Jodoh Yang Ketiga.

Jodoh Yang Ketiga.
Telepon tidak dikenal.


__ADS_3

"Terus... bagaimana jika bayi yang di kandung Bella itu ternyata memang darah daging Mas. Aku takut Mas, jika suatu saat nanti kamu kembali kepada Bella, aku nggak sanggup, lebih baik aku mundur sekarang, daripada nanti, luka aku akan semakin dalam."


Walaupun berat Diah harus mengatakan ini demi kebaikan semuanya.


"Cukup! Diah" Marsel menekan kedua pipi Diah menatapnya sendu. Keduanya saling tatap.


"Jangan katakan itu sekali lagi Diah! aku tidak sanggup mendengarnya, aku mencintai kamu, tatap mata aku. Tatap Diah," Marsel menggoyang pipi Diah.


Diah pun menatap mata suaminya lalu berkata "Aku percaya sama kamu, Mas," Keduanya berpelukan hingga beberapa menit kemudian, Marsel melonggarkan pelukanya.


"Kamu harus percaya kepadaku, jika Bella berniat mengganggu kebahagiaan kita. Kita harus bekerja sama untuk melawan" Marsel memegang pundak Diah.


"Baiklah"


"Sekarang sudah malam, kita mencari makan di luar yuk, kita sewa motor, terus... cari restoran yang enak"


"Jauh nggak restorannya?" Diah bertanya.


"Kan baru mau mencari, ya bisa jauh, bisa dekat, makanya kita sewa motor"


"Kita cari resto yang dekat saja, terus jalan kaki" jawab Diah ingin rasanya berjalan kaki dimalam hari hanya berdua membayangkan bahwa mereka saat ini baru pacaran, mungkin bisa menghilangkan rasa pedih hatinya.


"Loh, tadi katanya kakimu sakit?" Marsel memandang betis Diah.


"Sudah nggak kok" tanpa banyak bicara Diah ambil jaket milik Marsel yang ia gantung, lalu memberikan kepadanya, kemudian mengambil miliknya sendiri.


Setelah mengenakan jaket mereka berangkat.


Seberat apapun persoalan rumah tangga, akan bisa dihadapi jika keduanya saling memahami satu sama lain, seperti pasutri ini.


Setelah drama yang menguras emosi sore tadi, mereka berbaikan. Benar saja, dengan berjalan kaki mereka bisa mengenal lebih dekat, lebih banyak waktu untuk berbicara tentang diri mereka. Apa lagi Marsel, lebih banyak tersenyum ditambah lagi menikmati udara segar, bergandengan tangan, pacaran setelah menikah.


Pasutri ini sampai restoran.


Suasana hangat sambutan para pelayan disalah satu rumah makan bergaya joglo. Namun, Mereka memilih makan romantis di halaman restoran dengan pendar lampu taman dan diterangi rembulan.


********


"Bagaimana hasil penyelidikan kamu hari ini, Thomas?" Arabella bertanya kepada Thomas orang suruhanya.


"Tuan Marsel mengajak istrinya honeymoon ke Bali Non, tadi pagi berangkat"


"Apa?!" kilat marah di mata Arabella mendengar penuturan Thomas.


"Selidiki terus, jika perlu berangkatlah ke Bali, Thom" titahnya.


"Baiklah Non"


"Kurangajar!" Bella mengepal kuat. "Sekarang kamu boleh pergi" usirnya.


"Ya Non" Thomas pergi meninggalkan Bella yang sedang mengusap perut buncitnya.


"Aku harus segera bertindak demi kamu Nak, kita harus merebut Daddy kamu" gumamnya.

__ADS_1


Bella lantas ke kamar merebahkan diri berniat menghubungi Marsel.


********


"Mbak Marni... Lita mau tidur di kamar Mama" rengeknya.


"Tapi Mbak Marni takut sayang, nanti kalau Papa marah bagaimana?" Marni tentu tidak berani lancang tidur di kamar tuanya.


"Nggak akan marah, nanti Lita telepon Papa" Lita terus merengek. Ia kangen ingin tidur di ranjang Diah dan mencium bekas keringatnya untuk pengobat rasa kangen.


"Ya sudah... kita telepon dulu" Marni ambil hp miliknya yang dibelikan Marsel agar mudah berkomunikasi dengan anaknya.


Marni mencari nama tua-nya kemudian menekan nomor, deringan ketiga kemudian diangkat. "Ini sudah diangkat" Marni memberikan hp kepada Lita.


"Assalamualaikum..." suara Diah di seberang.


"Mama..." Lita kegirangan ternyata Diah vidio call. Marsel sedang melambaikan tangan di sebelah Diah. Nampak hidangan makan malam entah dimakan atau belum.


"Loh... kok, salam Mama nggak dijawab." Diah selalu mengajarkan Lita agar menjawab salam.


"Waalaikumsalam... maaf Ma, Lita lupa, haha" Lita tertawa menutup mulutnya.


"Nggak apa-apa... yang penting lain kali Lita nggak lupa" nasehat Diah.


"Anak Papa, sudah makan belum?" kali ini Marsel yang bertanya.


"Sudah, sekarang kan sudah waktunya bobo" benar kata Lita sebab, biasanya jam sembilan sudah tidur.


"Siip Ma" Lita tengkurap kedua kakinya diangkat keatas sambil tersenyum memandangi Marsel dan Diah yang mengajaknya bicara.


Mereka berbincang-bincang panjang lebar dan akhirnya Lita minta izin untuk tidur di kamar Marsel. Tentu Marsel mengizinkan.


"Memang kenapa minta tidur di kamar Mama, tumben?" Diah mengerutkan kening, selama menikah dengan Marsel Lita belum pernah tidur di situ.


"Kangen sama Mama, sama Papa" ucapnya polos.


"Okay... sudah dulu ya, selamat bobo, daaa... sayang..." Diah dan Marsel melambaikan tangan.


"Daaa Mama..." Lita kemudian memutus sambungan telepon.


"Kan, boleh Mbak, ayo" Lita mengajak Marni pindah ke kamar Marsel.


"Mbak tidur di sofa, terus Lita bobo di sini" kata Marni sambil mengibas tempat tidur Diah. Walaupun Marni tidur bersama Lita tentu tempat tidurnya berbeda.


"Ya deh" Lita kemudian naik ke atas ranjang baru menarik selimut terdengar telepon, tapi bukan dari hp Marni. Melainkan suara itu berasal dari laci lemari pakaian.


"Mbak Marni... telepon tuh" Lita bangun kembali mengamati Marni yang sudah meringkuk di sofa, dan membiarkan dering telepon.


"Bukan punya Mbak kok, suaranya dari laci" sahut Marni rasanya sudah mengantuk.


Lita kemudian kembali turun membuka laci.


"Dari handphone Papa Mbak" Lita mengambil handphone 10 panggilan tidak terjawab.

__ADS_1


"Memang Papa Lita tidak membawa hp?" tanya Marni.


"Papa kan punya dua Mbak"


"Oh, ya sudah... biarin saja, tidak usah diangkat, nggak sopan kalau mengangkat telepon milik orang lain" terang Marni.


Lita menurut lalu membiarkan saja tetapi telepon terus menerus berbunyi. "Mbak, Lita angkat ya, siapa tahu penting, berarti sudah 11 kali panggilan loh" kata Lita dari tempat tidur.


"Iya juga ya, tapi terserah Lita sih..." Marni ambil hp mengamati nama yang tertera lalu memberikan kepada Lita.


"Love... itu siapa Lit?" Marni menatap Lita yang sama-sama memperhatikan hp.


"Nggak tahu" Lita lalu menggeser tombol.


"Loudspeaker, biar Mbak mendengar" bisik Marni. Lita mengangguk.


"Hallo! enak ya, kamu! jalan-jalan sama istri muda, di telepon berkali-kali tidak diangkat, kamu sengaja kan El, menghindar dari aku! iya, kan?!" bentak seorang wanita yang sedang marah-marah mengejutkan mereka. Lita dan Marni saling pandang.


"Hallo... Tante... ingin bicara dengan siapa?" tanya Lita. Namun, tidak ada sahutan.


Satu menit kemudian. "Hallo cantik, maaf ya, Tante salah sambung, tapi boleh... Tante kenalan sama kamu?" tanya wanita yang belum Lita dan Marni kenal.


Marni menggerakkan tanganya agar Lita tidak meladeni tapi Lita penasaran.


"Boleh Tan, nama aku Calista, nama Tante siapa?" Lita menatap Marni karena telepon kembali hening.


"Hallo, Tante masih di situ?"


"Oh iya, masih kok, nama Tante Alysia, senang bisa berkenalan sama kamu, boleh dong, kapan-kapan kita ketemu"


"Ya Tan, aku izin Mama dulu ya, kalau Mama ngebolehin, Lita mau, tapi kalau Mama nggak boleh... Lita nggak janji ya" jujur Lita.


"Ok, kalau begitu, Tante minta nomor hp kamu, sama alamat sekolah kamu ya"


Sebelum Lita menjawab Marni ambil hp dari tangan Lita.


"Maaf Mbak, sudah malam Lita harus tidur"


Tut.


Marni memutus sambungan telepon.


"Mbak, kok dimatiin" Lita cemberut.


"Lita... dengarkan Mbak, nggak boleh sembarangan memberi nomor hp, apa lagi alamat sekolah, alamat rumah, sama orang yang belum kita kenal"


"Ya, kalau memang orang itu baik, kalau kebetulan orang jahat, bagaimana, coba?" Marni menjelaskan.


"Iya juga ya Mbak" Lita garuk-garuk kepala bibirnya tertarik ke atas.


"Sebaiknya kita bobo" Marni menyelimuti Lita kemudian mengembalikan handphone ke tempat semula.


.

__ADS_1


__ADS_2