
"Omaa..." seru Lita. Setelah dibukakan pintu oleh bibi, Calista menghambur ke pelukan oma. Rupanya Marsel sudah sampai di kediaman mommy Laura. Momny Laura sudah sembuh dari sakitnya, dan sudah dibawa pulang. Malam ini beliau sedang santai di depan televisi.
"Calista... kamu kesini sama siapa? Kok nggak kasih kabar dulu?" oma terkejut, beliau trauma ketika Bella diam-diam membawa kabur cucunya, meskipun mommy tahu, jika Bella saat ini sedang sakit.
Mommy tidak tahu jika ternyata putranya mau memberi kejutan untuknya.
"Sama Papa, Mama. Oma" jawab Calista mendongak ke atas posisi Lita merangkul pinggang oma.
"Aku di sini Oma." Diah muncul dari belakang bersama Marsel mengurai senyum. Rupanya marsel benar-benar memberi kejutan. Pasalnya, ia sengaja lewat pintu belakang.
"Kalian..." Oma berkaca-kaca menatap anak dan menantunya.
"Oma sudah sehat? Maaf, kemarin Diah tidak bisa ikut menjenguk Oma," tutur Diah, mereka pun berpelukan.
"Jangan dipikirkan Diah... Mom sudah sehat kok," sahutnya. Keduanya merenggangkan pelukan.
"Bagaimana dengan kehamilan kamu Nak?" Mom mengusap perut Diah.
"Alhamdulillah Mom, sehat. Terus... selama di perjalanan juga nggak rewel kok, Mom" Diah menatap perutnya tersenyum. Menurut teori, jika hamil muda numpang pesawat, akan mengalami berbagai macam hal yang kurang baik, tetapi ternyata baby di perut Diah, seolah anteng-anteng saja.
"Duduk-duduk Nak" seru mommy bersemangat, beliau kegirangan kedatangan anak dan menantunya.
"Mom kok belum tidur" Marsel melihat jam di lengannya, ternyata sudah jam 11 malam, lalu mengistirahatkan bokongnya bersebelahan dengan Diah.
"Iya, rupanya kita kontak batin, tadi Mom sudah mau tidur, tapi nggak bisa." tutur mommy.
"Ello... kenapa kamu kurus begitu?" oma menatap putranya dari atas sampai bawah. Marsel memang masih cekung.
"Mas Marsel, kemarin habis dirawat juga Mom," Diah berkaca-kaca.
"Sudah... jangan bahas kemarin, yang penting aku sudah sehat, sudah berada di sini," potong Marsel.
"Oma, Lita ke kamar dulu ya" Lita rupanya ingin segera tidur, dan bertemu dengan mainannya. Mengurungkan niat oma ketika hendak berucap.
"Oh iya, istirahat sana gih," jawab oma. Lita pun naik tangga masuk ke kamarnya yang sudah lama tidak ia tiduri.
"Kamu juga istirahat Diah... tapi makan malam dulu, biar Bibi yang menyiapkan," titah mom.
"Kami sudah makan malam, di Bandara tadi Mom," Diah yang menjawab.
__ADS_1
"Oh" hanya itu jawaban mom.
"Kapan Mom pulang dari rumah sakit?" sela Marsel.
"Sudah dua hari ini, Ello, tapi kata dokter, Mom masih harus berobat jalan." memang benar kata momny, walaupun kelihatannya sudah lebih baik. Namun mommy harus tetap control.
"Memang harus gitu, Mom" Marsel menanyakan beberapa hal mengenai penyakit mom. Hingga beberapa saat kemudian, mom beralih menceritakan jika Bella kemarin dirawat di rumah sakit.
"Ya Allah... jadi Bella, saat ini sedang sakit, Mom?" Diah terkejut lalu menatap Marsel yang tampak cuek mengenai pembicaraan ini.
"Terus... sakit apa Mom, bagaimana keadaanya, sekarang?" cecar Diah.
"Mom tidak tahu pasti Diah, Mom hanya mendengar dari Carolina." jawab mom mengakhiri perbincangan.
"Ello... ajak Diah istirahat, kasihan kan, Diah capek naik pesawatnya lama," mommy mengulangi, agar anak, dan menantunya istirahat.
"Baik Mom" Marsel segera mengangkat koper ke atas.
"Kami ke atas dulu ya Mom" pamit Diah. "Momny juga segara istirahat," Diah menyusul suaminya setelah di iyakan oleh mommy.
Sampai di kamar, Diah memindai sekeliling, kamar ini tidak seluas kamar Marsel di Jakarta. Namun banyak foto terpajang di dinding. Foto anak bayi, mungkin ini foto Calista.
Diah lalu duduk di ranjang melihat bantal dan guling ngawe-ngawe minta dipeluk. Diah rasanya sudah ingin merebahkan tubuhnya. Rasanya sudah capek sekali. Namun mendengar gemericik air sudah pasti Marsel orangnya. Diah segera membuka koper mencari piama untuk suaminya.
"Kamu nggak mandi Yank?" tanya Marsel lalu ambil baju yang sudah disiapkan istrinya.
"Mandi lah, lengket kalau nggak mandi," kilah Diah, sebenarnya Diah malas mandi. Ia hanya malu dengan suaminya yang selalu wangi.
Diah langsung melepas handuk yang masih di kenakan Marsel, lalu menyampirkan ke pundaknya. Hingga tampak burung Marsel yang belum sempat dimasukkan kedalam kandang. Namun Diah seolah tak berdosa justeru berjalan santai ke kamar mandi.
Marsel terkekeh memandangi istrinya geleng-geleng kepala. Ia lalu mengenakan kaosnya, kemudian merebahkan tubuhnya di kasur sambil main ponsel.
Belum sampai sepuluh menit Diah sudah kembali.
"Kamu nggak sabunan?" Marsel menatap istri nya dengan dahi berkerut.
"Ngapa sih? Jangan suka mengerutkan dahi begitu, cepat tua loh," kelakar Diah. "Aneh! masa, mandi nggak pakai sabun," Diah ambil baju.
"Lagian... kamu, mandi cepet begitu," kata Marsel tanpa menatap Diah karena sedang chat seseorang.
__ADS_1
"Ini namanya mandi kungkang, Mas" jawab Diah sambil mengenakan daster yang pas di badan.
"Hahaha... Apa tuh mandi kutang?" Marsel tertawa geli, menghentikan mengetik di ponsel.
"Iiihhh... mandi Kungkang, bukan mandi kutang. Kungkang itu sebangsa katak kalau mandi plung... terus udahan, kaya aku tadi hihihi..." Diah mentertawakan cara mandinya tadi.
"Oh... pantas Yank, kamu kurus seperti katak." Marsel kembali berseloroh. Membuat Diah melengos kesal.
"Terus apa bedanya sama Mas, kalau Mas bilang aku katak betina, berarti Mas katak jantan. Soalnya badanmu nggak seperti kemarin," Diah menyentuh pipi tirus suaminya.
"Kamu mulai nglunjak," Marsel menangkap jari Diah lalu menggigit nya.
"Auw, sakit, Mas!" Diah menarik jarinya dari gigi suaminya.
"Sini-sini, aku obati," Marsel hendak memegang jari Diah tapi Diah segera menjauh.
"Au ah! Aku mau bobo, ngantuk. Jangan ganggu, awas saja! kalau berani ganggu!" Diah pun menghentikan obrolan yang tak bermakna itu, kemudian tidur menghadap tembok, memunggungi Marsel. Marsel tersenyum lalu ikut merebahkan diri melingkarkan tangan ke perut Diah.
*******
Esok paginya semua berkumpul di meja makan, sarapan bersama. Selesai sarapan kembali berbincang-bincang.
"Pagi ini, kemana rencana kalian?" tanya mommy. Diah menoleh Marcello minta jawaban.
"Mau ngajak Diah ke apartement Mom" ucap Marsel setelah meneguk air.
"Lita ikut ya, Pa, Ma," Lita memiringkan wajahnya menatap lekat, wajah Marsel.
"Pasti dong" Marsel mengusap kepala putrinya.
"Yeee..." seru Lita, mengangkat kedua tangan.
"Tapi... apa nggak sebaiknya, kita menengok Mbak Bella dulu, Mas," usul Diah pelan.
"Apa?" Mommy terkejut, sedangkan Marsel dan Lita menatap Diah entah apa arti tatapan itu.
"Apa kamu yakin Diah?" mommy Laura merasa heran dengan Diah, wanita manapun pasti akan menolak bertemu dengan madunya, tapi Diah justeru mengajak menjenguk.
"Maaf Mom, ini hanya saran saja, jika tidak setuju tidak apa-apa," jawab Diah santun.
__ADS_1
"Mbak Bella kan sedang sakit, Mas, apa salahnya kita menjenguk, wajib loh kita menjenguk orang yang sedang sakit, terlebih Mbak Bella itu ibunya Calista" tutur Diah panjang lebar.
Semua lantas diam, di meja makan tampak sunyi.