkan anakmu, wanita tidak punya hati! Kamu Bella!" Mommy menekan dada Bella giginya gemerutuk beradu.


"Mana pernah kamu tahu, disaat Calista kejang, menurut dokter, faktor tidak minum asi, daya tahan tubuh nya menjadi rentan," mengingat itu mommy merasa sedih.


"Kemana kamu ketika Lita butuh figur seorang ibu. Ia menjadi anak yang selalu murung, selalu di ejek teman- temanya, karena mereka bilang! Lita hanya anak pungut Marsel?!" Mommy menahan tangis.


"Kemana kamu selama ini! Bella?! Kemana! Kamu?!" air mata mommy yang beliau tahan agar tidak jatuh. Namun akhirnya bercucuran.


"Mommy..." suara Bella bergetar, ia menitikan air mata juga, entah karena menyesal, atau karena takut tidak ada yang tahu.


"Jangan tunjukkan air mata kamu yang hanya pura-pura itu Bella! Semenjak kamu keluar dari rumah ini 4 tahun yang lalu, kamu sudah bukan menantu saya lagi! Ngerti kamu Bella!" Mommy Laura memegangi dadanya sebelah kiri yang terasa sakit. Namun Laura mencoba bertahan.


"Sebaiknya, kamu pergi dari hadapan saya! wanita yang tidak punya perasaan di dunia ini, hanya kamu satu-satunya." dada mommy Laura semakin sakit. Dengan memegangi dadanya Mommy melangkah masuk meninggalkan Bella.


"Tunggu Mommy" Bella menahan lengan Mommy. "Ijinkan saya masuk Mom, Bella akan ceritakan semuanya" Bella menunjukkan ekspresi wajah memelas. Ia ingin mengambil hati mertuanya. Jika tidak, tidak akan mendapatkan pengakuan anak yang di kandung-nya.


Mommy balik badan. "Mau perlu apa kamu?! Jika ada keperluan sampaikan saja disini!" ketus mommy.

__ADS_1


"Mommy... saya mengandung anak Ello, sebentar lagi Mommy akan mempunyai cucu laki-laki, seperti yang Mommy harapan" tutur Bella masih berani berandai-andai.


Mommy menoleh perlahan, menatap perut Bella lalu beralih ke wajah mantan menantunya itu. "Kamu yakin? Jika itu anak Marsel?!" senyum masam tampak di bibir Laura.


"Apa maksud Mommy? Ya jelas, ini anak Ello" Bella mengusap perutnya.


"Hahaha... Kamu pikir saya ini orang bodoh Bella! Sudah sekian lama kamu pergi, lalu datang kembali dengan tampilan perut besar. Ironis memang, dengan percaya diri, kamu minta pengakuan bahwa anak yang kamu kandung itu, adalah; anak Ello!" Mommy geleng-geleng kepala.


"Entah sudah beberapa pria yang menidurimu, dan ketika kamu hamil, kamu akan minta Ello untuk mengakui bahwa benih yang kamu kandung itu anak Ello! Keterlaluan kamu Bella!" Bentak mommy. Lagi-lagi dadanya terasa nyeri.


"Mommy, aku sama Ello, sampai saat ini, masih suami istri, mommy harus tahu itu, jadi anak dalam kandungan ini, benar anak Ello" Bella meyakinkan mertuanya.


"Saya tidak percaya!" sanggah Mommy.


"Mommy... memang benar bahwa selama tiga tahun saya meninggalkan Ello, tapi sudah satu tahun ini, kami kembali bersama, dan bayi yang Bella kandung ini anak Ello" tutur Bella panjang lebar.


"Mommy... jika Mommy tidak percaya, lihat ini" Bella membuka galeri menunjukkan fotonya bersama Marsel dan juga Lita, ketika di Villa satu bulan yang lalu. Sebenarnya foto itu, beramai-ramai bersama Diah juga. Namun foto Diah sengaja Bella potong.


"Tidak mungkin!" mommy Laura bersandar di belakang kursi sofa. Ia merasa di bohongi oleh putranya sendiri. Marsel pernah berjanji akan segera menceraikan Bella ternyata mereka masih bersama.


Mama Laura semakin lemas, lalu terkulai lemah di lantai.


"Ada apa ini?" mendengar bentakan majikanya. Bibi yang sedang di dapur berlari keluar. Melihat nyonya Laura tidak berdaya bibi duduk di pinggir nya.


"Nyonya... bangun nyonya..." Bibi menidurkan kepala Mommy Laura, di pangkuanya.


"Diah... maafkan Mommy, Diah..." mommy Laura merancau. Namun lama kelamaan suara Nya tidak terdengar lagi.


"Nyonya... bangun Nyonya" bibi tampak panik, mengguncang tangan Laura yang sudah tidak sadarkan diri. Bibi menoleh menatap wanita hamil yang berdiri di sampingnya. Wanita yang belum pernah ia kenal sebelumya. "Siapa kamu?!" ketus bibi kesal pasalnya Bella hanya diam tidak cepat menolong nyonya Laura.

__ADS_1


"Siapapun saya! Anda tidak perlu tahu, kamu ingin majikan kamu ini selamat?" tanya Bella menunjuk Mommy.


"Pertanyaan macam apa itu?! ya jelas, saya ingin Nyonya sadar!" bibi benar-benar marah.


"Heh! berani kamu, sama saya! Hah?!" Bella menarik kerah seragam bibi. Menatap wajah Bella yang garang bibi menciut.


"Jika kamu mau majikan kamu ini sembuh, cepat telepon orang terdekat, agar membantu membawanya ke rumah sakit. Jangan katakan macam-macam! kalau saya datang kesini, jika kamu melanggar, sampai kelubang semut pun kamu akan saya cari!" Bella lalu meninggalkan bibi yang hanya menahan rasa takut.


Bella kembali masuk ke dalam mobil menjalankan mobilnya ke kediamannya.


Flashback off.


"Lita... kamu mau ketemu Papa nggak? Papa ada di kota ini loh" Bella bicara lembut tidak ada pilihan lain, selain mempertemukan Lita dengan sang papa. Inilah saatnya, agar keluarganya bisa kembali utuh seperti dulu. Dan jurus terakhir untuk membujuk Lita juga.


Ceklak


Pintu di buka oleh Lita. Lita menyembulkan kepalanya keluar. Mengintai tiga orang dewasa yang berjajar di depan pintu seperti polisi sedang mengadakan patroli


"Lita sayang... kita cari Papa, yuk" Bella menampilkan senyum manisnya berjongkok di depan putrinya. Menggenggam tangan montok itu lalu menciumnya.


Bibi dan Thomas saling pandang.


"Lita mau ketemu Papa, tidak?" Bella mengulangi pertanyaan.


"Mau... tapi Mommy jangan bohong lagi, Lita tidak mau dibohongi" Lita menggerakkan jari telunjuk kearah Bella, terselip rasa tidak percaya di wajahnya.


"Nggak kok, kali ini Mommy tidak bohong. Sekarang Lita makan siang dulu, baru kita temui Papa, okay." Bella mengangkat kelingking agar Lita menautkan jarinya. Lita pun akhirnya menurut mau makan bersama bibi. Selesai makan, Bella membuktikan ucapanya mengajak Lita mendatangi apartemen Marsel.


"Kita sudah sampai..." Bella berhenti di depan apartement milik Marsel. Bella membuka pintu apartement dengan nomor sandi yang masih ia ingat. Walaupun sudah hampir satu tahun terakhir tidak ia kunjungi.

__ADS_1


__ADS_2