Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Iri Hati.


__ADS_3

"Aldo, loe sudah kembali, tapi kok hanya sendirian?" tanya Siska lirih agar tidak membangunkan Bella.


Ia sebenarnya sudah lelah, tapi di paksa memijit terus, jika Bella sudah benar-benar pulas Siska akan meninggalkan dia.


Siska mengedarkan pandangan tidak ada Marsel bersama Aldo. Tangannya sambil memijit Bella yang sedang ngorok.


"Bos sedang ada urusan" jawab Aldo. Aldo meletakkan berkas hasil rapat tadi di meja kerja Marsel.


"Ngapain loe, di ruangan Pak Marsel? loe kan tahu, kalau bos tidak ada di sini" Aldo lupa jika ada Bella di sini, dan tidak menyadari bahwa Siska sedang bekerja keras.


"Seeettt... diam!" Siska menutup mulutnya dengan jari matanya mendelik kesal. Pasalnya Bella menggeliat, bagusnya tidak bangun.


Aldo kemudian menoleh Siska yang sedang memijit Bella tertawa terpingkal-pingkal. Namun menutup mulutnya khawatir mengganggu tidur Bella. Siska yang tidak pernah kerja otot tampak wajahnya lelah.


"Apa" mulut Siska bergerak namun tidak bersuara, seraya mengacungkan tinju


Aldo meninggalkan ruangan sambil mentertawakan Siska. Siska, kemudian mengejarnya.


"Ahahaha... memang enak, di kerjain! makanya, jangan suka ngerjain gw loe" Aldo menyentil jidat Siska setelah sampai di luar ruangan tawanya terdengar.


"Ih"


Plak.


Siska menepis tangan Aldo mrengut, kemudian duduk di tempatnya.


"Gw mau kerja ke ruangan gw, loe juga jangan lupa kerjakan tugas loe, setumpuk tuh! hasil rapat tadi yang gw letakkan di meja" perintah Aldo.


"Kesal gw, mendingan... ngerjain tugas gw segunung, daripada di suruh memijit sama nenek lampir" sungut Siska.


"Bukanya loe ya, nenek lampirnya?" Aldo mencebikkan bibir.


"Dasar loe, ambilkan berkas tadi, bawa kesini" Siska balik memerintah.


"Tuh kan, benar! loe kerjanya merintah orang, jadi kena karma!"


"Sebodoh! loe mau bilang gw apa, tolong Do" Siska trauma khawatir di suruh memijit, sehingga pekerjaan nya terbengkalai. Jadi dia tidak berani masuk kembali.


Aldo mengalah mau tidak mau ambil berkas, tak lama kemudian kembali, lalu memberikan kepada Siska.


"Terimakasih Do" Siska tersenyum.


Sedangkan Aldo, nyengir kuda, keduanya lalu bergijabu dengan tugas masing-masing.


********


"Tumben Mas, sudah pulang?" Diah yang baru selesai shalat dzuhur terkejut, tiba-tiba Marsel sudah berada di kamar.


"Aku pulang cepat, ingin mengantar kalian ke Mall" ucapnya sambil membuka jas dan kemeja.


"Tapi Lita masih tidur, Mas" jawab Diah kemudian meletakkan mukena di tempatnya.

__ADS_1


"Kita tunggu dulu sampai Lita bangun, baru kita berangkat" Marsel kemudian mencuci tangan dan kaki. Lastas merebahkan tubuhnya di kasur.


"Mas sudah makan siang?" Diah perhatian.


"Sudah... tadi makan sama Aldo" ucapnya sambil memejamkan mata.


Diah hendak beranjak keluar.


"Mau kemana? sini istirahat dulu" tegas Marsel. Diah balik badan menatap mata suaminya terlihat lelah kemudian menurut naik ke ranjang.


"Mas kelihatan capek banget, aku pijitin ya" Diah memijit kaki Marsel.


"Tidak usah, sebaiknya kamu tidur juga" cegah Marsel memegang tangan Diah.


Tidak menjawab lagi, Diah pun langsung tidur 10 menit kemudian sudah pulas.


Marsel mengamati wajah Diah yang sedang terlelap. Ia merasa bersalah, sudah membohonginya.


Maafkan aku honey... aku melakukan semua ini, karena aku takut kehilangan kamu.


Marsel mencium kening Diah, kemudian tidur memeluknya.


Deeerrrtt... dreeettt.


Baru 15 menit tidur, handphone milik Diah bergetar. Ia mengerjapkan mata, kemudian bangun, ambil benda tersebut yang ia letakkan di sofa.


Diah melihat nama yang tertera, ternyata Rindy sahabatnya. Melihat suaminya pulas, ia membuka pintu perlahan lantas turun ke lantai bawah. Namun handphone keburu mati.


Diah berjalan ke tepi kolam renang yang sudah beberapa hari ini tidak ia kunjungi.


"Assalamualaikum..." suara Rindy di seberang telepon.


Diah: "Waalaikumsalam... tadi kamu telepon aku ya Rin, ada apa?"


Rindy: "Loe baik-baik saja kan?" tanya Rindy.


Diah: "Alhamdulillah... maksud kamu apa Rin, bertanya begitu?" Diah mengerutkan dahi.


Rindy: "Nggak apa-apa, gw cuma kangen sama loe"


Diah: "Hehehe lebay! baru juga kemarin kita ketemu, masa sudah kangen, ya sudah ya, gw mau siap-siap belanja"


Rindy: "Eh tunggu Diah, laki loe sudah pulang belum?"


Diah diam rasanya aneh tidak biasanya Rindy telepon jam kerja, apa lagi sampai menanyakan suaminya terasa ada yang janggal.


"Hallo Diah, loe masih di situ?"


"Marsel ada di rumah kok, lagi tidur siang, kenapa gitu? tumben, kamu tanya soal suamiku?"


"Nggak apa-apa Diah, ya sudah... gw mau lanjut kerja" pungkas Rindy.

__ADS_1


Tut.


Diah mematikan handphone, meletakkan di sebelahnya. Lalu memeluk kedua lutut. Masih memikirkan Rindy, yang tidak biasanya menanyakan tentang suaminya.


"Aahhh..." Diah terkejut terasa tangan kekar menutup matanya dari belakang. Diah berusaha melepasnya.


"Kamu ngapain di sini sendirian?" Marsel pun duduk di sebelah Diah lalu mengusap lembut kepalanya.


"Barusan Rindy telepon, khwatir mengganggu tidurmu jadi aku ngobrol di sini" jawab Diah.


"Mas tadi di kantor ketemu Rindy nggak?" pada akhirnya Diah bertanya.


Kenapa Diah tanya itu, jangan-jangan... Ridy cerita tentang ke hadiran Bella, ya Tuhan... jangan sampai Rindy cerita.


Plak.


Diah ngeplak tangan Marsel.


"Mas, di tanya malah ngalamun"


"Oh tidak" jawab Marsel gugup.


"Tidak apa?" cecar Diah.


"Maksudnya tidak bertemu Rindy, selesai rapat tadi, sempat ke kantor, tapi terus pulang" Marsel menjelaskan.


"Sudah yuk, kita berangkat, Lita sudah menunggu kita" Memang benar Lita sudah bangun tidur.


"Mama tadi kemana?" Lita sudah ganti baju bersama Marni, kemudian merangkul perut Diah.


"Ada kok, di tempat pengungsian, kita" keduanya pun terkekeh, dan tidak lepas dari pandangan Marsel. Dalam hatinya senantiasa berdoa. *Jangan pi*sahkan kami Tuhan.


Marsel segera memberi tahu mamang yang sedang ngobrol dengan satpam di pos, agar menyalakan mobil.


"Kita susul Papa yuk" Diah menuntun Lita. Mereka berangkat di antar supir.


******


Di perusahaan waktu berganti sore, Bella mengerjabkan mata, rupanya ia baru bangun dari tidurnya.


Wanita cantik itu menelisik jam tangannya ternyata sudah jam 4 sore. Ia kesal, ternyata suaminya tidak datang. Sambil memegangi perut buncitnya, ia ke toilet. Hingga 10 menit cukup lama memang baginya sudah biasa, baru ke luar.


Ia menggosok-gosokkan telapak kakinya di keset mengeringkan khawatir kepleslet.


Mata sayunya menangkap sebuah bingkai di atas meja kerja Marsel. Ia melangkah mendekati meja tersebut. Tangan putihnya mengangkat bingkai kemudian mendaratkan pantatnya di kursi kebesaran Marsel.


Di dalam bingkai foto tampak wanita berhijab, tersenyum lebar, yang tidak lain adalah Diah. Seorang putri cantik mirip sekali dengan Marsel, pipi cubby, bertubuh sekal, melingkarkan tanganya ke pinggang Diah tampak manja. Sedangkang Marsel memeluk pundak keduanya dari belakang mengukir senyum bahagia.


Ada rasa iri di hati Bella, segumpal penyesalan datang. Seharus dia yang berada di antara Marsel dan putrinya bukan Diah.


"Aku akan merebutnya kembali" gumamnya, kemudian meletakkan kembali bingkai lalu beranjak keluar dari kantor.

__ADS_1


Di luar kantor sudah sepi, ia pun pulang mengendarai mobil sendiri setelah telepon seseorang.


.


__ADS_2